Puisi

Puisi Septi Rusdiyana

merawat luka

bapa, hari ini aku terberkati. surat yang kutulis merah, berubah biru. kau tahu jika sejak menemukanmu, bahagia itu sepele. tawaku bisa sekeras salak anjing. di saat yang sama, aku tersedu, persis saat air susuku tak juga keluar usai bersalin.

bapa, ganjil adalah apa yang terlanjur kuingini. sedang kau, terus saja berhasil menggenapkannya. mungkin kau kira aku akan lelah dan terkapar seperti hamster. rakus menyembunyikan remahan hingga pipi hampir meledak. tidak. tapi tidak, bapa. aku hanya butuh satu petunjuk, lalu akan tidur seperti babi.

bapa, malam ini hujan. entah kenapa hujan lebih sering jatuh saat malam. mereka bilang, agar tidur lebih lelap. bagiku, tempias membawa aroma ketiak yang lama hilang.  jika petir melantakkan sepi, aku justru beku. bukankah itu siksa?

bapa, kau hafal artimu bagiku. aku sudah belajar menjaga air suci: milikmu. kau ajarkan agar tetap hidup di kematian. mimpi adalah kehidupan. aku gagal menjadi jahat. masih tak cukup pantaskah meminta welasmu, bapa?

Desember 2025

__________________________

Kangen

Kabur dari rumah karena wifi lemot,

duduk memesan secangkir kopi di kafe

Desember 2025

__________________________

Reinkarnasi

“Jika aku hidup usai mati, maka kubunuh kau, lagi,” katamu

Angin berembus

Aku benar-benar akan mati

Desember 2025

__________________________

Septi Rusdiyana. Tinggal di Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *