
Curhat Septi Rusdiyana
Rabu, 6 November 2024. Pagi yang cukup merepotkan untukku. Bukan tentang pekerjaan rumah tangga, anak yang sulit dibangunkan, atau teriakan keras dari ibuku agar kami lekas bersiap-siap. Melainkan, sejak subuh aku sudah mondar-mandir ke toilet akibat diare.
Hari itu kami sekeluarga akan ke Wonosari. Melihat kondisiku, aku berniat untuk tidak ikut saja. Namun setelah ibu bilang kalau adikku tidak jadi ikut karena baru pulang shift malam, rasanya kok tidak tega jika aku pun hanya rebahan di rumah. Aku memutuskan makan 2 pisang ambon dan menenggak segelas besar air putih. Kami (bapak, ibu, aku dan anakku yang paling kecil) akhirnya berangkat, sesaat setelah aku pamit pada suamiku yang akan mengantar anak pertama kami sekolah.
Sepanjang perjalanan, aku memilih tidur. Membiarkan anakku berceloteh dengan kakung dan utinya. Aku baru terbangun saat kendaraan berhenti di bahu jalan. Ibu turun untuk membeli kembang. Sejak itu, mataku sudah tak lagi bisa terpejam. Aku bersyukur, diareku sudah mampet, digantikan rasa mual yang tidak terlalu merepotkan. Kami mampir untuk nyekar ke makam simbah.
Di sepanjang jalan, tanaman trukecu tumbuh subur. Warga desa sering mengonsumsi sebagai lalapan bersama jangan lombok, atau sambelan (tiwul yang dicampur sambal bawang mentah, dimakan bersama-sama di cobek tanah liat). Benar saja, setelah kami selesai nyekar, seseorang menyapa ibu, menawari kami turut gabung untuk sambelan. Bukan dengan lalap daun trukecu, melainkan lauk puthul bacem. Ibu yang memang tidak memiliki masalah alergi, tentu saja tidak menolak saat seplastik puthul diserahkan untuk dibawa pulang. Kami melanjutkan perjalanan menuju rumah siwo (sebutan untuk pakdhe atau budhe, sering disingkat dengan wo), tempat di mana akan diselenggarakan acara peringatan 1000 hari kematian wo kakung pada malam harinya.
Suasana rumah telah ramai. Banyak tetangga dan kerabat datang membantu mempersiapkan segala sesuatu. Kami, lebih tepatnya aku, agak beruntung karena tiba di saat pekerjaan sudah rampung. Bingkisan sudah siap dibagikan. Berbeda memang dengan yang biasa terjadi di kampung tempat tinggalku. Di sini, bingkisan dibagikan ke tetangga sekitar dan kerabat pada siang hari.
Selepas zuhur, Pak Kaum datang. Usai sebentar macit (minum teh atau kopi ditemani makanan kecil) seluruh kerabat berbondong pergi ke makam bersama Pak Kaum dengan berjalan kaki. Lagi-lagi, aku kembali beruntung, diminta agar tetap tinggal untuk menjaga rumah serta mengawasi anakku dan keponakan saja. Kedua bocah perempuan itu seperti tak kehabisan energi, setelah bosan bermain masak-masakan di dalam rumah, mereka pergi ke belakang untuk memberi makan sapi dan kambing. Sangat bertolak belakang denganku, rebahan di lantai ruang tamu dan sempat beberapa kali terlelap. Aku benar-benar terjaga saat ruang tamu sudah kembali ramai. Hidangan makan siang pun sudah tertata rapi. Aku seperti tamu tak tahu malu.
Kami makan bersama. Menyantap nikmatnya hidangan khas desa. Sejenak membuatku lupa dengan deraan mual dan pusing. Kuambil secentong nasi putih, jangan ndeso, oseng soun serta telur dadar. Kusantap lahap ditemani cerita wo P, wo S dan lik J yang sedang menceritakan kembali perihal pertunjukan ketoprak di lapangan balai desa beberapa hari sebelumnya.
“Aku yo, Ti. Nek mambu sekolah koyo mamakmu, aku yo enjoh dadi sinden (Aku ya, Ti. Kalau merasakan bisa sekolah seperti ibumu, aku juga bisa menjadi sinden),” terang wo P padaku usai menyanyikan dua baris langgam jawa yang aku tidak mengerti dengan suara yang memang khas pesinden.
Aku sempat membantah kalau menjadi sinden tidak perlu sekolah. Tapi wo P protes dengan suara keras, katanya zaman dulu untuk bisa belajar jadi sinden, harus sekolah. Aku akhirnya mengangguk saja. Kembali mencomot telur dadar dan mengambil secentong nasi lagi. Sepertinya nafsu makanku membaik.
Obrolan siwo dan bulik masih berlanjut. Meski kami duduk berdekatan, sudah menjadi kebiasaan bagi mereka berbicara dengan suara keras, bahkan terasa sedang melihat pertengkaran. Aku pikir, hal itu mungkin karena terbiasa bertani di ladang, atau jarak antar rumah yang cukup jauh, sehingga agar bisa tetap ngobrol, mereka harus bicara dengan suara lantang. Tak heran, saat kecil dulu, setiap kali pergi ke rumah simbah dan menginap, aku selalu tidak bisa tidur saat malam tiba. Para siwo atau simbah pasti bercengkrama semalam suntuk. Ah, kadang aku jadi merindukan kembali saat-saat dulu.
“Aku mangkel tenan karo sing main kendang. Wetengku nganti mules leh ngenteni. Kudune wis wayahe kendang muni, lha kok ditunggu-tunggu ora muni-muni (Aku jengkel sekali sama pemain kendang. Perutku sampai mulas menunggu. Seharusnya sudah saatnya kendang dipukul, tapi ditunggu-tunggu tidak juga bunyi).” Wo P kembali mengomel. Setelahnya ia juga memperagakan betapa tidak cocoknya pemeran prameswari. Menurutnya, perempuan itu terlalu kurus, seperti pelepah pisang yang dipakaikan jarik lalu diikat stagen. Bahkan, wo P juga mengatakan kalau ia lebih cocok menjadi pemeran tokoh prameswari. Hal itu disambut tawa oleh wo S dan lik J, juga termasuk aku.
Lik J menimpali, kalau menurutnya pak Dukuh memerankan prajurit Sandi dengan sangat baik. Perawakan yang gagah, serta penghayatan pada lakon, membuat pertunjukan begitu menarik. Ditambah pak RT yang memerankan patih juga sangat cocok. Bahkan wo S menambahi, kalau anak sopir pickup kampung sebelah memerankan begawan dengan sempurna. Tubuhnya yang kekar, tinggi dan bersuara berat itu mampu menarik hatinya. Ketiganya masih lanjut menceritakan kembali kesan tokoh pada pertunjukan.
Aku mengakhiri makan siang nikmatku dengan hiburan yang sangat menyenangkan. Aku bahkan sempat mencari tahu cerita telik sandi yang diceritakan tadi melalui Youtube. Hanya sekadar ingin tahu tokoh-tokohnya saja. Mungkin nanti aku akan melihatnya secara penuh jika sudah ada waktu luang.
Malam akhirnya tiba, acara pengajian 1000 hari siwo diselenggarakan dengan membaca Yasin bersama-sama. Selesai acara, ibu sempat menawariku agar pulang esok hari. Tapi, karena kepalaku semakin sakit, aku menyampaikan untuk pulang sesuai rencana saja, supaya aku bisa istirahat dan tidur di rumah. Ibu mengerti. Kami akhirnya pulang.
Dalam perjalanan, aku merasa terganggu dengan bau tidak sedap, awalnya kupikir anakku kentut, tapi kok terus-terusan. Hingga saat sampai di rest area bukit pathuk, aku tidak bisa menahan keinginan untuk muntah. Kami menepi dan aku mengeluarkan sebanyak-banyaknya isi perut di pinggir jalan. Saat itulah, bapak akhirnya mengaku, kalau di bagasi ia menyimpan sekarung kecil kotoran kambing kering untuk dibawa pulang sebagai pupuk. Aku tidak habis pikir, bukankah di rumah sudah cukup dengan pupuk dari kotoran ayam dan burung? Untuk apa bapak harus membawa pulang sekarung penuh kotoran kambing, padahal tanaman cabainya juga tidak luas.
Aku akhirnya pasrah. Bertukar tempat duduk dengan ibu yang sebelumnya di kursi depan, memakai masker, serta mengoleskan minyak kayu putih di masker itu. Kembali terulang seperti saat berangkat, aku memilih tidur sepanjang perjalanan hingga tiba di rumah dengan selamat.***
Septi Rusdiyana
Tinggal di Yogya
