Malam yang Panjang
Doa berembus dari bibirmu
dan kau tiupkan di sekujur malam
mimpi baik akan datang
menyelimuti lelap yang dingin
Pejamkan mata sekarang
apalagi yang sibuk berlalu-lalang
di dadamu itu?
Mengapa tak kau loloskan saja
agar ia bebas menyusuri malam
dan menemukan tempatnya bertenang-tenang?
Waktu semakin tajam
kau sampai di puncak sepi
mengetuk bulan untuk membukakan
pintu cahaya lalu masuk dan
menemukan dirimu jatuh di antara
lembaran-lembaran masa lalu
Kau sudah lelah, tampak dari
sajak-sajak yang kau bacakan
hanya bergaung di kepala
tak pernah didengar oleh siapa-siapa
Tidurlah,
maka malam akan terasa panjang
dan pagi masihlah jauh membangunkan
rindu di hati tabahmu itu
Magetan, Oktober 2019
Doa di Suatu Hari Menjelang Pagi
Sunyi meninggi
malam kian menepi
embun terburu-buru tumbuh
dari dadamu yang rapuh
Jelang pagi
hening bersuara di kepalamu
meribut segala ingatan
isak tak bisa lagi kau tahan
Lalu yang pecah
adalah gelas-gelas matamu
berserak masa lalu di lantai
begitu buram semua itu
Puncak sunyi
langit masih gelap
azan pertama menyelinap
di jantungmu yang berkarat
Sedikit berdebar,
kau menunggu matahari jatuh
mengeringkan luka-luka yang ngembun
dari celah matamu
Magetan, Oktober 2019
Pukul Setengah Sepuluh
Matahari pukul setengah sepuluh
mencondongkan tubuhnya kepadamu
sampai peluh membasahi kepala
membanjur sampai sela-sela doa
Kau lihat langit pukul setengah sepuluh
jutaan burung melesat pergi dari tanganmu
yang sedari subuh kau penjarakan
demi meraup harapan demi harapan
Mendung belum lagi bangun,
tapi kau telah menginginkan gerimis
bertandang ke rumahmu selagi
anak-istri menekan kosong perut mereka
Cuaca sedang sekarat, katamu
terik tak bisa diajak kompromi
meski kau jejalkan dupa
ke kantong bolong musim
Tak bisa, langit pukul setengah sepuluh
memang selalu begitu
mengikat setiap lakumu
yang mulai linglung dan bosan
Tapi, tidakkah kau rela berjalan jauh
demi menemukan cuaca
anak-istrimu sudah lama menanti
bermandi gerimis tertawa-tawa
Pukul setengah sepuluh lebih
langit menangis tanpa air mata
Magetan, Oktober 2019
Cuaca yang Baik
Tenanglah,
bukankah cuaca sudah mengalah hari ini
ia tak membebankan tugasnya padamu
juga tak mengundang angin untuk membadai
di sore yang kelewat hening
Jangan salahkan ia,
puisi-puisimu tak ditulis musiman kan?
kau berkata-kata sepanjang hari
bahkan cuaca senantiasa mengabadikan
dengan mengalirkan napasnya ke denyut ingatanmu
Ia setia melakukan tugas
merawat baik kenanganmu
tak membiarkan waktu mencurinya atau meracuni dengan khayalan-khayalan
Maka tenanglah,
cukupkan hatimu yang sakit itu
biarkan perlahan pulih dengan merelakan yang tak kembali
dan kelak pun sembuh saat kau sudah berdamai dan memaafkan luka-luka di masa lalu
Magetan, Oktober 2019
Menanti Hujan Turun
Di beranda, sepasang mata berkaca-kaca membaca cuaca. Semesta di pikirannya sibuk melipat kemarau dan berusaha merentangkan penghujan.
Sementara itu, di luar angin beraroma tanah basah. Semilir membelai kenangan yang menjuntai-juntai dari ingatan. Denyar gerimis mulai terasa menitik satu-satu dari mata.
Hujan pun turun. Ricih-ricih waktu deras bersejatuh. Memanggil-manggil doa dari dada yang tergenang, sampaikan ke langit paling tenang.
Magetan, Oktober 2019
Seseduh Ingatan
Masih panas,
kepul asap kopi di meja
serupa kabut menggayut di jalan-jalan pikiran
kita sesap pahitnya perlahan-lahan
menanggalkan kesedihan dan membiarkan
segalanya hilang begitu saja
Bukankah itu lebih baik
daripada menjaga apa yang telah tiada
membuang detik percuma
sudah cukup kita rawat luka
perihnya yang lama membikin lupa
bagaimana cara berdoa
Magetan, 2019
Pada Suatu Senja
Pada suatu senja,
ia berjalan entah ke mana
membawa rahasia
Barangkali ke rumah ibu
di pusara lindap sepi
tempatnya menabur bunga-bunga
Atau ke rumah ayah
yang letaknya di sudut mata
begitu nanar dan jauh
Ia linglung, sudah jauh berjalan
melewati kelokan-kelokan,
tapi semakin menjauh dari ayah dan ibu
Ia seorang, berkelana tanpa arah
mengikuti jejak dari gugur daun-daun
diterpa angin yang badai di matanya
Pada suatu senja di hari lain
ia menemukan sebuah alamat di koran
dan ingin berkunjung ke sana, menemui Kau
Tapi, apa guna rahasia yang ia bawa
bila Kau sudah tahu segala-gala
akankah Kau berpura-pura menerimanya?
Magetan, 30 Juli 2017
Sebentar
Hari demi hari
angin menyisir padang-padang
menerbangkan debu-debu
sampai padaku
Berkumpullah debu itu
pada kaca jendela rumah
yang kian mengabu
termakan waktu
Lalu kugambar wajahmu
di kaca jendela itu
kepalaku bersandar di sana
kita bertemu mata
Cerita-cerita kita bagi
tawa-tangis silih berganti
dan angin datang lagi
menerbangkanmu, membawamu pergi
Apakah kau kembali
ke padang-padang itu lagi?
Magetan, Juli 2019
Mata Beningmu
ada awan, matahari, kadang juga
bulan, bintang-bintang berkelip di sana
di matamu, mata bening itu
aku gemar sekali merangkai tatapmu
yang seringkali berganti cuaca
menjadi sajak-sajak musim
di mata beningmu,
telah hidup semesta cintaku
membentang rindu tak terukur oleh penjuru
Magetan, September 2019
Kelahiran Puisi
Malam ini, telah kulahirkan puisi
disaksikan cahaya bulan dan ribuan gugus bintang
meriah cericit burung malam menyambut
angin riuh bergemuruh, berpestalah semesta!
Silakan timang puisiku, duhai Kekasih
aku adalah ibu yang akan mengenalkannya pada keras dunia
kelak, ia adalah kata-kata paling tajam
menusuki jantung-jantung orang ngawur
agar tak semena-mena mengatur
Kekasih, atas nama-Mu
izinkan puisiku menggapai puncak citanya
dibaca dunia sebagai tanda bahwa berkata-kata memiliki hak merdeka
Magetan, Oktober 2019

Kharisma Damayanti, lahir dan besar di kaki gunung Lawu. Beberapa karyanya baik puisi maupun cerpen telah dibukukan dalam antologi bersama.

Keren kak ?