Dunia Menulis

Tanpa Darah tapi Bisa Berdarah-darah

Dalam dunia cerpen, ada mitos aneh yang suka keluyuran di kepala para penulis, bahwa konflik yang keren harus berbau dahsyat. Tentang negara yang retak, tentang mafia yang ngebom rumah sakit, tentang pembunuhan berantai yang menyisakan surat. Pokoknya, kalau belum ada darah, belum ada ledakan, belum ada rahasia dunia ketiga yang bocor ke meja dapur, maka hal itu katanya belum layak disebut cerpen yang kuat.

Hei, ayo duduk sebentar. Tarik napas. Bikin kopi kalau perlu. Lalu, mari kita hadapi kenyataan. Konflik besar bukan jaminan cerita besar. Kadang, malah jadi overacting. Kayak sinetron jam tiga sore yang kamera dan musiknya lebih niat daripada logika ceritanya.

Cerpen itu kawan, bukan panggung konser. Ia lebih mirip bisikan. Konflik dalam cerpen yang tajam tak harus gegap gempita. Kadang, hanya perlu satu kesalahpahaman kecil antara dua tokoh yang sama-sama gengsian. Atau hanya karena tokohnya kehabisan pulsa saat mau jujur soal perasaan. Iya, cuma gara-gara sinyal hilang atau WA centang satu bisa jadi cerita yang membuat dada sesak.

Kita sering terjebak pada konflik raksasa karena kita takut cerita kita dibilang remeh. Padahal, hal yang remeh justru bisa jadi drama yang luar biasa, asal karakter dalam cerita hidup dan sepenuhnya percaya pada masalah mereka.

Mari kita ambil contoh: Seorang anak perempuan ingin memakai lipstik ibunya sebelum berangkat ke acara sekolah. Tapi si ibu melarang, karena itu lipstik terakhir peninggalan nenek yang sudah meninggal. Konflik? Ya. Bom nuklir? Memang tidak. Tapi emosi di sana bisa lebih meledak dari perang antar geng di film laga.

Lucunya, ada juga penulis yang terlalu semangat membuat konflik besar, tapi karakternya lemah seperti tisu basah. Bayangkan saja: tokoh utama agen rahasia yang ingin menjatuhkan presiden korup, tapi dia tidak tahu cara membuka file PDF. Atau, lebih parah, dia tidak punya motivasi kecuali karena dunia ini kejam. Mohon maaf, kalau hanya itu alasannya, lebih baik dia main jadi badut saja.

Konflik itu harus tumbuh dari dalam karakter. Bukan dilempar dari langit. Ketika seorang suami pulang malam, bukan karena selingkuh, tapi karena dia menghindari melihat wajah anaknya yang sakit dan merasa bersalah tidak bisa membayar rumah sakit. Nah, itu konflik. Manusiawi. Nendang. Menyesakkan.

Kadang ironi hidup justru paling menyakitkan ketika ia datang diam-diam. Cerita tentang seorang gadis yang iri pada sahabatnya karena dapat beasiswa ke luar negeri, padahal dia sendiri tak pernah mendaftar karena tidak ingin meninggalkan ibunya. Itu bisa lebih membekas ketimbang cerita pembunuhan sadis. Karena kita semua pernah iri. Pernah takut. Pernah tidak jujur.

Dan, kadang cerpen bisa juga jenaka. Konflik sepele seperti seorang bapak yang merasa dilecehkan karena anaknya lebih jago bikin kopi bisa jadi kisah lucu yang menyentuh. Atau pertengkaran dua orang tua di panti jompo karena rebutan remote TV, yang ternyata karena diam-diam mereka saling jatuh cinta. Bukan hanya menggelitik, tapi juga manis dan penuh rasa.

Yang penting adalah sepadan. Konflik dan karakter harus saling menegaskan. Kalau karakter cuma bisa bilang, aku marah, tapi kita tidak tahu kenapa dia bisa marah, ya jangan salahkan pembaca kalau mereka membuka aplikasi cuaca di tengah cerita.

Kisah yang kuat tidak harus tentang kematian. Kadang cukup tentang seseorang yang tidak bisa bilang maaf pada ibunya sebelum si ibu pergi untuk selamanya. Tidak ada ledakan, tidak ada mafia, tidak ada konspirasi internasional. Tapi dada pembaca bisa ambyar.

Itulah kekuatan cerpen. Ia tidak butuh terompet. Cukup satu bisikan yang pas. Satu luka kecil yang tidak berdarah, tapi membuat kita mengusap dada berkali-kali.

Jadi, buat teman-teman yang merasa kurang keren karena ceritamu cuma soal sakit hati, atau cuma soal iri, atau cuma soal tetangga yang nggak balikin mangkok, tenanglah. Selama kamu tahu kenapa karakter itu merasa seperti itu, selama kamu tidak asal lempar konflik besar tanpa fondasi, maka ceritamu valid. Bahkan bisa lebih tajam dari cerita perang galaksi.

Kadang, hal yang paling menyakitkan bukan peluru. Tapi satu kalimat pendek yang tak pernah terucap: Aku bangga padamu. Atau lirikan iri yang bisa menjadi duri. Dari sanalah cerita dimulai. Tanpa darah. Tapi tetap bisa bikin kita berdarah-darah. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *