Dunia Menulis

Paragraf Pertama = Kencan Pertama

Menulis paragraf pertama itu seperti menjalani kencan pertama. Kalau awalnya canggung, membosankan, atau malah bikin ilfil, jangan harap ada pertemuan kedua. Pembaca, layaknya pasangan potensial, akan kabur lebih cepat dari bayanganmu.

Tapi anehnya, kita sering lupa soal ini. Kita menulis paragraf pertama hanya sebagai formalitas, seperti basa-basi basi: Hari itu hujan. Aku berjalan sendirian di trotoar. Lalu aku melihat dia. Itu bukan paragraf pertama, itu tiket satu arah ke zona ghosting.

Coba bandingkan dengan ini: Aku tahu aku idiot saat membiarkan mantanku mengiris bawang di dekat mataku, sambil mengaku telah tidur dengan sahabatku.

Atau: Tiga detik sebelum mayat itu jatuh tepat di atas mangkuk mi ayamku, aku masih mengira hari ini akan baik-baik saja.

Ini seperti kencan pertama yang dimulai dengan: Aku pernah ditahan di bandara karena dikira penyelundup ikan. Tidak ada orang yang akan meninggalkan meja setelah mendengar itu.

Kenapa kita malas memikirkan paragraf pertama? Jujur saja, banyak dari kita menulis paragraf pertama hanya untuk mulai. Seperti orang yang datang ke kencan dengan kaos lusuh, rambut acak-acakan, dan pembukaan: Jadi, kamu kerja di mana? Lalu kita berharap orang akan bertahan?

Kita menulis asal jadi, dengan dalih nanti dibagusin lagi. Tapi pada akhirnya, kita malas membaguskan apa pun. Paragraf pertama kita tetap membosankan, seperti obrolan kencan yang isinya keluhan soal macet dan harga bensin.

Paragraf pertama tidak harus indah, tapi harus menarik. Kita sering berpikir bahwa paragraf pertama harus penuh kata-kata puitis, metafora langit dan laut, atau filosofi mendalam. Sama seperti orang yang di kencan pertama sudah bicara soal arti hidup atau hakikat eksistensi. Padahal, lebih baik mulai dengan sesuatu yang ringan, tapi bikin penasaran.

Boleh absurd, seperti ini: Semua orang di kampung ini yakin aku anak setan, tapi aku lebih yakin aku cuma anak hasil salah minum jamu.

Boleh kasar, seperti ini: Kucing itu menatapku dengan tatapan yang sama seperti mantanku: jijik dan ingin muntah.

Boleh menyebalkan, seperti ini: Jika hidup ini film, maka aku pasti pemeran figuran yang bahkan namanya tak muncul di kredit akhir.

Tidak harus rumit, yang penting bisa menarik perhatian dan bikin pembaca ingin tahu lebih jauh.

Kalau paragraf pertama jelek, singkirkan! Bayangkan kamu datang ke kencan pertama, duduk, lalu tiba-tiba sadar kaosmu ada noda saus yang besar. Apa yang harus dilakukan? Bisa diam pura-pura tidak tahu, atau jujur, lepas jaket, dan move on. Sama dengan paragraf pertama yang jelek. Kalau setelah menulis cerita kita sadar bahwa paragraf pertama kita hambar, hapus saja! Kita bisa mulai dari tengah aksi, konflik, atau dialog yang menggigit.

Novel-novel terkenal tidak mengawali cerita dengan detail tempat atau cuaca yang membosankan. Mereka langsung menghantam pembaca dengan sesuatu yang tak bisa diabaikan. Jadi, jangan ragu membuang paragraf pertama yang lemah. Toh, dalam kencan, lebih baik ganti baju daripada mempertahankan sesuatu yang jelas-jelas merusak kesan pertama.

Pembaca itu orang sibuk, jangan bikin mereka menunggu. Kita hidup di zaman di mana orang membaca dengan jempol, menggulir layar seperti memilih pasangan di aplikasi kencan. Jika paragraf pertama kita lemah, mereka tidak akan memberi kesempatan untuk paragraf kedua.

Kalau di kencan pertama kita menghabiskan 15 menit pertama hanya untuk memilih menu, lawan bicara kita sudah malas. Sama dengan pembaca, mereka tidak mau berlama-lama mencari tahu ini cerita tentang apa. Jadi, langsung saja. Boom! Sampaikan sesuatu yang bikin mereka duduk tegak dan berkata: “Oke, ini menarik!”

Jangan terlalu serius, jangan takut nakal. Sering kali kita terlalu serius saat menulis paragraf pertama. Kita ingin terdengar pintar, berbobot, mendalam. Tapi pembaca lebih suka sesuatu yang jujur, sedikit nakal, atau bahkan menyentil perasaan mereka.

Coba yang seperti ini: Dosa pertama yang aku lakukan hari ini adalah pura-pura lupa bayar utang, dosa kedua adalah pura-pura lupa dosa pertama.

Atau: Satu-satunya alasan aku belum mati adalah karena belum ada pembunuh bayaran yang cukup sabar untuk menangani kebodohanku.

Sama seperti di kencan pertama, sedikit humor dan ketidaksempurnaan bisa jadi daya tarik.

Jadi, kesan pertama itu menentukan, baik di kencan maupun di tulisan Paragraf pertama adalah gerbang., kalau gerbangnya jelek, siapa yang mau masuk? Jika ingin pembaca bertahan, buat mereka terkesan sejak awal. Jangan biarkan mereka merasa sedang membaca laporan cuaca. Tunjukkan sesuatu yang unik, berani, dan menggoda rasa penasaran mereka. Karena pada akhirnya, menulis paragraf pertama yang buruk itu seperti datang ke kencan pertama dengan bau mulut. Sekali mereka ilfil, tidak ada kesempatan kedua. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *