Cerpen

Gapura

Cerpen Eli Rusli

Mang Kus, ketua RT bingung tujuh keliling. Surat edaran dari kelurahan yang diteruskan melalui ketua RW telah melumpuhkan urat-urat saraf di seputaran kepalanya. Sekilas, isi surat edaran itu terbaca sederhana. Isinya perintah dari lurah agar di mulut gang setiap RT didirikan sebuah gapura dalam rangka menyambut ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Bagi Mang Kus tidak masalah harus mendirikan seribu gapura, asal setiap kepala keluarga di wilayahnya termasuk golongan masyarakat berkantong tebal. Akhir-akhir ini angka penduduk miskin di wilayahnya justru perlahan-lahan naik.

Sabtu malam, Mang Kus mengumpulkan pemuda di wilayahnya. Siapa tahu dari isi kepala mereka keluar ide-ide cemerlang dalam menghadapi surat edaran dari kelurahan itu.

“Harusnya dari kelurahan jangan hanya mengeluarkan surat edaran saja! Sekalian dengan dananya,” kata Omen salah seorang pemuda yang mengikuti musyawarah.

“Setuju! Jangan kita saja yang mesti mengeluarkan dana. Iuran bulanan saja tidak cukup menutupi pengeluaran RT.”  Bendahara RT menambahkan.

“Begini saja! Kita akan tetap meminta sumbangan kepada warga khususnya yang berkantong tebal. Kita bikin gapura sesuai dengan dana yang terkumpul. Bagaimana?” Mang Kus memberi jalan keluar.

Semua yang hadir menyetujui usul Mang Kus.

Dana sumbangan dari warga telah terkumpul. Mang Kus kembali mengumpulkan para pemuda. Dengan dana yang terkumpul, kira-kira gapura seperti apa yang hendak didirikan? Baru seperempat jam acara dibuka. Seorang lelaki setengah tua menghambur ke depan Mang Kus.

“Pak RT! Pak RT! Abah Sutarya barusan meninggal dunia!”

“Innalillahi wainnailaihi rojiuun…” seru hadirin yang hadir.

Pertemuan bubar. Semua pergi menuju rumah Abah Sutarya di ujung gang sempit. Abah Sutarya mantan pejuang. Usianya sekitar delapan puluh tahun. Dia pernah ikut operasi pagar betis pada saat DI/TII memberontak di Jawa Barat. Istrinya telah lama meninggal. Dia tinggal bersama anaknya yang pekerjaannya serabutan. Semua anggota keluarga Abah Sutarya terdaftar di kelurahan sebagai penerima dana BLT dari pemerintah.

Sebelum upacara penguburan, Omen sebagai ketua panitia pengumpulan dana sumbangan untuk gapura mendekati Mang Kus.

“Mang! Daripada dana ini dibikin gapura mending dikasihkan saja ke keluarga Bah Sutarya.”

“Terus dana buat gapura dari mana?”

“Nanti kita pikirkan lagi.”

“Baiklah! Nanti biar Mamang yang tanggung jawab kepada warga.”

Mang Kus menyetujui usulan Omen.  

Dana sumbangan gapura pun berpindah tangan kepada anaknya Abah Sutarya.

Bulan Agustus tinggal dua hari lagi. Di setiap gang berdiri berbagai macam gapura dengan berbagai hiasan. Hanya di gang Mang Kus yang belum terlihat. Setelah meninggalnya Abah Sutarya warga RT disibukkan menghibur keluarga yang ditinggalkan. Mereka sering berkumpul di sekitaran rumah Abah Sutarya. Mereka mengenang cerita-cerita perjuangan yang dahulu didongengkan almarhum.

Tepat sehari sebelum memasuki bulan Agustus, di depan gang RT Mang Kus tetap tidak ada gapura seperti di gang lainnya. Di sisi kanan mulut gang hanya berkibar sebuah bendera merah putih pada tiang bambu. Sedangkan di sisi kirinya sebuah lukisan foto Abah Sutarya di atas karton putih membentang di antara dua bilah bambu. Di bawahnya terdapat tulisan dengan huruf besar: DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA. Dari pejuang yang terlupakan.***

____________________

Eli Rusli. Penulis alumnus UPI Bandung. Menulis cerpen dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda. Cerpennya dimuat di beberapa surat kabar dan media daring.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *