Katalog

Dunia Menulis

Ketidakberdayaan Penulis

Ada satu penyakit akut dalam dunia kepenulisan, yaitu pasrah. Sebuah virus yang menjangkiti penulis malas berpikir, mereka yang membiarkan absurditas merajalela tanpa usaha sedikit pun untuk menalarkan. Mereka berdalih, “Ah, di dunia nyata memang ada hal-hal yang tidak masuk akal.” Ya, betul. Tapi kau menulis, bukan sekadar mencatat kenyataan seperti juru tulis kelurahan. Tugasmu adalah menciptakan kelogikaan, bukan mengangkat tangan menyerah.

Mari kita perjelas. Kelogikaan dalam cerita bukan berarti semua harus seperti rumus matematika, tapi setiap peristiwa yang terjadi dalam fiksimu harus punya alasan. Sesuatu boleh aneh, ajaib, di luar nalar manusia normal, tapi tetap harus terasa masuk akal dalam konteks cerita. Jika tidak, maka kau bukan menulis cerita, kau hanya mengarang omong kosong.

Logika adalah konstruksi, bukan warisan. Penulis yang baik adalah arsitek logika. Dunia yang ia bangun mungkin berbeda dengan kenyataan, tapi harus bisa berdiri tegak di atas pondasi yang ia buat sendiri. Jika ada yang berkata, “Di dunia nyata, manusia bisa tiba-tiba hilang tanpa jejak,” lalu ia menulis cerpen tentang seseorang yang lenyap begitu saja tanpa sebab, maka ia penulis pemalas. Penulis yang baik akan berpikir apa penyebabnya? Apakah ia masuk ke dimensi lain? Diculik? Diserap oleh lubang hitam yang tiba-tiba muncul di kamarnya?

Contoh lain, katakanlah ada cerita tentang seorang pria yang selalu bisa menebak angka lotere. Apakah ini masuk akal? Tentu tidak. Tetapi jika penulis memberi latar belakang bahwa ia mantan ilmuwan statistik yang menemukan pola rahasia dalam algoritma lotere, atau ia memiliki semacam kemampuan supranatural yang diperoleh setelah tersambar petir lima kali, maka cerita itu akan punya kaki untuk berdiri. Pembaca tidak akan membanting buku dan mencemooh, “Ah, omong kosong!”

Sebuah cerita harus memiliki sistem internal yang bisa dipahami dan dipercaya pembaca. Realitas bukan Tuhan yang tak bisa digugat. Banyak penulis menjadikan realitas sebagai dewa yang tidak boleh disentuh. Jika di dunia nyata air panas membakar, maka dalam cerita air panas juga harus membakar. Padahal, dalam fiksi, air panas bisa saja menyembuhkan, asal ada alasan yang kuat. Mungkin air itu berasal dari mata air khusus yang mengandung unsur misterius. Mungkin seorang ilmuwan gila telah memanipulasi hukum termodinamika. Atau mungkin kita sedang berada dalam dunia di mana hukum fisika tidak berlaku seperti yang kita kenal.

Contoh konkret dalam kenyataan, tidak ada manusia yang bisa berlari dengan kecepatan cahaya. Tapi dalam fiksi, The Flash bisa melakukannya. Kenapa? Karena penulisnya membangun sistem logika sendiri, yaitu Speed Force, ada hukum-hukum fisika fiksi yang dijelaskan secara internal dalam semesta itu. Kita percaya bukan karena kita bodoh, tapi karena ada usaha menciptakan alasan.

Sebaliknya, jika seseorang menulis cerita tentang manusia yang bisa terbang hanya karena “ya, pokoknya bisa,” tanpa alasan, tanpa aturan, maka cerita itu akan hancur lebur. Tidak ada yang lebih menyebalkan daripada membaca fiksi yang menganggap pembacanya idiot.

Ironisnya, ada banyak penulis yang bahkan tidak menyadari bahwa mereka sedang menulis sesuatu yang tidak masuk akal. Mereka menulis adegan di mana seorang detektif menemukan pembunuh hanya dengan melihat bayangan di cermin, tanpa penjelasan bagaimana itu bisa terjadi. Mereka menulis kisah cinta di mana tokoh utama langsung jatuh cinta hanya karena tatapan lima detik, seolah manusia kehilangan akal sehat mereka begitu saja. Dan yang lebih parah, mereka tidak merasa perlu untuk menjelaskan. “Pokoknya begini, suka atau tidak suka, terima saja.” Begitulah cara seorang penulis membunuh dirinya sendiri. Karena ketika pembaca merasa cerita itu tidak punya dasar, mereka akan kehilangan minat.

Sebaliknya, jika penulis memiliki kecerdasan untuk menyulam logika dalam narasi, ia bisa membuat pembaca percaya pada hal-hal paling gila sekalipun. Penulis fiksi ilmiah bisa membuat kita percaya bahwa ada dunia lain di ujung galaksi. Penulis horor bisa meyakinkan kita bahwa ada makhluk tak terlihat yang mengintai di balik jendela. Penulis fantasi bisa membuat kita percaya bahwa seorang bocah dengan tongkat bisa mengalahkan penyihir paling kuat. Karena mereka tidak hanya menulis, mereka membangun dunia dengan alasan-alasan yang kuat.

Jika ada satu pesan yang harus diambil dari ini semua, maka pesannya sederhana, jangan malas. Jangan menulis hanya berdasarkan kepercayaan bahwa pembaca akan menerima segala omong kosong yang kau berikan. Pembaca tidak bodoh. Mereka bisa membedakan mana cerita yang dipikirkan dengan matang dan mana yang hanya sekadar karangan asal jadi.

Jadi, jika di cerita buatanmu ada ikan yang tiba-tiba muncul di pantai saat bulan purnama, jangan hanya berkata, “Ya, pokoknya ada.” Berilah alasan. Mungkin air laut tercemar zat kimia yang mengubah perilaku ikan. Mungkin ada badai besar yang menggiring mereka ke tepi pantai. Mungkin ini spesies baru hasil mutasi. Apapun itu, selama ada usaha membangun narasi yang masuk akal, pembaca akan percaya. Karena menjadi penulis bukan sekadar menulis. Menjadi penulis berarti berpikir. [] Redaksi

Dunia Buku

Buku Tak Selamanya Dibaca

Ada berbagai macam cara untuk menikmati buku. Bagi orang dewasa, tentu cara menikmati buku ya dengan membaca. Tidak melulu harus paham isinya. Seperti halnya minum kopi, tidak wajib tahu jenis kopi dan bagaimana cara pengolahannya, siapa pun bisa menyesap kopi. Dengan atau tanpa gula. Disajikan panas atau dingin. Semua kembali pada kesukaan, kebiasaan dan tingkat pengetahuan si penikmat kopi atau buku itu sendiri.

Tapi pernahkah kamu melihat bagaimana dunia anak-anak bekerja? Murni, bebas dan tanpa aturan. Pada dasarnya mereka tidak suka dibatasi. Ada haus akan penasaran yang selalu ingin dituntaskan. Maka tak heran jika buku bagi anak-anak haruslah menarik secara penampilan. Fullcolour dan penuh dengan gambar.

Ada contoh seorang anak balita yang belum bisa membaca, ketika ada buku yang menurutnya menarik, maka dia akan meminta dibacakan oleh ibunya. Entah itu dongeng, atau cerita anak lainnya. Selama belum bosan, bisa jadi anak itu akan meminta ibunya untuk terus menerus membacakannya. Meski ada banyak buku lain yang juga bisa dibaca. Hal itu bukan karena si anak suka dengan ceritanya, tapi mungkin tertarik dengan cara ibunya membaca: suara, intonasi, dan ekspresi saat membacakan cerita. Itulah kenapa buku bisa menjadi jembatan untuk mendekatkan hubungan antara orangtua dengan anaknya. Anggaplah dunia dongeng berada di level 1 cara anak menikmati buku.

Berikutnya, masuk ke level 2. Anak itu bosenan. Biasanya, semakin besar, maka anak sudah tidak terlalu tertarik lagi dengan dongeng sebelum tidur. Rasa penasarannya sudah mulai ingin di-explore sendiri. Buku-buku cerita anak yang biasanya tertata dan tersimpan rapi, mendadak tersebar memenuhi lantai. Ada yang dicorat-coret, digambar, diwarnai, bahkan ada juga yang menggunting-gunting tokoh dan hewan yang ada di buku, lalu ditempel di tembok, kulkas, dan perabot-perabot lain yang ada di rumah. Di sinilah biasanya istilah Rumah Bak Kapal Pecah akhirnya muncul. Buku sudah bukan lagi dibaca atau dibacakan. Mereka ingin sesuatu yang lebih. Termasuk merobek-robek dan menciptakan ulang bentuk baru dari kertas. Misal: menjadi kapal, pesawat, atau yang lainnya.

Begitulah cara anak menikmati buku. Kesenangan mereka tidak hanya didapat dari sekadar membaca dan mendengar. Mereka belum mengenal istilah rapi, bersih, dan tertata. Dan memang seperti itulah dunia mereka. Justru para orangtua yang membuat anak menjadi tidak tertarik dengan buku. Kalimat: Jangan sampai kotor! Jangan dicorat-coret! Jangan sampai rusak! Dan berbagai jangan jangan lainnya yang sebenarnya menjadi mantra sihir yang membuat anak malas berdekatan dengan buku.

Karena itu, menikmati bacaan adalah hal yang sangat relatif. Tidak sepantasnya diatur, dihujat dan dibanding-bandingkan. Apakah membaca novel terjemahan jauh lebih terpelajar dari membaca novel lokal. Membaca komik lebih terkesan malas dibanding membaca biografi tokoh sejarah. Semua tidak ada yang lebih unggul dari yang lain. Karena setiap buku, memiliki pembaca dan cara menikmatinya sendiri-sendiri. [] Redaksi

Dunia Menulis

Menulis Mimpi

Pagi ini aku bangun lebih cepat dari alarm yang kupasang. Bukan karena pekerjaan atau hal lain yang mengharuskan segera siap, melainkan aku bermimpi. Sesuatu yang cukup istimewa. Seperti tiba-tiba mendapat pesan WhatsApp dari teman lama yang niat bayar utang padahal aku sendiri sudah malas menagihnya.

Tidak begitu kuingat detail mimpi itu. Aku hanya melihat ada banyak pesawat kertas beterbangan. Di langit, di atas hamparan sawah, juga di lautan. Sesaat sebelum aku terbangun, aku ingat berhasil mengambil satu yang berwarna oranye karena jatuh di tanah. Saat kubuka, tampak gambar ikan mas dan sebuah kalimat: Menjadi kerdil, lalu terbanglah.

Ide menulis bisa dari mana saja. termasuk berawal dari mimpi. Misal tentang petualangan. Ada tokoh yang berharap bisa menembus ruang dan waktu melalui celah plafon. Berharap ia tidak lahir dari rahim seorang pelacur yang membuatnya bingung menentukan panggilan ayah ditujukan kepada siapa. Atau seekor bunglon yang menyelam menuju masa depan dan mendapati dirinya seorang pangeran tampan dengan banyak selir. Atau kambing jantan yang menjadi mata-mata profesional untuk mengungkap korupsi mega proyek dari pejabat hutan yang membuat desanya kehilangan sawah dan permukiman. Perkara jalan cerita, bisa absurd dan tanpa arah. Kadang justru menemui ending bahkan sebelum dimulai, seperti perubahan peraturan yang terus-terusan dilakukan hingga menghabiskan banyak anggaran rapat dan perjalanan, tapi hanya mampu berjalan sejauh pengesahan karena masa jabatan usai sebelum sempat dilaksanakan.

Mimpi sering meloncat-loncat tak keruan. Baru saja rebahan di kamar sembari membaca novel cinta, mendadak terdengar suara yang memungkinkan setting berpindah ke gedung sekolah dengan penampakan lima orang siswa belajar di bawah atap yang hampir ambruk. Kemudian berpindah lagi bersama beberapa orang berdasi di kursi pesawat pribadi dengan sampanye dan makanan mahal, sembari bicara omong kosong dan sesekali memandang kota Paris yang romantis melalui jendela.

Menulis pun begitu, boleh sebebas-bebasnya, sesuka hati. Melompat dari waktu dan tempat tertentu. Memakai  alur maju, mundur atau kombinasi. Bahkan saking bebasnya bisa seperti lukisan abstrak. Ada garis, warna dan titik yang sengaja diputus, disambung atau ditumpuk. Semakin sulit dimengerti, biasanya karya akan semakin dianggap nyeni. Sesungguhnya menulis bukan hanya merujuk pada kata yang dirangkai menjadi cerita. Seperti mimpi yang bukan hanya sekadar bunga tidur. Menulis bisa menjadi sarana paling sederhana untuk menumpahkan emosi, pikiran, dan harapan.

Ketika karya sudah selesai ditulis, sebaiknya langsung moveon. Entah dikirim ke media, event lomba atau penerbit. Setelah itu tak perlu dipikir. Kembalilah sibuk menulis lagi. Dengan begitu, waktumu tidak akan banyak terbuang untuk menanti kabar yang belum pasti. Tahu-tahu: “Loh, dimuat” atau “Gila, ternyata menang lomba.”

Tulisan ibarat pesawat kertas di mimpi tadi. Tak peduli apakah pesawat kertas itu akan dibawa angin terbang sampai ke angkasa, nyungsep ke jalan-jalan raya penuh lubang dan kubangan, atau malah nangkring di dahan pohon kering atau atap gedung MPR/DPR. Karena nasib tulisan itu hanya akan ada dua: diterima atau ditolak. Apa pun hasilnya jangan terlalu didramatisir. Karena jika menulis memang untuk kepuasan diri sendiri, maka tak perlu risau jika penilaian orang lain belum sesuai harapan.

Setidaknya, keberadaanmu baik dalam mimpi atau tulisanmu sendiri akan selalu hidup. Di sanalah satu-satunya tempat yang menjadikanmu pemeran utama. Yang di kenyataan, mungkin kita masih menjadi pecundang. Belum berhasil menjadi sosok pemberani yang frontal melawan segala ketidakadilan. Kebebasan berekspresi yang katanya boleh disampaikan sebagai wujud aspirasi, teredam berbagai syarat dan aturan yang pada akhirnya dibatasi. Tidak ada ketakutan yang benar-benar dibiarkan lepas. Tidak ada tuntutan yang benar-benar mau didengar. Perjuangan pada ujungnya hanya seperti tulisan-tulisan di atas kertas yang disobek dan dilipat menjadi pesawat kertas, lalu diterbangkan dan jatuh terinjak oleh sepatu-sepatu mengilap para penguasa. Dan hal itu tidak apa-apa. Teruslah menulis. Katakanlah tulisan bisa basi, setidaknya ia bisa menjadi karya abadi. [] Redaksi

Dunia Menulis

Menang Sebelum Bertarung, Kalah Sebelum Menulis

Sebelum lanjut mengulik perihal menulis, bahasan ini menarik kita simak lebih dulu. Konon, menjadi penulis yang sudah punya nama adalah karunia dari semesta. Segala pintu katanya akan terbuka otomatis. Lomba? Ah, sudah pasti menang. Kirim ke media? Tinggal kirim, redaksi langsung pasang, tanpa tedeng aling-aling. Hidup para penulis ternama seperti naik becak antigravitasi, melaju tanpa goyangan, bebas dari lubang, dan tentu saja, bebas ongkos.

Padahal, realitasnya tak seindah mitos-mitos urban yang berseliweran di grup-grup penulis. Justru di balik nama yang disebut-sebut, ada tekanan, ada beban, dan tentu saja ada stigma yang nyaris tak bisa dinegosiasi. “Kamu kan sudah terkenal, masa kalah?” atau, “Kamu sih enak, tinggal kirim pasti dimuat.” Yang tak banyak tahu, kadang si penulis ‘besar’ itu telah mengirim naskah ke media bahkan sampai malas menghitung karena saking banyaknya yang ditolak, tapi karena tak mengaduh di linimasa, semua orang mengira ia sedang berpesta pora.

Masalahnya bukan semata pada penilaian yang keliru. Masalahnya ada pada cara kita meletakkan makna nama dalam lanskap kesusastraan kita. Kita terlalu tergoda untuk percaya bahwa nama adalah jimat. Nama adalah kekuatan gaib. Nama adalah jalan pintas. Lalu kita pun, sadar atau tidak, mulai menggeser perhatian dari karya ke pencitraan, dari tulisan ke popularitas.

Dunia menulis, sayangnya, mulai meniru dunia politik. Kita membenci dinasti, tapi diam-diam kita bangun dinasti nama. Kita hujat politisi yang hanya menang karena trah keluarga, tapi kita taburkan pujian pada penulis yang menang karena sudah langganan. Di sinilah tragedi kecil itu bermula, ketika kualitas dikalahkan oleh asosiasi. Ketika naskah yang tulus harus bersaing dengan mitos personal yang dibentuk oleh puja-puji massal.

Kita sedang melatih generasi penulis untuk takut, bukan untuk tumbuh. Takut ikut lomba karena takut bersaing dengan yang suhu. Takut mengirim ke media karena merasa tak punya peluang jika belum punya nama. Bahkan, lebih parah, kita memelihara kecurigaan yang absurd, bahwa redaksi itu hanya memuat tulisan teman-teman sendiri. Bahwa juri hanya akan memilih karya dari lingkaran dalam. Bahwa semuanya sudah diatur dari awal, dan menulis hanyalah formalitas kecil untuk mengisi panggung pertunjukan yang sudah punya pemenang sejak lampu belum dinyalakan.

Kecurigaan ini menular. Menginfeksi semangat. Mengikis etos. Kita berhenti menulis karena merasa sistem sudah berat sebelah. Lalu kita ikut menyebar narasi: percuma, kalau bukan si anu, ya nggak bakal dimuat. Kita jadi generasi penulis yang belum menulis, tapi sudah menyerah. Belum ikut, sudah putus asa. Kita kehilangan satu hal yang membuat dunia menulis istimewa, yaitu  kemungkinan.

Sementara itu, penulis yang dianggap sudah punya nama pun tak kalah sial. Mereka terpaksa hidup dalam ekspektasi orang lain. Ketika menang, mereka dituduh curang. Ketika kalah, mereka dicibir: “Wah, sudah habis masa jayanya.” Ketika mengirim karya ke media kecil, mereka dianggap mencuri lahan. Ketika tak muncul lama, mereka disebut sombong dan lupa komunitas. Dunia ini, kadang, kejam dalam bentuk yang halus, yakni label.

Dan dari semua itu, satu yang paling menyakitkan adalah ketika karya tidak lagi dipandang sebagai karya, tapi sebagai atribut. Tulisan bukan lagi ruang ekspresi, tapi hanya menjadi efek dari “siapa yang menulis”. Seolah nama lebih penting dari narasi. Seolah yang kita cari bukan apa yang ditulis, tapi siapa yang menulis.

Padahal dunia menulis tidak (dan tidak boleh) bekerja seperti itu. Dunia menulis bukan parlemen yang dipenuhi jatah kursi. Ia adalah ruang bebas di mana semua orang bisa hadir dengan gagasan, rasa, dan suaranya. Penulis pemula punya peluang yang sama besarnya dengan penulis mapan. Karya yang jujur, kuat, dan pas sasaran bisa menembus siapa pun, dari mana pun. Bahkan jika tak dimuat hari ini, tak menang pekan ini, ia akan menemukan jalannya sendiri.

Dan inilah paradoks yang patut kita syukuri: dunia menulis tidak pernah stabil. Ia selalu cair, selalu berubah. Hari ini seseorang bisa tak dikenal, besok karyanya bisa viral karena menyentuh begitu banyak hati. Hari ini seseorang bisa disanjung, besok ia ditinggal karena terlalu nyaman dengan pujian.

Jadi, untuk para penulis yang merasa belum punya nama: tak perlu minder. Tak perlu takut. Tak perlu sibuk mengukur peluang dengan kaca mata ketakutan. Satu-satunya yang perlu kamu lakukan adalah menulis sebaik mungkin, sesering mungkin, dan sebisa mungkin tanpa prasangka pada hasilnya. Dunia literasi tidak sedang mencari selebritas, ia sedang mencari suara-suara baru yang tulus dan menggugah.

Dan untuk para penulis yang katanya sudah punya nama: bersabarlah. Jangan cepat lelah dengan ekspektasi. Jangan menyerah hanya karena ditolak berkali-kali. Nama besarmu bukan jaminan, tapi juga bukan kutukan. Ia hanya bagian kecil dari perjalanan. Yang penting tetap menulis, tetap bergairah, tetap merunduk di hadapan kata-kata.

Karena pada akhirnya, yang akan bertahan bukanlah nama, tapi karya. Nama bisa memudar, tapi tulisan yang menyentuh hati akan tetap dibaca meski penulisnya sudah tiada. Maka mari kita jaga dunia menulis ini tetap bening, jujur, dan menyenangkan. Bukan arena saling curiga, tapi ruang saling tumbuh. Bukan ladang perebutan posisi, tapi taman untuk saling menyiram harapan. Dan biarlah nama, jika memang harus tumbuh, tapi tumbuh dari karya. Bukan sebaliknya. [] Redaksi

Dunia Buku

Bercak

Ada buku yang bersih, disampul plastik bening, berjilid rapi, disusun simetris di rak kaca dengan pengharum ruangan aroma kayu manis. Dan ada buku yang bercak, sudut halamannya keriput, ujung kertasnya menggulung, tintanya memudar terkena air, atau lebih brutal lagi, bercak kecokelatan yang tak sanggup kita yakini berasal dari kopi atau kotoran adik. Ironisnya, sering kali buku yang paling bercak itu justru yang paling hidup.

Mari kita mulai dari bercak paling populer: kopi. Membekas bundar di halaman 47 novel murahan yang dibaca di warung saat menunggu hujan reda. Jejak cangkir itu tampak seperti stempel resmi dari waktu, pengukuhan bahwa buku ini telah dibaca dengan tergesa tapi penuh harap. Ini bukan sekadar tumpahan. Ini bukti bahwa pengetahuan, cerita, bahkan cinta, bisa tumbuh di tengah kebisingan tukang parkir dan isak hujan di atap seng.

Kita pernah punya buku pelajaran bersampul kalender bekas, dengan bercak saus tomat dari nasi bungkus makan siang. Anak-anak sekolah dari keluarga pas-pasan tahu betul, belajar dan lapar itu dua sisi dari satu koin yang dilempar secara sembrono. Dan ketika saus itu menodai halaman, itu bukan kecelakaan. Itu pernyataan, pengetahuan tidak tumbuh di ruang steril, tapi di sela-sela perut keroncongan dan PR yang dikerjakan sambil jaga warung.

Lalu ada bercak lumpur. Buku korban banjir. Yang kertasnya merekah seperti luka lama yang terbuka lagi. Bau busuk lembabnya seperti nostalgia yang basi, tentang negara yang tak pernah belajar menata drainase, tapi selalu sibuk menata narasi keberhasilan. Buku-buku itu disusun ulang di emper rumah, dijemur di bawah matahari yang malas, dan tetap dibaca, meski huruf-hurufnya kabur, seperti janji kampanye yang mencair bersama air comberan.

Namun, bercak paling menyakitkan adalah kotoran adik. Simbol kekacauan yang tak bisa disensor. Bayi itu tidak tahu bahwa ia menodai halaman cerpen Pramoedya yang sedang kita baca diam-diam di kolong ranjang. Tapi justru di sanalah letak puisi sejatinya, saat sastra agung dan feses domestik bersatu dalam satu halaman. Bukankah hidup juga begitu? Harapan dan kehancuran berdempetan, saling mencemari. Kadang cinta juga begitu, mulia dan jorok dalam napas yang sama.

Lucunya, para pejabat negeri ini lebih takut pada bercak sejarah ketimbang bercak saus. Mereka cuci tangan dari lembar-lembar masa lalu, menyelipkan revisi di kurikulum, dan menyemprotkan parfum pembangunan di arsip yang berjamur. Tapi tak pernah sungguh membersihkan kebenaran. Mereka ingin kita membaca buku sejarah yang bersih, tapi tak pernah menjelaskan mengapa darah petani dan tinta jurnalis menodai catatan-catatan itu. Mereka takut pada bercak karena bercak mengingatkan, ada yang pernah salah, dan belum ditebus. Padahal, bercak adalah pengingat bahwa kita hidup. Bahwa kita menyentuh sesuatu, bahwa sesuatu menyentuh balik.

Dan di titik ini, mari kita bicara tentang bercak yang lebih halus, lebih personal, lebih kejam, bercak cinta. Ada satu buku, novel usang yang kamu beli di pasar loak. Di halaman 23, ada bekas lipstik. Sudutnya terlipat. Entah siapa yang meninggalkannya, tapi kamu tahu: buku itu pernah menjadi alat rayu. Atau medan perang. Mungkin ada seseorang yang diam-diam menyelipkan buku itu ke tas kekasihnya, berharap satu paragraf dari kisah fiksi itu bisa menggantikan keberanian yang tak pernah ia miliki.

Lalu ada bercak yang lebih basah, bekas air mata. Air mata yang jatuh di halaman surat terakhir dari tokoh utama. Mungkin itu air mata kekasih yang sedang membaca di halte, menunggu seseorang yang tak pernah datang. Atau air mata seorang istri yang menemukan puisi tentang perpisahan di halaman buku suaminya yang telah lama dingin. Buku itu menjadi saksi yang tak pernah dipanggil ke pengadilan rumah tangga. Cinta itu jorok, kata orang yang pernah patah hati. Tapi justru di situlah ia bersenyawa dengan buku: dua-duanya menyimpan bercak. Dan bercak itu abadi, meski orangnya sudah lama pergi.

Dan kita belum bicara soal cinta yang gagal. Buku yang dikembalikan dalam keadaan hancur, sampul terkelupas, halaman penuh coretan, ada bekas nama yang disilang pakai spidol hitam. Itulah cinta yang berubah menjadi dendam literer. Tapi tetap saja, buku itu disimpan. Karena kadang kita lebih takut kehilangan kenangan buruk ketimbang tak punya kenangan sama sekali.

Kita hidup di zaman di mana cinta ingin dituliskan dalam format PDF, dikirim lewat emoji, ditandai dengan centang biru. Tapi cinta yang membekas, yang betulan mengubah hidup masih ada dalam buku-buku bercak itu. Yang kertasnya mengerut karena pernah basah. Yang baunya tengik karena disimpan terlalu dekat dengan bantal. Yang tulisannya pudar, tapi kenangannya tajam.

Karena cinta yang paling jujur tidak hadir dalam kalimat sempurna. Ia hadir dalam bercak. Yang diam-diam bertahan. Yang tak bisa dijelaskan. Tapi juga tak bisa dilupakan. [] Redaksi

Dunia Buku

Tanpa Ritus dan Kenang

Sebagian orang membaca dengan lilin. Maksudnya, ritual. Mereka menyalakan dupa, menyeduh kopi Arabika, memutar lagu jazz dari tahun yang tak mereka alami, lalu duduk bersila menghadap buku seakan itu kitab pewahyuan. Ada yang harus membaca di kafe dengan pencahayaan remang dan sesapan latte seharga makan dua hari. Ada pula yang tak bisa membaca jika belum mandi, belum ganti baju, atau belum mood. Dan semua itu sah saja, kalau memang hidupnya memungkinkan.

Tapi tidak semua orang lahir dalam selimut wangi dan meja baca dari kayu jati alas. Tidak semua orang punya ruang khusus untuk membaca. Tidak semua orang bisa memilih mau membaca sambil duduk santai atau sambil menahan kantuk karena semalam kerja lembur. Beberapa orang membaca di antara nadi yang sempit, waktu yang retak, dan realitas yang kadang lebih keras dari narasi fiksi murahan.

Saya, misalnya, tidak punya ritual. Membaca ya membaca saja. Di halte. Di angkot. Di hik. Kadang hanya sempat satu paragraf, kadang satu buku tamat dalam sekali duduk karena bosan menghadiri resepsi. Saya tak merasa perlu mengultuskan momen membaca. Buku bukan benda sakral. Ia bisa menyentuh yang profan, yang remeh, bahkan yang bau. Dan bagi saya di situ letak kekuatannya.

Soal kenangan pun saya tidak punya banyak toleransi. Saya tidak terlalu percaya pada romantisasi masa lalu. Kenangan, kalau pun ada, biarlah ia lewat seperti gerbong KRL yang tak sempat dinaiki. Dulu saya pernah memfotokopi buku karena tak mampu beli. Saya tak merasa bersalah, karena toh saya tidak menjualnya. Itu jalan saya mendekati ilmu, sepraktis mungkin. Lalu ketika punya uang, saya beli yang asli. Buku-buku hasil fotokopi saya buang. Tidak saya simpan, tidak saya kenang, tidak saya unggah di Instagram dengan caption, Inilah perjuangan membaca kami dahulu.

Saya tidak sedang mempermalukan mereka yang punya kenangan dengan buku. Saya cuma tidak ikut menyembahnya. Beberapa orang mengemas nostalgia dalam toples kaca dan memajangnya di rak-rak hati. Saya? Saya lebih memilih membiarkannya basi dan dibuang ke tong.

Sama halnya dengan koleksi. Saya tidak yakin akan menyimpan semua buku sampai mati. Buku-buku yang sudah saya baca akan saya jual lagi. Bukan karena tak cinta, tapi karena saya tidak ingin orang yang saya tinggalkan nanti kebingungan harus mengangkut ratusan buku ke mana. Lagi pula, sebagian besar buku tak perlu disimpan; cukup dipahami. Dan kalau benar isinya sudah menyatu dengan hidup, mengapa harus takut melepas fisiknya?

Dan soal masa lalu, termasuk masa lalu para penguasa, saya juga tak punya misi heroik untuk mempengaruhi kebijakan hari ini. Saya tak percaya pada balas dendam sejarah. Kalau hari ini bisa diperbaiki, maka perbaikilah. Saya lebih respek pada tindakan benar hari ini daripada sibuk mengungkit luka lama demi mendapatkan moral points di X.

Tapi, ya, begitulah. Ada yang hidup dalam ritual. Ada yang menggantungkan hidup pada kenangan. Ada juga yang, seperti saya, membiarkan semuanya lewat dan hanya menakar hidup dari apa yang bisa dilakukan hari ini.

Dan di tengah itu semua, ada satu hal yang tetap diam-diam berkuasa, yaitu cinta. Saya pernah menemukan sebuah kaleng tua di sebuah rumah kosong. Di dalamnya ada beberapa surat cinta. Kertasnya menguning. Tulisannya nyaris pudar. Tidak jelas siapa penulisnya. Tidak jelas juga siapa yang dituju. Saya tidak mencoba mencari tahu. Saya hanya mengembalikannya ke tempat semula. Karena saya percaya, cinta tidak butuh penonton. Ia punya sejarahnya sendiri, punya medan ritusnya sendiri, yang tak perlu ditafsir dan diingat oleh siapa pun selain yang menjalaninya.

Buku pun sama. Tidak semua harus diberi pelukan emosional atau altar kenangan. Tidak semua butuh ritual. Ada yang cukup dibaca dan dilupakan. Ada yang cuma singgah untuk kemudian hilang. Tapi bukan berarti tak penting. Justru karena tak diritualkan, karena tak dikenang, mereka masuk lebih dalam, menjadi bagian dari hidup, bukan sekadar benda yang diabadikan.

Karena pada akhirnya, membaca bukan soal lilin, bukan soal kopi, bukan soal kenangan. Membaca adalah keberanian untuk melihat, mencerna, dan kadang mengabaikan. Sama seperti cinta. Ia tak butuh kenangan untuk tetap hidup. Ia hanya butuh pengakuan, bahkan jika itu sekadar dalam bentuk kaleng tua yang dibiarkan utuh. [] Redaksi

Dunia Buku

Buku Mesum

Konon, buku adalah salah satu guru. Tapi tak ada yang menjamin guru selalu bijak. Guru bisa lembut seperti ibu yang sabar, tapi kadang bisa mengejutkan, kasar, galak, dan liar, seperti ular. Dan seperti halnya kita tidak tahu kita dilahirkan siapa, pun kita tidak tahu siapa guru baca pertama kita.

Seorang remaja, usianya dua belas tahun, menemukan sebuah buku tua tersembunyi di gudang. Sampulnya polos, tanpa ilustrasi, tapi isinya, waduh. Meledak bagai mercon Cap Kera. Deskripsi detail tentang tubuh, hasrat, dan perbuatan yang bahkan belum sempat dia pikirkan. Bukunya bisa jadi karangan sastrawan besar, bisa juga hanya novel murah lima ribuan cetakan tahun 80-an, dengan judul: Gairah Si XXX di Tengah Ladang Tebu. Buku itu dipegang dan dibaca. Lantas apa jadinya?

Kita suka panik. Kita labeli saja itu: buku mesum, lalu buru-buru kita menyalahkan penulis, penerbit, bahkan tukang fotokopi. Tapi kita lupa, yang mesum itu bukan selalu bukunya. Kadang, yang benar-benar vulgar adalah cara kita membungkam pembaca.

Masalahnya bukan pada konten semata, melainkan pada konteks dan nihilnya pendampingan. Membaca tanpa peta itu seperti menjelajahi hutan pakai tutup mata, rawan nyasar, tapi juga bisa jadi petualangan yang membentuk kita.

Mari kita jujur, buku-buku tentang seks, hasrat, dan tubuh, meskipun sering dicibir, justru diam-diam punya pembaca loyal dari segala kalangan. Tak hanya remaja yang penasaran, tapi juga para pejabat yang siangnya sibuk koar-koar soal moral, malamnya menyelinap membaca PDF berjudul: Malam Panas di Balik Tirai Senayan. Ironis? Tentu. Tapi bukankah ironi adalah bagian dari kita?

Coba lihat data, cukup buka internet. Kasus pelecehan seksual lengkap di sana. Apakah itu karena terlalu banyak baca buku mesum? Atau justru karena kita tidak pernah diajarkan membaca hasrat dengan cara yang benar?

Kita hidup di negeri yang doyan menyensor payudara di buku sejarah, tapi membiarkan sinetron tayang jam tujuh malam menampilkan kekerasan rumah tangga dengan backsound mendayu. Negeri yang mengharamkan novel tentang cinta yang jujur, tapi menutup mata saat pejabat sering jajan nikmat di waktu dinas.

Lucunya, orang kecil seringkali justru punya kebijaksanaan. Mereka mungkin tak tahu istilah edukasi seksual, tapi mereka tahu mana yang pantas dan tidak. Seorang ibu penjual gorengan bisa dengan halus menasihati anaknya yang penasaran soal tubuh. Seorang bapak tukang tambal ban bisa bercerita tentang cinta dan tanggung jawab tanpa membuka halaman kamasutra.

Sebaliknya, mereka yang mengaku berpendidikan kadang gagap membicarakan tubuhnya sendiri. Lebih nyaman mengutuk buku mesum daripada mengakui bahwa mungkin yang rusak bukan bukunya, tapi cara kita memandang hasrat.

Jadi, apakah buku mesum harus dibakar? Tidak juga. Bakarannya mungkin lebih berguna untuk menghangatkan diskusi daripada membakar moralitas palsu. Bukannya lebih baik kita ajak anak-anak berdialog? Tanyakan kenapa mereka tertarik. Dengarkan. Jangan langsung bentak. Kadang anak hanya penasaran, bukan bejat. Yang bejat justru mereka yang tahu tapi berpura-pura suci.

Mari kita akui, buku tentang seks dan gairah bukan musuh. Mereka adalah bagian dari literasi tubuh dan rasa. Yang salah adalah ketika kita membiarkan buku-buku itu menjadi satu-satunya narasi tanpa disandingkan nilai, diskusi, dan kasih.

Mungkin saatnya kita berhenti mencibir anak yang membaca buku mesum, dan mulai mencibir sistem pendidikan yang takut bicara soal tubuh. Kita perlu lebih banyak guru yang bisa menjelaskan cinta tanpa malu. Lebih banyak orang tua yang berani bilang: “Kalau kamu bingung soal yang kamu baca, mari kita bahas.”

Pada akhirnya, bukan jenis bukunya yang membentuk kita, tapi bagaimana kita menanggapinya. Dan kalau buku yang kamu baca adalah soal desahan dan keringat, tak usah terlalu merasa berdosa. Bisa jadi itu hanya langkah awal menuju bacaan jernih, dan mendalam. Lagipula, bukankah yang suci dan kotor itu kadang hanya persoalan tampilan? [] Redaksi

Dunia Buku

Bertemu dan Aku Kalah

Aku masih ingat betul buku pertamaku. Sampulnya tipis, kertasnya kasar, cetakannya murahan. Tapi di dalamnya, dunia terasa lebih lebar dari halaman-halaman buku pelajaran yang cuma pandai menyusun hafalan tanpa makna. Aku tak terlalu peduli kala itu siapa penulisnya, atau apakah ia masuk daftar kurikulum. Yang penting, buku itu membuatku merasa hidup di tempat lain. Di mana orang bisa bicara tanpa takut, mencintai tanpa izin, dan menertawakan dunia tanpa dipenjara. Itulah kebohongan pertamaku.

Dan kebohongan pertama, seperti cinta pertama, jarang bisa ditebus. Sejak buku pertama, aku percaya bahwa membaca bisa membebaskan. Bahwa kata-kata bisa menyelamatkan. Bahwa literasi adalah bentuk tertinggi dari perlawanan. Tapi keyakinan semacam itu ternyata hanya cocok dibagikan di seminar literasi bertema: Mencerdaskan Bangsa, bukan di pasar yang basah oleh caci-maki, bukan di desa tempat satu perpustakaan berbagi ruang dengan posyandu dan gudang beras bulog. Aku tumbuh dalam kesadaran yang getir, bahwa buku tak pernah benar-benar mampu mengubah kenyataan. Ia hanya memperindah luka.

Ironis, bagaimana buku pertama sering jadi simbol kebangkitan jiwa, padahal sejatinya adalah pengakuan halus bahwa kita sudah kalah dari hidup. Tak bisa melawan, kita memilih melarikan diri. Tak sanggup bicara, kita memilih membaca. Kita kehilangan dunia nyata, maka kita mendirikan dunia tandingan dalam fiksi. Buku pertama bukan gerbang kemenangan, melainkan pintu pelarian. Pintu kekalahan. Semacam cara halus untuk menerima bahwa realitas terlalu buruk untuk dihadapi jika tanpa bius.

Dan lihatlah, bagaimana negara kita memanfaatkan ilusi ini. Pemerintah tak perlu repot-repot menyediakan keadilan sosial; cukup promosikan minat baca dan adakan lomba resensi. Padahal bagaimana bisa membaca menjadi budaya kalau harga satu buku sama dengan dua liter minyak goreng? Mereka bicara soal literasi digital di panggung, tapi membiarkan perpustakaan sekolah jadi gudang rayap. Mereka anggarkan miliaran untuk proyek cetak buku yang tak pernah dibaca, lalu mengklaim rakyat makin cerdas.

Kita ditipu dengan cara yang sangat sastrawi. Yang lebih menyakitkan adalah bagaimana buku pertama sering jadi awal dari elitisme baru. Begitu seseorang mengenal Chairil atau Pram, mereka mulai bicara dengan diksi yang tak lagi bisa dimengerti oleh tetangganya. Membentuk lingkaran kecil, mengutip puisi seakan ia mantra, dan memandang dunia dari balik kacamata full frame. Literasi tak lagi soal pencerahan, tapi soal kasta. Yang belum baca, dianggap belum sadar. Yang tak paham Derrida, dianggap belum sampai. Lalu kita heran mengapa bangsa ini tetap tertinggal, padahal setiap tahun jumlah penerbit bertambah?

Kita memuja buku pertama sebagai mercusuar, padahal ia bisa jadi awal dari keterasingan panjang. Kita sibuk membangun rak buku, tapi lupa membangun empati. Kita menyebarkan kutipan tentang revolusi, tapi tak pernah turun ke jalan. Buku pertama yang seharusnya menjadi jembatan, malah berubah jadi menara gading. Kita menjadi pembaca yang angkuh, bukan manusia yang utuh.

Namun, seperti cinta pertama, buku pertama juga menyisakan sejumput rasa yang tak bisa sepenuhnya dibenci. Sebab di tengah semua ironi, ia tetap membawa sesuatu yang tulus. Mungkin bukan kebebasan, tapi secercah kemungkinan. Mungkin bukan jawaban, tapi semacam pelipur. Ketika dunia menolak kita, halaman-halaman itu membuka ruang. Ketika kita terlalu kecil untuk melawan, kata-kata itu menyelamatkan kita dari kehancuran total. Buku pertama mengajarkan satu hal: bahwa meskipun kenyataan menolak diubah, kita tetap punya hak untuk membayangkannya. Dan kadang, imajinasi adalah bentuk perlawanan paling halus, juga paling mematikan.

Jadi, mungkin aku telah tertipu oleh buku pertama. Tapi itu tipuan manis. Seperti ditinggal kekasih yang sempat membuat kita merasa dicintai, walau hanya sebentar. Ada rindu yang tak bisa dijelaskan, ada luka yang ingin diulang. Hahaha.

Karena meskipun dunia tetap kacau, meskipun hidup tak pernah jadi novel, aku tetap akan membaca. Bukan karena yakin buku bisa mengubah segalanya. Tapi karena di dalamnya, aku masih bisa percaya, walau cuma untuk sementara, bahwa segalanya mungkin untuk diubah. Dan itulah satu-satunya kekalahan yang masih bisa kuterima dengan senyuman. [] Redaksi

Dunia Buku

Tetap di Sini, Meski Kau Pergi

Coba kita duduk sejenak. Pegang buku yang sedang dibaca, buka halamannya, dan lihat benda mungil yang diam di sana. Ya, pembatas buku. Kecil, sederhana, kadang cuma sobekan kuitansi parkir lusuh, tapi tahu tugasnya. Ia tidak memaksa jadi sorotan, hanya menjaga, agar kita tahu di mana berhenti dan bisa kembali tanpa tersesat.

Sementara, di luar halaman-halaman buku, kita lihat orang-orang yang katanya penting, berdasi mengilap, jargon keterlibatan meluncur dari mulutnya, sibuk menonjolkan diri. Mereka bukan pembatas buku. Mereka lebih mirip stabilo norak yang justru mengotori teks, atau lebih parah, jadi sobekan tangan sendiri yang menyelip tanpa izin, merusak alur, bahkan mengganggu kenikmatan membaca karena kesombongannya.

Pembatas buku tidak pernah mengklaim diri sebagai pahlawan. Tak ada kampanye, tak ada baliho, tak ada stiker wajah di lampu merah. Tapi ia konsisten. Kecil, tapi fungsinya tak tergantikan. Bandingkan dengan mereka yang suka mendeklarasikan jasa sejarah, padahal seringnya cuma bikin sistem makin kisruh.

Kita bisa belajar dari yang sederhana. Rakyat kecil, yang bangun pagi, kerja banting tulang, antre BPJS, bayar pajak, dan masih disuruh sabar demi kemajuan bersama, mirip sekali dengan pembatas buku. Selalu ada, tapi jarang dianggap penting. Padahal merekalah penopang utama narasi negeri.

Sementara mereka yang di atas, dengan segala bacot dan proyek pencitraan, sibuk menyisipkan diri ke dalam cerita. Buku bangsa jadi penuh catatan kaki egoistik. Mereka ingin jadi penentu arah, padahal bikin kita tersesat dalam labirin birokrasi.

Pembatas buku, justru karena ia tahu batas, jadi penjaga ritme. Ia tak mengambil hak halaman lain. Ia tak memonopoli ruang cerita. Maka ketika kita bicara tentang siapa yang seharusnya dihormati, bukan mereka yang hobi tampil, tapi yang tetap setia di tempatnya, seperti pembatas buku.

Kepada yang merasa penting, coba lihat pembatas buku. Ia diam, tapi bekerja. Sederhana, tapi berarti. Tak butuh tepuk tangan. Mungkin kalau kalian mau belajar darinya, kalian tak perlu jadi bahan meme mingguan karena kebijakan absurd. Dan tak perlu menambal reputasi dengan pencitraan murahan. Percayalah, tiket nonton lawas yang dijadikan pembatas buku punya integritas lebih tinggi daripada kalian yang terus berdalih yang katamu demi kepentingan bersama.

Dan kalau kalian merasa tersindir, mungkin memang pantas. Diamlah sebentar. Belajarlah dari pembatas buku. Tanpa banyak cingcong, tapi nyata kerjanya.

Sekarang mari kita buka satu bahasan tambahan. Karena pembatas buku juga menyimpan kisah yang lebih sunyi: cinta. Pernahkah kamu menemukan pembatas buku yang bukan milikmu? Terselip di halaman 127, mungkin peninggalan seseorang yang dulu duduk di sampingmu di kafe. Atau mantan kekasih yang tak sempat pamit. Pembatas buku kadang membawa aroma, coretan kecil, atau hanya titik tiga… pertanda ada yang ingin dikatakan, tapi tak sempat diucap.

Cinta, seperti pembatas buku, tak menuntut jadi tokoh utama. Ia hanya ingin kamu kembali ke halaman yang membuatmu tersenyum. Ia tahu kapan diam, kapan pergi. Dan yang paling pilu: saat pembatas itu ditinggal di tengah buku, padahal cerita sudah selesai. Ia menunggu, diam-diam, berharap kamu kembali membuka halaman lama. Tapi di situlah romantikanya. Cinta sejati tak memaksa. Ia berkata pelan: kalau kau ingin kembali, aku di sini. Menandai di mana hatimu pernah berhenti.

Jadi, lain kali saat kamu temukan pembatas buku lama, jangan langsung buang. Mungkin di sana ada perasaan yang belum selesai. Atau kenangan yang masih ingin dipeluk. Karena cinta, seperti pembatas buku, tak perlu banyak suara. Cukup tahu di mana harus berhenti. Dan tetap ada saat kamu butuh arah pulang. [] Redaksi

Dunia Buku

Rumah Jin?

Ada anak yang bilang, “Aku nggak suka ke perpus, karena seperti masuk penjara. Buku-buku dipenjara di rak, harus pakai surat-surat lengkap kalau mau bawa pulang.” Dan entah kenapa, saya merasa anak ini lebih jujur daripada para pejabat yang mendadak religius saat sidang etik.

Perpustakaan memang sering kali terlihat seperti kuil modern, sunyi, penuh aturan, dan mengandung aura kudus yang tak semua orang boleh sentuh. Megah, ber-AC, dengan karpet tebal dan senyuman petugas yang lebih kaku dari patung pancoran. Tapi pertanyaannya: megah untuk siapa?

Coba tanya ibu penjual gorengan di pinggir jalan depan gedung perpustakaan provinsi. Sudah sepuluh tahun dia di sana, tapi belum pernah masuk. “Nggak enak, Mas. Saya bukan orang pinter.” Begitu katanya.

Lucu ya. Tempat yang katanya rumah ilmu, justru terasa bukan rumah bagi orang-orang kecil. Ironisnya, perpustakaan malah sering jadi tempat rapat pejabat, konferensi digitalisasi literasi, atau pameran produk kuliner.

Padahal, konon perpustakaan adalah tempat paling demokratis di muka bumi. Siapa pun boleh masuk, katanya. Tapi nyatanya, lebih banyak anak-anak SMA yang ke perpus cuma buat numpang Wi-Fi dan update story. Menimba ilmu di sarang para literati, padahal aslinya nonton anime di pojokan.

Tapi mari kita jeda sebentar dan hirup aroma absurditas ini: ada yang bilang perpustakaan itu rumah para jin. Mungkin karena sebagian bukunya lebih tua dari penjaga loketnya. Atau karena suasananya sunyi seperti ruang tunggu akhirat. Tapi bisa juga karena pengunjungnya kerap kerasukan ambisi, datang berniat mulia cari referensi skripsi, tapi tersesat membaca puisi patah hati, dan pulang membawa fotokopi yang tak pernah dibaca.

Ada juga yang bilang perpustakaan itu harta karun yang tak pernah ditemukan. Masuk akal, karena banyak buku bagus yang tidak dibaca sejak zaman Orde Baru. Mereka tertidur manis di rak, dilabeli kode, dilindungi plastik, dan dijaga oleh sistem peminjaman yang lebih ribet dari urusan KUA.

Ada juga yang bilang perpustakaan itu tempat kencan paling aman. Tak ada suara gaduh, tak ada risiko ditangkap Satpol PP, dan yang paling penting: kamu bisa menatap mata gebetan sambil berbisik, “Ssst, kamu lebih menarik dari teks pidato Bung Karno.” Dan jika beruntung, cinta bisa tumbuh di antara rak fiksi dan pojok referensi, di mana cinta dan ilmu pengetahuan bersenggama secara spiritual.

Atau bisa jadi di perpustakaan kamu bertemu calon istri. Kalian sama-sama rebutan buku The Interpretation of Dreams karya Freud. Dan ironisnya, setelah menikah, kalian berhenti bermimpi. Tapi tetap saja, cinta kalian lahir di antara rak dan catatan kaki.

Di sisi lain, perpustakaan juga bisa jadi tempat pelarian. Dari panasnya dunia luar, dari gebukan kenyataan. Bayangkan anak-anak kecil di pinggiran kota yang menemukan surga kecil di perpustakaan keliling yang mampir seminggu sekali. Buku-buku lusuh di atas mobil tua itu lebih berarti bagi mereka dibandingkan perpustakaan megah yang tak pernah bisa mereka singgahi.

Paradoksnya di sini, perpustakaan seharusnya jadi tempat paling terbuka, tapi kadang terasa paling eksklusif. Ia seperti kekasih lama yang dulu hangat, tapi kini hanya mengizinkanmu datang kalau kau sudah punya kartu anggota dan pakaian yang pantas.

Seperti mantan, kita tetap saja menyimpan dalam hati. Karena di perpustakaanlah kita pernah mengenal kata pertama, membaca kalimat cinta pertama, bahkan mungkin mencuri pandang pertama. Tempat kita belajar diam, mencatat, mengkhayal, dan berharap. Tempat di mana kita pernah jadi versi terbaik dari diri kita yang haus tahu.

Jadi, mari kita usulkan reformasi kecil, perpustakaan tanpa batas. Yang bisa masuk tanpa harus takut salah baju atau salah bahasa. Yang bukunya bisa disentuh, dibaca, dan dibawa pulang tanpa birokrasi macam pinjam koperasi RT.

Karena ilmu bukan milik mereka yang punya gelar, melainkan mereka yang mau membuka halaman. Dan cinta. Ya, cinta juga bisa tumbuh dari sebuah perpustakaan. Tidak harus dramatis, cukup dari kalimat di salah satu halaman buku, yang entah kenapa terasa seperti pesan personal dari semesta.

Kalau kamu sedang di perpustakaan saat membaca ini, lihat sekeliling. Siapa tahu, ada seseorang yang diam-diam mencuri pandang padamu dari balik rak filsafat. Dan jika tak ada, setidaknya kamu bisa curi satu buku, secara legal tentu saja. Baca, dan biarkan ia membawamu pulang. [] Redaksi