Cerpen

Stoples Kejujuran

Cerpen Pelajar Aliya

Sebuah lemari tua berdiri kokoh di hadapanku. Tanganku mengambil salah satu buku dari deretan buku yang memenuhi lemari itu. Buku itu terlihat baru dan tidak berdebu. Sampulnya tebal berwarna merah terang.

Kubawa buku itu ke sofa yang ada di pojok ruangan. Lembar demi lembar kubuka, gambar anak-anak seperti di sebuah negeri dongeng menghiasi tiap halaman, anehnya tak ada tulisan satu pun dalam tiap halamannya. Tetapi gambar itu sangat menarik perhatianku.

Sejurus kemudian, pundakku ditepuk seseorang. Seorang anak perempuan seusiaku sekitar 10 tahun, berwajah manis dengan rambut dikepang dua. Ia tersenyum menatapku dan memperkenalkan dirinya. Namanya Shelly.

Tak lama kami berkenalan, Shelly mengajakku ke luar perpustakaan tua ini. Seketika sekelilingku tampak berbeda. Sebuah tempar yang begitu mirip dengan yang kulihat di sebuah buku cerita tadi.

Matahari terasa hangat menerpa wajahku, udara begitu segar, bunga beraneka warna bermekaran, dan pohon-pohon dipenuhi buah buahan segar dan ranum.

Di halaman penuh anak-anak tertawa riang berkejaran, bermain lompat tali, ayunan, trampolin, dan seluncuran. Ada juga yang sedang melukis, bernyanyi dan menari. Beberapa anak bermain sepatu roda sambil berpegangan tangan satu dengan lainnya, bermain bola, skate board, sepeda, dan banyak lagi. Tak satu pun orang dewasa terlihat. Tempat tersebut seperti hanya diperuntukkan bagi anak-anak.

“Kayla-Kayla.” Shelly mengguncang pelan tubuhku yang masih terpaku penuh ketakjuban.

“Di sini anak-anak boleh bermain dan makan dengan bebas, namun kita tetap belajar dan sekolah.”

“Wow, enak sekali,” pekikku riang. “Tapi apakah kita sekolah dengan tugas PR yang banyak?” tanyaku dengan wajah sedikit khawatir. Sebuah pertanyaan yang muncul dalam benakku ketika mendengar kata belajar.

Shelly tertawa, “Yang pasti di sini tidak ada tugas dan PR yang membuatmu tidak bisa menikmati dunia anak-anak. Bahkan kamu bebas mengekspresikan hobi dan bakatmu, tanpa ada yang menilaimu jelek. Setiap usaha yang baik diapresiasi oleh kawan-kawanmu di sini. Mereka juga akan saling membantu.”

“Nah di sana, di ujung jalan ada anak-anak yang antri mengambil es krim. Dan ada beberapa tempat lainnya, mereka bisa mengambil makanan, minuman, atau kebutuhan anak-anak. Namun semuanya itu ada aturan,” lanjut Shelly.

“Oh, hanya itu saja?”

“Tentu tidak, anak-anak harus berkata dan bersikap jujur!” jawab Shelly dengan nada tegas.

“Kalau kita berbohong, apa yang akan terjadi?”

“Semua anak akan dipulangkan ke rumahnya,” jawabnya sambil membelalakkan mata dan berkata pelan namun cukup terdengar tegas di telingaku. Aku hanya tersenyum tipis dan kecut. Terdengar seperti sebuah ancaman serius.

Setelah itu aku menebar pandangan, seketika mataku tertuju pada sebuah stoples penuh permen yang terletak di meja-meja taman. Permen-permen itu nampak indah bermacam-macam dengan warna dan bentuk menarik. Aku melangkah mendekati stoples permen di meja itu. Tiba-tiba Shelly menarik tanganku.

“Jangan kamu memakan permen itu, Kayla!” sentak Shelly.

“Kenapa?” tanyaku.

“Kalau ada yang memakan satu permen saja dari stoples itu, maka dunia ini akan lenyap dan semua anak yang berada di sini akan dipulangkan ke rumah mereka,” Shelly melanjutkan.

“Kamu harus cobain es krim di sini saja, beda banget sama di dunia kita,” ujar Shelly mencairkan suasana.

Tetapi aku masih memikirkan permen dan juga ancamannya yang cukup serius itu.

***

Kujilat es krim rasa stroberi yang ada di tanganku. Rasanya sangat berbeda. Lezat sekali, belum pernah kurasakan sebelumnya.

Shelly berkata, “Es krim ini dari buah stroberi asli. Di sini anak-anak tidak ada yang sakit, jadi kamu bebas makan apa saja. Oh iya, aku main dulu ya di taman. Mau ikut?”

Kepalaku menggeleng. Aku sedang tidak ingin bermain.

“Oke tidak apa-apa. Dadah,” kata Shelly sambil melambaikan tangannya.

Mataku kembali tertuju pada stoples permen. Aku tergoda oleh kilauan permen-permen yang di dalam stoples itu. Ah, kalau kumakan satu permen saja mungkin tak ada satu pun yang menyadarinya. Akan tetapi semua anak akan dikembalikan ke rumahnya. Padahal dunia ini adalah dunia impianku dan anak-anak lainnya.

Sekeras mungkin kutepiskan keinginan untuk memakan permen itu. Tetapi pikiranku belum beralih dari stoples permen itu. Ingin aku mencicipinya. Perlahan-lahan kudekati stoples itu. Aku melihat sekeliling rasanya tidak ada yang melihatku. Tanganku menggapainya. Segera kubuka tutupnya dan cepat-cepat kuambil satu, kumasukan ke mulut. Ternyata rasanya lezat. Seperti belum merasa puas, aku ingin mengambil permen lain yang ukurannya lebih besar. Namun suara seseorang menghentikanku.

“Hei, siapa kamu? Beraninya memakan permen itu!” teriak seorang anak.

Karena panik, stoples itu terjatuh dari tanganku. Seketika langit gelap. Wajahku berubah pucat, tubuhku gemetar, aku lari menjauhi meja taman itu, bersembunyi di balik pohon. Kulihat sekarang, semua anak menatap langit gelap dengan muka cemas.

Sejurus kemudian Shelly menghampiriku.

“Kamu yang mengambil permen itu?” tanya Shelly lembut.

“Aku tidak mengambil permen itu,” kataku dengan nada parau. 

Burung gagak berterbangan di atas kepalaku. Suaranya beradu dengan kegalauan di dadaku.

“Kamu tidak jujur, dunia ini sebentar lagi akan lenyap dan semua kembali ke dunia asal!” Shelly berteriak.


“Maafkan atas kebodohanku, aku berjanji akan selalu jujur dan dapat mengendalikan diri.” kataku dalam rasa sesal.

“Semua sudah terlambat,” kata salah satu anak dengan nada sedih.

Seketika muncul lubang putih. Lubang itu adalah jalan menuju dunia asal kami. Semua anak langsung melompat ke lubang putih itu. Aku pun menyusul. Lubang itu seperti spiral berputar dengan cahaya yang menyilaukan mata.

“Hei Nak, bangunlah” kata seorang ibu penjaga perpustakaan sambil tersenyum ramah.

“Perpustakaan ini mau tutup, nampaknya kamu tidur lelap sekali,” lanjutnya.

Kepalaku sedikit pusing dan mataku terasa berat sambil mencoba memperhatikan sekelilingku. Kucubit tanganku, terasa sakit. Mungkin tadi hanya mimpi. Nyatanya aku masih duduk di sofa di dalam perpustakaan tua ini.

Pikiranku mencoba mencerna apa yang telah terjadi. Tetapi rasa menyesal terus menghantuiku. Aku telah menghancurkan dunia impian anak-anak. Andai tadi aku bisa menahan diri tidak mencuri permen itu. Aku ingin kembali ke dunia impian anak-anak yang penuh kegembiraan dan kasih sayang dimana kejujuran dijunjung tinggi. Perlahan kututup buku tanpa tulisan ini. Namun setelah beberapa langkah aku hendak keluar dari perpustakaan ini, terdengar suara dari ibu penjaga perpustakaan.

“Hei, Nak. Ini untukmu!”

Aku mendekati ibu penjaga yang menyodorkan stoples permen untukku. Mataku terbelalak. Stoples permen yang sama dalam mimpiku barusan.

“Te .. te … rimakasih, Bu,” jawabku gemetar sambil menerima stoples itu.

Ibu itu tesrsenyum lalu menggeleng. “Jangan panggil aku Ibu, panggil saja Shelly.”

Kali ini aku tak bisa lagi menyembunyikan keterkejutanku. Mulutku terkunci rapat.

“Berbuat jujur itu sulit, tetapi akan ada hadiah besar di dalamnya,” ucap Shelly setelah sesaat kemudian pergi meninggalkan aku yang masih berdiri tegak dan membeku. []

____________________

Aliya. Siswa kelas 5 SD Jakarta Islamic School, berusia 10 tahun. Suka menulis, membaca, dan membuat prakarya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *