Cerpen

Makan Pagi Paling Indah

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Sepiringnasi goreng iga bakar disajikan Ratih. Sepasang mata Pak Jo terbelalak. Rasa lapar dan  selera makannya bangkit. Tak terkendali seperti masa kanak-kanak. Di restoran hotel itu Ratih duduk menghadap meja kayu jati, berseberangan dengan Pak Jo. Semua orang menyapa Pak Jo. Ia  seorang guru besar, pembicara dalam forum seminar. Lelaki setengah baya itu  hanya memperhatikan Ratih, perempuan beralis tebal, dengan rambut sebahu, berkacamata minus setengah. Di hadapan Pak Jo, perempuan  itu menjaga kesopanan.   

“Kau suka masak nasi goreng?” tanya Pak Jo pada Ratih, seorang dosen muda, kandidat doktor.

Ratih memandangi Pak Jo, promotor disertasinya, dengan jenaka.

Lelaki setengah baya itu iseng bertanya tentang makan pagi kesukaan Ratih. Ia selalu memasak nasi goreng pada pagi hari, tetapi tak pernah memenuhi seleranya, Anak  gadisnya, Sekar, sebelum menikah, kadang memasak nasi goreng untuknya, tetapi terlalu banyak sayur.  

“Saya sering masak nasi goreng untuk sarapan suami,” kata Ratih.

“Apa suamimu bersyukur?” Pak Jo merasa perlu mengajukan pertanyaan ini. Ia masih ingat akan perangai  Sekar,  yang selalu menuntutnya mengucapkan rasa terimakasih ketika menyajikan sepiring nasi goreng yang penuh sayur dan cenderung hambar.   

“Ia pandai memuji masakan istri,”  kata Ratih, tenang.

“Apa dia tak pernah meminta sarapan lain, selain nasi goreng?”

“Sesekali ia minta nasi goreng pete,” kata Ratih. Ia mengingat perilaku suaminya yang jenaka saat makan nasi goreng pete. “Aroma pete membuatnya lahap makan.”

“Istriku dulu suka masak nasi goreng babat gongso. Tak seorang pun bisa menandingi kelezatannya. Nasi  goreng iga bakar yang kita makan ini, kalah lezat dengan masakan istriku.”

Berceritalah Pak Jo  pada Ratih mengenai kelezatan  nasi goreng sapi, nasi goreng kambing, nasi goreng ikan asin, nasi goreng kornet, nasi goreng sambal cumi pete, nasi goreng udang, nasi goreng magelangan, nasi goreng padang, dan nasi goreng thailand. Mereka bertukar cerita, dan tak ingin diganggu siapa pun. Orang-orang yang mengenal Pak Jo menyapa, tetapi tak pernah berani bergabung ke mejanya. Lelaki setengah baya itu menikmati makan pagi yang lezat, setelah sepuluh tahun tak pernah merasakannya, sejak istrinya meninggal.  Sepasang mata Ratih menampakkan cahaya ketakjuban selama sarapan, dan lelaki setengah baya itu merasa nikmat tiap sendok nasi goreng iga bakar. Tiap teguk kopi terasa lezat dalam cecapan ujung lidahnya.  

***

Usaimenjadi pembicara di hotel, menjelang sore Pak Jo meninggalkan ruang seminar. Berlari-lari kecil Ratih mengajak  suaminya menemui Pak Jo di pelataran hotel, dekat air mancur, kolam ikan, dan taman. Seorang lelaki kurus, rambut gondrong, berkacamata tebal, menyalami Pak Jo.

“Ini suamiku,” kata Ratih, “seorang wartawan.”

Tercium  bau keringat dan rokok yang menyengat. Pak Jo teringat akan kesukaan lelaki ini makan nasi goreng pete.  Ia menahan senyum, tak bisa berbincang lama dengan Ratih dan suaminya.  Ia bergegas ke ruang parkir mobil. “Sampai besok, kita bertemu di ruang ujian promosi doktor!”

Meninggalkan hotel di pinggir kota, lelaki setengah baya itu memasuki pelataran rumah yang senyap. Tanaman-tanamannya layu, beberapa hari tak disiram. Ia membuka pintu rumah, dan seekor kucing berlarian mengikuti langkahnya.

Malam itu Pak Jo suntuk membaca disertasi Ratih.  Sebuah  taksi berhenti di depan rumah. Anak sulung dan istrinya, Alya,  datang dari ibu kota, meramaikan suasana rumah. Anak sulung datang untuk urusan kerja, dan Alya  ikut suami untuk jalan-jalan.  Alya  membawakan banyak makanan, dan terus-menerus mengajaknya ngobrol. 

Pak Jo mulai membandingkan Alya dengan Ratih. Ia sempat berpikir, kenapa Alya tak semenarik Ratih, yang akan diuji disertainya besok? Lelaki setengah baya itu mulai melihat penampilan Alya: alis, sepasang mata, dandanan, cara berpakaian, dan cara bicaranya. Alya tampil dengan gemerlap. Ratih tampil dengan apa adanya.  

“Bagaimana kalau Alya  memasak nasi goreng besok pagi?”

“Besok akan tersaji makan pagi paling indah bagi Ayah.”

Pak Jo berharap besok pagi akan menikmati nasi goreng, telur dadar, dan secangkir kopi yang memberinya keceriaan.  Ia juga memerlukan teman ngobrol seperti Ratih.   

***         

Lepas subuh, Pak Jo berjalan kaki mengitari gang-gang, mencapai taman bougenvile dan buru-buru pulang. Ia merasakan tubuhnya segar, duduk di teras, membaca koran, mandi, berdandan, dan menghampiri meja makan. Tetapi alangkah sepi meja makan itu. Alya dan anak sulungnya tidak  berada di hadapannya. Ia seorang diri, mencecap kopi yang hambar. Anak sulung dan menantunya bergegas menyalaminya, mohon diri. Anak sulungnya akan mengunjungi tempat kerja. Menantunya menemui seorang sahabat, dan mereka berjanji akan berjalan-jalan berdua.

Pak Jo mengambil nasi goreng masakan Alya. Ia  sarapan dalam senyap seorang diri. Dalam suapan pertama, lidahnya tersengat rasa pedas. Telur dadar yang dikunyahnya terasa asin. Ia bimbang, ingin meninggalkan sarapan nasi goreng yang sudah dibayangkan semalam akan lezat.

Terdiam, merenung seorang diri di meja makan, ia teringat akan godaan seorang teman, “Tunggu apa lagi? Kau perlu seseorang istri yang membuatkanmu sarapan nasi goreng!”

Pak Jo memaksakan diri untuk menyuap beberapa sendok nasi goreng yang terlalu pedas, mengunyah telor dadar yang asin, dan mencecap kopi yang hambar. Ia memberikan nasi goreng dan telor dadar pada kucing. Nasi  goreng itu cuma diendus-endus. Telur dadar itu yang dimakannya. Nasi goreng pedas itu diabaikan kucing.

Mencuci piring dan cangkir, Pak Jo kembali duduk menghadap meja makan. Memandangi lukisan besar di dinding. Istrinya tersenyum tipis, dengan kebaya dan rambut disanggul. Sepasang matanya bening, dan selalu ia ingat godaannya tiap pagi, “Nasi goreng babat gongso sudah matang. Ayo, dimakan, mumpung hangat!”

Mereka makan bersama. Selalu  Pak Jo merasakan kelezatan dalam tiap bulir nasi goreng babat gongso yang dimasak istrinya. Ada  senyum tipis dalam celah bibir itu, terpancar cahaya bening di balik kacamata. Dan Pak Jo, akan marah sekali setiap kali seorang teman membujuknya untuk kembali menikah dengan seorang janda yang diperkenalkan padanya. “Kau kira akan mudah bagiku untuk menerima istri baru?”

Pak Jo mengusir kucingnya keluar rumah, mengunci pintu, menghampiri garasi. Ia  mengendarai mobil pelan-pelan, berangkat ke kampus. Masih terlalu pagi. Ia mencapai kampus, menuju ruang tunggu dosen penguji disertasi. Berperangai  lembut, Ratih  menyambutnya,  menyuguhkan sepiring nasi goreng babat gongso dengan acar, taburan bawang goreng, dan kerupuk. Aroma nasi goreng itu persis yang disajikan istrinya tiap pagi di meja makan. Dalam suapan pertama, ia menikmati kelezatan nasi goreng itu. Lahap sekali ia menghabiskan nasi goreng babat gongso, dan menemukan seluruh kenikmatan makan pagi sepuluh tahun silam bersama istri.   

Pandana Merdeka, Januari 2024


          S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari. Menyelesaikan  program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”. Semenjak 1983  ia menulis cerpen, esai sastra, puisi,  novel, dan artikel di beberapa media massa. Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa”, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kumpulan cerpen Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” dimuat dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Penyusup Larut Malam” dimuat dalam Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009 dan diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018).  Cerpen “Pengunyah Sirih” dimuat dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Novel yang terbit  Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017), Percumbuan Topeng (Cipta Prima Nusantara, 2022). Kumpulan cerpen Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020), nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021.  Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022) dan Anak Panah Dewa (Penerbit Nomina, 2022).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *