
Judul itu ibarat bungkus jajanan di minimarket. Kalau kemasannya menarik, kita ambil. Kalau polos dan terlihat biasa aja, kita lewati. Tapi di dunia menulis, judul lebih dari sekadar bungkus. Judul adalah portal ke dalam semesta cerita. Ia adalah lubang kunci kecil tempat pembaca mencoba mengintip, penasaran, lalu akhirnya tergoda buat nyelonong masuk.
Tapi masalahnya, kapan kita harus menentukannya? Apakah sebelum mulai menulis, seperti orang tua yang sudah menyiapkan nama anaknya bahkan sebelum si anak lahir? Atau di akhir, setelah semua cerita rampung dan kita baru sadar, Oh, ini ternyata kisah tentang tukang cilok yang terjebak maut?
Banyak penulis menganggap judul sebagai gerbang sakral, yang harus muncul lebih dulu sebelum menulis sepatah kata pun. Tapi mari kita jujur, siapa yang belum pernah mengalami ini: duduk di depan laptop, niat nulis, tapi malah bengong sejam gara-gara mikirin judul? Sementara, plot yang sudah kepikiran di kepala malah lari-lari kayak ayam lepas. Maka dari itu, aku tegaskan: judul tidak harus lahir duluan.
Judul bisa muncul kapan saja. Di tengah menulis, saat inspirasi tiba-tiba menyapa. Atau di akhir, saat kita baru sadar kalau cerita yang kita buat ternyata bukan tentang cinta segitiga, tapi lebih mirip kisah perseteruan antara kucing dan sandal jepit.
Dan tolong, jangan jadikan judul sebagai spoiler berjalan, karena kenikmatan membaca bisa berkurang jika isi ceritanya sudah diberitahu melalui judulnya. Meski cerita tidak harus melulu mengandung kejutan, setidaknya kita bisa berikan judul yang menggoda, misalnya: Petaka di Tanggal 17. Bikin orang bertanya-tanya, penasaran, dan akhirnya tergoda untuk membaca.
Ada juga yang terlalu serius dalam urusan judul. Mereka ingin judul yang terkesan pintar, puitis, atau filosofis, sampai akhirnya malah sulit dipahami. Misalnya memberi judul dari rangkaian kata-kata canggih: Reinkarnasi Metaforis Dialektika Eksistensialisme. Apakah boleh? Tentu tidak ada larangan tapi perlu dipertimbangkan, cerita itu akan ada di mana dan untuk siapa. Jika cerita itu berada di buletin kampung, tentu saja pembaca biasa bisa pingsan duluan sebelum masuk ke isinya.
Sebaliknya, ada yang terlalu pasrah. Menulis cerita penuh aksi dan ketegangan, tapi judulnya cuma: Perjalanan. Ini mau mengajak pembaca ikut petualang atau mengajak tidur siang? Padahal, judul bisa menjadi jebakan yang menyenangkan. Misalnya, cerita horor tapi judulnya: Bibi Senang Berkebun. Awalnya terdengar damai, tapi ternyata bibi itu berkebun kepala manusia. Atau cerita romansa dengan judul: Aku, Dia, dan Sebuah Bakso Dingin. Judul yang absurd bisa membuat pembaca penasaran, apakah ini cerita cinta yang indah, atau kisah tragis karena si bakso dingin bisa mewakili perasaan yang sudah mati.
Jadi, mari kita setuju: judul itu penting, tapi jangan dibuat terlalu sakral. Biarkan judul bermain, menggoda, bahkan menipu dengan cara yang menyenangkan. Karena pada akhirnya, tugasnya cuma satu, membuat pembaca mau masuk. Dan kalau sudah masuk, semoga mereka tidak menyesal. [] Redaksi





