Curhat

Secangkir Kopi di Malam Gerimis

Curhat Linzie

Aku baru saja bangun dari tidur soreku. Tubuhku terasa masih lengket di kasur, karenanya aku meraih ponsel dan membuka Youtube. Setelah bosan menonton short video, aku mengetik ‘film pendek Indonesia’ pada kolom pencarian. Pilihan randomku jatuh pada judul ‘Pick Me’.

Film itu menceritakan perjalanan asmara seorang perempuan populer bernama Alifvia. Banyak teman lelaki di sekolah yang menyukainya. Salah satu lelaki yang tak pernah menyerah adalah Surya. Berulang kali Surya menyatakan cinta, berulang kali juga Alifvia menolaknya.

Suatu hari, saat Alifvia ngobrol di kafe bersama dengan dua temannya, Didi dan Salsa, terjadilah kesepakatan antara Didi dan Alifvia. Jika Alifvia berhasil menaklukan seorang barista bernama Rayyan di kafe itu, maka ia berhak mendapat 1 tiket konser Raisa.

Demi melancarkan aksi pendekatan pada Rayyan, Alifvia selalu datang ke kafe itu dengan modus memesan jenis minuman yang sama. Singkat cerita, keduanya akhirnya dekat. Alifvia yang sebelumnya tak pernah merasakan perasaan tertarik pada lelaki, mulai merasa nyaman dan jatuh cinta pada Rayyan. Namun, saat Alifvia hendak menyatakan cintanya, seorang perempuan bernama Renata tiba-tiba datang. Rupanya perempuaan itu adalah tunangan dari Rayyan. Alifvia kecewa, ia merasa patah hati dan mulai menangis. Namun, sekian detik kemudian, Alifvia teringat ucapan Rayyan perihal memori ikan mas. Ia mengaku bahwa dirinya sama dengan ikan mas, yang hanya memiliki ingatan selama 10 detik saja. Karenanya, Alifvia bangkit dan kembali ke dunianya yang populer. Tak pernah sakit hati karena cinta, luka akan hilang sebab memorinya segera terganti.

Tanpa Alifvia ketahui, rupanya Rayyan hanyalah orang suruhan Surya. Ia dendam pada Alifvia karena terus menolak cintanya. Sehingga muncul keinginan dirinya untuk membalas sakit hatinya dengan membuat Alifvia merasakan cinta sekaligus patah hati yang sama.

Cerita sederhana, relate-lah dengan masa-masa sekolah. Tapi 1 hal yang cukup menarik perhatianku: pernyataan Rayyan kepada Alifvia mengenai ikan mas dan memorinya. Menurutku itu cukup menggelitik. Entah benar atau tidak, aku tak berminat mencari tahu. Tapi jika itu memang benar, maka setiap 10 detik hidupnya adalah sebuah kelahiran yang akan memiliki pengalaman baru. Apakah itu hal menyenangkan? Bisa ya, bisa juga tidak.

Bagiku, jika ada hal yang mampu kuubah, aku tak pernah berniat mengubah apa pun. Karena aku yakin, pertemuanku dengan Zavier, El, Varo, dan Noe, telah mengantarkanku pada pengalaman hidup bersama Saka, pria yang hingga detik ini sangat kucintai.

Saka memang bukan satu-satunya pria yang pernah dekat denganku, tapi bisa kupastikan bahwa ia adalah satu-satunya pria yang sanggup mengubah cara pandangku pada kehidupan itu sendiri.

“Jika warna kulitku menimbulkan keraguan, sampaikan pada papamu kalau sejak awal aku diciptakan tak bisa memilih dari rahim siapa aku akan lahir. Lalu katakan juga pada mamamu, meski aku tak menyembah pada Tuhan yang sama denganmu, aku tetap percaya jika Tuhan itu 1, Sang Maha Pengasih. Apa lagi yang perlu diperdebatkan?” jelas Saka kala itu.

Aku memandang takjub pada dirinya. Meski aku sering menganggap ia hanya membual, ia termasuk the one and only yang dengan nekat mendekatiku. Ia tak pernah menutupi jati dirinya. Ia bangga akan asal usulnya. Bahkan, ia juga sempat mengatakan padaku: biarlah hasil akhir tetap menjadi misteri, selama apa yang kulakukan hari ini bisa masuk sebagai caraku memperjuangkanmu.

2 tahun aku menjalanipacaran dengan Saka. Papa tak pernah bicara dengannya. Dan mama, tak pernah mengizinkan Saka masuk lebih dalam kecuali di teras rumah. Aku merasa tak enak pada Saka. Sering aku memintanya untuk menemuiku di luar saja, taman atau kafe.

“Pria sejati tak pernah sakit hati pada keadaan yang memang tak bisa diubah,” jawab Saka yang membuatku seperti sedang berhadapan dengan Dilan. Aku Milea-nya. Kalimat-kalimat yang terdengar angkuh, juga pernyataan-pernyataan tak biasa justru membuatku semakin menyukainya.

Saka sering ikut denganku ke klenteng. Ia bilang, berdoa bisa di mana pun. Agama adalah perihal keyakinan. Fanatisisme hakikatnya hanya 2 arah, hamba dan penciptanya. Tak boleh ada campur tangan orang lain. Bahkan, sekadar menuduh pun dianggap sudah merupakan sebuah pelanggaran. Pikiran adalah milik kita sendiri, lalu hati menyempurnakan pikiran itu. Tidak ada yang benar-benar tahu, apa isi hati dan pikiran orang lain. Karena yang nampak, sesungguhnya belum tentu apa yang terjadi di dalam keduanya.

Saka kini tak lagi bersamaku, tapi dirinya terasa tetap menyertaiku. Aroma kopi yang biasa dicecapnya setiap kali kami menikmati kebersamaan, membuatku selalu kangen. Di dalam cangkir putih, diseduh dengan air panas kompor yang baru saja mendidih, ditambah gula separuh sendok teh. Ya, aku ingat betul dengan caranya membuat kopi. Baginya, begitulah ia menikmati kopi. Tak peduli barista-barista atau para pecinta kopi akan menganggapnya tak tahu cara memperlakukan kopi dengan benar.

Aku tak pernah suka kopi. Teh menurutku lebih menenangkan. Sama-sama memiliki kafein. Ini hanya soal selera dan kebiasaan saja. Seperti caraku menulis dengan tangan kanan, lalu Saka dengan tangan kiri. Atau kebiasaanku makan nasi padang dengan sendok dan garpu, sedang Saka menggunakan tangannya. Bukan soal benar dan salah seperti apa yang kedua orangtuaku sampaikan. Bukan juga tentang kesetaraan yang juga mereka agung-agungkan.

Sebelum Saka meninggalkanku dengan sangat manis, ia sempat berkata padaku: “Jika kelak reinkarnasi itu benar ada, aku ingin tetap menjadi diriku. Tak peduli berapa kali fase reinkarnasi yang harus kulalui demi mendapatkan dirimu.”

Malam semakin larut. Gerimis mulai turun. Secangkir kopi ala Saka yang sengaja kubuat tadi telah dingin. Aromanya tak lagi tercium. Meski masih terasa berat untukku, tapi kenangan-kenagan bersama Saka adalah hal paling indah di hidupku. Aku tak ingin menjadi seperti ikan mas. Jika boleh, aku ingin terus mengingatnya. Bukan tak mau mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu, tapi sekadar berdamai dengan bagian dari hidupku.

Aku meraih ponsel, memandang kembali pada undangan pernikahan digital yang dua hari lalu Saka kirimkan padaku. Di pesan lain yang sempat juga dituliskannya untukku, Saka berkata: Jika kabar ini membuatmu bahagia, datanglah dan sampaikan selamat untukku. Aku akan berbahagia. Namun, jika aku hanya bisa membuatmu sedih, maka kutuklah aku menjadi kecoa seperti katamu dulu.

Terkadang aku merasa apa yang terjadi di hidupku hanyalah sebuah takdir yang buruk. Walau aku tahu, dunia tak selamanya akan berpihak padaku. Aku tak ingin benar-benar pasrah pada keadaan. Namun Saka, memilih menyerah pada keadaan. Apakah itu membuatku kecewa? Ya. Tentu saja aku sempat mengutuknya. Apa yang ia janjikan padaku seperti memang benar bualan belaka. Nyatanya ia tak pernah berani melawan kedua orangtuaku. Dulu, aku tak pernah sepakat dengan ucapannya. Namun kini, aku telah mengerti. Kebahagiaan sejati tak akan pernah benar-benar didapat jika kita melukai hati orang lain, terlebih kedua orangtua.

Aku belum memutuskan apakah aku akan datang atau tidak di acara pernikahan Saka. Tapi, seminggu mungkin cukup bagiku untuk memikirkannya. Dan yang pasti, seminggu adalah waktu yang cukup panjang untukku menikmati aroma kenangan pada setiap kopi yang coba kubuat menyerupai cara Saka membuatnya dulu. Setelah 7 hari, kupastikan aku tak akan pernah membuatnya lagi.***

Linzie

Perempuan yang ingin segera move on

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *