Palugon—Selain Pulang, Apa yang Dicari Setelah Kepergian
pulang, pada perasaan Ibu yang menunggu di balik pintu
sebagai iba yang menjalar dari ujung baju ke ujung jiwa yang ditingkap segenap jiwa
dada Ibu serupa lengkung gamelan
dengan ning-nong lantunan gong
aku pulang dengan perasaan haru
setelah jawa dan sunda bercampur jadi satu
pada diri dan juga tubuhmu
sedikit-sedikit bisa, sedikit-sedikit lupa
sesekali kulihat bapak
menghidu cangklong, memijit lututnya
yang sering berderit
sedang ular derit telah tiada
berpindah dari kaki bapak, ke bapak yang lain
demikianlah keluhan itu menjalar
setelah aku tiba dengan uban dan sepa
tiang-tiang rumah dan rumbia
sudah lama berganti rupa
tinggal satu-dua masjid yang bergaya Masjid Demak titisan aulia
tapi pulang adalah keharusan
jalalan menanjak ke utara dari Wanareja
orang selalu bertanya
Palugon itu sebelah mana?
aku bilang tiga desa terakhir Wanareja
Palugon, Jambu, Cigintung—Palujantung
yang jalanannya dipenuhi hutan pinus dan kabut
dekat ke Banjar, dekat ke Cirebon
oh, demikianlah jawaban ketidaktahuan itu
sedang aku terus bertanya pada jiwa
selain pulang, apa yang dicari setelah kepergian
dan lengkung dada Ibu, abadi dalam ingatan
Palugon, 2019
Kisah Kasih
kisah selalu saja kasih
yang asih dan asuh antara engkau dan aku
aku menceritakan sesuatu
di kepalamu, ialah cerita yang lain
namun kita tetap satu
seperti api dan lilin
yang benderang
di gulita malam
Palugon, 2019
Apa yang Sudah Kulakukan untuk Mencintaimu
apa yang sudah kulakukan untuk mencintaimu
pohon-pohon tersingkap angin
botol-botol bekas di pinggir kali
berhenti mengalir dan sungai kering
apa yang sudah kulakukan untuk mencintaimu
hujan diluar musim
sumur-sumur berwarna kuning
dan ombak menjulur ke tengah-tengah daratan
apa yang sudah kulakukan untuk mencintaimu
cericit burung dalam ingatan
anak-anak melihat dalam gambar
abjad-abjad di tempel penuh di dinding
mengeja dan menghitung
apa yang sudah kulakukan untuk mencintaimu
seratus untuk kebenaran
dan mengaku salah adalah keburukan
sedang pohon manggis
dalam wujud bunga mulai berguguran
kini mencintaimu, makin samar
Palugon, 2019
Ibu yang Pencemburu
pada perasaan bahagia
di ladang-ladang orang
Ibu merasa wajib cemburu
pada nasib musang yang memakan biji enau
dan biji jatuh lalu tumbuh di lahan gersang
ada yang bernasib baik, ada yang biasa saja
ada yang mati sebelum berdahan
ada yang busuk jadi makanan semut rangrang
tapi Ibu tetap memandang
pada dahan yang bunganya
banyak nira
Palugon, 2019
Terapung Aku di Sungaimu
terapung aku di sungaimu
kekasih
sebagai plastik bekas
yang mencari tempat singgah
rumah dan cinta
barangkali pada api pembakaran
aku benar-benar mati
dan tak akan lagi mempertanyakan
cintamu
Palugon, 2019
Pada Gigil Pagi
pada gigil sebuah pagi
yang gemetar seusai mandi
aku mengikat ujung baju
pada batang-batang bambu belah
sebagai awal hari
dan kuucapkan, selamat
rengkuhan tanganmu
akan sampai padaku
asuh yang asih
tanpa pengawet
tanpa sampah plastik
tanpa jarak yang renggang
setelah sepuluh hari dari hitungan pertama, hujan rahmah
sudut gelap kita, barangkali gugur
aku hanya bisa menerka
dari pandangan kita
yang tidak pernah sama
Palugon, 2019
Menumbuhkan Pohon Kopi
dalam pandangan Ibu, pohon kopi tumbuh baik
sejak akar, dahan, daun , dan biji
mengkilap bebas duri, tentu saja
pada gulma yang tumbuh, ia titipkan berkah
di bukit Bunisari ia sedekah
persembahan tabah batin yang lapang
pada butir-butir merah phoska
atau hitam kelir kotoran domba
ada yang setahun, ada yang tiga tahun
pohon sumringah dalam genjah
Palugon, 2019
Melihat Buku Berserakan
seandainya kita berak buku, kemudian bertelur sembarangan
di kota-kota yang pikuk, hutan yang jadi tempat wisata
sawah yang masih dibajak gembala
dan tentu saja, jalanan yang sudah mulai sedikit lubang-lubang
ada yang senggama di pikiran kita
melihat mobil mewah, insan yang gemerlap
dan rumah dengan arsitektur sumringah
ada juga kesepian kita
yang mati sejak lahir ke dunia
kata-kata baik, bisa jadi bijak
kata-kata tak beraturan, bisa jadi berantakan
dipungut dan dibuang
Palugon, 2019
Membelikanmu Bulan
aku ingin membelikanmu bulan
di toko-toko pinggir jalan
sebab matamu teramat luas menguasaiku
kutebas semua duka lara
kutebas dengan pisau jiwa
jika musim hujan tiba
alir jiwamu menghangatkanku
serupa beludru domba Adam
jika musim kemarau tiba
tatapmu menyejukkan
menjadi salju jiwaku
aku ingin membelikanmu bulan
menyebrangi pasang lautan
bersama angin
menyusupi jiwamu
Palugon, 2019
Pada Pohon Jeruk yang Tak Lekas Berbuah
daunnya yang legam
menziarahi waktu, rimbun
aku telah bertualang
dari wilayah seberang
dimana pohon jeruk setinggi dada
ditingkapi buah-buah
dan aku, kekasih
membayangkan banyak daun
sepadan dengan keringat yang mengalir
bersama pantulan sinar mentari
sebagai buah
ada banyak rindu setelah masa tanam
ada banyak pendoa saat masa bunga menjelang
ada yang mati, terusik hama, ada yang di antara kita
tidak saling mengenal—sebagai orang asing
aku kemudian memandang
pohon jeruk menghitam
menunggu hujan, dan engkau datang
sebagai kekasih dengan bulat
buah matang
Palugon, 2019

Daru Sima S., tinggal di Palugon-Cilacap. Ikut mengelola komunitas baca Pojok Pustaka Majenang. Buku puisinya Di Pinggir Kolam, Mengaji Pada Ikan-ikan diterbitkan Unsa Press (2018).

Suka sama puisi-puisinya, Kak. Bagus semua ?