Dunia Menulis

Aksi

Pertama-tama aku ingin bilang, tulisan ini akan terasa lebih galak daripada tulisan lainnya, karena perihal menulis sesungguhnya kuncinya di sini, yaitu menulis itu sendiri. Dan tidak bisa ditawar sedikit pun.

Mari kita mulai. Banyak yang ingin jadi penulis, tapi sedikit yang betul-betul menulis. Lebih banyak yang sibuk ikut pelatihan, webinar, workshop, masterclass, kelas intensif, retret literasi, sampai semadi untuk mencari inspirasi. Tapi saat ditanya, “Mana tulisanmu?” jawabannya mendadak setajam gunting kuku: “Masih nyari feel-nya, Kak.”

Ini ironis. Dunia menulis digembor-gemborkan sebagai dunia ide, padahal sejatinya ia dunia praktik. Menulis itu kerja fisik. Bukan cuma kerja pikir. Tanganmu harus bergerak. Keyboardmu harus aus. Pena harus habis tintanya. Kalau cuma sibuk nyari motivasi, lebih baik jadi motivator sekalian.

Mari jujur. Pelatihan menulis bisa bikin semangat, bisa memberi peta, bisa memompa ego. Tapi kalau hanya jadi pelanggan setia kelas-kelas menulis, tanpa pernah menulis secara rutin, maka itu ibarat beli sepatu lari mahal tapi tak pernah lari. Ujung-ujungnya sepatu jadi penghuni rak, dan semangat nulis jadi pengabdi caption Instagram, bukan penggerak karya.

Ada yang sudah ikut kelas menulis puluhan kali. Mengutip nama-nama besar: Stephen King, Ernest Hemingway, Pramoedya, Virginia Woolf. Hafal semua teori: show don’t tell, out of the box, conflict-resolution, karakter tiga dimensi, teori salju, kumkum 3 hari 3 malam dan sebagainya. Tapi saat menulis, kalimat pembukanya masih: Pagi itu, matahari bersinar cerah, seperti biasanya. Nah, ini yang bikin kita ingin berkata lirih: “Kelas menulismu gagal atau kamu yang kebanyakan khayal?”

Menulis bukan soal pamer tahu teori. Menulis adalah membuktikan teori dengan kerja. Kalau kamu tahu rumus menulis karakter yang kuat, tunjukkan dalam tulisanmu. Jangan hanya bilang, “Katanya sih harus ada luka batin.” Lalu kamu tulis tokoh bernama Adi yang diceritakan punya luka batin karena waktu kecil sering dikasih susu basi. Tapi habis itu Adi jadi pahlawan yang menyelamatkan kota dari meteor. Apa hubungannya? Tak jelas. Teori sudah kamu baca, tapi logika cerita tetap remuk. Ini bukan kekurangan bakat. Ini kekurangan latihan.

Coba lihat tukang parkir. Mereka tidak pernah ikut pelatihan “bagaimana meniup peluit dengan efektif”, tapi mereka tahu kapan meniup, sekeras apa, dan buat siapa. Kenapa? Karena mereka praktik. Tiap hari. Berkali-kali. Sementara calon penulis kadang justru lebih suka bikin draft yang tidak pernah selesai, lalu dibagikan di grup komunitasnya untuk minta validasi: “Menurut kalian, gimana nih?”

Kadang jawaban terbaik untuk itu bukan kritik teknis, tapi pertanyaan balik: “Menurutmu sendiri, kamu sudah nulis atau cuma numpang lewat?”

Menulis itu memang butuh teori, tapi teori bukan tongkat sihir. Ia hanya peta, bukan kendaraan. Kamu tahu peta Sumatera Utara, bukan berarti kamu sampai ke Danau Toba. Harus jalan dulu. Harus nyasar. Harus lapar. Harus nanya orang. Baru tahu apa arti perjalanan. Dalam menulis juga begitu. Kamu harus salah dulu. Kamu harus baca ulang dan menyesal: “Ya ampun, kalimatku kok begini jeleknya.” Nah, di situ kamu sedang belajar. Tapi kalau kamu hanya tahu bahwa kalimat efektif itu harus subjek-predikat-objek, ya selamat: kamu belum menulis, kamu baru menyusun rumus.

Lebih menggelitik lagi, banyak yang takut salah sebelum menulis. Takut ceritanya klise, tokohnya datar, ending-nya pasaran. Padahal, semua penulis besar juga pernah menulis cerita yang klise dan pasaran. Bedanya, mereka terus menulis sampai menemukan yang benar-benar menggigit. Kalau kamu berhenti karena takut salah, ya kamu memang bukan penulis, kamu hanya pengagum tulisan orang lain.

Ada pula yang suka bilang, “Aku belum menulis karena belum nemu mood-nya.” Ini jenis penunda yang terlalu memanjakan diri. Menunggu mood dalam menulis itu seperti menunggu kucingmu mengepel rumah, mungkin, tapi tidak masuk akal. Mood itu datang setelah kamu menulis, bukan sebelum. Sama seperti nafsu makan datang setelah kamu mulai mengunyah. Kalau kamu terus menunggu mood, maka kamu akan berakhir jadi orang yang jago nulis di kepala tapi kosong di dunia nyata.

Satu hal yang membuat tulisan terasa nyata adalah kejujuran dan keberanian untuk menulis apa adanya, seberantakan apa pun. Dari situlah muncul irama. Dari situlah datang teknik. Teknik tidak muncul dari mimpi atau seminar, tapi dari uji coba. Dari berkali-kali nulis dan nulis dan nulis. Sampai akhirnya kamu bisa bilang: “Tulisan ini belum sempurna, tapi ini tulisanku.”

Dan percayalah, tidak ada yang lebih haru sekaligus lucu dari membaca tulisan lamamu lima tahun lalu. Kamu akan tersenyum, tertawa kecil, lalu sedikit meringis. Tapi kamu juga akan sadar, kamu sudah berjalan. Kamu sudah berubah. Dan itu karena kamu menulis. Bukan karena kamu ikut 50 pelatihan dan ngumpulin sertifikat sampai bisa dijilid jadi antologi.

Menulis tidak membutuhkan banyak teori, tapi membutuhkan banyak tekad. Jangan sibuk jadi penonton di tribun penulis. Turun ke lapangan. Bikin tulisan jelek. Bikin lagi. Bikin yang lebih baik. Ulangi. Terus. Sampai kamu lelah. Sampai kamu tertawa melihat betapa kamu dulu pernah nulis tokoh yang makan mi instan dengan sumpit dari sedotan. Tapi dari sanalah prosesmu lahir. Sebab menulis, pada akhirnya, bukan soal tahu. Tapi soal mau. Bukan teori tapi aksi. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *