Gymnopédie no.1 dan Kesedihan
Kelokan-kelokan ini. Sungai meresap
ke dalam batas penglihatan
sehingga kita menganggap
gema-gema kecerian anak kecil itu
berlarian di atas sebuah tanah kosong
di atas sebuah benua dengan kaki telanjang
biru muda atau entah apa.
Lampu-lampu apartemen
balkon memangku buku
yang dibuka terbalik; pajangan dunia
yang dapat susut
orang-orang berpesta sampai malam
dengan kemeja kerja.
Jam tangan. Hari-hari ini.
“Kristal
terus tumbuh dan perusahaan-perusahan
membersitkan ubin-ubin gua
dalam laboratorium di pinggir jalan besar
yang kosong. Tak peduli tanggal berapa.
Beberapa orang dapat mati dengan penuh gaya.”
Lagi-lagi aku lupa mencatat
apa-apa yang perlu dari supermarket.
Sedikit biskuit.
“Kata orang kita memakan benak kita sendiri.”
Kalimat itu tidak kubaca di koran.
Jemu sekali kemarin. Dan hari ini
Pekerjaan apa yang dapat mengelakkan kita
dari ditusuk benda tajam yang tetap kelabu
seperti kematian orang tua
kerabat
orang-orang terdekat lainnya
“Tidak usah. Nanti kita rangkai bunga sendiri
kita foto dan beri catatan kecil
tentang wisata alam yang masih buka.
Parsel dengan gemuruh dan petir
dan pegunungan bekas tragedi perang.”
Pernah kulihat lampu merah yang terus-menerus merah
kuperhatikan dan aku jadi teringat
orang-orang yang mengetik sampai malam.
“Sampai jumpa besok ya.
Kerongkonganku kering sekali.
Aku juga harus mencuci baju
dan sempat lupa harus menyiram tanaman.”
Kargo-kargo melintas.
Teluk gelap.
Membengang.
La Nina
Gerimis mengantar sebuah pertanyaan:
Apakah segala sesuatu selalu dekat
dengan kemusnahan?
Akan datangkah gerimis
ketika waktu terbenam
atau malah kau yang datang dengan segenggam tanda
akan berakhirnya lautan-lautan?
Aku tak pernah berhasil menemukan istana di pinggir pantai
seperti yang pernah kau ceritakan.
“Istana yang dibentengi kincir-kincir angin
sejak matinya cuaca di balik pegunungan mimpi.”
Selain itu, hanya jeda
yang meniadakan pesan dari ruang yang jauh.
Dengan tubuh yang semakin hangus,
aku menahan kata yang menjadi kesesakan di dalam diriku
sampai ia merintih untuk mendapatkan kembali
malam yang sudah melemparkannya
ke dalam bara sunyi
tempat segala yang ada pecah
menjadi wajah bagi kemenangan-kemenangan
yang kecil dan sepi.
Dari sini, terang melaju ke ujung ufuk
ke belakang kapal-kapal peninggalan luka
yang membawa orang-orang merenungkan belantara badai;
Badai jatuh di lantai rumahmu
seperti sepetak cahaya matahari dari jendela
yang tenggelam mendahului lamunanmu.
Di dalamnya, kejadian menutup bersama mataku
yang berhenti merangkai keinginan
untuk mengejar hal-hal yang tidak terjadi.
Saat gerimis menderas, aku memperhatikan buku-buku di rak
menyembunyikan cerita sejauh mungkin
dari keinginan untuk mengetahui
untuk memiliki kelam tanpa harus membangunnya dari awal.
Tapi, di sana,
di reruntuhan kertas dan istana,
ada kau
bersama taman-taman yang membeku
dan orang-orang yang sudah kepayahan
karena terus menyusun ulang dirinya.
Di sana, sepertinya kau sedang berkata-kata
sedang menyusup dari satu petir ke petir lainnya
sambil mengantar sebuah pertanyaan:
Apakah segala sesuatu selalu dekat
dengan kemusnahan?
Komposisi Kepulangan
Ada beberapa yang mengatakan
bahwa tersesat adalah melihat cinta
di kedalaman mata.
Tidak di matamu.
Cinta telah ditelan kesunyian samudera
yang berdenyut meninggalkan tidur siapapun.
Dengan segenap kesadaranmu
yang patah-patah dan menggantung di sepanjang jalan,
kau terus menapaki dunia
bersama atau tanpa bayangannya;
Inilah kesepian.
“Kita gagal,”
kataku kepadamu
seraya menyaksikan
manusia berjatuhan
dari menara-menara
dengan mulut dan mata tertutup rapat
dari gedung-gedung gelap yang tak pernah menyimpan
kenangan-kenangan.
Dari dalam genggaman lelah matamu bertanya:
“Adakah tempat berteduh?”
Adakah yang lebih mati daripada malam di luar alam semesta?
Aku ingin berada di sampingmu beberapa saat lagi.
Aku ingin mendengar kabar teman-temanmu yang lukanya tak pernah kudengar
aku ingin bermimpi
mengenai tempat-tempat yang dijagai pohon-pohon dan dirangkum gunung-gunung
dengan nama yang begitu terjal.
Aku ingin tahu apakah kau pernah
menjadi orang-orang lain
dalam ingatan kota-kota asing dan orang-orang yang kau tinggalkan.
Dari balik sisa-sisa jendela,
aku melihat langit berakhir
dan semua orang yang tak pernah mengenal kita pergi
mencari peristirahatan terpencil;
Adakah yang lebih dalam
dari hening malam hari
selain ingatan yang tersesat di percakapan waktu?
“Ada.”
Jawab matamu.
Matamu yang bergemuruh.
Matamu yang tak mampu
menceritakan segala sesuatu.
-Warunk Upnormal, Jakarta Barat, 18 November 2016
Atau Benda-benda Asing yang Lain
“My incapacity to think, to observe, to determine the truth of things, to remember, to speak, to take part in the life of others, becomes greater each day; I am turning into stone. If I don’t save myself in some work, I am lost.” -Franz Kafka
pola cahaya di landai kertas.
Tidak terdengar
gelegak
“Apakah berdiri lagi
kota tembus pandang itu;
jendela-jendela kalis, hujan ruang
selesa yang tak pernah menderit juga?”
Tersaput segera.
Di atas kertas, debu tergamang.
Lipatan ketersembunyian mendebur
pada benua yang lain
“Yang terkubur setiap kali meja-meja
kursi-kursi dipindahkan
dari khayal ke khayal”
Maksudmu dari kedai ke kedai
dari waktu yang bangun di ruang tunggu
ke pucuk pohonan
di atas sabana inersia
tanpa usaha mengingat, segala hamparan
akan menepi kepadamu
“mari larungkan semua kata yang pejal ini ke dalamnya
agar ada yang menanti kita
agar ada surat-surat yang menebal
seperti sepul angkasa”
di mana saat-saat terakhir menghampirimu
tapi hanya komet
atau pecahan gelas
atau ujung plastik yang meleleh
buah kenari yang kau singkirkan dengan pinggir kakimu
sewaktu berkeliling pada ruam tengah hari
Hari Ini atau Kemarin Madotsuki* Tidak Melompat dari Balkon dan Itu Adalah Hal yang Baik
“Juga hari-hari makin sendu.
Bayangan demi bayangan memejal dengan sikap yang mudah kukenal.
Jika kuajak bicara, segera aku sadar
bahwa aku hanya sedang mengkhayal
aku sedang mengajak mereka bicara”
barang-barang dan ornamen-ornamen di meja. Seperti melukat tanpa waktu
berbuih dengan gelombang yang membura
dari bintang-bintang bercincin.
“Seperti apa bintang-bintang menyingsing
dari kaca gedung yang sepi.
Aku pernah membacanya di sebuah majalah.
Hari itu hujan (aku tidak bisa membedakan
hari hujan dengan tiupan angin hutan).
Artikel itu bermalam
di sebelah tulisan tentang lagu-lagu
yang rilis tahun 70-an,
kalau tidak salah”
Percakapan normal. Lampu meja
yang tetap dapat dinyalakan
meski dengan merambang
seputar diri. Titik yang tersaruk
menjadi garis
selisip antara jurnal-jurnal diretas
oleh lamunan. Lima sore. Buku teks
gema yang jauh di bawah sampul. Lima pagi.
Dan seterusnya dan seterusnya.
“Tonggeret! Lihat, lihat!”
di trotoar sebuah minuman kaleng menggeleser jatuh
dari kantong belanja. Berbunyi sekali.
“karena jika pintu kubuka,
aku akan selalu menahan ngeri
kalau-kalau di sebelah sana
adalah sebuah lembah
yang sedang memulai sebuah festival
sangat pelan, lebih lamban
dari mimpi-mimpi yang mulai kucatat.”
*dari nama tokoh game dengan judul Yume Nikki, mengenai penjelajahan lanskap mimpi-mimpi buruk
Animal Laborans
“Di balik wajahmu terpendam air hujan”
“Benarkah? Biar kukeringkan”
Abu seekor anjing kecil tertidur
di bawah jendela ruang tamu
petir dalam tengkoraknya. “Di balik wajahmu
terpendam gema
bertitik-titik”
Ritme palu dan hantaman arsitektur
dari selembar print
memunculkan tangga bukit yang dipagari kebetulan; Siang mengering kuning, sesaat mengagetkan,
seperti sekaleng cat
Seorang pria tertidur di sofa, tak kita kenal
kecuali mungkin baju pelindung
pabrik-pabrik dan aroma lelehan besi
menggeriap di antara paranoia
hantu-hantu
kreasi para budak
“Yang pasti akan kita dapati
padang rumput dengan bunga-bunga kecil,
orang-orang datang terlihat
berdenging berdua-dua
seperti bercak darah sebuah gamparan.
Segar. Musim semi bermandikan lampu taman
kastil purba dan kelengangan.”
Panduan Bercakap Mendekati Tengah Malam
Di langit hening, pantulan kota terbuka.
Yang namanya kerinduan tak pernah ada,
yang diuntai
dengan serabut angan dan semacamnya.
Jangan memperkirakannya sebagai misteri;
Orang-orang melepas nama, merasuki
mesin pencari
semesta-semesta
Setahap. Setahap.
Kombinasi angka dan gerbang-gerbang mikroskopis
dalam pikiran yang tak bisa gelisah. Mekanisme untuk kembali.
“Entahlah. Aku mendengar sesuatu,
tapi tak yakin apa. Kunci kamar di atas meja,
dekat lampu tidur. Pintu rapat dalam dirinya.
Kunci menuju diriku
pola geometris bayangan-bayangan di taman
tadi jam enam.”
Di zaman semacam ini. Di waktu dan hari begini. Menyelam terus
hingga mendapati inti zat;
Massa sesuatu yang mendekati kekal.
Mengukur khazanah yang sudah terkupas.
Ada yang menyebutnya sebagai lapisan tersembunyi,
ada yang penampakan. Simpangan masa.
Tidak lebih.
Di zaman semacam ini.
Di waktu dan hari begini.
“Langit hening pun bukan di sini.”
Segalanya terlalu terbuka. Bahkan cahaya.
Tak bisa lolos hari ini.
“Seperti ini dalam diriku. Aku bermimpi. Kadang. Aku ingin sendiri tapi, ya,
aku sudah sendiri ketika kembali.”
Dan Satu di Antara Mereka Bercakap tentang Hal yang Belum Berlalu
Dari detak kesepian
kepalanya yang kelu terbias.
Ia perempuan yang merentangkan kesayuan
menjadi seperti kelip yang tak dapat kau duga asalnya
“agar segala hal yang bagiku tersembunyi
pun bagimu tersembunyi.
Agar kupegang semua tangkai kegetiran menjadi milikku.
Seperti itulah kelahiran manusia
dan benda-benda ciptaannya.”
Namun, sebenarnya ia hanya terduduk di situ.
Di belakang setir.
Kedipannya tak merampungkan apapun
yang telah terjadi.
Yang sedang terjadi dan terjadi lagi.
Di belakang, seorang laki-laki
mati mengejarnya sepanjang hari.
“Hari-hari tumbuh dalam ukiran,
di ruang-ruang hening kerajaan
yang sedang menuju kekalahan.
Dalam tenggorokan dan
cekungan tengkorak massa yang memimpikan
hal-hal besar. Hal-hal besar dan jauh.”
“Jadi, mereka itu mati
oleh kelelahan? Oleh kekalahan
yang disebut-sebut banyak orang sebagai cinta, pengkhianatan
dan segala musim lain yang menyempal dari antariksa kebolehjadian?”
“Sebenarnya, tidak.
Mereka mati. Dan bagi kita
bagi kita itu cukup.”
Setelah Meninggalkan Warehouse
Di atas kepalanya malam meluas
merambak mengikuti rumput-rumput tandus dekat rel:
jam begini pertanyaan sengaja tercipta
“Apakah benda-benda angkasa
suatu saat akan menimpa kita
kita seperti umat manusia lainnya
tercengang karena masa kanak-kanak telah usai
menduga diri kerangka-kerangka besi
yang terkikis faal
fenomena semesta dari alam yang tersimpan
di rak-rak buku. Sintas dalam halaman-halaman
yang kita sentuh seperti menyentuh wajah-wajah yang hanya mekar
dalam masa kecil dan kita berbalik
dan tiba-tiba
yang ada hanya ingatan pudar
mengenai daftar barang-barang yang belum sampai. Gudang bermuatan benda-benda
yang tak ada namun dapat kita lihat
mata rantai dan orbit dan konveyor
dan hidup diatur oleh tabel waktu.
Hidup menimpa dalam tidur, kita tahu.
Kita kehilangan perhitungan.”
namun pikiran semacam ini terlalu berat sekarang
bagi laki-laki itu
yang sekarang memegang setir
menyalakan radio pukul sebelas malam
untuk dirinya, kursi kosong di sebelahnya
memandangi kekosongan jalan tanah
desik yang ternyata hanya kabel listrik
melantur soal betapa pekatnya hitam hutan saat ini dan apakah ia akan pulang
tidur dengan sangat lelah dan bermimpi
tentang tempat yang terasa asing
namun selalu membuatnya
seperti ingin menangis.
Menyelesaikan Kursus Bahasa dengan Skor Kurang Sempurna
-untuk teman-teman Wall Street English Kelapa Gading, juga “hantu-hantu” kenangannya. Singkat, namun tak tergantikan.
terletak di atas meja kaca
kehidupan setelah lagu, bahasa
setelah keramaian
seperti kesibukan pejalan kaki
di bawah tiang-tiang berbendera. Membiarkan mendung mendekat.
“Ah, kalau saja kita benar
baru sampai dari negara lain.
Untuk apa waktu senggang ini?
Untuk apa hawa dingin ini
selain rindu atau keinginan
agar segera pulang?”
Juga pembicaraan bergerak
menggerai kota:
adalah tata letak album
di rak pertokoan di mana kita
tak pernah tiba untuk memulai kesan
bahwa nampaknya
kita pernah bertemu sebelumnya.
“Ayo menikmati kopi
menyusuri mal yang berkejap tetap
di balik kaca-kacanya yang mengenang
orang-orang di balik manekin
kemudian mendengar malam
bergema
dekat taman anjing yang selalu kosong itu.”
Dan aku mengikutimu sungguh-sungguh.
Begitulah beberapa dari kita;
Tak akan mekar jadi perempuan dewasa
yang bernyanyi dengan setelan gaya 80an
mungkin menabrak pagar pembatas
di sebuah jalan tol ketika dini hari
berdering meniru telepon yang terputus
dengan sendirinya.
Memenungkan kedewasaan
di depan monitor; lembur
dan ternyata MRT terakhir sudah lama berhenti.
Merasakan sebagian diri
melewatkannya; papan tulis, kursi tinggi
klub-klub penuh anak sekolah
untuk menghibur diri bahwa masa muda
“memancarkan pancuran air
yang terjaga di tengah alun-alun
dari negeri-negeri cantik dengan dinding kelabu
dan kafe yang menyala
jauh dalam pudar bahasa
yang asing dan berselubung mimpi.”
Tapi, jika setelah aku pulang kelas malam
ada salinan arwah yang masih tinggal
berbisik-bisik
di ruang multimedia
aku menduga diam-diam bahwa
mereka berkata begini:
“akan selalu begitu, juga ketika usia
melewati beberapa dari kita
seperti jendela kereta
dan potongan lagu di sebuah tempat yang membuatmu mengantuk
kita telah berakhir. Kita berakhir
dengan cara seperti ini.
Asing dan berselubung mimpi.”

Jonah Mario, lahir di Jakarta pada 10 Desember 1995. Saat ini telah menyelesaikan pendidikan dari Teknik Industri Universitas Trisakti. Hobi menulis puisi.
