
Mari kita mulai dengan satu pengakuan jujur: Tak semua cerpen yang ditolak itu jelek. Dan, tak semua cerpen yang dimuat itu hebat. Dunia sastra bukan matematika. Ia tak selalu logis. Kadang, cerpen yang kita anggap mahakarya personal itu justru ditendang keluar dari inbox redaktur tanpa sempat ia menghela napas dua kali. Sementara yang kita tulis setengah mengantuk, dengan niat coba-coba, malah dilamar media dan diberi panggung.
Nah, sebelum kau mengutuk takdir atau menuduh redaktur sebagai makhluk berperut dingin dan berhati batu, mari kita kupas dengan tenang sambil nyeruput kopi, apa saja sebenarnya yang bisa jadi pertimbangan redaktur untuk memuat cerpen. Tapi tenang saja, tulisan ini tidak akan seformal seminar. Kita santai, slengekan sedikit, tapi tetap menyayat jernih.
1. Selera Redaktur
Ini yang paling absurd tapi paling nyata. Redaktur itu manusia, bukan mesin sensor kesastraan. Dia punya selera. Ada redaktur yang alergi ending twist. Ada yang fobia cerpen berbau spiritual. Ada pula yang tersentuh hanya jika tokohmu menangis tiga kali dalam satu halaman. Jadi, kadang bukan salah cerpenmu. Salahnya mungkin karena tokohmu hanya merenung dan tidak meneteskan air mata, kurang drama.
Ironisnya, sebagian penulis lalu berusaha menebak selera, seperti menebak arah angin di tengah pusaran badai. Mereka menulis bukan lagi dari hati, tapi dari strategi menyenangkan lidah redaktur. Lalu kita pun punya pasar cerpen yang terasa seperti mi instan: cepat, akrab, dan bikin kenyang sesaat, tapi kurang gizi.
2. Relevansi Waktu Tayang
Kadang redaktur memuat cerpen bukan karena cerpen terbaik, tapi karena cerpen itu pas momen. Hari Kartini, cerpen perempuan kuat. Lebaran, cerpen mudik atau ketupat. Pemilu, cerpen satire politik.
Sistem ini agak lucu. Seperti warung yang hanya menyediakan nasi uduk di Jumat pagi. Kalau kamu datang Kamis sore dengan semangkuk bubur yang hangat dan penuh gizi, tetap saja tak dilirik. Sebab, redaktur sedang mencari uduk, bukan bubur. Nah, kalau kamu nekat kirim bubur tiap hari, ya siap-siap kecewa.
3. Kematangan Naskah
Ini yang kadang tidak disadari penulis. Cerpennya bagus, idenya cemerlang, tapi tulisannya masih seperti draft yang lupa diedit. Typo di mana-mana, kalimat patah, alur lompat-lompat kayak kanguru dansa. Redaktur bukan tukang tambal ban. Mereka tidak selalu punya waktu dan niat untuk memperbaiki naskahmu.
Ada pula cerpen yang niatnya bagus tapi penyampaiannya terlalu sok misterius. Pembaca, termasuk redaktur, jadi bingung ini cerpen atau teka-teki silang. Akhirnya naskahmu dibaca sambil mengerutkan kening, bukan sambil tersenyum atau terenyuh. Dan ya, berakhir di folder tolak sopan.
4. Kuota Redaksi
Ini bagian paling manusiawi dari dunia media, ada kuota. Media cetak punya halaman terbatas. Media daring pun punya slot dan ritme. Kadang cerpenmu ditolak bukan karena tak layak, tapi karena minggu itu sudah penuh. Kadang redaktur ingin variasi, minggu ini horor, minggu depan cinta, minggu berikutnya realisme sosial. Jadi, meski cerpenmu bagus banget, tapi kalau udah ada yang mirip minggu lalu, ya mohon maaf lahir batin.
Ada juga faktor kedekatan emosional. Jangan naif. Media dikelola manusia. Dan manusia itu makhluk relasi. Kalau kamu rajin menyapa, tak sok bintang, kirim naskah rapi dan sopan, lalu tak ngambek saat ditolak, percayalah, redaktur bisa mengingatmu. Mungkin bukan sekarang dimuat. Tapi kelak, saat naskahmu benar-benar pas, mereka bisa bilang, “Nah, ini saatnya.”
5. Factor X
Kadang cerpenmu dimuat bukan karena semua kriteria di atas terpenuhi, tapi karena ada sesuatu yang susah dijelaskan. Semacam aura. Semacam perasaan yang menggigit. Redaktur membaca, lalu diam, lalu menghela napas. “Gila, ini enak banget,” katanya, walau masih ada typo tiga biji. Cerpen seperti ini yang tak bisa dilatih. Ia muncul dari proses panjang, jam terbang, dan ketulusan menulis. Jenis cerpen yang membuat redaktur merasa seperti sedang jatuh cinta untuk pertama kali, tanpa alasan yang bisa dirumuskan.
Dunia cerpen itu seperti dunia percintaan. Kadang kamu merasa sudah cocok, sudah tulus, sudah berjuang, tapi tetap ditolak. Jangan kecil hati. Jangan juga sinis, lalu bilang redaktur itu pilih-pilih, hanya memuat penulis itu-itu saja.
Menulislah terus. Kirim terus. Bukan untuk menyenangkan redaktur, tapi untuk terus bertumbuh. Dan kalau ditolak, jangan bakar cerpennya. Simpan dulu. Mungkin belum waktunya. Atau mungkin, media itu yang belum cukup layak memuatnya.
Lagipula, hidup ini tak melulu soal cerpen dimuat atau tidak. Kadang, yang paling penting adalah apakah kamu masih bisa tersenyum, menulis lagi, dan menyeduh kopi untuk menyambut kata pertama berikutnya? Jadi, jangan baper. [] Redaksi

Tulisan ini bikin semangat untuk terus menulis. Pasti akan datang waktunya untuk dimuat, ya.
Terima kasih, Diana. Sudah berkali berkunjung. Tetap semangat menulis ya. Doa terbaik untukmu. Salam.