Dunia Menulis

Bertengkar dengan Apa pun

Kalau ada yang bilang cerpen itu soal karakter dan alur, ya benar. Tapi tanpa konflik, semua ibarat kue tart tanpa gula, bentuk boleh cantik, tapi gigitan pertama bikin trauma nasional. Konflik adalah urat nadi cerita. Tanpanya, kita cuma akan baca parade karakter yang sibuk memandangi langit lalu berkata, “Betapa birunya hari ini,” sambil pembaca di ujung sana mulai mengunyah remote TV karena bosan.

Mari kita ngobrol soal konflik. Dunia menulis,  termasuk cerpen, kaya permasalahan. Seolah-olah manusia memang diciptakan Tuhan untuk berkonflik, entah dengan dirinya, orang lain, atau bahkan sendok di meja makan. Ada banyak jenis konflik yang bisa dipelintir menjadi nyawa cerpen. Tapi, jangan asal sulap. Kalau konflikmu sejenis rebutan sandal di pertemuan arisan lalu kau bumbui seakan itu perang dunia ketiga, pembaca yang cerdas mungkin akan tersenyum getir sambil berpikir, “Astaga, ini serius?”

Salah satu konflik paling klasik tentu saja pertarungan batin. Tokohmu bisa saja tampak tenang di luar, tapi dalam diri bertarung dengan dirinya, bak gladiator melawan bayangan. Misalnya, seorang pria jatuh cinta pada sahabat kecilnya yang sudah menikah dengan orang lain. Sakit. Tapi dia memilih diam, mengangkat gelas di resepsi pernikahan, pura-pura bahagia, lalu pulang dengan mabuk. Tragis? Iya. Menyebalkan? Banget. Tapi di situlah kenikmatan konflik batin, menguliti emosi manusia tanpa perlu lempar kursi.

Lalu ada konflik antar-manusia. Ini yang paling gampang dikenali, dua orang bersitegang, bak tukang parkir rebutan wilayah. Bisa cinta, dendam, iri, karier, atau bahkan sekadar adu gengsi siapa yang lebih cepat naik pangkat. Konflik macam ini rawan jadi sarkastik jika ditulis dengan mata nakal. Bayangkan cerpen tentang dua ibu-ibu arisan yang bersaing ketat, bukan soal siapa lebih kaya, tapi siapa lebih sering update status solehah. Ketika konflik dibikin secuil tapi getir begitu, pembaca bisa ngakak sekaligus menangis dalam hati: “Ini kok mirip tanteku.”

Ada juga konflik manusia melawan lingkungan atau sistem. Misalnya, seorang guru desa berjuang mempertahankan sekolah reyot dari pemerintah daerah yang lebih sibuk rapat di hotel berbintang ketimbang memperbaiki atap bocor. Ini konflik yang menggelitik sekaligus menghantam keras. Ironinya, tokohmu bisa berdarah-darah melawan ketidakadilan, tapi dunia sekitar malah sibuk selfie di acara Penghargaan Pendidikan Inovatif. Rasanya pengin ketawa, tapi lebih pengin mengaduk dunia dengan sendok.

Konflik bisa juga terjadi antara manusia dan sesuatu yang lebih besar, nasib, takdir, bahkan Tuhan, kalau mau ambil tema berat. Cerpen tentang seorang pria yang selama hidupnya minta hujan untuk sawahnya, tapi malah panen kekeringan bertahun-tahun. Ia bertengkar dengan Tuhan dalam doanya, mempertanyakan segala. Ini konflik eksistensial yang menohok. Tapi hati-hati, jangan jatuh ke dalam jurang sok-sokan filosofis yang bisa membuat pembaca ingin menyeret kursi.

Yang menarik, kadang ada penulis yang keasyikan bikin konflik semu. Tokohnya ribut sendiri soal pilihan warna cat rumah, lalu diseret-seret seolah itu melambangkan kehancuran peradaban. Ini seperti anak kecil yang menangis karena es krimnya jatuh, lalu berteriak, “Kenapa dunia sekejam ini!” Bisa lucu, bisa haru, bisa juga bikin pembaca pengin melemparkan buku cerita itu ke sumur.

Ada juga konflik konyol yang justru membekas. Tentang seorang kakek yang berseteru dengan seekor ayam tetangga. Bukan ayam jantan yang berkokok, tapi ayam betina yang berisik absurd tiap subuh. Konflik ini digarap dengan jernih, penuh humor getir. Sampai pada akhirnya si kakek menyerah bukan karena kalah, tapi karena si ayam bertelur di depan pintu rumahnya, hadiah damai yang absurd sekaligus mengharukan. Kadang, hidup memang tidak perlu grand final seperti film perang Hollywood. Cukup ayam bertelur, dan semua luka diseka.

Dalam menulis konflik, penting juga sadar diri. Jangan asal masukkan drama hanya demi kesan wah. Konflik palsu akan tercium basi sejak kalimat kedua. Pembaca hari ini sudah terlatih membedakan mana drama organik, mana dramatisasi palsu ala sinetron siang. Kalau konflikmu terasa dibuat-buat, jangan salahkan pembaca yang memilih mengepel lantai rumah daripada meneruskan bacaanmu.

Mungkin, dalam dunia menulis, merancang konflik itu ibarat memasak rendang. Kalau terlalu banyak bumbu, bisa bikin enek. Tapi kalau kurang bumbu, rasanya hambar kayak air tumpah. Menulis konflik butuh perasaan, ketepatan, dan sesekali keberanian untuk membiarkan sesuatu berjalan absurd. Sebab, hidup sendiri kadang absurd.

Akhirnya, konflik adalah nyawa cerita karena di sanalah manusia tampil telanjang, dalam keraguan, kemarahan, kegilaan, kesedihan, juga kelucuan yang getir. Dan bukankah itu esensi kita semua, makhluk yang entah mengapa selalu bisa bertengkar bahkan dengan apa pun. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *