Cerpen

Kembang Api di Atas Kota Kosong Menyedihkan

Cerpen Titi Setiyoningsih

Perempuan itu menelepon tepat satu minggu setelah foto pertunanganku terunggah di Instagram. Setelah lima tahun kami menjaga jarak dengan cara yang sopan, kini dia ingin bertemu denganku.  Aku sebetulnya enggan tapi penasaran setengah mati. Pasti hal luar biasa telah terjadi. Layaknya setiap pertemuan yang dipaksakan terjadi, kami canggung berbasa-basi. Dia menanyakan bisnis toko buku yang kukelola, mengucapkan selamat atas buku terbaruku yang sebetulnya sudah setengah tahun lalu release.

“Tiga hari yang lalu aku datang kemari,” katanya kikuk. “Tapi kulihat kamu sangat sibuk dengan para pelangganmu.”

Aku berusaha terlihat kaget. “Oh ya? Seharusnya kamu menyapaku saja.” Ini baru permulaan dan aku mulai kelelahan. Jelas-jelas dia sering mampir ke toko ini. Para karyawan yang mengatakannya. Perempuan ini selalu datang dengan raut gelisah, kebingungan, dan tak pernah membeli apa pun. Seolah dia tersesat, terkejut mendapati dirinya di toko buku dan bukan di butik baju.

Dia berusaha membuka obrolan lagi, kali ini tentang kekagumannya pada tulisanku. Aku sudah tak tahan. “Ada apa? Kamu baik-baik saja kan?”

Wajahnya yang ramah kini berubah tegang dan putus asa. “Tidak, aku sangat kacau. Seharusnya aku tidak kemari,” dia hendak berdiri dan spontan ku tarik tangannya. Aku mengajaknya ke atap lantai tiga.

“Cuma ada kita berdua,” kataku mencoba menenangkan. Dia memunggungiku menatap lalu lintas di bawah sana. Kunyalakan sebatang rokok dan mulai mengisapnya perlahan. “Masih merokok?” tanyaku menawarkan sebatang padanya.

“Kent masih mencintaimu,” ujarnya spontan.

Kuisap lagi rokokku dalam-dalam. “Tidak, dia tidak pernah mencintaiku.”

“Dia masih membicarakanmu di belakangku,” perempuan itu berbalik dan menerima tawaran rokokku. Kami menyemburkan asap rokok bergantian. Di trotoar sana seekor kucing rupanya berhasil menggondol ikan dari dapur restoran.

“Kupikir kucing itu sudah mati,” gumamku.  Angin di atap gedung mulai mengibarkan rambut kami berdua. “Ngomong-ngomong aku bukan kucing itu. Aku tidak akan mengambil sesuatu yang bukan milikku.”

“Aku tahu. Aku ke sini bukan untuk menuduhmu,” katanya dengan nada yang lebih tenang daripada tadi.

“Kent tidak pernah mencintaiku. Dia hanya berasumsi dia mencintaku,” kataku sungguh-sungguh. Perempuan itu masih diam menunggu penjelasan. “Dia seolah-olah mencintaku, tapi tidak. Dia menciptakan konsep tentang diriku dan dia mencintai konsep itu. Bukan aku. Jadi ketika kami bersama, itu pun kau tahu tidak lama, banyak kekecewaan dalam hubungan kami. Dia belum menerima realita tentang diriku seutuhnya dan aku cukup frustrasi karena merasa diperlakukan tidak layak,” jelasku.

“Aku tidak paham, dia selalu memujimu,” ujarnya terdengar malu.

“Nah itu maksudku. Dia berpikir aku seperti ini dan itu. Dia mendekatiku karena berpikir aku begini dan begitu. Lalu saat kutunjukkan lapisan terdalamku, dia mundur. Dia tidak ingin menerimanya, dia hanya ingin aku yang ada dalam imajinasinya. Yah begitulah, kamu tahu sendiri kelanjutannya,” jelasku lagi.

Jika aku boleh jujur. Hubunganku dengan Kent adalah hubungan paling melelahkan yang pernah kujalani. Rasanya seperti tercekik berbulan-bulan. Dia selalu punya cara untuk melambungkanku ke angkasa sebelum akhirnya menjatuhkanku kembali ke bumi. Berkali-kali. Menarik dan mengulurku serupa karet gelang yang sengaja dimainkan. Terlalu sering dia melukiskanku langit biru, lalu mendadak mengubahnya menjadi hujan. Aku hidup dalam permainan caturnya yang dia ganti aturannya setiap hari. Aku terlalu optimis kala itu untuk membuat hubungan kami berhasil.

“Menurutmu aku harus bagaimana?” tanyanya lagi.

Ingin kujawab, kabur dan larilah sekencang-kencangnya! Tapi percuma jika perempuan ini masih dibutakan oleh kilau kembang api Kent. Ya, Kent seperti kembang api yang bersinar di atas kota kosong menyedihkan setiap perempuan yang kesepian. Kent hanya ingin perhatian, bukan cinta. Dia tidak pernah menginginkan cinta. Aku beruntung berhasil melarikan diri sebelum laki-laki itu lebih menyakitiku.

“Kau tahu jawabannya,” ujarku enggan. Aku selalu benci pada perempuan yang dibutakan perasannya, segala petuah akan terlihat seperti comberan saat kau sedang jatuh cinta.

“Dia menangis saat melihat foto pertunanganmu,” katanya akhirnya.

“Seperti itulah Kent. Suatu hari dia juga akan menangis melihat fotomu bersama laki-laki yang bukan dirinya. Dia selalu menangisi yang bukan miliknya.”

“Begitu ya?” Perempuan itu tersenyum kecil menatapku. Dari wajahnya aku tahu Kent telah memaksanya meminum air dari lautan, yang justru membuatnya makin kehausan, hingga berakhir meminta Kent memberinya lagi dan lagi. “Selamat ya atas pertunanganmu!” katanya.

“Hadirlah ke pernikahanku,” kataku meyakinkannya.

Perempuan itu menggeleng, “Kau pasti tahu jawabanku.”

Dalam diam kami berdua telah bersepakat, setelah malam ini kami akan kembali menjaga jarak seperti sebelumnya. Aku juga berharap dia mulai berhenti memikirkan cara untuk menyingkirkanku. Sudah lama aku memutuskan keluar dari arena permainan Kent, bahkan jauh sebelum mereka berdua saling mencumbu.

____________________

Titi Setiyoningsih. Dosen di prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *