Cerpen Nadise Putri Raina Anya Ariella Nasywa

Ada banyak cara orang membentuk seorang anak. Ada yang memilih kelembutan, ada yang memakai kesabaran, dan ada yang mempercayai bahwa disiplin hanya mungkin tumbuh dari suara tinggi, cubitan, atau pukulan ringan yang “tidak apa-apa, nanti juga lupa”.
Dan entah kenapa, dari tiga anak perempuan di rumah ini, akulah yang mendapat bagian paling keras dari cara didik itu. Bukan berarti aku tidak disayang.
Justru karena disayang, katanya.
Kalimat itu dulu sering kudengar—kalimat pembenar yang seolah-olah membuat semua bentakan terasa lebih masuk akal.
***
Namaku… ah, tidak penting.
Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Kami semua perempuan—tiga kepala berbeda yang tumbuh dalam rumah yang sama, tapi rasanya seperti mendapat versi yang berbeda-beda dari ayah dan mama.
Aku tidak bisa bilang kakak dan adikku penurut, karena mereka juga punya keras kepala masing-masing. Tapi mereka selalu terlihat “lebih mudah dipahami”. Lebih bisa duduk manis, lebih cepat berhenti ketika dimarahi, lebih jarang membuat orang tua geleng-geleng kepala.
Sementara aku…
Aku ini kata orang-orang, “anak yang susah diam”.
Mulutku bergerak lebih cepat dari pada otak. Emosiku melonjak lebih tinggi daripada batas yang dianggap wajar. Aku membantah, aku bertanya, aku tidak langsung mengikuti apa yang dianggap benar. Dan dalam rumah yang menganut pola asuh keras, sikap seperti itu dianggap nakal.
Aku ingat sekali: cubitan di lengan kiri, pukulan ringan di paha, ditarik masuk kamar, atau diminta berdiri diam di depan pintu sambil menggigit bibir karena menahan tangis. Yang menyakitkan bukan rasa perihnya, tapi cara semua itu membuatku merasa salah tanpa tahu salahku di mana.
Kalau aku mencoba menjelaskan, aku dianggap membela diri. Kalau aku diam, aku dianggap mengabaikan. Kalau aku menangis, aku dianggap drama. Tidak ada posisi yang aman.
Sampai akhirnya aku belajar bahwa lebih mudah menelan semuanya. Lebih aman menyimpan kata dalam dada. Lebih tidak melelahkan untuk tidak berkata apa-apa. Dan tanpa kusadari, itu menjadi pola yang bertahan sampai sekarang.
***
Tuhan tidak pernah memberi ujian tanpa memberi pereda. Dalam rumah ini, penyeimbangku adalah dua orang: nenek dan tante bungsu—adik mamaku.
Kalau aku sedang dimarahi, merekalah yang paling dulu masuk kamar. Nenek duduk di sampingku sambil mengelus punggungku. Tante bungsu—wajahnya masih belia waktu itu—selalu membelaku dengan keberanian yang tak kumiliki.
“Udah, jangan pukul dia terus. Dia capek,” begitu kata tantenku sekali waktu, suaranya gemetar tapi tegas.
“Uni, nanti dia bukannya belajar malah makin takut,” katanya lagi di kesempatan lain.
Mereka tidak banyak bicara, tapi keberadaan mereka mengajarkanku bahwa ada dunia lain yang lebih lembut daripada tempat aku biasa berdiri. Mungkin itu sebabnya aku bisa tumbuh dan tetap percaya bahwa kasih sayang itu ada, walau bentuknya tidak selalu ramah.
***
Walaupun begitu, luka kecil masa kecil itu tetap tinggal bersama. Bahkan setelah kami bertiga tumbuh menjadi perempuan yang bisa mengurus diri sendiri, dampak dari didikan yang keras itu masih menempel pada diriku—lebih kuat daripada pada kedua saudaraku.
Kakakku tumbuh dengan cara bicara yang tegas, tapi ia tidak pernah takut menjelaskan diri. Adikku sering marah, tapi ia selalu bisa mengungkapkan apa yang ia rasa tanpa menunggu semuanya membludak.
Hanya aku yang selalu menahan. Hanya aku yang memilih diam. Hanya aku yang takut salah bicara meski sudah dewasa. Aku cerewet dengan teman, tapi paling pendiam di rumah. Aku bisa tertawa sekeras-kerasnya di luar, tapi di rumah suaraku nyaris setipis kertas.
Kadang aku ingin cerita tentang lelahku, tentang sakitku, tentang sesuatu yang mengganjal… tapi setiap kali membuka bibir, ada bayangan masa kecil yang menarikku mundur.
“Apa pun yang kamu bilang, kamu bakal salah lagi.” Suara itu masih ada.
Masih hidup di kepalaku. Masih memengaruhi caraku bernafas.
***
Puncaknya terjadi pada suatu sore yang tampak biasa-biasa saja. Aku baru pulang dalam keadaan capek, mumet, dan ingin istirahat sebentar. Mama memanggilku, menanyakan sesuatu yang sebenarnya tidak besar. Tapi nada suaranya naik sedikit, mungkin karena ia juga lelah.
Aku menjawab dengan nada yang kupikir masih normal—tapi ternyata terdengar keras di telinganya.
“Kamu itu kalau dibilangin jangan ngegas!” katanya.
Aku langsung terdiam. Rasanya seperti ditarik kembali ke masa kecil. Semua cubitan, bentakan, dan teguran lama itu tiba-tiba muncul di belakang mata. Aku mencoba menjelaskan bahwa aku tidak marah. Bahwa aku hanya capek. Bahwa suaraku memang begini ketika lelah. Tapi kata-kata itu hanya sampai di tenggorokan.
Yang keluar hanya, “Iya, Ma.”
Dan itu membuat semuanya semakin salah. Mama menghela napas panjang. Suasana jadi dingin, kakakku menoleh dan adikku berhenti mengetik di ponsel. Aku merasa menjadi sorotan tanpa ingin disorot. Aku merasa kembali menjadi anak kecil yang selalu terlihat paling salah. Akhirnya aku masuk kamar tanpa berkata apa pun. Tidak menutup pintu keras-keras, tidak menangis keras-keras. Hanya duduk di lantai, memeluk diriku sendiri.
“Aku sayang kalian… tapi kenapa rasanya selalu susah jadi diriku sendiri di rumah?”
Aku bertanya dalam hati. Tidak ada jawaban, tentu saja. Aku menunduk dan entah kapan tertidur—mungkin karena kelelahan emosi.
***
Sore itu, semuanya tiba-tiba berubah. Rumah terasa lebih hangat, lebih pelan, lebih lembut. Seolah-olah waktu berdiri diam untuk pertama kalinya dalam hidupku.
Mama datang menghampiri. Ayah duduk di sebelahku dengan wajah yang tidak menghakimi. Kakak dan adikku berdiri di belakang mereka, menatapku dengan mata yang benar-benar ingin mengerti. Bahkan nenek dan tante bungsu—dua orang yang selalu menenangkanku juga berada di sana.
Entah bagaimana, aku merasa aman. Aman dengan cara yang tidak pernah bisa kujelaskan. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun… aku bicara.
Aku ceritakan semuanya—tentang masa kecil yang keras, tentang bentak-bentak yang membentuk ketakutan, tentang cubitan yang membuatku belajar menyembunyikan suara. Tentang bagaimana aku selalu merasa salah sebelum sempat membuka mulut.
Aku bilang bahwa aku tidak marah pada siapa pun. Aku hanya takut. Takut membuat kecewa. Takut salah bicara. Takut dianggap melawan, meski aku hanya ingin menjelaskan.
Mama memelukku sambil menangis. Papa menepuk punggungku lama-lama. Kakakku menahan air mata, menggenggam tanganku. Adikku menyandarkan kepala di bahuku. Nenek mengusap rambutku. Tante bungsu tersenyum lembut seperti dulu.
Tidak ada bentakan. Tidak ada salah paham. Tidak ada jarak. Untuk pertama kalinya, rumah itu terasa seperti tempat yang bisa kutinggali tanpa harus mengecilkan diriku. Aku merasa lega, ringan, dan bebas—seolah beban bertahun-tahun itu akhirnya jatuh juga dari dadaku. Semuanya terasa begitu nyata. Begitu mungkin. Begitu… tepat.
Hingga aku membuka mata.
***
Jam menunjukkan pukul 6 pagi. Suara mama dari dapur. Ayah bersiap. Kakak mengikat rambut. Adikku tetap sibuk dengan ponselnya. Ruang yang semalam terasa penuh, pagi itu kembali biasa saja.
Tidak ada pelukan. Tidak ada percakapan hati ke-hati. Tidak ada mata yang berkaca-kaca. Hanya aku, duduk di kasur dengan jantung yang masih membawa hangat dari sesuatu yang… ternyata tidak pernah terjadi.
Semua yang semalam itu—pelukan, pemahaman, keberanian yang berhasil kutemukan—tidak lebih dari sebuah mimpi.
Mimpi yang terasa terlalu nyata. Terlalu diinginkan. Terlalu mirip dengan apa yang sejak kecil ingin sekali kubicarakan. Dan anehnya, meski itu hanya mimpi…aku bangun tanpa kesedihan. Ada sesuatu yang terbuka sedikit dalam diriku. Ada ruang kecil yang tiba-tiba menemukan cahaya.
Mungkin karena mimpi itu, aku akhirnya tahu bahwa suatu hari nanti—entah kapan—aku bisa benar-benar berkata. Bukan karena dipaksa, bukan karena meledak, tapi karena aku ingin dimengerti.
Mungkin tidak sekarang. Mungkin tidak besok.
Tapi aku tahu, aku tidak akan selamanya diam. Dan ketika hari itu datang, saat aku benar-benar berani bicara, mimpi itu tidak akan lagi hanya mimpi.
__________________________
Nadise Putri Raina Anya Ariella Nasywa. Penyuka Cerpen

Rilead banget ceritanya, semngt terus kk, percayalah bahagia itu pasti datang untuk mu😊