Curhat

Saya Rindu Berdebat dengan Agusta Akhir

Oleh Erna Surya

Saya sedang rindu berdebat dengan orang yang sudah meninggal. Namanya Agusta Akhir. Dia salah satu teman yang punya kontribusi besar dalam proses saya belajar menulis. Kami dulu duduk bersama, membicarakan karya, berbagi ilmu tentang tulis menulis di Sastra Alit. Dan saya masih ingat betul bagaimana cara dia tertawa. Waktu itu rambutnya gondrong, khas seniman sejati.

Aneh rasanya menulis kalimat itu. Sebab biasanya, kalau rindu kepada seorang teman, kita bisa mencarinya. Mengirim pesan. Mengajaknya bertemu. Atau sekadar bertanya, “Kamu di mana?” atau mungkin “Apa kabar? Lagi sibuk nulis apa?” Dari satu titik itu, nanti akan berkembang jadi diskusi sastra yang panjang.

Tetapi kepada orang yang sudah berpulang, rindu tidak punya alamat. Rindu padanya datang tiba-tiba saat saya membuka buku novelnya Seperti Lidah Api yang Menjilati Bulan di Langit.Waktu itu dengan santainya saya berkomentar, “Ini dapat ide judul dari mana, Mas?” dan dia tertawa. Dia tahu kalau saya sebenarnya sedang berpikir bahwa ini judul yang aneh. 

Lalu pagi ini, saya teringat pada sebuah perdebatan kecil tentang ikan di laut. Waktu itu saya sedang membaca novelnya. Ada bagian yang menyebutkan bahwa pada malam bulan purnama, ikan di laut ada banyak. Saya langsung protes.

“Justru kalau bulan purnama, bukannya ikan malah tidak ada?”

Kami berdebat. Saya tidak ingat siapa yang akhirnya dianggap benar. Mungkin memang tidak ada yang benar-benar menang. Sebab perdebatan itu kemudian membawa kami kepada pembicaraan yang lebih menarik: tentang sastra. Kami akhirnya sepakat bahwa sastra punya dunianya sendiri. Saya hampir melupakan perdebatan itu. Tapi ternyata dia tidak. Di pertemuannya dengannya suatu hari, dia bilang kalau masih ingat perdebatan itu. Saya bilang, “Kamu ngeyel”. Dan dia tertawa.

Satu pelajaran yang saya ingat betul: sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan bukan berarti otomatis salah di dalam sebuah karya. Pengarang boleh menciptakan hukum sendiri untuk dunianya. Ikan boleh saja banyak pada malam bulan purnama, selama ada catatan atau penjelasan khusus yang membuat hal itu masuk akal dalam dunia cerita. Saya masih pelajaran mahal kesimpulan itu.

Dulu saya menganggapnya hanya bagian dari percakapan dengan seorang teman. Sekarang, setelah Agusta tidak ada, percakapan itu seperti potongan kecil dari sebuah masa yang tidak bisa saya datangi lagi. Entah mengapa, justru sekarang terasa begitu penting. Begitulah rupanya kenangan. Memang tidak selalu menyimpan peristiwa besar. Kadang hanya sebuah potongan kecil, tentang ikan itu misalnya.

Saya juga sering teringat pada masa bersama Sastra Alit. Kami sering diskusi di Taman Balai Kambang, Solo. Sudah lama sekali. Hampir 10 tahun yang lalu. Ada masa ketika kami bisa menghabiskan waktu di sana untuk menulis bersama. Saya, Agusta, Yuditeha, Gatot Prakoso, Key Nurhidayanto, Maia Gwendon, dan teman-teman yang lain.

Kami datang membawa tulisan masing-masing. Lalu kami menyebutnya sebagai ‘Pembantaian Karya’. Lucu juga sebenarnya. Satu cerpen yang menurut saya sudah bagus, dan dengan PD-nya saya bawa ke Sastra Alit, di sana bisa dibantai habis-habisan oleh teman-teman. Kalau ingat semua itu, saya jadi tertawa sendiri.

Pembicaraan yang awalnya hanya membahas satu cerpen bisa melebar ke persoalan macam-macam. Di luar sastra, di luar tema menulis. Tapi semuanya asyik. Kami bisa terus ngobrol sampai sore, padahal hanya duduk di atas tikar sederhana, sambil minum teh hangat seduhan Mas Gatot. Benar-benar kesederhanaan yang mahal.

Sekarang kalau saya mengingatnya, rasanya indah sekali. Bukan karena waktu itu kami sedang melakukan sesuatu yang luar biasa. Justru karena semuanya adalah hal-hal yang biasa dan konsisten dilakukan dalam jangka waku yang lama. Duduk bersama teman-teman yang mempunyai kesenangan yang sama. Membicarakan tulisan, sastra, karya. Kadang serius, kadang bercanda.

Sore datang tanpa terasa. Lalu kami pulang. Dulu saya tidak pernah berpikir bahwa suatu hari nanti saya akan merindukan semua itu. Saya kira pertemuan semacam itu akan selalu ada: duduk bersama, bahas karya, ngobrol ke sana ke sini.

Saya kira masih ada kesempatan untuk membaca tulisan baru Agusta Akhir dan masih ada kesempatan untuk berdebat dengannya. Ternyata tidak. Agusta sudah berpulang. Dan sejak itu, beberapa kenangan berubah menjadi sesuatu yang lain.

Tempat yang dulu biasa saja tiba-tiba punya arti. Percakapan yang dulu terasa sepele tiba-tiba menjadi sesuatu yang ingin saya ulang. Nama seseorang yang dulu bisa saya temui, sekarang hanya bisa saya temukan dalam tulisan, ingatan, dan cerita dari orang-orang yang pernah mengenalnya. Mungkin beginilah kehilangan bekerja. Kehilangan tidak hanya mengambil seseorang tapi juga membawa pergi kemungkinan-kemungkinan: kemungkinan untuk bertemu lagi, kemungkinan untuk berbicara lagi, kemungkinan untuk berdebat lagi tentang sesuatu yang sebenarnya tidak penting.

Saya kadang membayangkan, kalau Agusta masih ada, mungkin kami masih akan berdebat tentang sastra. Mungkin tentang tulisan terbaru saya. Mungkin tentang tulisannya. Mungkin tentang sesuatu yang sama sekali tidak penting. Saya mungkin akan kembali mengatakan bahwa ikan tidak banyak ketika bulan purnama. Dan mungkin ia akan membantah lagi. Lalu kami akan kembali sampai pada kesimpulan yang sama: sastra punya dunianya sendiri.

Betapa saya ingin mengalami percakapan itu sekali lagi. Bukan untuk membicarakan sesuatu yang besar. Cukup recehan yang tidak penting saja. Ada masa ketika kita merasa bahwa orang-orang di sekitar kita akan selalu ada. Kita tidak menghafalkan percakapan dengan mereka karena kita mengira akan ada percakapan berikutnya. Kita tidak menyimpan setiap sore dengan sungguh-sungguh karena kita mengira akan ada sore-sore lain. Kita tidak memandang sebuah pertemuan sebagai sesuatu yang terakhir karena kita tidak pernah tahu bahwa itu ternyata pertemuan terakhir.

Sekarang saya tahu, beberapa hal baru terasa berharga setelah tidak bisa diulang. Sastra Alit di Balekambang bukan sekadar tempat kami pernah menulis bersama. Ia adalah salah satu tempat di mana sebuah persahabatan pernah tumbuh. Dan Agusta adalah bagian dari masa itu.

Karena itu, ketika saya merindukannya, yang saya rindukan bukan hanya seseorang. Tetapi saya merindukan sebuah masa. Masa ketika kami masih bisa duduk bersama sampai sore. Ketika tulisan masih menjadi alasan untuk berkumpul. Ketika perdebatan tentang ikan di malam bulan purnama bisa menjadi pembicaraan panjang tentang sastra. Saya merindukan semuanya.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika saya membaca lagi tulisan Agusta, saya akan kembali teringat pada perdebatan kecil itu. Saya akan tersenyum. Lalu mungkin berkata dalam hati: “Mas Agusta, ternyata saya masih ingat.” Saya masih ingat ikan yang banyak di malam bulan purnama, juga masih ingat perdebatan kita. Saya cinta Sastra Alit. Saya masih ingat sore-sore bersama teman-teman. Dan saya masih ingat bahwa pernah ada seorang teman bernama Agusta Akhir yang membuat perjalanan menulis saya menjadi lebih ramai.

Hanya satu yang sekarang tidak bisa saya lakukan. Saya tidak bisa lagi mengajaknya berdebat. Dan mungkin, itulah yang paling saya rindukan. Saya rindu punya kesempatan untuk berkata kepadanya sekali lagi: “Mas Agusta, ayo kita berdebat.”

____________________

Erna Surya. Penulis dan seorang guru yang tinggal di Klaten.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *