Dunia Menulis

Uang, Oh Uang

Menulis bukan melulu uang. Kalau mau cepat kaya, lebih baik buka tambang emas atau jualan skincare abal. Tapi benarkah menulis sekadar perihal angka di rekening? Apakah setiap kata yang tertuang harus bisa diuangkan? Jika begitu, kasihan para filsuf yang dulu menulis tanpa royalti, hanya berakhir jadi kutipan di kaus murah.

Mari kita berpikir jernih. Menulis tentu bisa menghasilkan uang. Jurnalis, novelis, dan penulis naskah film bisa hidup dari kata-kata. Tapi kalau tujuan utama menulis adalah uang, hasilnya sering kali hambar. Seperti sup tanpa garam, seperti cerpen yang ujungnya hanya iklan produk. Ya, banyak tulisan yang lahir bukan dari kegelisahan, melainkan dari invoice.

Lihat fenomena penulis bayaran yang menulis hanya demi transfer sukses di layar ponsel. Tulisan dipesan, ide diarahkan, dan opini dibentuk sesuai pesanan. Tiba-tiba, buku motivasi lahir dari orang yang bahkan belum selesai memotivasi diri sendiri. Novel cinta mendayu diterbitkan oleh orang yang lebih sering galau memilih menu di warteg daripada memilih pasangan. Kita juga bisa melihat tulisan pejabat yang penuh kebijaksanaan, tentu biasanya hanya di kertas, karena dalam praktik, kebijakan mereka justru semakin menciptakan banjir dan longsor, harga–harga yang terus naik, dan subsidi yang entah ke mana.

Fenomena ini juga ada di pemerintahan. Regulasi yang dibuat hanya untuk menarik simpati, bukan menyelesaikan masalah. Undang-undang yang isinya manis seperti puisi cinta, tapi aplikasinya lebih pahit dari brokoli. Lalu pidato-pidato yang katanya penuh makna, tapi ujungnya hanya jual mimpi tanpa aksi. Jika mereka penulis, lantas karyanya akan macam apa?

Sementara, ada yang menulis dengan niat menyampaikan sesuatu. Mereka yang benar-benar punya keresahan, yang ingin dunia tahu tentang ketidakadilan, kegilaan, atau bahkan sekadar keindahan hidup. Mereka menulis bukan karena dihitung per kata, tetapi karena kata-kata itu harus keluar. Uang? Kadang datang, kadang tidak. Tapi kepuasan intelektual dan perasaan lega? Itu pasti.

Ironinya, justru ketika menulis dengan sungguh, uang sering kali datang sendiri. Bukan karena tulisan itu dibuat untuk laku, tapi karena ketulusan dan orisinalitas itu menarik. George Orwell, yang dulu hidup pas-pasan, tapi 1984-nya tetap dicetak ulang sampai sekarang. Pramoedya Ananta Toer, yang menulis dalam keterbatasan, tapi karyanya abadi. Mereka menulis bukan demi uang, tapi karena itu, tulisan mereka berharga.

Namun, tidak bisa dimungkiri, kita butuh uang. Kalau semua penulis tanpa memikirkan uang, maka akan ada banyak puisi indah, tapi tidak ada uang untuk beli kopi. Coba bayangkan seorang penyair yang menulis puisi cinta dengan penuh penghayatan, tapi gebetan malah memilih orang yang rekeningnya tebal. Menulis tanpa memikirkan uang memang romantis, tapi dunia nyata sering kali lebih kejam daripada novel picisan.

Jadi, apakah boleh menulis demi uang? Boleh. Tapi kalau hanya uang yang dikejar, jangan heran jika nanti yang lahir hanya tulisan mati, hidup sebentar lalu dilupakan. Sama seperti janji kampanye yang indah di awal, tapi berakhir di derita rakyat.

Ada paradoks menarik: jika menulis hanya untuk uang, tulisan bisa hilang makna dan akhirnya tidak menghasilkan apa-apa. Tapi jika menulis dengan ketulusan dan pemikiran yang dalam, justru ada kemungkinan uang datang. Uang adalah efek samping dari ketulusan, bukan tujuan utama.

Bisa disimpulkan, menulislah sungguh-sungguh, bukan sekadar sebagai mesin pencetak uang. Karena jika hanya itu yang diincar, lebih baik cari profesi lain yang lebih cepat kaya. Tapi kalau menulis karena benar-benar punya sesuatu untuk dikatakan, maka mungkin, dan memang hanya mungkin, tulisan itu akan bernilai lebih dari sekadar angka di rekening. Sebab kata-kata yang jujur dan tajam, bisa lebih tajam dari ATM yang kosong. Sama seperti cinta yang benar-benar tulus, lebih berharga daripada cincin berlian yang hanya untuk dipamerkan. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *