Puisi

Puisi M. Z. Billal

STRUKTUR TUBUH KENANGAN

helai rambutnya                                  

adalah ratus ribuan peristiwa

rasa hari yang kemarin

wajahnya                                            

adalah peradaban dari tahun-tahun

yang sunyi; yang juga berbunyi

tulang dadanya                                  

adalah gerbang agung memasuki sebuah

portal rahasia bernama jiwa

sepasang lengannya                            

adalah serikat rindu yang menyibak

sejumlah keajaiban memeluk

kedua telinganya                                

adalah instrumen yang mengalunkan

lagu-lagu tenang yang menyembuhkan

otot perutnya                                      

adalah tempat persembunyian

luka-luka pedih yang gemar tertawa

selangkangannya                                

adalah kebun yang menumbuhkan buah dan bunga

yang tidak pernah tumbuh di dunia

tungkai-tungkainya                            

adalah jarak panjang yang harus ditempuh

dari dunia ke surga; ke hutan dan laut

jari-jemarinya

adalah nama dari berbagai jenis sentuhan

yang menguarkan aroma waktu

seperangkat netranya                         

adalah mesin penjelajah yang liar berburu

langit dan ciuman-ciuman

hidungnya                                          

adalah hamparan kota sibuk yang berjuang

mengendus bau para pembawa mimpi

dua katup bibirnya                             

adalah siaran radio yang mengudara memenuhi

musim hujan dan panjang kemarau

air matanya

adalah muara kepulangan tempat sejumlah perahu kecil

memanggil nama ibu mereka

2025

__________________________

INDIGO

aku tak pernah berhenti menulis.

menulis puisi-puisi ini. kutulis terus.

kutulis saja. kulepaskan semuanya.

kekacauan biar saja kacau; luluhlantak

seperti bencana masa lalu. dan keheningan

biar saja hening. suara-suara membuatku

terapung. terapung hingga menembus

langit lembayung. dan aku terurai.                                         

terurai

            b     e     r    d     e    r     a   i.

     l           e          r          a          i

            renyai seperti hujan

pekan pertama april.

dan semuanya akan sangat membekas

seperti rindu yang tak pernah lepas.

karena aku selalu berharap kau bukanlah

orang yang pergi itu. kau akan menetap

di sini, di pelukanku. takdir cuma bercanda

saat kulihat kau melepaskan lambaian terakhir.

sebab kau pasti tahu bahwa kesembuhanku

membutuhkan waktu yang tidak singkat.

bahkan kalender akan mati berguguran

melawan peperangan dalam puisi ini;

di mana setiap kota yang kukunjungi

hanya memberiku sentuhan kecil

yang mengingatkanku padamu.

            dan sialnya lagi, rindu terus berjalan.

            dalam kekacauan, dalam keheningan

            yang sulit kuhentikan.

2025

__________________________

BANGUN PAGI TAPI SUDAH TIDAK RINDU

aku pulih. hari-hari kelamku telah berlalu.

bekas luka tak pernah menghilang, ia adalah

pelajaran dari masa lalu. meski nanti nyerinya

bisa datang kapan saja. setidaknya aku tersenyum

saat mengelusnya. kuhela napas menyambut

pagi demi pagi yang hangat datang dari masa depan.

berjalan ke luar rumah, ke jalan-jalan yang sibuk

dengan perasaan yang baru; rindu telah lebur

dan terbang ke angkasa, ditiup angin menjauh.     

ia telah jadi burung-burung bangau. seribu bangau.

seperti doaku yang berhamburan ke langit:

semoga kebahagiaan menyertaimu, dan bangun pagiku

tak perlu lagi resah. karena rindu ini telah ikhlas melepasmu.

2025

__________________________      

MEMBASUH LUKA

aku menulis puisi

dan kulepaskan ia berlari

ke dalam hujan yang turun

pada pertengahan februari.

            ia tertawa keras sekali

            lalu melambaikan

salam perpisahan kepadaku;

aku akan merindukanmu

dengan cara lain jika nanti

masih ada waktu.

kemudian dia menghilang

selamanya. menyisakan sebuah tanda

yang tak pernah kutahu

apa namanya. tapi aku tahu itu apa.

2025

__________________________

HAL-HAL TIDAK RUTIN TAPI AKU SUKA KARENA ITU PENTING

#1

kupeluk tubuhku dan kucium berkali-kali

bocah lelaki yang bersemayam di pondok kayu

di bawah rimbun flamboyan kuning;

diriku yang lucu dan menggemaskan

pada masa silam. ia yang selalu

ingin pulang dan tidur lebih lama

di atas kasur kenangan yang mahir

menyerap luka.

dan pada beberapa pagi dalam sepekan

kutanyai ia akan mengerjakan apa

hari ini. lalu ia akan menjawab

dengan kata-kata yang sama:

menyembuhkanmu.

ya, menyembuhkanmu!

#2

aku membicarakan lagi tentang

sejumlah cinta yang hebat di dada ibu

pada petang-petang tertentu untuk episode

yang entah ke berapa aku tak pernah

menghitungnya. dan meminta ibu untuk

melepaskan kerisauannya.

sebab kesedihan ibu adalah yang paling

berbahaya di muka bumi. bila setitik saja air mata

jatuh ke pipinya, maka sebuah badai

akan datang dan menggulung semua

peradaban.

dan tiap ketika pembicaraan itu berakhir

ibu merangkai sejumlah kata sebagai penutup.

yang membuatku tersungkur

di kakinya berkali-kali saat aku

mendengarnya:

rindukanlah selalu cinta ibu nanti

rindukanlah. sebab rindu adalah

pelukan kasih sayang

berumur panjang.

#3

satu hal yang paling kusuka ketika

menutup percakapan di ruang obrolan malam

denganmu; manusia kesukaanku,

adalah saat kau mengirimiku emoji

sepasang beruang imut saling merengkuh

pelukan hangat ke dada masing-masing

lalu percikan berbentuk hati menyertainya.

kau tampaknya mahir

menghangatkan dingin malam

yang memasuki tubuhku.

dan saat kubilang aku menyukai

hal-hal lucu yang kaukatakan,

membuatku ingin terperangkap dalam

mimpi yang selalu ada kau

di dalamnya. kau justru mengirimiku

sepucuk puisi pendek

yang menggetarkan:

aku ingin memiliki sebuah pelukan

yang bernama dirimu. ya, namamu.

2024

__________________________

M.Z. Billal. Lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Seorang Guru Sekolah Dasar. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Bukubukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital seperti kompas.id,  Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, bacapetra.co, dll, serta sejumlah antologi nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *