Cerpen Erna Surya

Gang itu selalu berbau air got. Aku sudah hafal baunya seperti hafal garis-garis di telapak tanganku sendiri. Malam turun pelan-pelan, dan lampu-lampu kuning menggantung dengan cahaya remang. Di kursi plastik yang retak, aku duduk bersama dua perempuan lain, menunggu nasib datang dalam bentuk laki-laki dengan uang.
Aku menyalakan rokok, menghisapnya dalam-dalam, lalu membiarkan asapnya keluar dari hidung. Rasanya seperti mengusir sesuatu yang tak pernah benar-benar pergi. Sesuatu itu semacam kekhawatiran bila esok aku tak bisa makan, atau pekan depan tak ada uang yang bisa kukirimkan ke kampung. Panen gagal, bapak sudah berkabar kemarin.
“Sepi,” kata Santi di sebelahku.
“Belum jamnya,” jawabku.
Padahal kami tahu, kadang bukan soal jam. Kadang soal keberuntungan, kadang soal muka, kadang soal siapa yang lebih dulu berdiri saat ada lelaki lewat. Dunia kecil kami punya hukum yang tidak tertulis, tapi ditaati.
Lalu aku melihatnya.
Seorang lelaki muda berdiri di mulut gang. Aku melihatnya seperti orang tersesat yang tidak yakin apakah ia benar-benar ingin menemukan jalan kecil ini. Wajahnya biasa saja, terlalu biasa malah, seperti wajah-wajah yang mudah dilupakan. Tapi ada sesuatu di matanya. Aku bisa menangkapnya di tengah cahaya remang ini.
Aku melambaikan tangan. “Mau main, Mas?”
Ia mendekat pelan-pelan, aku melihat ada ketakutan di matanya.
“Yang murah,” katanya.
Aku tertawa kecil. “Semua di sini murah. Tinggal kuat-kuatan saja.”
Ia tidak ikut tertawa. Hanya menatapku sebentar, lalu mengangguk.
Aku berdiri, mematikan rokok dengan ujung sandal, lalu memberi isyarat agar ia mengikutiku. Kami masuk ke gang sempit yang hanya cukup untuk satu orang berjalan. Ia berjalan di belakangku. Kulihat langkahnya ragu-ragu. Aku bisa merasakan tatapannya di punggungku.
Di kiri kanan, pintu-pintu terbuka sedikit. Potongan hidup orang lain berjatuhan seperti serpihan kaca: seorang ibu memarahi anaknya yang menangis, seorang lelaki tua batuk sambil meludah ke lantai, televisi menyala dengan suara yang terlalu keras untuk ruangan sekecil itu.
“Pertama kali?” tanyaku.
Ia tidak langsung menjawab. Lalu pelan-pelan, ia mengangguk.
Aku tersenyum, meski ia tidak bisa melihatnya. “Kelihatan.”
Kami sampai di kamarku. Kecil, pengap. Dindingnya mengelupas. Kasur tipis tergeletak di lantai, sprei lusuh bergambar kartun yang dulu mungkin lucu, sebelum semuanya jadi seperti ini.
“Duduk saja,” kataku.
Ia duduk di ujung kasur, kaku seperti patung yang belum selesai dipahat.
Aku membuka jepit rambut, membiarkan rambutku jatuh berantakan. Aku sudah melakukan ini ratusan kali, gerakan yang sama, urutan yang sama, seperti ritual yang kehilangan makna tapi tetap dijalankan.
“Kamu kerja apa?” tanyaku.
“Tidak kerja.”
“Sekolah?”
“Tidak juga.”
Aku menoleh. “Terus ngapain?”
Ia berpikir lama, seperti pertanyaan itu terlalu besar untuk dijawab.
“Hidup saja,” katanya akhirnya.
Aku tertawa kecil. “Semua orang juga begitu.”
Tapi entah kenapa, dari mulutnya, kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang lain. Aku mulai membuka pakaianku. Satu per satu. Seperti menghitung sesuatu yang tidak pernah selesai.
“Mau cepat atau lambat?” kataku.
Ia menatapku. Terlalu lama.
Aku berhenti. “Kenapa?”
“Tidak apa-apa,” katanya.
Udara dingin tiba-tiba menyentuh kulitku, tapi aku sudah kebal. Tubuh ini bukan lagi milikku sepenuhnya. Ia sudah dibagi-bagi menjadi waktu dan tarif.
Ia mendekat. Tangannya menyentuh lenganku dengan hati-hati, seperti aku ini kaca yang bisa pecah kapan saja. Aku hampir tertawa, bukan karena lucu, tapi karena aneh.
“Kamu unik,” kataku.
“Ibu saya bilang begitu juga,” jawabnya.
“Ibumu masih hidup?”
Ia mengangguk.
“Baik?”
Ia diam. Matanya beralih ke cermin retak di sudut ruangan. Bayangannya terbelah-belah.
“Kadang. Tapi banyak tidak baiknya,” katanya pelan.
Aku tidak bertanya lagi. Aku sudah belajar bahwa beberapa jawaban hanya akan melukai kalau dipaksa keluar.
Kami berbaring. Kasur berderit, seperti mengeluh pada nasibnya sendiri.
Setelah semua selesai, ia terus menatapku.
“Jangan dilihatin terus,” kataku. “Bikin risih.”
Ia mengalihkan pandangan, tapi sebentar saja. Lalu kembali lagi, lebih dalam, lebih tajam.
“Kamu pernah ingin mati?” tanyanya tiba-tiba.
Aku tertawa. “Setiap hari.”
“Kenapa tidak?”
“Belum sempat,” jawabku. “Utang masih banyak.” Tiba-tiba, aku teringat pada rentenir yang akan menagih uang esok pagi.
Ia mengangguk, lalu ia mulai bercerita. Tentang kucing yang ia lihat di pinggir jalan. Tentang suara kereta di malam hari. Tentang seorang anak perempuan yang menangis di halte. Cerita-cerita kecil yang tidak penting, tapi ia ceritakan dengan keseriusan yang membuatku tidak enak untuk memotongnya.
Kadang ia berhenti di tengah kalimat, menatap ke sudut ruangan, lalu melanjutkan seolah-olah tidak ada yang terjadi. Aku mulai merasa lelah. Tapi ada sesuatu yang membuatku tetap diam. Mungkin rasa ingin tahu. Mungkin juga rasa takut yang pelan-pelan menyusup.
“Kamu sering ke sini?” tanyaku, mencoba mengalihkan.
Ia menggeleng.
“Kenapa ke sini?”
Ia tersenyum tipis. “Disuruh.”
“Siapa?”
Ia tidak langsung menjawab. Matanya kembali ke cermin retak itu.
“Mereka,” katanya.
Aku mengerutkan kening. “Mereka siapa?”
Ia menatapku lagi. “Yang suka bicara.”
Aku tertawa, tapi terasa kering. “Kamu bercanda ya?”
Ia tidak tertawa.
Di luar, suara orang bertengkar terdengar. Botol pecah. Seseorang berteriak. Dunia terus berjalan seperti biasa, tapi di dalam kamar ini, aku merasakan waktu seperti tersangkut di sesuatu yang tak terlihat.
“Kamu minum?” tanyaku setelah merasakan ada sesuatu yang aneh di bola matanya.
“Tidak.”
“Obat?”
Ia menggeleng.
Aku ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi kata-kata terasa seperti tidak punya tempat untuk jatuh. Ia menyentuh wajahku. Kali ini tidak selembut tadi. Ada tekanan kecil, seperti ingin memastikan aku benar-benar ada.
“Kamu mirip,” katanya.
“Mirip siapa?”
Ia tidak menjawab. Tiba-tiba, aku merasa ruangan ini terlalu sempit. Udaranya terlalu tebal. Seperti ada sesuatu yang ikut masuk bersama kami tadi, dan sekarang berdiri di sudut, menonton.
Lalu semua gelap. Tapi, aku masih bisa mendengar suara terakhirnya: Ibuku. Dia suka pukul aku.
***
Orang-orang bilang aku mati malam itu. Mereka menemukan tubuhku di kasur esok harinya, dengan mata yang masih terbuka. Seolah-olah aku belum selesai melihat sesuatu.
_____________________

Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.
