Dunia Menulis

Mendadak Suci

Mari kita mulai dengan satu pertanyaan sederhana: kenapa, ketika kita menulis cerpen, mendadak jadi orang suci yang lupa bagaimana berkonflik? Padahal, di dunia nyata, mencari konflik semudah menyalakan korek api di pom bensin. Di jalanan, kita bisa ngamuk hanya karena ada motor nyelip tanpa lampu sein. Di rumah tangga, gelas yang ditaruh asal-asalan bisa jadi pemicu perang dingin tujuh hari tujuh malam. Tapi begitu duduk di depan laptop, jari-jari kaku, mendadak ingin menulis kisah yang damai dan inspiratif tanpa gejolak. Aduh, aduh.

Mari kita hadapi kenyataan: menulis konflik itu gampang. Kenapa? Karena manusia, termasuk kamu, sudah jadi spesialis bikin konflik sejak zaman nenek moyang berburu makanan. Tapi lucunya, begitu menulis cerpen, mendadak jadi malaikat. Tiba-tiba lupa cara marah, lupa cara jadi manusia menyebalkan, lupa bahwa dunia ini berisi orang-orang yang siap ribut karena hal paling remeh.

Lihatlah sekeliling. Orang bisa ribut cuma karena sebutan aku atau gue dalam hubungan. Bisa ada perang dingin hanya karena teman kita lupa bilang makasih setelah dibayarin kopi. Manusia itu gampang tersulut, dan itu yang bikin hidup ini menarik. Tapi kenapa saat nulis, malah ngotot bikin tokoh yang tenang, sabar, penuh empati, kayak karakter di iklan sirup lebaran?

Konflik itu kecil, tapi bisa jadi perang dunia. Orang-orang suka membayangkan konflik harus megah: perselingkuhan, pembunuhan, kebakaran. Padahal, kenyataannya lebih menjengkelkan dari itu.

Coba pikirkan ini:

1. Sandal yang tertukar di teras Rumah. Kamu datang ke rumah teman, lepas sandal di luar. Pas pulang, sandalnya tertukar dengan yang lebih jelek, lebih bau. Masalahnya? Pemilik sandal yang tertukar tidak mengakui kesalahannya. “Ah, kayaknya itu sandalmu deh.” Ini bukan sekadar kehilangan alas kaki, ini soal harga diri. Perasaan dihina mentah-mentah, dianggap nggak layak pakai sandal lebih bagus. Bisa jadi benih permusuhan bertahun-tahun.

2. WiFi lemot saat giliran kita. Satu rumah pakai WiFi yang sama. Semua lancar nonton YouTube, tapi pas giliran kamu buka Zoom kerjaan, mendadak koneksi kayak siput kena asam urat. “Loh, aku sih lancar,” kata adikmu yang lagi streaming drakor. Ini bukan sekadar masalah jaringan, ini soal ketidakadilan sosial.

3. Orang yang buka bungkus mie instan dengan cara yang salah. Ini bukan soal mie-nya. Ini soal prinsip hidup. Harus dari atas. Harus dengan rapi. Kalau ada orang yang membuka dari samping dan sobekannya acak-acakan, itu bisa jadi alasan putus hubungan. Karena kalau urusan sekecil ini saja tidak bisa beres, bagaimana urusan yang lebih besar?

4. Ngetik, Wkwkwk, saat serius. Kita sedang cerita tentang hidup yang terasa berat, tentang tekanan pekerjaan, tentang eksistensi yang mulai goyah. Lalu, balasan dari teman kita, Wkwkwk. Ini bukan ketawa, ini pelecehan emosional! Ini penolakan halus atas eksistensi kita!

5. Orang yang tak bisa bedakan, Nggak Dulu dan Nggak Mau. Kamu ngajak teman makan, dia jawab, “Nggak dulu, deh.” Oke, berarti lain kali bisa, kan? Tapi pas dia tiba-tiba makan bareng geng lain, di tempat yang sama, besoknya, tanpa ajak-ajak? Ini bukan sekadar makan siang, ini pengkhianatan.

Menulis itu bukan jadi penyuluh moral. Orang suka berpikir bahwa menulis harus mendidik, harus menampilkan karakter yang berkembang jadi pribadi lebih baik. Astaga, kita ini bukan dosen pembentukan karakter. Dunia nyata tidak seindah cerpen penuh renungan. Dunia nyata adalah tempat orang-orang saling memendam dendam gara-gara teman mereka mematahkan ujung pensil tanpa izin.

Kalau mau nulis konflik, jangan sok bijak. Tulis yang brutal, yang menyebalkan, yang bikin pembaca kejang-kejang karena merasa tertampar. Karena faktanya, tidak ada yang lebih manusiawi daripada emosi yang meledak gara-gara sandal tertukar. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *