Ragam

SELEMBAR MERAH DAN SETUMPUK BUKU

Yang teringat adalah The Lord of the Rings itu film? Kaum yang getol membaca meyakinkan itu buku. Di Indonesia, penonton filmnya bisa melebihi satu juta. Namun, jumlah pembaca tetap di hitungan ribuan. Bagi yang berduit membeli novel yang diterjemahkan dalam bahasa Indinesia dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama itu kepuasan. Buku yang berukuran besar dan tebal. Gambar di sampulnya sering berganti menyesuaikan selera yang dipengaruhi film atau perayaan kesilaman dan kekinian. Buku yang laris.

Apakah novel itu awalan JRR Tolkien mendapat penggemar (fanatik) di Indonesia? Nama pengarang yang kharismatik, berpengaruh besar dalam gubahan-gubahan sastra di dunia, dari masa ke masa.

Rabu, 1 Oktober 2025, anggapan berubah oleh mata dan tangan. Mataku melihat buku berukuran kecil. Gambar di sampul sangat memikat. Gambar yang representatif untuk pembaca masa lalu di Indonesia. Yang menggambar adalah Setyo S. Gambar yang dibuat disesuaikan untuk pembaca di Indonesia. Buku itu berjudul Petani Penakluk Naga (1980) gubahan JRR Tolkien. Bukti bahwa pengarang dunia sudah digemari di Indonesia sejak masa 1980-an.

Mataku melihat seperempat percaya. Benarkah itu novel gubahan JRR Tolkien yang awal diterjemahkan dalam bahasa Indonesia? Tanganku memegang agak tergesa, membuka halaman-halamannya demi mengetahui nama penerjemah dan tahun terbit. Yang terbaca memang penerjemah (Anton Adiwiyoto), bukan penyadur. Buku-buku dari masa lalu agak menjebak gara-gara penerjemahan utuh atau saduran.

Pada mulanya, buku itu dibeli dan dimiliki oleh Himi Nureni, Jakarta, 4 Mei 1981. Pengesahannya adalah tanda tangan bertinta hitam. Aku memegang buku yang usianya hampir sama denganku, yang mau 45 tahun. Buku terbit beberapa bulan sebelum aku lahir, yang belum ditakdirkan sebagai pembaca. Yang lahir memberi tangis, bukan mengucap kata-kata. Pada saat aku belum bisa berkata, banyak orang membaca Petani Penakluk Naga. Para pembaca yang mendapat cerita bermutu. Bukunya tipis, tidak mengharuskan membacanya selama 12 hari.

Aku bertemu buku JRR Tolkein terbitan Gramedia di pasar buku bekas yang beralamat di Gladag (Solo). Aku tidak segera menanyakan harga kepada pedagang. Yang menegangkan adalah mengeluarkan semua buku dari karung, cepat memilih sebelum menjadi rebutan para pembeli.

Siang yang gerah tapi aku cekatan menumpuk beberapa buku. Tanganku memegang novel berjudul Berkeliling Dunia di Bawah Laut (1977) gubahan Jules Verne. Yang menerbitkan edisi terjemahan bahasa Indonesia adalah Gramedia. Mengapa penerbit itu berhasil menyuguhkan novel-novel bermutu kepada para pembaca yang berusia anak dan remaja? Dulu, aku mengetahui buku terbitan Enigma yang berjudul 20.000 Mil di Bawah Lautan gubahan Jules Verne. Yang menerjemahkan adalah Nh Dini. Judul apa yang mula-mula muncul di Indonesia dalam terjemahan yang utuh, bukan saduran? Jules Verne, pengarang tenar di dunia, yang buku-buku sudah diterjemahkan dalam puluhan bahasa.

Yang menerjemahkan Berkeliling Dunia di Bawah Laut adalah Agus Setiadi. Penerjemah ulung yang terjamin mutunya. Agus Setiadi itu bapaknya Hilmar Farid. Aku sebenarnya sudah cukup mendapat dua novel terbitan Gramedia. Kedatanganku ke Gladag membawa selembar merah. Niatnya membeli sedikit buku saja agar aku masih merasa berduit. Apakah membeli dua buku saja?

Di depanku, buku-buku yang dikeluarkan dari karung masih ada beberapa yang menggiurkan. Siang semestinya memberi pesan agar aku menahan nafsu buku. Di hitungan detik setelah semua buku berserakan, aku putuskan bakal menghabiskan selembar merah. Aku harus menukar merah dengan buku-buku bermutu. Jangan ada keraguan dan penyesalan!

Dua buku mencantumkan nama Enid Blyton di tanganku. Sekali lagi, buku-buku itu diterbitkan oleh Gramedia. Maka, sastra (anak) dunia berdatangan ke Indonesia gara-gara Gramedia. Aku memastikan dua buku yang berjudul Tiga Anak Nakal (1996) dan Rag, Tag, dan Bobtail (1996) masuk dalam koleksi, terbaca sebagai penghormatan atas cerita-cerita yang menghampiri jutaan pembaca di dunia.

 Aku merasa Rabu terberkati. Buktinya mataku melihat buku-buku yang bagus. Adanya buku-buku itu membuat mata yang mengantuk segera terbuka dalam sukacita. Yang didapat adalah buku-buku Astrid Lindgren, yang semuanya diterbitkan Gramedia. Bayanganku penerbit itu berkuasa dalam penerbitan buku-buku anak dan remaja selama beberapa dekade, terutama buku-buku terjemahan.

Para penggemar di Indonesia dipuaskan oleh keseriusan Gramedia menerbitkan beberapa judul dari Astrid Lindgren. Yang berhasil dibeli: Pippi Si Kaus Kaki Panjang, Musim Ceri di Bullerbyn, Detektif Ulung Blomkvist, Ronya Anak Penyamun, dan Kami Anak-Anak Bullerbyn. Sejak awal, niatku membeli untuk dijual kembali. Aku sudah mengoleksi judul-judul itu di rumah. Pilihannya: menjual dengan harga murah atau mahal.

Jika dihitung mungkin jumlah penggemar atau pembaca buku-buku Astrid Lindgren di Indonesia mencapai ribuan orang. Mereka yang terhibur sekaligus belajar kehidupan anak-anak di negeri jauh, yang sulit dicari persamaan-persamaannya dengan anak-anak di Indonesia. Jadi, katalog yang dibuat Gramedia memastikan Astrid Lindgren sebagai pengarang yang ikut menabur subur imajinasi di Indonesia. Pengarang pujaan yang mengalahkan pengarang-pengarang Indonesia, yang buku-bukunya juga diterbitkan oleh Gramedia.

Setiap melihat tampilan buku-buku Gramedia, mata menemukan keistimewaan dalam penentuan ukuran, penggunaan kertas, permainan warna, dan gambar di sampul. Gramedia berani menghadirkan buku-buku ciamik, yang (matang) diperhitungkan untuk betah berada di tangan anak, remaja, dan orangtua. Buku-buku yang menghuni kamar atau rumah dinyatakan sebagai koleksi.

Duitku yang selembar merah bertukar dengan buku-buku yang dulu disantap anak dan remaja di Indonesia masa lalu. Mereka ada yang mampu membeli dan berhak mencantumkan nama atau tanda tangan. Mereka bisa membaca di taman baca atau perpustakaan, yang memunculkan predikat sebagai penyewa atau peminjam. Rabu itu buku-buku dari masa lalu menjadi milikku dalam jangka waktu sebentar atau lama.

Apakah disengaja Gramedia memihak penerbitan buku-buku terjemahan? Aku bisa menjawab: pasti. Penerbit itu yang mengantarkan anak dan remaja terhubung bacaan selera dunia. Mereka membaca buku-buku yang dinikmati oleh anak dan remaja di Prancis, Inggris, Jerman, Denmark, Amerika Serikat, Swiss, dan lain-lain. Bedanya adalah penerbitan edisi terjemahan di Indonesia biasanya terlambat. Yang aku belum tahu adalah pengurusan hak cipta penerjemahan dalam bahasa Indonesia. Pada masa 1970-an dan 1980-an, masalah itu belum terlalu diributkan oleh pihak-pihak dalam bisnis buku atau pengamat bacaan taraf dunia di Indonesia.

Perbedaan sangat tampak saat aku mengambil dua buku terbitan Pustaka Jaya. Aku agak ragu untuk membeli dua buku yang tampangnya tidak menarik. Yang terpegang tanganku: Petualangan Si Nekad (1978) gubahan Paul Jaques Bonzon. Buku yang awalnya terbit dalam bahasa Prancis. Datang ke Indonesia melalui penerjemahan oleh Ida Sundari Hoesen.

Setahuku, penerjemah itu teruji melalui belasan buku yang sudah terbit. Pekerjaan utamanya adalah pengajar di Universitas Indonesia. Namun, ketekunannya menerjemahkan buku-buku berbahasa Prancis agar terbaca di Indonesia mengukuhkannya sebagai penerjemah ulung. Peran terbesarnya adalah mengakrabkan kita dengan kesusastraan Prancis. Jadi, para pembaca buku yang sering jengkel dan sering mengejek mutu buku terjemahan bahasa Indonesia abad XXI bisa membaca semua hasil terjemahan yang dilakukan oleh Ida Sundari Hoesen. Ia tidak harus melakukan penerjemahan melalui edisi bahasa Inggris. Pilihan yang terhormat adalah menerjemahkan dari bahasa asal (Prancis).

Yang terakhir, buku yang berada dalam pegangan tanganku berjudul Dongeng-Dongeng Rusia. Nama yang dicantumkan di sampul buku adalah Adisubroto. Aku menduga buku itu bukan terjemahan. Buktinya, nama yang di sampul khas digunakan orang Indonesia, bukan nama yang lumrah untuk orang Rusia. Maka, aku lekas membukanya. Keterangan di halaman awal dalam buku terbitan Pustaka Jaya: “Diceritakan kembali.” Pustaka anak itu disajikan agar pengetahuan mengenai sastra brtumbuh di Rusia diketahui para pembaca di Indonesia. Padahal, sastra Rusia pernah ikut dalam gegeran sastra-politik masa 1950-an dan 1960-an di Indonesia. Terbitnya dongeng-dongeng dari Rusia mengartikan hubungan dua negara (Indonesia dan Rusia) akrab setelah malapetaka 1965.

Akhirnya, selembar merah bertukar setumpuk buku yang semestinya dibaca oleh anak dan remaja. Pada siang itu peranku adalah penemu dan pembeli, yang berhak memasalahkan lanjutan peran untuk menjadi pedagang buku bekas, pembaca, atau kolektor. [] Durjana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *