Oleh Yuditeha

Judul Buku : Siasat Perempuan Menjelang Malam
Penulis : Titi Setiyoningsih
Penerbit : Sirus Media
Cetakan : Maret 2025
Halaman : viii+81hlm, 14×20 cm
ISBN : 978-623-540-599-5
Siasat Perempuan Menjelang Malam karya Titi Setiyoningsih yang diterbitkan Sirus Media ini adalah buku berisi sekumpulan bisikan yang mengganggu ketenangan. Selain itu, jika siang identik kepastian, maka menjelang malam dalam buku ini seperti waktu di mana keputusan-keputusan paling jujur diambil, tapi dengan cara paling tidak jujur. Di sinilah perempuan-perempuan hidup di wilayah abu-abu antara bertahan dan menyerang.
Dalam cerpen “Raksasa Timun Mas dari Eropa”. Ini bukan sekadar cerita cinta antar saudara. Ini tentang bagaimana seseorang dipaksa menerima logika yang tak masuk akal, bahwa wajah sama bisa mengganti cinta yang sama. Ironisnya, yang paling waras dalam cerita itu justru keputusan paling gila untuk menjadi raksasa. Kadang, menjadi jahat adalah cara untuk tetap punya kendali.
Bukankah ini sangat Indonesia? Kita sering diajari ikhlas, tapi dipaksa menelan pengkhianatan yang bahkan tak diberi ruang untuk sedih. Kita diajari menerima, tapi lupa bahwa menerima tanpa marah adalah bentuk lain dari kalah.
Lalu “Percakapan Ibu Menteri”. Jika cerpen ini dibaca santai terasa seperti obrolan biasa. Tapi kalau dipikir lebih lama, menjadi pengganggu. Perempuan di sini memang bukan korban, melainkan pengatur. Dalang yang bekerja dari balik layar. Kalimat seperti “kami para istri” bukan sekadar dialog tapi pengakuan terlalu jujur. Titi seolah sedang bilang bahwa kekuasaan tidak selalu duduk di kursi, kadang ia berdiri di belakangnya, tersenyum, sambil main tunjuk. Dan yang paling menyebalkan, ini terasa realistis. Sangat dekat dengan kabar dan kejadian di sekitar kita. bahkan mungkin kita sendiri juga melakukannya.
Kita hidup di masyarakat yang suka pura-pura kaget pada skandal, padahal diam-diam menikmati drama. Kita mencibir politisi, tapi tetap klik beritanya. Kita mengutuk permainan kuasa, tapi tidak menolak sistem yang membuatnya terus hidup. Cerita ini tidak menghakimi, hanya membuka tirai. Dan rupanya yang kita lihat di belakang tidak jauh beda dari yang kita duga, hanya lebih halus dan dingin.
Berbeda lagi dengan “Pengukuhan Profesor Muda”. Cerita ini tampak intelektual di permukaan, tapi sesungguhnya sangat intern dan intim. Tentang pidato besar soal feminisme ternyata tidak mampu menyentuh hal paling sederhana, yaitu membagi kerja di rumah. Ada sinisme di sini. Seakan Titi ingin berkata, “Teori murah. Praktiklah yang mahal.” Dan memang di negeri ini, bicara soal kesetaraan sering kali lebih mudah daripada mencuci piring.
Konfliknya tidak meledak tapi justru terasa lebih menonjok. Kita tidak diberi kisah besar, hanya diberi gangguan tetapi tidak bisa diabaikan. Bahwa sering kali, ketidakadilan tidak hanya hadir sebagai kekerasan.
Lalu “Lelaki dan Mainan Favoritnya”. Secara sekilas dan harfiah cerpen ini membuat kita marah. Tapi jika direnungkan lebih khusyuk, justru membuat kita diam. Kenapa orang bertahan dalam hubungan yang jelas menyakitkan? Jawaban klise: cinta. Jawaban lebih jujur: karena luka lama lebih menakutkan daripada luka baru.
Cerpen ini seperti cubitan. Tidak menyalahkan korban, tapi tidak juga memanjakan. Ia menunjukkan bahwa kadang manusia tidak mencari bahagia, tapi mencari sesuatu yang sudah akrab, meski menyakitkan. Kita sering setia pada derita yang kita kenal, daripada bahagia yang kita belum paham.
Di sisi lain, “Pelangi Tak Berwarna” menghadirkan luka dengan cara sunyi. Ceritanya tidak berisik, tapi menusuk. Tentang pengorbanan yang tidak pernah diceritakan, tentang cinta yang baru dipahami ketika sudah terlambat. Seperti pengingat, di balik narasi kerja keras demi keluarga, ada cerita yang sengaja disembunyikan. Kita suka cerita sukses, tapi jarang mau dengar harganya. Dan ketika harga itu terungkap, kita hanya membisu karena tidak ada lagi yang bisa diselamatkan.
Kumpulan cerpen ini seperti mosaik, tiap kisahnya seperti berdiri sendiri, tapi membentuk pola jelas. Perempuan-perempuan di sini bukan sekadar karakter. Mereka representasi dari berbagai cara bertahan dalam dunia yang tidak selalu adil. Ada yang melawan, menyesuaikan, pura-pura tidak tahu, memilih luka daripada kehilangan, dan yang menarik tidak ada hero.
Judul Siasat Perempuan Menjelang Malam terasa tepat karena tidak merujuk pada satu cerita. Ia seperti payung yang menaungi. Siasat di sini bukan licik, tapi lebih ke strategi bertahan. Cara-cara kecil, kadang absurd, kadang menyakitkan, yang dilakukan untuk tetap hidup secara emosi maupun sosial. Ini semacam gambaran bagaimana siasat bekerja.
Sementara, Menjelang Malam, memberi kesan semua itu terjadi di momen genting. Di titik di mana pilihan harus dibuat. Yang membuat buku ini menarik bukan hanya ceritanya, tapi keberaniannya untuk menyerahkan jawabannya kepada pembaca. Namun sesungguhnya hidup ini memang bukan tentang menemukan jawaban. Tapi tentang bagaimana kita berdamai dengan pertanyaan-pertanyaan. Buku ini mungkin tidak membuat kita merasa lebih baik, tapi ia membuat kita lebih sadar. Buku ini seperti cermin yang tidak bisa pecah, dengan agak licik memaksa kita berkaca. Kita bisa menolak melihat, tapi bayangan tetap ada. Jika semakin lama kita menatap, semakin sulit menyangkal bahwa wajah kita tidak jauh beda dari tokoh-tokohnya.***
Yuditeha
Penulis tinggal di Karanganyar. Menjadi lebih mudah membaca ketika hati sedang berantakan.

makasih Bapak untuk pembacaannya.