Dunia Menulis

Tukang Kibul

Kita perlu bicara serius. Bukan tentang metode menulis yang indah, bukan tentang alur yang mengalir bak sungai di musim semi. Kita bicara tentang kejahatan. Kejahatan menulis. Lebih kejam dari sekadar menulis buruk, lebih hina dari typo di judul, yaitu menipu pembaca dengan adegan yang datang tiba-tiba, tanpa jejak, tanpa tanda-tanda.

Kamu pikir, sebagai penulis, kamu bisa seenaknya menjatuhkan meteor ke kepala karakter tanpa ada tanda-tanda sebelumnya? Kamu kira kamu Tuhan yang bisa tiba-tiba membuat seorang tokoh yang tampak biasa saja mendadak jadi psikopat tanpa ada isyarat di awal? Tidak, Bung. Kamu bukan Tuhan. Kamu cuma tuhan-tuhanan. Dan sebagai tuhan-tuhanan, kamu punya tanggung jawab moral: memberi petunjuk. Memberi isyarat. Itu namanya clue.

Menulis tanpa clue sama dengan penulis norak. Ada alasan kenapa orang bisa menganggap tulisanmu murahan. Bukan karena temanya jelek, bukan karena bahasanya buruk, tapi karena kamu tiba-tiba menciptakan kejadian besar tanpa membangun pondasi. Seperti tukang sulap kelas warung kopi yang menyuruh orang pilih kartu, lalu asal-asalan nebak tanpa trik.

Coba bayangkan ini:

Seorang pria pulang kerja, masuk rumah, dan tiba-tiba istrinya sudah mati, darah di mana-mana. Pembaca kaget? Oh tentu. Tapi bukan kaget yang asyik, melainkan kaget karena tulisanmu asal. Seharusnya sebelum adegan itu terjadi, ada petunjuk. Mungkin pagi tadi si pria melihat pisau dapur yang masih basah, padahal istrinya belum memasak. Mungkin seminggu terakhir si istri sering bicara soal betapa lelahnya dia dengan hidup. Mungkin ada suara aneh dari gudang malam sebelumnya. Itu clue. Itu adalah tanggung jawab seorang penulis. Kalau tidak ada clue, maka itu bukan plot twist. Itu penipuan murahan.

Penipuan yang elegan itu ada seninya. Mari kita bahas sesuatu yang lebih menarik: bagaimana menipu pembaca dengan elegan. Karena menipu memang seru, asal caranya benar. Caranya? Beri petunjuk kecil. Sejumput. Sedikit. Tipis-tipis. Bikin pembaca merasa sudah diberi tahu, tapi tetap tertipu di akhir. Itu seni. Itu teknik. Itu yang bikin ending terasa jleb.

Contoh? Baiklah.

Seorang pria pulang ke rumah, mendapati istrinya duduk diam di meja makan, tidak bergerak. Dia panggil, tidak ada respons. Lalu dia melihat tangan istrinya sedikit gemetar. Tak ada yang aneh. Mungkin dia lelah. Tapi kemudian dia perhatikan, satu piring di meja kosong, hanya ada sisa saus. Masih tak ada yang aneh? Tapi kenapa tak ada bekas sendok?

Kalau kamu jeli, kamu sudah menyelipkan tanda-tanda: istrinya baru saja melakukan sesuatu. Dia gugup. Ada piring kosong, tapi tidak ada sendok. Kalau pembaca cukup cerdas, mereka mulai curiga, apa yang baru dia makan? Atau, siapa yang baru dia makan?

Itu cara menipu yang benar. Kamu memberi pembaca kesempatan untuk sadar lebih dulu, tapi tetap menggiring mereka ke jebakan yang kamu rancang.

Tanpa elue, ending itu khayal. Ending cerita yang bagus bukan tentang mengejutkan pembaca dengan sesuatu yang tiba-tiba. Ending bagus adalah ketika pembaca merasa, ”Ah sial, aku seharusnya menyadarinya lebih awal!” Ending yang kuat adalah ending yang sejak awal sudah mengandung benih kejutan itu sendiri.

Contoh Buruk: Seorang anak perempuan ceria tiba-tiba membunuh semua temannya tanpa alasan.

Contoh Cerdas: Seorang anak perempuan ceria yang sejak awal selalu membawa boneka kelinci yang bulunya mulai berubah warna. Dari putih, jadi sedikit merah muda, lalu semakin pekat, sampai akhirnya kita sadar, itu bukan kotoran, itu darah.

Dengan clue yang halus, ending menjadi pukulan telak. Tanpa clue, ending cuma jadi gimik murahan.

Menulis itu bukan kejutan murahan. Jadi, mulai sekarang berhenti jadi penulis arogan yang merasa bisa menjatuhkan petir kapan saja tanpa sebab. Kamu bukan Zeus. Kamu bukan Tuhan. Kamu hanya seorang pencerita, dan sebagai pencerita, kamu bertanggung jawab untuk merangkai kisah dengan petunjuk yang benar.

Menulis tanpa clue itu bukan keren. Itu norak. Itu menipu tanpa etika. Itu membuat ceritamu seperti makanan instan yang rasanya hambar meskipun baunya menarik. Jadi, kalau mau nulis kejutan, belajar dulu cara bikin kejutan yang berkelas. Karena kalau tidak, pembaca akan muak dan kamu akan tetap menjadi penulis yang dikutuk karena membodohi orang dengan cara yang malas. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *