Cerpen Septi Rusdiyana
Untuk Pak Rio

Mo masuk kamar dengan tergesa. Jam menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh lima menit. Ia pulang sejam lebih lambat dari biasa karena petugas keamanan kantor menahannya.
“Babi-babi gendut itu lama-lama mulai menyusahkan,” gerutu Mo.
Mo meletakkan tas dan goodybag di ranjang. Berjalan menuju akuarium khusus berisi enam ekor kecoa. Empat dewasa dan dua sisanya masih kecil. Mo memanggil semua dengan sebutan Kuci. Ia raih botol berisi air di dekatnya, lalu menyemprot ke arah serangga-serangga bertubuh mengilap itu dari atap akuarium yang penuh lubang kecil. Mereka berlarian tak tentu arah. Beberapa ada yang terbang meski pada akhirnya menabrak dinding-dinding kaca. Tak ada celah yang bisa membuat mereka kabur.
“Kuci-kuci, makanlah, Sayang.” Mo memasukkan tangan kanannya di lubang samping akuarium untuk meletakkan sepotong keju. Ia juga mengisi wadah kosong di dalamnya dengan susu cair. Malam itu Mo tak sempat makan malam di luar bersama teman-temannya. Kini, ia kelaparan. Binatang-binatang cokelat itu bisa cukup menghiburnya. Setidaknya, untuk sesaat.
Mo sangat memperhatikan peliharaannya. Setiap dua hari sekali ia selalu membersihkan akuarium dengan cairan disinfektan. Mo juga selektif pada kualitas makanan dan minuman yang diberikan. Ia ingin membuktikan bahwa semua binatang itu sama. Tidak ada istilah binatang hina karena jorok. Mo yakin, asal lingkungan dan makanannya selalu dijaga, maka binatang itu akan tumbuh sesuai dengan kebiasaan hidupnya.
Ponsel Mo berdering. Ada panggilan masuk dari Kara, teman Mo. “Cepat datang atau aku akan mati kelaparan,” ancam Mo. Panggilan pun terputus usai suara di seberang menjelaskan bahwa dirinya tak lama lagi akan sampai.
Mo duduk di ranjang. Menyaksikan para Kuci berkerumun di sekitar keju dan susu. Sejenak Mo seperti sedang berpikir. Ia teringat dengan gosip yang akhir-akhir ini berembus di kantor tempatnya kerja. Memang tidak spesifik menyebut namanya, tapi Mo sangat yakin jika perempuan langu yang mereka maksud adalah dirinya.
Tadi sore, saat Mo menyusuri koridor menuju dapur, sekelompok staf dari divisi perencanaan tertawa ngakak, seperti tak tahan menahan geli. Namun, saat Mo masuk, seketika tawa itu terhenti. Tapi bukannya menjadi hening, justru lanjut dengan saling berbisik dengan volume yang bahkan bisa terdengar dari ruang sebelah. Sialnya, setelah Mo keluar dari dapur usai mengambil tumbler miliknya, mendadak tawa ngakak kembali bergema. Fenomena itu membuat Mo akhirnya yakin, dialah sumber lelucon itu.
“Sori sori, aku harus dua kali pindah tempat karena warungnya jorok.” Kara nyelonong masuk ke kamar. Ia menyerahkan bungkusan berisi salad buah jumbo pada Mo. Tanpa ba bi bu, gegas Mo membuka dan menikmatinya.
“Kamarmu sudah lama nggak dibersihin, ya?” tuduh Kara. Raut wajahnya mulai berubah. Ia bahkan menutup hidungnya.
“Sembarangan kamu!”
“Soalnya bau.”
“Bau salad dan susu maksudmu?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Bau kecoa,” jawab Kara singkat. “Menjijikkan,” lanjut Kara.
Mendengar kalimat itu, sejenak Mo menghentikan aktivitas makannya. Mo merasa tidak pernah mencium bau kecoa di kamarnya. Ia bahkan tak pernah lupa membersihkan kamarnya setiap hari. Ia juga yakin telah memberi makanan dan treatment terbaik bagi binatang kesayangannya itu. Jadi rasanya tidak mungkin Kuci-kucinya bau.
“Seperti sedang di rumah hantu saja,” komentar Kara. Tangan Kara menyambar parfum di atas meja rias Mo dan mulai menyemprot ke seluruh ruangan. Saat sampai di sudut kamar, Kara mematung. Ia melirik ke arah Mo dengan tatapan menyelidik. “Kamu gila ya? Bisa-bisanya kamu memelihara kecoa. Di kamar. Bahkan kamu bisa sembari makan?”
Mo melanjutkan makannya yang sempat tertunda. Ia juga tidak berminat menjawab pertanyaan Kara. Kara masih terus saja mengomel seperti ibu tiri yang kesal saat anak kandungnya kehilangan kesempatan untuk didekati pria kaya gara-gara ulah anak tirinya. Sesaat sebelum akhirnya Kara memilih keluar kamar meninggalkan Mo, ia sempat mengatakan satu kalimat yang membuat Mo tertegun: Hanya kamar-kamar alien yang punya aroma begini.
Mo mulai kehilangan nafsu makan. Bukan karena bau kecoa seperti yang Kara bilang, melainkan kalimat terakhir Kara membuat Mo kembali teringat pada gosip-gosip yang ia anggap murahan itu. Mo kesal. Apa salahnya jika ia berteman dengan alat pel lantai? Mereka jauh lebih bisa mendengarkan keluh kesahnya dengan tanpa menghakimi. Mo sering duduk di atas tumpukan kardus bekas dan bicara dengan sarang laba-laba di gudang belakang. Tak ada prasangka. Tak ada nasihat-nasihat klise seperti di buku-buku motivasi yang kalimatnya justru membuat kepala Mo sering berdenyut.
Sekarang, Kara, satu-satunya sahabat yang Mo pikir bisa mengerti dirinya, memilih kabur hanya karena Mo memiliki kandang kecoa di kamarnya. Mo berpikir. Apakah usahanya sia-sia? Bukankah ia telah memberi perawatan dan makanan terbaik untuk binatang peliharaannya itu? Tapi kenapa Kara bilang masih bau?
Mo mulai menciumi aroma tubuhnya sendiri. “Mungkin Kara dan orang-orang di kantor benar. Bau itu bisa jadi berasal dari tubuhku,” gumam Mo. Mo tertawa. Semakin lama tawanya semakin keras. Ia tak lagi peduli dengan Kara. Tak juga peduli pada rekan-rekan kerjanya. Ia hanya ingin bekerja seperti biasa. Menyelesaikan tepat waktu, dan memilih makan bersama kucing kampung yang sering mendatanginya di halaman belakang kantor saat Mo istirahat. Atau sesekali Mo akan naik ke gudang barang bekas di loteng kantor untuk sekadar bernyanyi sambil berdiri dekat jendela, menikmati pemandangan makam dan aroma kemboja yang menurut Mo semua penghuninya suka pada suara Mo. Mo kangen teman-teman di kantornya itu. Rasanya ingin segera esok dan kembali menjalani rutinitas seperti biasa.
Mo lapar lagi. Sejenak ia lupa pada embusan-embusan kabar terkait dirinya di tempat kerja. Mo melanjutkan suapan demi suapan yang sebelumnya sempat terhenti. Mo tidak peduli lagi dengan apa pun. Mo hanya memikirkan satu hal: sore tadi, sebelum bos Mo kembali pulang, bos Mo sempat meminta bertemu di ruang kerja. Di sana, untuk pertama kalinya sejak ia bekerja di perusahaan, Mo benar-benar merasa menjadi manusia.
“Aku tidak masalah dengan hobi dan kebiasaan anehmu itu. Aku sudah minta petugas kebersihan dan keamanan untuk tetap meletakkan perabot yang sudah kau anggap kawan itu di tempat seharusnya. Bahkan, di satu tempat agar kau senang,” kata bos Mo dengan senyum terbaik yang pernah dilihatnya.
“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya lebih kamu sukai: mengerjakan pekerjaanmu, atau bekerja di tempat ini. Yang pasti, kebiasaan-kebiasaanmu di luar jam kerja tidak pernah menggangguku.”
Sejak mendengar kalimat-kalimat itu, Mo merasa terlahir kembali. Suci. Bersih. Meski tak wangi, setidaknya tidak bau. Itulah yang Mo rasakan.
Setelah menuntaskan makan salad buahnya, Mo beranjak dari ranjang menuju kandang di sudut kamar. Ia mengeluarkan binatang cokelat mengilap itu, lalu mengajak Kuci-kucinya untuk mandi bersamanya. Ya, Mo hanya perlu memilih aroma sabun yang bisa memberi efek menenangkan. Bukan sekadar untuknya sendiri, tapi juga untuk binatang kesayangannya.***
______________________________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga, penyuka cerpen.
