Dunia Menulis

EGP

Ada satu jenis penulis yang menarik, bukan karena tulisannya istimewa, tapi karena ekspresi mukanya ketika membaca karya orang lain, mengernyit, meringis, lalu terkikik seperti menonton lawakan receh di televisi lokal. Bukan karena lucu, tapi karena ia menilai tulisan itu “Nggak banget.”

Penulis seperti itu bukan hanya hidup di kepala sendiri, tapi juga tinggal di menara gading yang dibangun dari ego dan tinta printer. Ia percaya, tulisannya adalah puncak dari segala pencapaian sastra. Ia tak lagi butuh kritik, apalagi membaca karya orang lain yang menurutnya tak selevel. Kalimat favoritnya: “Aku udah nemu gayaku.” Atau yang lebih sakti: “Tulisanku beda, bukan pasaran.”

Kalau dipikir, kepercayaan diri ada baiknya, tapi dalam dosis seperlunya. Kepedean yang terlalu besar bukan hanya masalah, melainkan bisa jadi penyakit: sindrom tulisan maha benar. Tulisannya sendiri dianggap patokan. Selebihnya cuma debu kata-kata yang tak layak diperhatikan.

Ironisnya, penulis seperti ini kadang sedang naik daun. Bisa jadi karena beberapa kali dimuat atau menang lomba. Hal itu langsung merasa dirinya mutlak unggul. Ia menolak tulisan lain bahkan sebelum dibaca tuntas. Lalu dengan penuh keangkuhan, ia mengutip kata-katanya sendiri dalam forum penulis: “Seperti yang saya tulis dalam cerpen saya yang berjudul Bulan di Wajahmu Bukan Purnama.”

Padahal kalau dibaca ulang, cerpen itu biasa saja. Tapi siapa yang berani berkata begitu? Sekali kamu berkomentar, ia bisa langsung bilang: “Kamu nggak ngerti gaya.”

Sialnya, yang diaku sebagai gaya kadang justru ketidaktahuan narasi, kekacauan diksi, dan ketidaksadaran plot yang muter-muter. Gaya jadi tameng untuk menghindari belajar dasar-dasar menulis yang baik.

Ada pula yang kalau diadakan diskusi, tak mau datang kecuali ia yang jadi pembicara. Kalau datang sebagai peserta, ia akan duduk dengan posisi miring 45 derajat, alis terangkat, dan tangan bersilang. Saat sesi tanya-jawab, ia akan membuka dengan kalimat “Saya bukan ingin bertanya, saya hanya ingin menanggapi.” Lalu berceritalah ia tentang tulisannya sendiri yang pernah ditolak juri lomba, tapi katanya: “Mungkin juri belum sampai di tahap pemahaman seperti saya.”

Lucu, ya? Tapi banyak. Banyak banget malah. Mari kita balik sebentar. Tidak ada yang salah dengan mencintai tulisan sendiri. Penulis harus mencintai tulisannya, sebab kalau tidak, bagaimana orang lain bisa percaya? Namun mencintai tulisan bukan berarti menikahinya lalu menceraikan tulisan orang lain. Dunia ini luas, bahkan dalam dunia fiksi yang serba mungkin, selalu ada karya lain yang bagus, atau minimal berbeda dengan kualitas uniknya sendiri.

Sebagai perbandingan, bayangkan seorang juru masak yang merasa rendangnya paling enak di dunia, lalu menertawakan orang yang bikin rendang dengan santan sedikit. Ia lupa, selera orang beda-beda. Dan kalau rendangnya itu penuh lemak ego, siapa yang tahan makan?

Penulis semacam itu juga biasanya anti diedit. Baginya, naskahnya sudah final begitu diketik. Editor? Redaktur? Itu hanya penjaga gerbang dunia yang tidak perlu meragukan kejeniusan tulisannya. Ketika naskahnya dikembalikan dengan catatan, ia merasa dipermalukan, lalu berkoar di medsos: “Media itu punya selera aneh. Tulisan picisan dimuat, sementara tulisan saya yang filosofis ditolak.”

Padahal mungkin, naskahnya hanya butuh satu-dua perbaikan. Tapi karena kadung merasa dirinya penyelamat dunia sastra, ia memilih sakit hati daripada belajar memperbaiki.

Ironinya, justru penulis-penulis yang benar-benar besar, karyanya hidup dari zaman ke zaman, selalu membuka diri. Mereka bersedia dipotong, dibedah, bahkan ditolak. Pramoedya Ananta Toer pernah dibredel, Sapardi pernah membaca ulang puisinya berkali-kali sebelum dibacakan. Goenawan Mohamad pernah menolak hasil tulisannya sendiri.

Lalu siapa kita ini, belum pernah disunting serius, tapi sudah merasa tulisan kita tak tersentuh kritik?

Yang paling menggelitik adalah ketika penulis-penulis semacam ini berkumpul dan saling memuji satu sama lain. Seperti geng SMA yang merasa mereka lebih dewasa dari gurunya. “Tulisanmu gila sih.” “Kau juga, anjir, dalem banget.” Tapi saat dibacakan di forum umum, audiens mendengus, bingung harus kagum di mana. Yang tertawa hanya mereka yang nulis. Yang haru hanya mereka yang merasa. Sisanya? Merasa disuruh nonton sinetron tanpa subtitle.

Menulis adalah proses panjang. Bukan hanya soal nemu gaya sendiri, tapi juga soal menerima bahwa gaya kita tak selalu cocok untuk semua. Kita menulis, lalu belajar, lalu menulis lagi, lalu belajar lagi. Kita menulis, lalu mendengar tanggapan, lalu menimbang ulang. Kadang kita menyadari bahwa yang kita anggap bagus itu hanya cocok di kepala, tidak di hati pembaca.

Tentu, setiap penulis punya suara unik. Tapi keunikan tidak bisa dijadikan alasan untuk menolak berkembang. Bahkan pelukis abstrak tetap belajar menggambar anatomi manusia sebelum mencoret kanvas dengan imajinasi liar.

Paling menyedihkan adalah ketika penulis terlalu mencintai tulisannya hingga tak bisa membedakan kritik dan hinaan. Begitu ada orang komentar, “Ceritanya agak lambat ya,” ia langsung menganggap si pengkritik iri. Padahal mungkin, pembaca hanya ingin cerita itu lebih dinamis. Tapi ya bagaimana? Dalam kamusnya, kritik adalah ejekan.

Cobalah menulis dengan rendah hati. Tanyakan pada pembaca biasa, bukan hanya sesama penulis. Ajak teman awan untuk membaca. Lihat responsnya. Apakah ia menangkap maksud ceritamu, atau bingung dengan metafora yang terlalu tebal seperti kuah soto tanpa garam?

Pada akhirnya, tulisan bukan untuk disembah. Tulisan itu untuk dihidupi. Kalau tulisan kita bagus, orang akan datang sendiri. Tapi kalau kita yang maksa orang membaca lalu berkata, “Ini harus kau baca, ini berat, tapi dalem banget,” kemungkinan besar tulisan itu memang dalem tapi karena tenggelam.

Menulis bukan kompetisi adu paling jos. Menulis adalah komunikasi, yang berlaku bagi segala gaya, bahkan untuk tulisan paling puitik sekalipun. Kalau orang tak mengerti, jangan-jangan bukan karena mereka bodoh, tapi karena penulis terlalu sibuk mendengar suara diri sendiri.

Jadi, mari sama-sama turun dari menara gading. Duduk bareng, baca karya orang lain, pelajari yang baik, peluk yang masih belajar, dan yang paling penting, jangan terlalu jatuh cinta pada diri sendiri. Karena kalau tulisanmu memang bagus, pujian tak perlu dicari. Ia datang sendiri. Dan kalaupun tidak datang, ya tidak apa-apa. Kamu tetap menulis, bukan?

Ingat, di atas langit masih ada pembaca. Dan pembaca tidak peduli, bahkan bisa dengan mudah bilang: “EGP (Emang gue pikirin)!” sembari matanya melirik sadis, bila kamu menganggap tulisanmu yang paling keren. Ia hanya peduli satu hal, apakah tulisanmu bisa sampai. [] Redaksi

Dunia Menulis

Benar hanya Iseng?

Mari kita mulai dari ironi paling klasik, kita bilang menulis itu cuma iseng, hobi ringan, atau sekadar pelarian. Tapi lihat bagaimana mata kita berbinar ketika cerpen kita dimuat. Lihat bagaimana tangan kita memotret halaman koran dan mengunggahnya ke story dengan caption: Ah, nyempil dikit. Padahal kita tahu, kita senang bukan main. Kita bangga, tapi sok kalem. Kita pura-pura tidak berharap apa-apa, padahal refresh email tiap sepuluh menit nunggu balasan.

Contoh lain pakai kata-kata sakti ini: Aku banyak ide buat cerpan. Tapi buat apa? Sesungguhnya itu kalimat pelindung dari rasa takut. Takut gagal, takut dicemooh, takut berharap. Jadi kita pakai tameng sinis, supaya tidak terlihat rapuh. Kita suka bohongin diri, tapi pakai kata-kata mewah.

Kita suka bilang, “Aku tak peduli dimuat atau tidak.” Tapi esoknya, kita tetap buka laman media itu, stalking siapa yang dimuat minggu ini. Dan ketika bukan nama kita, kita bilang, “Ah, mungkin selera redakturnya aneh.” Atau lebih ekstrem, “Kayaknya karya penulis itu dimuat karena kenal ordal.”

Padahal siapa tahu memang tulisan kita belum kuat. Tapi mengakui itu lebih pahit dari kopi tanpa gula. Maka kita pilih yang nyaman, menyalahkan dunia, menyalahkan sistem, menyalahkan algoritma langit. Kita nyaman menipu diri demi terlihat tangguh.

Ini dia penyakit akut, ingin dipuji, tapi takut dibilang berharap pujian. Ingin karya direspons, tapi takut disebut cari perhatian. Padahal bukankah setiap karya memang lahir untuk dilihat? Kalau ingin benar-benar pribadi, simpan saja dalam diary dan kunci dengan gembok.

Kita bilang, “Gak papa kok kalau gak ada yang baca.” Tapi ketika satu orang komen, “Bagus banget cerpennya.” Kita langsung screenshoot dan kirim ke lima grup WhatsApp. Iya kan? Kita mau diakui, tapi kita suka malu mengakuinya.

Ada juga gaya pura-pura intelek: cerpen absurd, puisi tak berima, paragraf melompat-lompat. Lalu ketika orang bingung dan bertanya, “Maksudnya apa?” kita jawab, “Kalau kamu paham, kamu nggak akan nanya.”

Padahal kadang kita juga bingung ini tulisan tentang apa. Tapi daripada jujur, lebih enak bersembunyi di balik kabut ke-nyeni-an. Lebih aman jadi misterius daripada dibilang dangkal. Lebih keren jadi penulis yang tak terjangkau daripada yang salah ketik koma.

Ada tipe penulis yang suka mem-branding diri sebagai makhluk sengsara: “Menulis itu penderitaan. Inspirasi datang di antara luka dan darah.” Tapi faktanya, ia nulis di kafe mahal, pakai laptop terbaru, sambil upload foto latte art dan caption: Trying to bleed on paper.

Menulis memang tak selalu mudah, tapi menyiksa diri demi citra estetik juga tak perlu. Kita boleh bahagia saat nulis. Kita boleh tertawa. Kita tak harus selalu murung di bawah lampu kuning redup. Tapi kadang kita suka dipandang sebagai penulis yang sok tersiksa.

Kalau kita akui menulis membuat kita bahagia, maka kita harus akui bahwa kita menginginkannya. Tapi masalahnya ketika kita menginginkannya, kita takut tidak bisa memilikinya. Maka kita buat benteng: “Aku nulis cuma iseng.” Itu cara kita merendahkan nilai kerja kita sendiri agar kalau gagal, sakitnya tidak terlalu dalam. Tapi justru di situ kita kehilangan arah. Menulis bukan lagi tempat pulang, tapi jadi ajang pura-pura kuat. Kenapa kita suka takut ngaku kalau kita memang bahagia saat nulis?

Coba duduk sejenak dan tanya diri sendiri, benarkah kita hanya iseng? Atau sebenarnya kita menemukan rumah di kata-kata? Kita mungkin tidak punya pembaca ribuan, tidak punya royalti jutaan, tapi setiap selesai nulis satu cerita, kita merasa hidup sedikit lebih utuh.

Mungkin bukan kaya atau terkenal yang kita kejar. Mungkin kita hanya ingin dimengerti. Dan menulis adalah cara kita mengajak dunia berbicara tanpa harus bersuara. Marilah kita Jujur bahwa kita memang suka menulis, kita merasa nyaman ketika menulis.

Pernahkah kita merasa bahwa karakter yang kita buat ternyata menyindir diri kita sendiri? Tokoh yang sok kuat, sok bijak, ternyata cerminan dari kita yang sedang rapuh. Dialog tokoh yang galak padahal kita ingin memarahi diri sendiri.

Di sinilah lucunya menulis, kadang kita merasa sedang bercerita tentang orang lain, padahal sedang membongkar laci hati kita sendiri. Ironis, menyenangkan, kadang juga menyakitkan. Tapi tetap, kita kembali lagi. Karena di situ kita merasa jujur. Dan di situlah kita nyaman. Kadang memang konyol tapi sungguh manis. Ketika kita diam-diam bercermin di cerita sendiri.

Menulis itu bisa jadi bentuk kejujuran yang paling telanjang, atau justru yang paling berkedok. Tapi mari kita mulai dari yang sederhana, akui saja bahwa kita suka menulis. Akui saja kita ingin karya kita dibaca, akui saja kita ingin karya kita disukai, bahkan akui saja bahwa kita ingin dipuji. Tidak usah malu. Yang penting jangan menulis demi tepuk tangan semata.

Kejujuran itu melegakan. Dan dari situlah kenyamanan lahir. Karena sejujurnya, kita menulis bukan hanya karena bisa, tapi karena memang ingin. Karena kita bahagia saat melakukannya. Dan itu tidak perlu ditutupi dengan sinisme atau sikap sok tak peduli. Sungguh tidak apa-apa kita ingin diakui, asal jangan menggadaikan kejujuran.

Menulis bukan sekadar soal produktivitas, prestasi, atau penerbit besar. Tapi tentang keberanian mencintai prosesnya, dan mengakui bahwa kita menikmatinya, tanpa harus merasa berdosa. [] Redaksi

Dunia Menulis

Riset

Kata riset kerap bikin kening berkerut. Tiba-tiba ingat skripsi, metodologi ilmiah, daftar pustaka, dan dosen pembimbing yang hobi hilang saat dibutuhkan. Padahal, dalam dunia nulis, riset itu bukan soal teori tebal, bukan pula semata urusan turun ke lapangan pakai rompi bertuliskan observer. Riset bagi  penulis, kadang justru sesederhana duduk di warung kopi dan mendengarkan obrolan dua ibu-ibu debat soal harga cabe. Nah, itu riset versi santai, tapi tetap tajam.

Banyak penulis kalau dibilang “naskahmu kurang riset,” langsung merasa tertampar, seolah disuruh jadi ilmuwan. Padahal, maksudnya bukan harus menyelam sampai dasar samudra demi nulis cerpen tentang paus biru. Maksudnya apakah kamu tahu apa sih soal yang kamu tulis? Kalau jawabannya cuma, “kayaknya seru aja,” ya wajar kalau ceritanya kerasa ngambang, ngawang, dan ngenes.

Riset itu ya soal modal. Modal tahu. Modal paham. Modal nggak sok tahu. Misalnya, kamu mau nulis cerita orang kena PHK. Tapi kamu sendiri kerja aja belum, apalagi kena PHK. Nah, risetlah. Tanya teman yang pernah dipecat. Atau baca curhat orang di utas. Buka kolom komentar berita. Lihat bagaimana mereka merasa kehilangan bukan cuma gaji, tapi juga harga diri. Baru deh kamu bisa nulis dengan napas yang lebih nyata, bukan cuma narasi ala sinetron siang.

Kadang yang bikin geli, nulis cerita nelayan, tapi waktu ditanya “perahu itu pakai motor tempel atau layar?” jawabnya: “yang penting bisa ke laut.” Lah? Itu bukan cerita, itu teleportasi! Coba kau bayangkan nelayan yang pergi melaut pakai perahu karet dan dayung dari galon bekas, lalu pulangnya bawa hiu. Fantastis. Tapi pembaca malah ngakak, bukan terharu. Di sinilah riset menyelamatkan martabat naskah.

Dan riset itu bukan melulu ke perpustakaan. Jangan keburu pakai baju flanel dan laptop penuh stiker kutipan Latin. Kadang riset itu ya sekadar manggut-manggut di angkot, pura-pura main HP tapi telinga nyolong obrolan sopir yang lagi curhat soal istri keduanya. Bisa jadi itu bahan mentah buat cerita yang lebih jujur dari drama Korea.

Ada juga riset dilakukan lewat kesedihan. Ini agak haru. Misal, kamu nulis tentang orang tua kehilangan anaknya. Tapi kamu belum pernah mengalami. Maka kamu bisa tanya, dengan empati dan hormat pada mereka yang pernah. Atau baca memoar, tulisan blog, puisi-puisi mereka yang berduka. Riset jenis itu bukan cuma nambah data, tapi nambah rasa. Nambah empati. Penulis yang paham, bukan cuma tahu.

Tapi memang, kadang yang bikin satire adalah, banyak tulisan justru tampil gagah dari segi diksi, tapi absurd dari segi isi. Nulis soal buruh tani, tapi tak tahu bedanya cangkul dan pacul. Nulis tentang perempuan korban kekerasan, tapi narasinya malah menyalahkan korban. Nah, ini bukan cuma kurang riset, tapi juga kurang akal sehat.

Dan lucunya lagi, ada yang risetnya lebay. Untuk nulis cerpen tiga halaman tentang maling ayam, dia wawancara dua RT, baca 17 jurnal kriminal, dan ikut webinar peternakan. Akhirnya cerpennya terasa seperti laporan BPS. Bagus sih datanya, tapi mana ceritanya? Riset itu bukan buat pamer, tapi buat menguatkan. Jangan sampai pembaca merasa sedang baca materi seminar.

Riset itu proses menundukkan kepala, aku belum tahu, tapi mau tahu. Bukan soal gelar, tapi kerendahan hati. Penulis yang merasa tahu segala justru paling berbahaya. Karena dari sana muncul kalimat-kalimat kaku, tokoh-tokoh palsu, dan konflik dibuat-buat. Semua itu bisa dideteksi pembaca yang cerdas hanya dalam dua paragraf pertama.

Ada ironi kecil, sebagian penulis menganggap riset mengganggu kreativitas. Padahal justru dengan riset, imajinasi bisa punya landasan. Riset bukan belenggu, tapi fondasi. Kau mau bikin cerita fiksi ilmiah tentang dunia setelah kiamat? Ya setidaknya tahu sedikit tentang cara kerja ekosistem, biar nggak asal munculkan kodok bersayap atau matahari yang pindah ke kutub. Aneh boleh, tapi harus logis dalam keanehannya. Pembaca bukan zombie. Mereka bisa mikir.

Kadang, riset terbaik justru datang dari hal-hal sepele, mengamati gerak tangan nenek saat meracik jamu, memperhatikan cara anak kecil menolak tidur, mencatat bahasa tubuh orang yang sedang jatuh cinta tapi pura-pura nggak peduli. Riset yang tak terdengar ilmiah, tapi sangat manusiawi.

Mari kita akui, riset adalah bagian dari napas menulis. Ia tak selalu butuh perpustakaan, tapi selalu butuh kepekaan. Ia bisa muncul dari Google, dari buku, dari dialog, dari luka, dari cinta, bahkan dari kegagalanmu sendiri.

Jadi, lain kali saat kau duduk melamun dan melihat kucing menatap angin sore, jangan remehkan itu. Siapa tahu itu bagian dari riset. Asal jangan lupa, jangan cuma diam dan merasa sudah paham dunia, padahal belum juga melakukannya.

Lihat. Dengar. Rasa. Pikir. Tanya. Baru menulis. Dan ulang lagi, ulang lagi. Karena riset sejatinya bukan soal tahu banyak, tapi tahu apa yang perlu ditulis. [] Redaksi

Dunia Menulis

Aksi

Pertama-tama aku ingin bilang, tulisan ini akan terasa lebih galak daripada tulisan lainnya, karena perihal menulis sesungguhnya kuncinya di sini, yaitu menulis itu sendiri. Dan tidak bisa ditawar sedikit pun.

Mari kita mulai. Banyak yang ingin jadi penulis, tapi sedikit yang betul-betul menulis. Lebih banyak yang sibuk ikut pelatihan, webinar, workshop, masterclass, kelas intensif, retret literasi, sampai semadi untuk mencari inspirasi. Tapi saat ditanya, “Mana tulisanmu?” jawabannya mendadak setajam gunting kuku: “Masih nyari feel-nya, Kak.”

Ini ironis. Dunia menulis digembor-gemborkan sebagai dunia ide, padahal sejatinya ia dunia praktik. Menulis itu kerja fisik. Bukan cuma kerja pikir. Tanganmu harus bergerak. Keyboardmu harus aus. Pena harus habis tintanya. Kalau cuma sibuk nyari motivasi, lebih baik jadi motivator sekalian.

Mari jujur. Pelatihan menulis bisa bikin semangat, bisa memberi peta, bisa memompa ego. Tapi kalau hanya jadi pelanggan setia kelas-kelas menulis, tanpa pernah menulis secara rutin, maka itu ibarat beli sepatu lari mahal tapi tak pernah lari. Ujung-ujungnya sepatu jadi penghuni rak, dan semangat nulis jadi pengabdi caption Instagram, bukan penggerak karya.

Ada yang sudah ikut kelas menulis puluhan kali. Mengutip nama-nama besar: Stephen King, Ernest Hemingway, Pramoedya, Virginia Woolf. Hafal semua teori: show don’t tell, out of the box, conflict-resolution, karakter tiga dimensi, teori salju, kumkum 3 hari 3 malam dan sebagainya. Tapi saat menulis, kalimat pembukanya masih: Pagi itu, matahari bersinar cerah, seperti biasanya. Nah, ini yang bikin kita ingin berkata lirih: “Kelas menulismu gagal atau kamu yang kebanyakan khayal?”

Menulis bukan soal pamer tahu teori. Menulis adalah membuktikan teori dengan kerja. Kalau kamu tahu rumus menulis karakter yang kuat, tunjukkan dalam tulisanmu. Jangan hanya bilang, “Katanya sih harus ada luka batin.” Lalu kamu tulis tokoh bernama Adi yang diceritakan punya luka batin karena waktu kecil sering dikasih susu basi. Tapi habis itu Adi jadi pahlawan yang menyelamatkan kota dari meteor. Apa hubungannya? Tak jelas. Teori sudah kamu baca, tapi logika cerita tetap remuk. Ini bukan kekurangan bakat. Ini kekurangan latihan.

Coba lihat tukang parkir. Mereka tidak pernah ikut pelatihan “bagaimana meniup peluit dengan efektif”, tapi mereka tahu kapan meniup, sekeras apa, dan buat siapa. Kenapa? Karena mereka praktik. Tiap hari. Berkali-kali. Sementara calon penulis kadang justru lebih suka bikin draft yang tidak pernah selesai, lalu dibagikan di grup komunitasnya untuk minta validasi: “Menurut kalian, gimana nih?”

Kadang jawaban terbaik untuk itu bukan kritik teknis, tapi pertanyaan balik: “Menurutmu sendiri, kamu sudah nulis atau cuma numpang lewat?”

Menulis itu memang butuh teori, tapi teori bukan tongkat sihir. Ia hanya peta, bukan kendaraan. Kamu tahu peta Sumatera Utara, bukan berarti kamu sampai ke Danau Toba. Harus jalan dulu. Harus nyasar. Harus lapar. Harus nanya orang. Baru tahu apa arti perjalanan. Dalam menulis juga begitu. Kamu harus salah dulu. Kamu harus baca ulang dan menyesal: “Ya ampun, kalimatku kok begini jeleknya.” Nah, di situ kamu sedang belajar. Tapi kalau kamu hanya tahu bahwa kalimat efektif itu harus subjek-predikat-objek, ya selamat: kamu belum menulis, kamu baru menyusun rumus.

Lebih menggelitik lagi, banyak yang takut salah sebelum menulis. Takut ceritanya klise, tokohnya datar, ending-nya pasaran. Padahal, semua penulis besar juga pernah menulis cerita yang klise dan pasaran. Bedanya, mereka terus menulis sampai menemukan yang benar-benar menggigit. Kalau kamu berhenti karena takut salah, ya kamu memang bukan penulis, kamu hanya pengagum tulisan orang lain.

Ada pula yang suka bilang, “Aku belum menulis karena belum nemu mood-nya.” Ini jenis penunda yang terlalu memanjakan diri. Menunggu mood dalam menulis itu seperti menunggu kucingmu mengepel rumah, mungkin, tapi tidak masuk akal. Mood itu datang setelah kamu menulis, bukan sebelum. Sama seperti nafsu makan datang setelah kamu mulai mengunyah. Kalau kamu terus menunggu mood, maka kamu akan berakhir jadi orang yang jago nulis di kepala tapi kosong di dunia nyata.

Satu hal yang membuat tulisan terasa nyata adalah kejujuran dan keberanian untuk menulis apa adanya, seberantakan apa pun. Dari situlah muncul irama. Dari situlah datang teknik. Teknik tidak muncul dari mimpi atau seminar, tapi dari uji coba. Dari berkali-kali nulis dan nulis dan nulis. Sampai akhirnya kamu bisa bilang: “Tulisan ini belum sempurna, tapi ini tulisanku.”

Dan percayalah, tidak ada yang lebih haru sekaligus lucu dari membaca tulisan lamamu lima tahun lalu. Kamu akan tersenyum, tertawa kecil, lalu sedikit meringis. Tapi kamu juga akan sadar, kamu sudah berjalan. Kamu sudah berubah. Dan itu karena kamu menulis. Bukan karena kamu ikut 50 pelatihan dan ngumpulin sertifikat sampai bisa dijilid jadi antologi.

Menulis tidak membutuhkan banyak teori, tapi membutuhkan banyak tekad. Jangan sibuk jadi penonton di tribun penulis. Turun ke lapangan. Bikin tulisan jelek. Bikin lagi. Bikin yang lebih baik. Ulangi. Terus. Sampai kamu lelah. Sampai kamu tertawa melihat betapa kamu dulu pernah nulis tokoh yang makan mi instan dengan sumpit dari sedotan. Tapi dari sanalah prosesmu lahir. Sebab menulis, pada akhirnya, bukan soal tahu. Tapi soal mau. Bukan teori tapi aksi. [] Redaksi

Dunia Buku, Dunia Menulis

Kumcer Tak Laku?

Kita mulai dari sebuah fakta kecil tapi menyayat, kumpulan cerpen seringkali seperti undangan pernikahan mantan, dicetak indah, dibagikan luas, tapi tak banyak yang peduli. Bukunya dipajang manis di toko, tapi yang datang cuma angin lewat. Yang ngelirik cuma lalat nyasar, dan yang baca paling banter si penulis sendiri. Kadang, bahkan si penulis pun tak yakin sudah membacanya sampai habis.

Lalu kenapa buku kumcer bisa begitu tragis nasibnya? Pertama-tama, mari kita hadapi satu ironi paling absurd dalam dunia perbukuan kita, cerpen adalah genre yang paling rajin dilombakan, tapi paling malas dibeli. Setiap bulan ada saja lomba cerpen tema hujan, tema mantan, tema luka masa kecil, tema ibu yang memasak sambil menangis. Penulis-penulis muda (dan tua yang muda semangatnya) berbondong-bondong ikut. Tapi setelah menang? Cerpennya dibukukan. Kumcer pun lahir. Dan di sinilah tragedi klasik dimulai, tak ada yang mau beli buku pemenang lomba yang mereka tak ikut.

Kenapa begitu? Karena banyak orang ingin menang, bukan membaca. Mau ikut pesta, tapi ogah cuci piring. Pembaca kita lebih suka jadi penulis. Dan penulis kita? Kadang lebih suka difoto bareng buku ketimbang dibaca bukunya.

Kedua, kita sering terjebak dalam kutukan ekspektasi. Penulis berharap buku pasti laku, isinya bagus, menang lomba pula. Penerbit berharap, minimal balik modal.  Pembaca berharap, Murah, tebal, full color, dan ending-nya bikin mewek! Tapi nyatanya? Bukunya jadi penghuni tetap kardus gudang. Diobral pun tak kunjung pindah tangan. Akhirnya dibagikan gratis. Ironisnya, saat gratis pun masih banyak yang jawab, “Nanti aja, lagi sibuk.”

Ada juga soal bentuk. Kumcer bukan novel. Ia seperti makanan pembuka, beragam, menggoda, tapi tak semua orang kenyang hanya dengan itu. Pembaca kita, sebagian besar, suka keterikatan emosional yang panjang. Mereka ingin jatuh cinta berlembar-lembar, bukan cuma digoda sepintas lalu. Cerpen itu seperti mantan gebetan yang cerdas tapi tak mau diajak nikah, mengesankan, tapi bikin frustrasi.

Lalu ada persoalan tampilan. Banyak buku kumcer tampil seadanya. Cover-nya seperti tugas seni rupa anak SD. Judulnya terlalu puitis sampai tak bisa dipahami. Blurb-nya? Entah menjelaskan isi atau justru menyesatkan. Misal, judulnya: Di Balik Embun yang Retak, tapi isinya tentang percakapan absurd antara kucing dan sandal jepit.

Belum lagi gaya penulisan. Beberapa cerpen memang bagus, tajam, dalam, memukau. Tapi tak sedikit juga yang terlalu ingin jadi sastra, padahal nyasar. Kalimatnya melingkar seperti benang kusut, padahal mau bilang: Aku kangen kamu. Jadi ditulis, Kesunyian malam yang menggema pada kenangan berbentuk siluet kerinduan. Lah? Pembaca bukan Google Translate.

Sementara itu, di sisi lain, penulis kumcer adalah makhluk paling tabah sejagat. Ia tahu bukunya tak laku, tapi tetap menulis. Ia tahu penerbitnya megap-megap jualan, tapi tetap berharap. Ia tahu pembacanya mungkin cuma dua,  dirinya sendiri dan redaktur koran minggu lalu. Tapi tetap semangat bikin status promosi pakai foto buku dan caption: Sudah baca cerpen terbaru saya? Belum, Kak. Maaf.

Tapi tunggu dulu. Ayo jangan terlalu getir. Ada pula sisi mengharukan dari dunia kumcer. Di balik penjualan yang sepi, ada tekad yang tetap menyala. Kumcer adalah bentuk cinta. Cinta yang tidak memaksa balasan. Cinta yang ditulis, dirakit, dan dikirim ke dunia, meski dunia sedang sibuk scroll TikTok.

Ada harapan juga, bahwa suatu hari, seseorang yang patah hati membaca cerpen tentang kehilangan dan merasa terobati. Bahwa di tengah tumpukan buku motivasi dan kisah cinta anak sultan, ada satu buku kumcer tipis yang membuat seseorang merasa dimengerti.

Mungkin itulah esensi kumcer, ia bukan untuk semua orang. Tapi untuk seseorang. Ia seperti hujan kecil di tengah musim kemarau. Tak cukup buat banjir, tapi cukup buat basahi hati yang kering.

Jadi, kenapa kumcer kita tak laku? Mungkin karena dunia terlalu cepat, dan cerpen terlalu pelan. Mungkin karena pasar suka cerita viral, bukan cerita yang mengendap. Atau mungkin, karena kita belum cukup sabar menjadikan buku cerpen bukan sekadar cetakan, tapi teman perjalanan.

Maka, kalau kau bertanya: “Apa kumcer masih perlu diterbitkan?” Aku jawab: ya. Dengan segala ironi, dengan segala tawa getirnya. Karena di antara banyak hal tak laku di dunia ini, kebaikan, kejujuran, dan cerpen adalah yang paling layak terus diperjuangkan. [] Redaksi

Dunia Menulis

Bertengkar dengan Apa pun

Kalau ada yang bilang cerpen itu soal karakter dan alur, ya benar. Tapi tanpa konflik, semua ibarat kue tart tanpa gula, bentuk boleh cantik, tapi gigitan pertama bikin trauma nasional. Konflik adalah urat nadi cerita. Tanpanya, kita cuma akan baca parade karakter yang sibuk memandangi langit lalu berkata, “Betapa birunya hari ini,” sambil pembaca di ujung sana mulai mengunyah remote TV karena bosan.

Mari kita ngobrol soal konflik. Dunia menulis,  termasuk cerpen, kaya permasalahan. Seolah-olah manusia memang diciptakan Tuhan untuk berkonflik, entah dengan dirinya, orang lain, atau bahkan sendok di meja makan. Ada banyak jenis konflik yang bisa dipelintir menjadi nyawa cerpen. Tapi, jangan asal sulap. Kalau konflikmu sejenis rebutan sandal di pertemuan arisan lalu kau bumbui seakan itu perang dunia ketiga, pembaca yang cerdas mungkin akan tersenyum getir sambil berpikir, “Astaga, ini serius?”

Salah satu konflik paling klasik tentu saja pertarungan batin. Tokohmu bisa saja tampak tenang di luar, tapi dalam diri bertarung dengan dirinya, bak gladiator melawan bayangan. Misalnya, seorang pria jatuh cinta pada sahabat kecilnya yang sudah menikah dengan orang lain. Sakit. Tapi dia memilih diam, mengangkat gelas di resepsi pernikahan, pura-pura bahagia, lalu pulang dengan mabuk. Tragis? Iya. Menyebalkan? Banget. Tapi di situlah kenikmatan konflik batin, menguliti emosi manusia tanpa perlu lempar kursi.

Lalu ada konflik antar-manusia. Ini yang paling gampang dikenali, dua orang bersitegang, bak tukang parkir rebutan wilayah. Bisa cinta, dendam, iri, karier, atau bahkan sekadar adu gengsi siapa yang lebih cepat naik pangkat. Konflik macam ini rawan jadi sarkastik jika ditulis dengan mata nakal. Bayangkan cerpen tentang dua ibu-ibu arisan yang bersaing ketat, bukan soal siapa lebih kaya, tapi siapa lebih sering update status solehah. Ketika konflik dibikin secuil tapi getir begitu, pembaca bisa ngakak sekaligus menangis dalam hati: “Ini kok mirip tanteku.”

Ada juga konflik manusia melawan lingkungan atau sistem. Misalnya, seorang guru desa berjuang mempertahankan sekolah reyot dari pemerintah daerah yang lebih sibuk rapat di hotel berbintang ketimbang memperbaiki atap bocor. Ini konflik yang menggelitik sekaligus menghantam keras. Ironinya, tokohmu bisa berdarah-darah melawan ketidakadilan, tapi dunia sekitar malah sibuk selfie di acara Penghargaan Pendidikan Inovatif. Rasanya pengin ketawa, tapi lebih pengin mengaduk dunia dengan sendok.

Konflik bisa juga terjadi antara manusia dan sesuatu yang lebih besar, nasib, takdir, bahkan Tuhan, kalau mau ambil tema berat. Cerpen tentang seorang pria yang selama hidupnya minta hujan untuk sawahnya, tapi malah panen kekeringan bertahun-tahun. Ia bertengkar dengan Tuhan dalam doanya, mempertanyakan segala. Ini konflik eksistensial yang menohok. Tapi hati-hati, jangan jatuh ke dalam jurang sok-sokan filosofis yang bisa membuat pembaca ingin menyeret kursi.

Yang menarik, kadang ada penulis yang keasyikan bikin konflik semu. Tokohnya ribut sendiri soal pilihan warna cat rumah, lalu diseret-seret seolah itu melambangkan kehancuran peradaban. Ini seperti anak kecil yang menangis karena es krimnya jatuh, lalu berteriak, “Kenapa dunia sekejam ini!” Bisa lucu, bisa haru, bisa juga bikin pembaca pengin melemparkan buku cerita itu ke sumur.

Ada juga konflik konyol yang justru membekas. Tentang seorang kakek yang berseteru dengan seekor ayam tetangga. Bukan ayam jantan yang berkokok, tapi ayam betina yang berisik absurd tiap subuh. Konflik ini digarap dengan jernih, penuh humor getir. Sampai pada akhirnya si kakek menyerah bukan karena kalah, tapi karena si ayam bertelur di depan pintu rumahnya, hadiah damai yang absurd sekaligus mengharukan. Kadang, hidup memang tidak perlu grand final seperti film perang Hollywood. Cukup ayam bertelur, dan semua luka diseka.

Dalam menulis konflik, penting juga sadar diri. Jangan asal masukkan drama hanya demi kesan wah. Konflik palsu akan tercium basi sejak kalimat kedua. Pembaca hari ini sudah terlatih membedakan mana drama organik, mana dramatisasi palsu ala sinetron siang. Kalau konflikmu terasa dibuat-buat, jangan salahkan pembaca yang memilih mengepel lantai rumah daripada meneruskan bacaanmu.

Mungkin, dalam dunia menulis, merancang konflik itu ibarat memasak rendang. Kalau terlalu banyak bumbu, bisa bikin enek. Tapi kalau kurang bumbu, rasanya hambar kayak air tumpah. Menulis konflik butuh perasaan, ketepatan, dan sesekali keberanian untuk membiarkan sesuatu berjalan absurd. Sebab, hidup sendiri kadang absurd.

Akhirnya, konflik adalah nyawa cerita karena di sanalah manusia tampil telanjang, dalam keraguan, kemarahan, kegilaan, kesedihan, juga kelucuan yang getir. Dan bukankah itu esensi kita semua, makhluk yang entah mengapa selalu bisa bertengkar bahkan dengan apa pun. [] Redaksi

Dunia Menulis

Cerpen Juara

Cerpen juara lomba tidak selalu cerpen terbaik. Tapi ia tetap cerpen yang menang. Dalam kompetisi, menang itu ya menang, meski kadang yang kalah diam-diam lebih jago, cuma kurang hoki, atau terlalu jenius untuk dipahami juri yang sedang lapar.

Sudah jadi semacam hukum tak tertulis bahwa cerpen juara biasanya memenuhi kriteria yang sangat teknis: rapi, sesuai tema, unik, kebaruan, karakter kuat, dan punya semacam ganjil yang masuk akal, semacam mimpi makan kerupuk tapi bisa kenyang sungguhan. Lalu tentu saja harus patuh aturan. Jangan sampai kamu kirim cerpen 1.800 kata padahal batasnya 1.500. Juri tidak akan memotong 300 kata untukmu dengan cinta. Mereka akan memotongmu dari daftar nominasi dengan rasa lega.

Mari kita tarik napas sejenak. Apakah semua cerpen bagus bisa juara? Tentu tidak. Kadang cerpen yang sangat bagus justru terlalu bagus, hingga tak dianggap relevan dengan tema. Atau gaya bahasanya terlalu berani, tokohnya terlalu liar, ending-nya terlalu jleb sampai juri merasa tertampar. Dan percayalah, tidak semua juri tahan ditampar pakai fiksi. Maka cerpen itu pun gugur, bukan buruk, tapi karena terlalu terang di antara lampu yang redup.

Ironinya, cerpen pemenang kadang bukan yang paling membuat dada sesak atau kepala berdenyut. Ia menang karena cukup bagus dalam segala hal. Ibarat murid teladan yang tak pernah terlambat, tak pernah bolos, nilainya 8 ke atas, tapi tidak bikin guru terisak atau bertepuk kagum. Biasa saja. Tapi stabil. Dan stabil itu menang.

Ada pula hal lucu, cerpen bagus secara teknik, punya struktur kuat, tapi jatuh pada tema klise. Misalnya anak yang berjuang keluar dari kemiskinan dengan membaca. Klise, tapi kalau dieksekusi dengan gaya segar dan karakter yang tak gampang dilupakan, bisa jadi yang bikin juri luluh. Apalagi kalau tokohnya diberi nama unik macam Gusti Singkong atau Adinda Serabut. Unik itu menyelamatkan. Kadang lebih dari makna.

Fenomena lain yang patut dicatat, kadang cerpen menang bukan semata kekuatannya, tapi karena kelemahan pesaingnya. Seperti ikut lomba lari di mana semua peserta lain pakai sepatu kebesaran, dan kamu satu-satunya yang memakai sepatu lari. Kamu mungkin bukan pelari tercepat, tapi paling siap. Maka, kau pun juara. Hal ini sering terjadi di lomba bertema sempit, misalnya cerpen bertema teknologi dalam keluarga petani. Banyak peserta gagap, kebanyakan malah bikin cerpen soal traktor yang bisa kirim WA. Dan cerpenmu yang sederhana, tentang bapak yang belajar pakai Google Maps demi antar hasil panen, jadi tampak seperti karya sastra mutakhir.

Dan mari bicara soal juri. Juri bukan dewa-dewa Olimpus. Mereka manusia, yang punya selera tertentu, trauma tertentu, bahkan jam tidur tertentu. Cerpenmu bisa gagal hanya karena dibaca saat juri sedang lapar atau baru habis bertengkar dengan anaknya. Maka, kalau mau cerpenmu juara, tulislah sesuatu yang kuat dan fleksibel. Yang tetap terasa nendang meski dibaca sambil lalu di kereta atau saat ngopi sambil membalas chat istri.

Tapi jangan kecil hati. Kalau cerpenmu tak menang, bukan berarti ia buruk. Bisa jadi ia terlalu liar untuk kandang yang dijaga ketat. Atau terlalu serius untuk lomba yang hanya cari hiburan. Kadang juga cerpenmu bagus tapi kamu lupa menyertakan biodata. Atau kamu menamai file dengan: final_fix_banget_editan_terakhir_semoga_juara.docx, yang justri membuat panitia trauma membuka file-nya.

Lomba itu seperti adu nasi goreng. Juri tidak mencari nasi terenak sedunia, tapi nasi yang paling cocok dengan lidah mereka hari itu. Maka, menang bukan berarti terbaik, dan kalah bukan berarti terbuang. Yang penting, tetap masak. Tetap menulis.

Cerpen juara tetaplah cerpen bagus, itu tidak bisa dibantah. Tapi bukan satu-satunya cerpen bagus. Jadi, jangan buru-buru mengubah gayamu hanya demi selera. Tulis yang kamu percaya, poles dengan teknik, dan kirim. Kalau menang, syukuri. Kalau tidak, simpan, kirim ke media, atau bacakan di forum kecil. Kadang cerpen yang ditolak lomba justru lebih panjang napasnya.

Ujung dari semua ini bukan piala atau hadiah. Tapi getar di dada pembaca, senyum di bibir juri, atau diam-diam seseorang telah menyimpan cerpenmu karena merasa mirip hidupnya. Dan itu jenis kemenangan megah.[] Redaksi

Dunia Menulis

Nama-Nama yang Diingat

Dalam dunia menulis, ada satu kebiasaan kecil yang diam-diam sering terjadi tapi jarang dibahas serius, menyisipkan nama teman ke dalam tulisan. Entah sebagai penghormatan, candaan, atau balas dendam terselubung. Praktik ini lumayan umum, bahkan kadang jadi semacam ritual rahasia antarpenulis.

Di balik layar monitor yang menyala dan kopi dingin, ada nama Rina yang tiba-tiba muncul sebagai tukang tipu, atau Andi yang jadi maling ayam paling dicari se-kecamatan. Padahal, Rina dan Andi asli sedang sibuk kerja kantoran dan tak tahu soal nasib mereka dalam fiksi.

Latar belakangnya beragam, ada yang tulus, usil, dan absurd. Mari kita bahas satu per satu, dengan santai, tapi tetap kita buka lebar keran agar mengalir tajam dan jernih.

Penulis memasukkan nama teman dalam cerita karena penghormatan. Sahabatan sejak TK, ditulis jadi dokter di cerpen. Sentimental, manis, kadang bikin haru. Ceritanya tragis dan tokohnya meninggal dengan gagah di akhir cerita, ada semacam rasa abadi dalam kenangan. Tapi ya, tetap saja, kadang si teman kaget. “Lho, kok aku mati ditabrak truk? Kan kita tadi bareng makan bakso?”

Fenomena ini menunjukkan bahwa penulis kadang lebih mesra dengan karakter imajiner daripada dengan teman sendiri. Ironis memang, karena hubungan nyata bisa dingin, tapi di  fiksi, mereka hangat dan puitis. Dunia nyata, lupa ulang tahun. Di fiksi, rela mati di bab terakhir demi cinta.

Penulis memasukkan nama teman dalam cerita hanya karena iseng. Biar dia baca dan kaget. Maka muncullah karakter Arief, si penjaga toilet umum yang punya ambisi jadi pesulap. Atau Nina, si pemilik warung kelontong yang doyan gibah sambil ngitung duit receh.

Jenis penulis begini ibarat seniman graffiti yang coret-coret nama temannya di dinding tanpa izin. Bedanya, ini dilakukan di dinding sastra. Kadang lucu, kadang keterlaluan. Seorang teman pernah mengeluh, “Aku dijadikan karakter tukang tipu, padahal aku cuma nggak balas WA dua hari.” Lalu dijawab enteng, “Inspirasi datang dari sakit hati yang tak sempat diungkap.”

Nah, ini bagian yang agak licin. Penulis memakai nama teman karena dendam tak berbalas. Mungkin dulunya satu tongkrongan, terus dikhianati soal gebetan, atau utang pulsa tak kembali. Maka penulis membuat karakter si teman jadi tokoh antagonis paling menyebalkan. Di dunia nyata tidak bisa mengutuk, tapi di fiksi, karma bisa diberlakukan.

Tentu ini bukan tindakan bijak, tapi kadang jadi obsesi yang sulit ditolak. Di luar, penulis senyum-senyum. Di dalam, ada karakter bernama Fajar yang berkhianat, ketahuan selingkuh, lalu dihukum gantung di ending. Dan saat ditanya, “Ini tokohnya kayak kenal,” penulis menjawab tenang, “Kebetulan aja.”

Penulis juga kadang memakai nama teman karena malas mikir nama. Nama yang akrab di kepala langsung disulap jadi nama karakter. Dan inilah awal mula kekacauan, karakter Indra yang di dunia nyata penjual sate, kini jadi vampir vegetarian. “Tapi aku makan daging tiap hari, bro!” protes Indra yang asli.

Salah satu contoh menggelitik yang pernah terjadi, ada cerpen berjudul: Yulia dan Kenangan yang Hilang. Yulia yang asli membaca dan mewek karena merasa kisahnya diceritakan. Kata penulis, “Lho, aku pakai nama itu karena nama mantan guru matematika, bukan kamu.”

Bahkan kadang nama teman dipakai untuk tokoh hewan peliharaan. “Anjingnya aku kasih nama Bayu, lucu kan?” Lalu Bayu yang asli membaca ceritanya, dan menyeringai. Antara pengin tertawa atau lapor polisi.

Uniknya, meski kadang mengganggu, banyak teman justru bangga namanya dipakai di cerita. Ada rasa bangga yang aneh, seperti mendapat plakat tak resmi: Namaku hidup dalam cerita orang. Bahkan meski karakter itu minor atau aneh, tetap ada kebahagiaan. Sebab dalam dunia yang penuh noise, bisa diabadikan dalam tulisan, meski jadi tukang parkir, itu bentuk eksistensi yang tak semua orang dapat.

Tapi tetap saja, ini menjadi pengingat bahwa menulis bukan hanya soal imajinasi, tapi juga tanggung jawab. Sebab nama bukan sekadar rangkaian huruf. Ia membawa sejarah, identitas, dan kadang utang.

Memakai nama teman dalam tulisan bisa jadi lucu, sentimental, atau menegangkan. Tergantung niat penulis dan nasib si nama. Fenomena ini menunjukkan betapa tipis batas antara dunia nyata dan fiksi, dan betapa kadang fiksi bisa lebih jujur dari kenyataan.

Jadi, buat para penulis, kalau ingin pakai nama teman, pastikan niatnya benar. Jangan sampai tulisanmu jadi alat balas dendam. Dan buat para teman, kalau menemukan namamu di cerpen, tersenyumlah. Apa pun alasan penulis, setidaknya kamu diingat. Dalam cerita. Dan itu kadang lebih abadi daripada janji temu yang tak pernah terjadi. [] Redaksi

Dunia Buku

Bukan Picisan

Hayo, siapa yang sampai sekarang masih setia baca buku cinta? Sering nangis sampai sulit bedakan air mata dan ingus. Atau keseringan senyum-senyum sendiri padahal tanggal sudah tua dan perut hanya diisi sekali sehari, seolah lambung bisa otomatis mengecil begitu menelan kata-kata mutiara. Atau barangkali ada juga yang malah uring-uringan hanya karena ceritanya tak sejalan dengan pikiran. Jangan malu. Tapi tak perlu juga sampai posting foto selfie di sosmed dengan mata sembab dan buku terbuka lalu menulis caption: Pria sejati tak pernah malu ketahuan menangis. Wah, itu sih namanya cari perhatian.

Kisah cinta bukan melulu picisan. Seakan baca novel cinta di usia berkepala 4 menjadi hal yang luar biasa. Luar biasa aneh karena dianggap sudah lewat masanya. Semakin berumur, kualitas buku yang dibaca seharusnya lebih berbobot. Politik, ekonomi, kebudayaan, sejarah, ilmu pengetahuan, seni, dan apa pun topiknya asal bukan cinta. Karena perihal cinta hanya cocok dibaca oleh mereka yang sedang dimabuk asmara.

Contoh, ada seorang remaja berseragam putih abu-abu yang baca novel cinta sembari menunggu bus di halte, dianggap sangat wajar. Atau sekelompok mahasiswi sedang berisik membahas novel baru yang sangat romantis di kafe. Lalu apakah dosa jika seorang lelaki dewasa, bertubuh kekar, duduk di ruang tunggu bandara sembari baca kumcer cinta? Juga seorang lansia yang baca cerita cinta remaja adalah sebuah kesalahan? Dituduh inilah, itulah, apalah. Pokoknya segala hal yang mengarah mencurigai.

Memang sih, tidak sedikit orang bilang jika buku tentang perasaan dianggap kekanakan. Bahkan di dunia sastra, cinta bisa dibilang hal paling ujung dari tema yang dianggap keren. Itu sah-sah saja. Namanya juga persepsi: perkara sudut pandang dan opini, bukan tentang benar salah, tepat melenceng, atau bagus dan buruk. Jadi tidak apa-apa jika kamu sudah berumur dan tetap membaca komik cinta. Santai saja. Kalem dan jangan overthinking. Percayalah, mahakarya sastra, serumit apa pun temanya, pasti ada unsur cintanya. Tinggal bagaimana cara menceritakan saja. Itulah yang sebenarnya membuat kualitas cerita tampak berbeda.

Cinta itu seperti micin: penghasil rasa umami pada masakan. Apa itu umami? Gurih. Asal takarannya pas, tentu nggak akan mudah bikin otak nge-lag seperti laptop yang kebanyakan memori: mau di-restart berkali-kali tetap saja lemot. Jika buku tidak ditulis dengan cinta, bagaimana pembaca bisa larut dalam cerita? Jadi jangan terlalu serius memilih buku. Ingat! Kadang judul belum tentu mencerminkan isi. Jadi tetaplah membaca tanpa takut mengambil tema yang disuka. Karena membaca, adalah tentang kepuasan diri. Mereka yang memandang sinis pada buku di genggamanmu, tidak berarti seorang psikopat. Jadi cuek saja. Sesekali bersikaplah tidak peduli pada sekitar. Di sana, kamu akan menemukan asyiknya bercengkerama dengan dirimu sendiri.

Jika kamu pernah mendengar lagu Roman Picisan, bahkan sampai menggilainya, biarkan cukup lagu itu saja yang rela bilang jika cinta itu tidak harus memiliki. Karena kalau kamu benar-benar berusaha, cinta akan selalu bisa dimiliki: meski tak terlihat, tak terasa, juga tak tersentuh. Sama halnya seperti buku cinta yang mungkin saat ini kamu baca: bukan tulisanmu, bukan kisahmu, tapi mampu menenggelamkanmu pada rasa paling dalam di hatimu. Dan itu bukan picisan. Ah, romantisnya. [] Redaksi

Dunia Buku

Sok-sokan

Ada satu dosa besar yang sering dituduhkan kepada siapa pun yang membawa buku ke mana-mana: sok-sokan. Sok intelek, sok rajin, sok kutu buku, sok cool, sok anti-gadget, sok bijak, sok sibuk cari makna hidup, bahkan sok nggak butuh teman. Pokoknya semua yang sok-sokan itu bisa melekat ke punggung kita hanya karena satu hal sederhana, membaca buku di tempat umum.

Padahal, siapa sih yang benar-benar sok? Yang mengira membaca buku harus selalu dikaitkan dengan adu kepintaran itu siapa? Yang menyangka bahwa duduk membaca novel di ruang tunggu dokter berarti ingin pamer ke pasien lain itu siapa? Apakah kita harus menulis: Saya hanya sedang mengisi waktu, bukan mengkhotbahi kalian, di kover buku kita agar tidak dikira sedang melakukan provokasi intelektual?

Lucunya, ketika orang membawa ponsel lalu scroll TikTok atau Instagram dengan ekspresi khusyuk, tak ada yang bilang dia sok asik, sok update, atau sok influencer. Tapi ketika kau membuka buku, bahkan buku puisi paling kalem pun, seolah kau sedang membaca mantra kuno untuk memanggil alien, reaksinya bisa dramatis sekali. Mulai dari lirikan mata, gumaman kecil, hingga cibiran penuh curiga. Mengapa begitu?

Mungkin karena buku itu diam. Tak bersuara. Tak mencari validasi. Dan diam, bagi sebagian orang, itu mengganggu. Buku tidak butuh notifikasi, tidak perlu like, tidak minta swipe. Ia hanya duduk tenang di pangkuanmu, menyajikan dunia tanpa mengganggu dunia. Dan justru di situlah bahayanya bagi banyak orang, buku itu terlalu independen. Ia membuatmu terlihat tak butuh keramaian. Dan dalam dunia yang menuntut kita tampil ramai, itu dianggap ancaman.

Maka, membawa buku ke mana-mana bukan cuma tindakan membaca, tapi juga bentuk keteguhan. Seperti membawa payung kecil saat semua orang lebih suka kehujanan lalu upload: Hujan itu romantis. Membawa buku seperti membawa bekal ketika yang lain sibuk antre beli camilan. Praktis, tapi dianggap kurang rame.

Tapi biarlah. Jangan kecil hati hanya karena kupingmu dipanaskan ejekan sok kutu buku. Bukankah kutu buku lebih baik daripada kutu gosip?

Lagipula, siapa sih yang mau menunggu antrean panjang di bank sambil ngelamun membatin, kenapa hidupku begini-begini aja? Lebih baik membuka halaman novel, larut dalam kisah fiktif, lalu lupa bahwa saldo di rekening tinggal seratus dua ribu. Kan lumayan, sebelum kenyataan menampar, setidaknya kita sempat mimpi sebentar.

Jadi, bagaimana caranya agar kita tetap nyaman membaca buku di tempat umum?

Pertama, ikhlaskan pandangan orang. Kita tidak bisa mengontrol komentar mereka, tapi kita bisa memilih genre buku yang membuat kita tetap waras. Kalau mereka bilang kita sok intelek, ya sudah, anggap saja itu promosi gratis. Dan kalau ada yang menyeletuk, “Wih, rajin amat sih, baca buku di halte!” cukup jawab, “Biar nggak baca pikiran orang, Mas.”

Kedua, siasati ejekan dengan humor. Jika mereka bilang, “Sok cool banget sih bawa buku ke kafe,” kau bisa senyum dan balas, “Daripada sok sweet sama mantan, ya kan?” Humor itu pelindung paling elegan dari sarkasme dunia.

Ketiga, bangun komunitas diam-diam. Kadang kita menemukan orang lain di taman kota yang juga sedang membaca. Senyum tipis cukup. Tak usah saling sapa kalau belum siap, tapi rasakan getarannya, kita tidak sendiri. Dunia ini memang kadang bising, tapi selalu ada yang memilih membaca daripada ribut di kolom komentar.

Keempat, dan ini yang paling penting, ingat alasanmu membawa buku. Karena kau tahu, buku bisa jadi penolong saat dunia terlalu hampa. Bisa jadi penyelamat saat sinyal hilang. Bisa jadi teman ketika urusan tertunda, antrean mengular, atau janji temu molor sejam. Buku tidak akan menatapmu dengan sinis saat kau bosan. Ia setia tanpa banyak cingcong.

Akhirnya, kita harus akui, membaca di tempat umum itu tindakan romantis yang sunyi. Seperti sedang kencan dengan pikiran sendiri. Tak butuh validasi. Tak butuh pujian. Hanya ingin menikmati ruang hening di tengah riuh notifikasi dunia.

Ada ironi di sana, ketika dunia makin ribut soal kecepatan, kita diam-diam memilih lambat. Memilih tenggelam dalam kalimat. Memilih tidak ikut rebutan bicara, tapi mendengarkan cerita dari halaman ke halaman. Dan kalau ada yang mencemooh, biarkan. Kadang cemooh adalah suara orang yang rindu membaca tapi tak tahu bagaimana memulainya.

Karena itu, mari tetap membawa buku ke mana pun. Di tas, di saku, di tangan. Kita tak harus mengubah dunia dengan bacaan kita. Tapi kita bisa menyelamatkan diri sendiri. Dan itu lebih dari cukup. Yang penting, jangan lupa satu hal, kalau buku itu teman, jangan hanya dibawa. [] Redaksi