Curhat

Tahi Kucing

Curhat Sekar

Sebelum aku menceritakan apa yang saat ini terjadi di hidupku, aku ingin memberi apresiasi pada M. A. Edpe, atas keberaniannya berbagi pengalaman saat menjadi ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa). Kurasa tidak banyak orang memiliki kelapangan hati serta jiwa yang besar untuk mau mengakui. Tentu tidak ada seorang pun berkeinginan menderita, baik itu karena sakit fisik atau mental. Kuharap, semakin ke sini, orang-orang tidak hanya melek teknologi, tapi juga melek kepedulian. Banyak kenakalan dan penyimpangan perilaku yang sebenarnya hanya disebabkan kurangnya perhatian dari lingkungan terkecil: keluarga.

Atas dasar membaca curhatan semacam itu, aku akhirnya berani turut menuliskan apa yang menjadi pengalamanku. Jika ada orang mengatakan: hal tersulit adalah berdamai dengan diri sendiri. Menurutku, tidak sepenuhnya benar. Justru diri sendiri itulah, sesuatu yang paling dekat dan mudah dikendalikan oleh kita sendiri. Pengalaman pengendalian diri itu yang akan sedikit aku bagi. Mungkin bukan kisahnya, karena aku yakin setelah membaca ceritaku nanti, bisa jadi kalian akan kecewa karena sangat biasa-biasa saja.

2 tahun lalu, meski dengan nilai pas-pasan, aku berhasil wisuda bersama sebagian besar adik tingkatku. Semua teman seangkatanku yang 1 jurusan, telah lebih dulu lulus. Jika bukan karena memikirkan biaya yang sudah terlanjur dikeluarkan orangtua, mungkin aku lebih memilih di-DO. Tapi, apa pun alasannya, akulah yang sejak awal ngotot untuk mengambil jurusan di kampus yang kujalani saat itu. Jadi, harga diriku tercambuk. Rasa ingin bertanggung jawab dan gengsi yang tinggi masih lebih kuat menguasai diriku. Seburuk apa pun hasilnya, sesulit apa pun prosesnya, aku harus mendapat gelar sarjanaku. Aku beruntung, meski sempat tertunda lama karena urusan hati, aku berhasil merampungkan apa yang sudah pernah kumulai.

Saat itu aku baru saja menyelesaikan PKL (Praktik Kerja Lapangan), ketika tiba-tiba aku harus putus dengan pacarku. Kami sudah menjalani pacaran hampir setahun. Belum lama memang, tapi lelaki itu berhasil memindahkan hingga hampir 100% gajiku saat menjalani kerja paruh waktu di McD, demi memenuhi kebutuhan hidupnya (meski masih memiliki keluarga, dia punya prinsip: jika sudah lulus kuliah, maka tanggung jawab orangtua sudah terlepas, baik itu belum atau sudah bekerja).

Pacarku telah lulus kuliah dan saat itu dalam pencarian kerja. Sebenarnya menurutku dia bukan pemalas, hanya terlalu kaku. Dia cuma mengajukan lamaran kerja ke perusahaan-perusahaan bonafit, atau yang menawarkan gaji cukup tinggi saja. Padahal, fresh graduate tetaplah fresh graduate. Apalagi dirinya, tidak pernah terlibat dalam kegiatan apa pun di kampus, dan belum pernah sama sekali bekerja. Dia bukan anak pengusaha, juga tidak punya koneksi di tempat-tempat strategis. Apa yang bisa dia harapkan? Tentu saja aku.

Ada orang bijak mengatakan: orang yang sedang mabuk cinta itu ibarat berada di fase tahi kucing berasa cokelat. Banyak teman-temanku memberi nasihat, entah membukakan mataku tentang betapa parasitnya pacarku. Atau terlalu dininya aku mengartikan kesetiaan dalam kondisi tersulit. Tapi yang namanya sedang mabuk, pikiran dan seluruh indera seakan tak berfungsi. Perasaan saja yang mendominasi. Saat itu yang kupikir adalah memberi dukungan padanya agar terus semangat mencari kerja. Dan aku, bukannya fokus pada kuliah, aku malah mencari tambahan 1 lagi kerja paruh waktu.

Sekitar 3 bulan kemudian, pacarku akhirnya mendapat panggilan interview dan diterima kerja di Jakarta. Tentu aku mendukungnya. Ketika itu, bagiku jarak bukanlah masalah. Kami masih sering berhubungan lewat telepon, bahkan hampir setiap hari kami intens memberi kabar. Pacarku bilang biaya hidup di Jakarta sangat tinggi. Gaji yang diperolehnya dengan status fresh graduate masih sangat mepet. Mendengar pacarku mengatakan begitu, terlebih di saat aku pegang tabungan hasil kerjaku, jelas aku tidak tega. Ada perasaan ingin menunjukkan kepadanya kalau aku adalah perempuan yang mau diajak berjuang dari bawah. Mendukung pasangan meraih kesuksesan demi masa depan. Bukankah kelak aku juga yang akan menerima hasilnya?

Oh iya, sampai di sini aku menjadi ingat. Sebelumnya aku juga sempat membaca curhatan yang ditulis Padmi. Dia mengatakan betapa bangsatnya rasa kangen. Kamu tidak sendirian, Padmi. Aku pun pernah merasakannya. Jarak ternyata benar-benar menyebalkan. Aku menganalogikannya dengan rasa gatal di bagian punggung yang aku tidak mampu menggaruknya. Pokoknya sangat menyiksa.

Secara bertahap, pacarku mulai jarang menghubungiku. Awal-awal aku masih bisa berpikir positif jika dia sibuk mengurus pekerjaan. Sampai akhirnya, menjelang lebaran aku bertanya padanya kapan dia pulang.

“Tahun ini aku belum dapat cuti, jadi aku tidak bisa pulang,” jawab pacarku di telepon.

Aku kecewa. Hampir setahun kami tidak pernah bertemu, dan mungkin dia baru akan pulang lebaran tahun depan. Lagi-lagi aku pasrah. Mengatakan padanya untuk tetap semangat dan menjaga kesehatan. Tidak lupa aku bilang kalau aku sangat mencintainya. Dia pun membalas dengan ungkapan yang sama.

Lebaran hari pertama, sengaja aku berencana akan mengunjungi orangtua pacarku. Karena biasanya, aku sekeluarga akan ke Pekalongan di hari kedua. Selepas magrib, aku mengajak seorang temanku ke rumah pacarku. Ketika sampai, di halaman telah terparkir beberapa mobil dan di dalam tampak seperti sedang ada acara. Awalnya aku sempat ragu, takut mengganggu acara keluarga yang sepertinya masih berlangsung. Tapi pikirku, karena sudah sampai, dan lagi maksudku hanya ingin silaturahmi, jadi aku tetap mengetuk pintu.

Betapa terkejutnya aku. Saat pintu terbuka, nampak pacarku tengah berdiri dengan seorang perempuan berhijab di sebelahnya. Memperlihatkan  senyuman terbaik mereka, dengan tangan masing-masing terangkat setinggi dada. Tubuhku membeku. Pikiranku entah ke mana. Meski begitu, aku masih bisa merasakan genggaman erat temanku serta elusan tangannya yang lain di punggungku.

“Aku tidak menyangka kamu membohongiku,” ungkapku saat pacarku membawaku duduk agak jauh dari kerumunaan.

“Aku minta maaf. Aku terpaksa menuruti perjodohan ini,” jawab pacarku.

“Omong kosong!”

“Aku harap kamu bisa mengerti. Aku yakin kamu akan menemukan lelaki yang lebih baik dariku.”

“Tentu saja. Banyak lelaki brengsek di luar sana yang masih lebih baik darimu.”

Aku merasa menjadi wanita paling kuat malam itu. Aku tidak menangis. Aku ingat sebelum pamit pada orangtua pacarku, eh mantan pacarku, aku masih sempat mengucapkan selamat atas pertunangan itu. Bahkan, aku juga sempat bersalaman dengan perempuan berhijab merah jambu. Oh Tuhan, dilihat dari sisi mana pun, aku masih setingkat lebih cantik dari dirinya.

Setelahnya aku memutuskan tidur di rumah temanku. Menangis sejadi-jadinya di kamarnya. Aku benar-benar kacau. Banyak hal berputar di otakku. Mencari di mana letak kesalahanku, hingga lelaki bangsat yang tak tahu diuntung itu lebih memilih perempuan lain. Semakin aku mencari tahu, maka aku semakin sadar betapa tidak beruntungnya aku. Membuang-buang waktu, tenaga, dan perasaan hanya demi lelaki yang tak pernah menghargaiku. Temanku sangat pengertian. Ia sama sekali tidak menasihatiku. Ia memberiku waktu dan tempat seluas-luasnya untuk menumpahkan kekecewaanku. Ia bahkan menemaniku hingga pagi. Mendengar ocehanku tanpa sedikit pun membalas. Malam itu, aku baru sadar, jika selama pacaran dengan lelaki parasit yang sempat begitu kucintai, rupanya setiap harinya aku makan tahi kucing.***

Sekar

Tidak ada keterangan.

1 thought on “Tahi Kucing”

  1. Terima kasih atas apresiasinya, Mbak Sekar. Terima kasih juga sudah berbagi cerita di kolom ini. Tulisan Mbak Sekar bagus. Semoga dapat seseorang yang lebih baik lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *