Cerpen Septi Rusdiyana

“Sudah kubilang aku bukan malaikat penyelamat,” kata lelaki itu, sesaat sebelum aku benar-benar mendorongnya dari tebing.
***
Aku berdiri mematung di dekat mobil hitam yang nyaris masuk jurang. Menyaksikan tubuh kaku di balik kemudi tanpa bisa melakukan apa-apa. Seingatku, tadi aku hanya banting setir saat berusaha menghindari macan, atau singa, atau rusa, atau sebenarnya sekadar kabut. Aku tidak tahu pasti. Aku tidak benar-benar ingat apa yang ada di pikiranku kala itu. Satu hal yang membuatku heran, kesalahan yang menyebabkan kecelakaan kecil itu rupanya bisa berakhir mengenaskan.
“Kamu sangat sial. Bencana menimpamu di tempat sunyi. Jangankan pengendara lain, nyamuk saja enggan lewat sini,” kata seseorang yang mendadak muncul di sebelahku. Entah dia datang dari mana. Hanya saja, aroma tubuhnya terasa familier. Paduan antara daun bidara dengan kemiri sangrai. Aku ingat aroma itu.
Aku memperhatikan dirinya seperti sedang meneliti lembu yang hendak kujadikan binatang tunggangan. Sayang, jubah hitam yang menutupi hampir seluruh tubuhnya itu—menyisakan wajah dan kedua telapak tangan—membuatku harus sedikit bekerja keras menelisik.
“Aku malaikat penjagamu,” jelas lelaki itu, seolah tahu apa yang selama beberapa detik menggangguku. “Kita sudah bersama sepanjang hidupmu,” lanjutnya lagi.
“Sial. Apa aku sudah mati?” gumamku.
Lelaki itu tertawa. “Kalau sudah mati, tentu aku tidak perlu lagi menjagamu. Dasar bodoh!”
Aku mulai kesal dengan lelaki itu. Kupikir dialah yang sebenarnya bodoh. Kalau benar seorang malaikat penjaga, seharusnya dia menolongku. Bukan malah ikut-ikutan berdiri di sini tanpa berbuat apa-apa.
“Suara hatimu selalu berisik. Dari dulu. Itu menjengkelkan. Sayangnya aku harus terus patuh pada tugasku,” sahut lelaki itu.
Hening. Seolah angin berhenti berembus. Dan aku masih saja menunggu. Berharap lelaki itu meneruskan penjelasannya. Aku kembali menatap pada sosok perempuan di balik kemudi yang darah di kepalanya terus saja membasahi rambut.
“Kamu belum benar-benar mati. Mungkin pingsan. Atau sekarat. Sudah kubilang aku cuma malaikat penjaga. Tugasku hanya menemani jiwamu,” lanjutnya panjang.
Sepertinya aku mulai mengerti. Jika begitu, aku hanyalah roh yang kini bergentayangan menunggu waktu sebelum mati. Sekelebat aku teringat dengan kejadian beberapa waktu lalu, sebelum akhirnya aku terdampar di tempat ini.
Aku berada di vila tepi pantai bersama sahabat-sahabatku. Bian sengaja menyewanya untuk melewati hari ulang tahunku. Tidak ada kue ulang tahun. Tidak juga ritual tiup lilin dan make a wish. Kami hanya duduk, makan, bercerita, tertawa, lalu waktu tanpa kami sadari berganti hari begitu saja. Sesederhana itu. Dan aku sangat menikmati.
“Sebaiknya kamu menemuinya,” ucap lelaki itu dengan nada yang begitu halus. Saking halusnya justru membuatku heran. Ada sesuatu mengalir deras di ulu hatiku. Perasaan yang menggangguku sejak Gaga, abangku, mengirim pesan jika mama masuk rumah sakit karena serangan jantung.
Sejak itu aku gelisah. Entah. Padahal sebelumnya aku tidak pernah peduli pada mama. Bahkan aku ingat, dulu, di depan teman-temanku, sambil menangis, aku pernah bilang bahwa, “Mama itu monster. Kalaupun mama mati, aku tidak akan pernah menangis.”
“Kamu ini, di saat-saat begini masih saja terlalu lama berpikir.” Lelaki itu menggenggam tanganku. Aku merasa bak tersengat listrik. Dalam sekejap, aku seperti berada di pusaran angin. Bergerak tak beraturan. Kadang melayang. Sesekali berputar. Lalu kembali tegak seolah tubuh dan angin sudah berdamai usai berkelahi. Di saat itulah, aku seolah sedang melakukan sebuah perjalanan.
Di hadapanku, tampak hamparan awan putih yang bisa berubah-ubah bentuk. Aku melihat awan membentuk sosok perempuan menggendong seorang bayi. Tak lama terdengar langgam Jawa yang membuatku turut merasakan kantuk luar biasa. Ketika aku hampir terlelap, lelaki itu menarik tanganku. Aku pun kembali terjaga.
Awan berubah pekat. Gumpalan awan kini memperlihatkan seorang pria dewasa bermain layangan bersama bocah lelaki. Sedang bocah perempuan tampak berlarian mengitari keduanya. Suara riang berubah menjadi jerit tangis usai bocah perempuan itu terjatuh. Pria dewasa meraihnya dalam pelukan, lalu ketiganya mulai menghilang.
Aku merasa tak asing dengan pemandangan itu. Rasanya kembali pada kenangan. Saat aku masih menikmatinya, mendadak tubuhku terguncang hebat. Aku seperti meluncur bebas dari ketinggian. Aku ingin berteriak, tapi suaraku tercekat. Dan saat tubuhku mulai terkendali, aku sudah berada di sebuah ruang di rumah sakit tempat mama dirawat.
Gaga sedang tidur pulas di sofa, tak jauh dari ranjang mama. Ada beberapa selang dan alat medis terpasang di tubuh mama. Sunyi. Hanya suara mesin seirama detak jantung mama yang mengisi ruangan. Aku mendekat ke ranjang. Aku ingin melihat mama lebih dekat.
“Akhirnya kamu datang, Nak,” ucap mama. Siluet bayangan mama perlahan terlihat. Ia duduk di ranjangnya. Dan aku juga bisa melihat tubuh mama yang tak berdaya tetap terlelap.
“Tadi sore mama sudah menyiapkan makanan kesukaanmu. Gaga mama suruh menghubungimu. Tapi…,” kalimat mama terjeda. Siluet wajah mama tampak sendu.
Tanpa mama teruskan bicara, sebenarnya aku sudah tahu. Sekuat apa pun usaha mama membuatku tetap tinggal di hari ulang tahunku, aku tidak pernah mau. Sudah lama aku membenci hari itu, tepatnya sejak kelas 5 SD.
Aku ingat. Saat itu aku pulang dengan seragam, sepatu, tas dan rambut yang penuh dengan air comberan, telur, juga tepung. Meski tubuhku lengket dan bau, perasaanku begitu senang luar biasa. Hingga bentakan mama membuatku terkejut sekaligus terluka. Mama justru mengomel. Mengataiku dan teman-temanku jorok. Bisanya hanya merepotkan orang tua. Mama juga bilang kalau hari ulang tahun bukan hal wajib untuk selalu dirayakan. Mama mungkin benar, tapi aku lebih percaya ulang tahunkulah yang tidak penting. Karena kenyataannya, dua bulan setelah itu, ulang tahun Gaga dirayakan besar-besaran. Sejak saat itu, aku sangat membenci 1 hari dalam setahun: tanggal ulang tahunku. Hanya Bian, sahabatku, yang bisa memahami perasaanku dengan baik.
“Mama minta maaf, Sayang,” kalimat mama yang terdengar seperti guntur di siang tanpa hujan itu membuatku terkejut. Dadaku sesak. Seperti ada gemuruh yang sebentar lagi akan meledak. Bertahun-tahun aku menanti kalimat itu. Kalimat yang rupanya sebegitu dahsyatnya hingga mampu membuat kebencianku pada mama lenyap.
Siluet mama berdiri dan mendekat ke arahku. Tangannya terbuka. Saat tangisku hampir pecah menanti pelukan itu sampai, tiba-tiba tanganku sudah ditarik. Dan kini, aku telah kembali berada di tepi jurang.
“Kenapa kamu membawaku ke sini? Aku bahkan belum sempat bilang pada mama bahwa aku sudah memaafkannya. Aku mencintainya. Aku merindukan pelukannya,” ucapku dengan rasa kesal yang menggebu.
Lelaki itu tidak menanggapi pernyataanku. Kejengkelanku tiba-tiba memuncak, terlebih ketika lelaki itu mengatakan bahwa dirinya bukan malaikat penyelamat.***
___________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga, penyuka cerpen.
