Cerpen

Kamar Belakang

Cerpen Erna Surya

Aku tidak pernah mengunci pintu kamar belakang. Istriku yang memintanya. Katanya supaya udara tetap masuk. Katanya supaya tidak lembap. Katanya supaya tidak seperti gudang. Padahal memang itu gudang.

Sebelum anak itu datang, ruangan itu hanya berisi kardus bekas, kipas rusak, dan koper lama yang tidak pernah kami buka lagi sejak pindah rumah. Setelah anak itu datang, semua barang kami keluarkan. Kami bersihkan lantainya. Kami beli kasur tipis. Kami tidak beli lemari. Anak itu tidak punya banyak barang.

Namanya Damar. Umurnya sembilan tahun waktu pertama kali datang. Anak dari adik istriku. Orang tuanya kecelakaan motor di jalan provinsi. Mati di tempat. Tidak ada yang mau mengurusnya.

“Kita saja,” kata istriku waktu itu. Aku tidak langsung jawab.

Aku hanya melihat foto anak itu yang dikirim lewat WhatsApp. Kulitnya gelap. Matanya kosong. Seperti tidak sedang melihat siapa pun.

“Kita tidak punya anak,” kata istriku lagi. Aku tetap tidak jawab.

Dua minggu kemudian, anak itu sudah tidur di kamar belakang.

***

Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama. Damar bangun pagi, makan, duduk, kadang membantu Rani, istriku, di dapur kalau diminta. Dia tidak pernah meminta sesuatu. Tidak pernah rewel. Tidak pernah mengganggu.

Aku memperhatikannya dari jauh. Cara dia berjalan, cara dia duduk, cara dia menatap sesuatu. Ada yang tidak pas. Tapi aku tidak bisa menjelaskannya dengan tepat. Seolah-olah dia tidak benar-benar hadir.

Suatu malam, aku bangun karena ingin ke kamar mandi. Rumah gelap. Lampu di ruang tengah mati. Tapi dari arah kamar belakang, ada cahaya. Pintunya terbuka sedikit.

Aku mendekat tanpa suara. Dari celah itu aku melihat Damar duduk di lantai. Dia tidak memakai baju. Hanya celana pendek. Tubuhnya kurus. Tulang bahunya menonjol. Dia tidak bergerak. Tidak sedang bermain. Tidak sedang melakukan apa pun. Hanya duduk.

Aku berdiri di sana beberapa detik, menunggu dia menyadari keberadaanku. Tapi dia tidak menoleh. Tidak bereaksi. Seolah-olah aku tidak ada. Akhirnya aku kembali ke kamar.

Aku tidak menceritakan itu kepada Rani.

Beberapa hari kemudian, aku kehilangan uang. Tidak banyak. Seratus ribu. Tapi aku yakin aku menyimpannya di dompet. Aku bukan tipe orang yang ceroboh soal uang. Aku tidak langsung menuduh,hanya mencoba memastikan.

Saat makan malam, aku bertanya dengan nada biasa.

“Damar, kamu ambil uang Om?”

Dia menggeleng. “Tidak.”

Jawabannya cepat. Tidak ragu. Aku melihat matanya. Tetap datar. Tidak ada perubahan.

Rani langsung menyela. “Ngapain kamu nuduh anak kecil?”

“Aku cuma tanya.”

“Ya jangan begitu.”

Nada suaranya berubah. Lebih tajam. Aku tidak melanjutkan.

Malamnya, aku masuk ke kamar belakang saat Damar sudah tidur. Aku membuka tas kecilnya pelan-pelan. Tidak ada banyak barang di dalamnya. Dua baju, satu celana, dan sebuah plastik kecil. Di dalam plastik itu ada uang. Lebih dari yang hilang dariku. Aku menutup tas itu kembali tanpa mengambil apa pun, lalu keluar tanpa suara.

Sejak itu, aku mulai lebih sering memperhatikan. Damar sering bangun malam. Tidak selalu, tapi cukup sering untuk membuatku sadar itu bukan kebetulan. Kadang dia duduk seperti yang kulihat sebelumnya. Kadang berdiri di dekat pintu. Kadang menghadap ke sudut ruangan. Dia tidak pernah menangis. Tidak pernah mengeluh. Rani tetap menganggap semuanya normal.

“Anak trauma memang begitu,” katanya suatu kali ketika aku menyinggungnya.

Aku tidak yakin dia benar. Tapi aku juga tidak ingin berdebat.

***

Suatu sore, aku pulang lebih cepat dari biasanya. Rumah sepi. Rani belum pulang kerja. Aku meletakkan tas di ruang tengah dan langsung menuju dapur. Tapi langkahku berhenti ketika melihat pintu kamar belakang terbuka.

Aku mendekat. Damar ada di dalam. Dia sedang memegang ponsel. Aku justru baru tahu kalau Damar punya ponsel. Dia menatap layar dengan serius. Jarinya bergerak pelan. Membuka sesuatu. Lalu berhenti.

“Ngapain?”

Suaraku membuatnya kaget. Ponsel itu jatuh ke lantai. “Tidak apa-apa,” katanya cepat.

Aku mengambil ponsel itu. Layar masih menyala. Ada foto. Foto Rani. Tanpa pakaian. Tanganku tiba-tiba gemetar. Aku tidak tahu kapan foto itu diambil.  Aku menatap Damar.

“Apa ini maksudnya?”

Dia tidak menjawab. Aku mendekat. Memegang lengannya.

“Kamu ngerti ini apa?”

Dia tetap diam. Tanganku bergerak lebih cepat dari pikiranku. Aku menamparnya. Tidak terlalu keras. Tapi cukup membuatnya jatuh ke samping. Dia tidak menangis. Tidak berteriak. Dia hanya menatapku. Tatapannya tetap sama seperti pertama kali aku melihatnya di foto. Kosong.

Malam itu, aku menceritakan semuanya kepada Rani. Aku pikir dia akan marah kepada Damar. Ternyata tidak. Dia marah kepadaku.

“Kamu mukul anak kecil?”

“Dia punya ponsel!”

“Terus?”

“Ada foto kamu di situ.”

“Terus kamu mukul dia?”

Aku tidak punya jawaban yang bisa dia terima. Rani berdiri dan pergi ke kamar belakang. Aku tidak ikut.

Dari ruang tengah, aku mendengar suaranya pelan. Seperti sedang menenangkan seseorang. Aku tidak mendengar suara Damar. Itu membuatku lebih tidak nyaman.

***

Sejak malam itu, sesuatu berubah. Pintu kamar belakang mulai dikunci. Bukan olehku. Oleh Rani. Dari luar.

Aku tidak pernah melihat langsung kapan dia menguncinya. Tapi setiap malam, setelah Damar masuk, pintu itu tertutup dan tidak bisa dibuka dari dalam. Aku sempat bertanya sekali.

“Kenapa dikunci?”

Rani menjawab singkat. “Supaya dia tidak keluar malam-malam.”

Aku tidak membantah. Aku juga tidak setuju. Aku hanya diam.

Damar tidak keluar lagi dari kamar itu. Makanannya diantar. Air minumnya diantar. Kadang Rani masuk sebentar, lalu keluar lagi. Aku jarang pergi ke kamar belakang. Hanya sesekali, saat pintu terbuka, aku bisa melihat bayangan tubuhnya di dalam.

Hari-hari selanjutnya, rumah tetap berjalan seperti biasa. Kami tetap bekerja. Tetap makan bersama, meski sekarang hanya berdua. Tidak ada pembicaraan tentang apa yang sedang terjadi. Seolah-olah kami sepakat untuk tidak menyentuhnya.

Beberapa hari kemudian, bau mulai muncul. Awalnya samar. Aku pikir dari saluran air. Rani bilang mungkin dari luar. Kami tidak terlalu memikirkannya. Tapi bau itu tidak hilang. Justru semakin kuat. Aku mulai merasa tidak nyaman setiap kali melewati lorong menuju kamar belakang.

Suatu sore, aku berhenti di depan pintu itu. Pintunya tertutup. Terkunci. Aku mengetuk pelan.

“Damar.”

Tidak ada jawaban. Aku mengetuk lagi. Tetap tidak ada suara. Aku melihat Rani yang berdiri di ruang tengah.

“Kamu buka!” kataku.

Dia tidak bergerak.

Aku mendekat padanya.

“Kamu buka sekarang!”

Dia tetap diam. Aku tidak menunggu lagi. Aku mengambil kunci yang tergantung di dekat dapur. Tanganku sedikit gemetar saat memasukkannya ke lubang kunci. Aku memutarnya perlahan.

Pintu terbuka.

Bau itu langsung keluar. Lebih kuat dari sebelumnya. Aku tidak masuk. Aku hanya berdiri di ambang pintu. Rani berdiri di belakangku. Aku bisa merasakan napasnya. Kami tidak bicara.

Tidak ada yang bergerak. Aku menutup pintu itu kembali. Perlahan.

***

Malam itu, kami tetap tidur seperti biasa. Lampu dimatikan. Tidak ada percakapan. Tidak ada keputusan. Kami berbaring di tempat tidur masing-masing, menghadap arah yang berbeda. Aku tidak tahu apakah Rani tidur. Aku sendiri tidak benar-benar tidur.

Keesokan paginya, aku bangun lebih awal. Rumah masih sunyi. Aku berpakaian tanpa suara. Saat hendak keluar, aku berhenti di lorong. Melihat ke arah kamar belakang. Pintunya sedikit terbuka. Aku tidak ingat pernah membukanya lagi. Aku tidak melihat ke dalam. Aku tidak mendekat. Aku hanya berdiri beberapa detik. Lalu pergi. Aku tidak tahu siapa yang membuka pintu itu. Dan aku tidak yakin aku ingin tahu.

Klaten, 30 Maret 2026

____________________

Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *