Puisi

Puisi Moh. Rofqil Bazikh

Di Sebuah Angkringan Kita Hanya

Berusaha untuk Saling Mengenang

sambil kutatap matamu, dari sana

kepedihan yang tidak bisa

diungkapkan lewat kata-kata

berhamburan, berebutan masuk dadaku

kita hanya punya satu cara

;mengenang sebaik mungkin

yang sudah-sudah

kau balas menerobos sepasang mataku

katamu, keteduhan dapat ditemukan

di mana saja, termasuk di mataku.

selanjutnya percakapan kita

lebih sering ditelan bising kendaraan

sementara kau lebih suka pada diam

di angkringan ini, kita sepakat

cara paling baik mencintai

adalah mengakhiri

lalu menjalani hari sendiri-sendiri

selebihnya kita hanya diperbolehkan

untuk saling mengenang

atau berciuman meski hanya

bayang-bayang

Jogjakarta, 2020


Sebelum Kau Pulang

berhari-hari kita meruncingkan percakapan

meramal nasib masing-masing

sesekali membayangkan rumah kita

yang luas untuk menampung kesedihan

tiba-tiba waktu lekas berlalu, aku

seperti tawanan yang kalah di pelukanmu

selanjutnya kita akan mengatur jarak

mengukur batas-batas kepedihan

kalah di hadapanmu jauh lebih mulia

daripada aku harus berjalan sendirian

menelusuri bukit kata-kata

lereng-lereng bahasa

setelah kubuka pintu

setelah jendela tersibak seluas masa lalu

aku tidak menemukan siapa-siapa.

kau gegas pulang, seumpama tanah

ditumbuhi bibit-bibit jelatang

aku sendirian dihunus sepi logam

kita akan bertemu dalam doa

yang hanya kita sebagai isinya

Jogjakarta, 2020


Cinta Kita Tua dan Hanya Mengenal Kata Setia

sama dengan jarak, umur sekadar perhitungan

ketepatan demi ketepatan dan kecepatan

berasal dari ketiadaan.

cintamu yang tua, setua jendela rumah

dan sengaja membiarkan angin jelita

mengusik tidur kepedihan

seumpama kau menengok jendela itu

dan membayangkan betapa menakutkan

seluruh isi rumah, tidak lebih

dari kenangan rapuh kitab-kitab masa lalu

sebetulnya kau hanya menerka yang tiada

setelah benar masuk, kemudian rasakan

keteduhan lain berpilin di dinding.

cintaku yang tua dan hanya mengenal

setia, kata yang menderas dari jiwa.

sambil mempertanyakan, mengapa

kesepian tidak pernah bisa dilawan

meski kita tidak sepenuhnya tunduk

dengan tenang.

Jogjakarta, 2020


Sebuah Kopi, Sepi, Puisi

di pojok timur, dekat pintu masuk

kita berhadapan. kau seperti menghitung

berapa banyak kesedihan yang masuk

dan keceriaan yang dibawa pulang.

meski terlebih harus kita cuci tangan

agar tak ada ketakutan-ketakutan

masuk ke dalam

berikutnya kau akan menyeduh kopi

dan pahit yang kental di sulbi cangkir

seperti hidup kita, pahit terus ada

kau berucap dan hanya pantas

didengar berdua.

aku mulai sibuk dengan puisi-puisi

atau tidak sengaja meninggalkanmu

dihunus sepi yang belati.

di matamu, kesedihan mulai dibangun

di dadaku, sesak perlahan turun.

Jogjakarta, 2020


Mereka Merawat Jarak

orang-orang berkumpul, lari dari kerumunan sepi

di kesengitan hari-hari.

belajar cara paling baik merawat jarak

mengusir dada-dada yang sesak

mereka mencintai kampung halaman

yang separuh terbuat dari masa lalu

separuhnya lagi, dari kenangan

yang menyusup diam-diam

hari ini orang-orang rajin berkumpul

dunia terlalu buruk bagi penyendiri

dunia yang hanya sibuk mengganti

nama hari-hari

mereka sama-sama merawat jarak

hidup hanya bergantung

pada cara perayaan

pada cara mengurai

satu-satu kesakitan

Jogjakarta, 2020


Menunggu

kami akan menunggu, malam lekang

menuju arah-arah subuh

dan pagi kembali terbit dari matamu

sebaris doa, kami racik

mengalir di penjuru aorta

sebetulnya, malam lebih paham

bagaimana mendengarkan

kepedihan, dengan sunyi mencekam

semisal amuk api dalam sekam

sampai matahari terbit dari jalan biasa

dan bumi sudah tidak dibayang

bayangi wajah sepi

kami terus menunggu, sampai jarak

tidak lagi diberhalakan

sampai keramaian bukan sesuatu

yang asing di padang pikiran

Jogjakarta, 2020


Aku Mencintaimu Lagi dan Lagi

sebuah puisi kutulis dan kuyakini

bahwa ia lahir dan kesakitan

kesepian yang menggunung

sementara dadaku sendiri

tidak begitu betah pada sesak

yang lama beranak diam-diam

maka satu-satunya jalan,

puisi ditulis untuk melawan

kepedihan. dan sakit yang terus

kita kutuk sepanjang perjalanan

namun begitu, aku

aku mencintaimu lagi dan lagi

dan kerap membayangkan setiap

puisi yang kutulis sendirian

mendapatkan engkau di dalam

dengan begitu, macam kesakitan

hanya nama lain dari kesepian

dan mencintaimu adalah tugas lain

yang tidak perlu selesai dengan cara

terburu-buru

Jogjakarta, 2020


Usaha Melihat Diri

puisi ini ditulis untuk mewakili kerumitan

yang kutunjukkan, macam-macam kotoran

melekat di dadaku yang temaram

maka, bacalah puisi ini perlahan

selanjutnya kau boleh menerka

;barangkali manusia diciptakan

dari tanah yang berwarna hitam

kau masuki dadaku, sebuah rimba

dengan salak anjing dan igau serigala

kau temukan belukar terbakar

meski menjuntai juga, sebaris kembang

srigading dengan kelopak menyembah

langit kita yang hening, langit bening

puisi-puisi yang kutulis dengan tulus

sebelumnya juga lahir dari dada berkabung

dari kesalahan-kesalahan

yang darinya seolah aku berlindung

Jogjakarta, 2020


Puisi Ini Engkau Baca Diam-diam

setelah puisi ini ditulis dan seluruh isi

adalah engkau. kuserahkan semua

agar dibaca diam-diam

meski tubuh dalam  keadaan demam

diserang macam-macam kesepian

setelah aku meninggalkanmu

puisi ini lebih berarti dari seluruh

yang tercipta di semesta

dari yang terus mengalir

dari jantung kata-kata

kau membaca sambil terpejam

membayangkan bagaimana

kesepian tidak selalu menakutkan

di dalamnya ada doa kita

yang melantun, menerobos

rumpang dada.

setelah puisi ini dibacakan

tiada yang lebih menyedihkan

dari kepulangan yang pelan-pelan

Jogjakarta, 2020


Hari Raya Kesepian

berhari-hari tanpa engkau, tubuhku

dililit batang-batang kesepian

setelah kepulangan, nama hari

berganti pada kesedihan

kau tidak pernah menatap mataku

dan aku merasa lebih tenang

di cinta yang tidak pernah tenteram

sekali-kali belajar bagaimana lelaki

yang hanya menangis untuk

merayakan kepahitan

barangkali matanya lebih teduh

dari mataku dan seluruh

bagian-bagian tubuh

berhari-hari tanpa engkau, dunia

enggan disibukan selain dari ingatan

apa-apa yang menjamur di pikiran

Jogjakarta, 2020


Moh. Rofqil Bazikh, lahir di pulau Giliyang dan sekarang merantau di Yogyakarta. Puisinya termaktub dalam beberapa antologi dan tersiar di pelbagai media cetak dan online.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *