
Ada satu dosa besar yang sering dituduhkan kepada siapa pun yang membawa buku ke mana-mana: sok-sokan. Sok intelek, sok rajin, sok kutu buku, sok cool, sok anti-gadget, sok bijak, sok sibuk cari makna hidup, bahkan sok nggak butuh teman. Pokoknya semua yang sok-sokan itu bisa melekat ke punggung kita hanya karena satu hal sederhana, membaca buku di tempat umum.
Padahal, siapa sih yang benar-benar sok? Yang mengira membaca buku harus selalu dikaitkan dengan adu kepintaran itu siapa? Yang menyangka bahwa duduk membaca novel di ruang tunggu dokter berarti ingin pamer ke pasien lain itu siapa? Apakah kita harus menulis: Saya hanya sedang mengisi waktu, bukan mengkhotbahi kalian, di kover buku kita agar tidak dikira sedang melakukan provokasi intelektual?
Lucunya, ketika orang membawa ponsel lalu scroll TikTok atau Instagram dengan ekspresi khusyuk, tak ada yang bilang dia sok asik, sok update, atau sok influencer. Tapi ketika kau membuka buku, bahkan buku puisi paling kalem pun, seolah kau sedang membaca mantra kuno untuk memanggil alien, reaksinya bisa dramatis sekali. Mulai dari lirikan mata, gumaman kecil, hingga cibiran penuh curiga. Mengapa begitu?
Mungkin karena buku itu diam. Tak bersuara. Tak mencari validasi. Dan diam, bagi sebagian orang, itu mengganggu. Buku tidak butuh notifikasi, tidak perlu like, tidak minta swipe. Ia hanya duduk tenang di pangkuanmu, menyajikan dunia tanpa mengganggu dunia. Dan justru di situlah bahayanya bagi banyak orang, buku itu terlalu independen. Ia membuatmu terlihat tak butuh keramaian. Dan dalam dunia yang menuntut kita tampil ramai, itu dianggap ancaman.
Maka, membawa buku ke mana-mana bukan cuma tindakan membaca, tapi juga bentuk keteguhan. Seperti membawa payung kecil saat semua orang lebih suka kehujanan lalu upload: Hujan itu romantis. Membawa buku seperti membawa bekal ketika yang lain sibuk antre beli camilan. Praktis, tapi dianggap kurang rame.
Tapi biarlah. Jangan kecil hati hanya karena kupingmu dipanaskan ejekan sok kutu buku. Bukankah kutu buku lebih baik daripada kutu gosip?
Lagipula, siapa sih yang mau menunggu antrean panjang di bank sambil ngelamun membatin, kenapa hidupku begini-begini aja? Lebih baik membuka halaman novel, larut dalam kisah fiktif, lalu lupa bahwa saldo di rekening tinggal seratus dua ribu. Kan lumayan, sebelum kenyataan menampar, setidaknya kita sempat mimpi sebentar.
Jadi, bagaimana caranya agar kita tetap nyaman membaca buku di tempat umum?
Pertama, ikhlaskan pandangan orang. Kita tidak bisa mengontrol komentar mereka, tapi kita bisa memilih genre buku yang membuat kita tetap waras. Kalau mereka bilang kita sok intelek, ya sudah, anggap saja itu promosi gratis. Dan kalau ada yang menyeletuk, “Wih, rajin amat sih, baca buku di halte!” cukup jawab, “Biar nggak baca pikiran orang, Mas.”
Kedua, siasati ejekan dengan humor. Jika mereka bilang, “Sok cool banget sih bawa buku ke kafe,” kau bisa senyum dan balas, “Daripada sok sweet sama mantan, ya kan?” Humor itu pelindung paling elegan dari sarkasme dunia.
Ketiga, bangun komunitas diam-diam. Kadang kita menemukan orang lain di taman kota yang juga sedang membaca. Senyum tipis cukup. Tak usah saling sapa kalau belum siap, tapi rasakan getarannya, kita tidak sendiri. Dunia ini memang kadang bising, tapi selalu ada yang memilih membaca daripada ribut di kolom komentar.
Keempat, dan ini yang paling penting, ingat alasanmu membawa buku. Karena kau tahu, buku bisa jadi penolong saat dunia terlalu hampa. Bisa jadi penyelamat saat sinyal hilang. Bisa jadi teman ketika urusan tertunda, antrean mengular, atau janji temu molor sejam. Buku tidak akan menatapmu dengan sinis saat kau bosan. Ia setia tanpa banyak cingcong.
Akhirnya, kita harus akui, membaca di tempat umum itu tindakan romantis yang sunyi. Seperti sedang kencan dengan pikiran sendiri. Tak butuh validasi. Tak butuh pujian. Hanya ingin menikmati ruang hening di tengah riuh notifikasi dunia.
Ada ironi di sana, ketika dunia makin ribut soal kecepatan, kita diam-diam memilih lambat. Memilih tenggelam dalam kalimat. Memilih tidak ikut rebutan bicara, tapi mendengarkan cerita dari halaman ke halaman. Dan kalau ada yang mencemooh, biarkan. Kadang cemooh adalah suara orang yang rindu membaca tapi tak tahu bagaimana memulainya.
Karena itu, mari tetap membawa buku ke mana pun. Di tas, di saku, di tangan. Kita tak harus mengubah dunia dengan bacaan kita. Tapi kita bisa menyelamatkan diri sendiri. Dan itu lebih dari cukup. Yang penting, jangan lupa satu hal, kalau buku itu teman, jangan hanya dibawa. [] Redaksi
