
Yang suka membaca buku biografi atau tulisan-tulisan mengenai tokoh kadang penasaran dengan benda-benda yang pernah tergunakan dan menentukan nasib. Benda itu sepeda, baju, piring, mesin tik, kursi, lemari, dan lain-lain. Sekian benda turut membentuk biografi meski benda tak selamanya bersama tokoh. Ada benda yang hilang, dijual, hancur, atau diberikan kepada orang lain.
Kita membayangkan kelak ada pendirian museum sastra. Yang diinginkan adalah hadirnya benda yang pernah bersama Pramoedya Ananta Toer, HB Jassin, AA Navis, Sapardi Djoko Damono, Umar Kayam, Remy Sylado, Jakob Sumardjo, Arswendo Atmowiloto, Sindhunata, dan lain-lain. Benda yang dimaksud adalah mesin tik. Para pengarang pernah tekun menggerakkan jari-jari di mesin tik.
Mereka menghasilkan beragam tulisan dengan mesin tik. Ada yang mula-mula menulis dulu di kertas dilanjutkan di mesin tik. Ada yang langsung mengetik, yang segera memunculkan puisi, cerita pendek, atau esai. Sapardi Djoko Damono mengenang pernah menggunakan mesin tik milik kelurahan dalam membuat puisi. AA Navis bercerita rajin mengetik cerita pendek tapi diawali dan dibarengi kenikmatan merokok. Pramoedya Ananta Toer pernah dijanjikan diberi mesin tik oleh Jean Paul Sartre. Arswendo Atmowiloto yang berhasil membeli mesin tik memilih menaruh benda itu di atas kasur: tanda kebahagiaan dan sumpah untuk keranjingan menulis. Jakob Sumardjo sampai usia tua setia bersama mesin tik, membuat ratusan artikel dan resensi.

Kita bakal memerlukan ratusan halaman untuk mencatat penggalan-penggalan kisah para pengarang dan mesin tik. Benda yang ikut menggerakkan sastra di Indonesia. Pada suatu masa, mesin itu nasib pengarang. Ada yang memiliki mesin tik. Ada yang suka meminjam. Ada yang suka mengoleksi mesin tik.
Yang teringat, Gus Dur tampak sedang serius mengetik di kantor Tempo. Konon, ia suka mampir untuk menanti mesin tik yang menganggur, ditinggal para wartawan atau redaktur. Maka, ia lekas duduk di depan mesin tik untuk menghasilkan kolom yang dimuat dalam majalah Tempo. Linus Suryadi, suatu hari dolan ke rumah Umar Kayam, segera duduk dan mengetik. Jadi, ada dugaan Pengakuan Pariyem itu mula-mula diketik di rumah Umar Kaya. Bukunya yang terbit mencantumkan keterangan bahwa Pengakuan Pariyem dipersembahkan kepada Umar Kayam.
Kini, kisah mesin tik measih bertumbuh di tangan Hamzah Muhammad, yang menggerakkan sastra dan perbukuan di Jakarta. Ia biasa menghasilkan puisi di tempat-tempat penyelenggaraan acara sastra atau obrolan buku. Pada abad XXI, mesin tik belum punah. Kita menanti saja Hamzah Muhammad menuliskan seribu cerita tentang mesin tik.

Kita pun memanggil masa lalu melalui buku kecil dan tipis. Buku yang tidak bersampul. Buku terbit pada 1931. Kita mengingat para pengarang, jurnalis, dan pegawai kantor menggunakan mesin tik. Kau pergerakan politik pun menggunakan mesin tik dalam membuat risalah atau seruan melawan kolonialisme. Buku lawas itu membantu kita mengingat masa lalu yang berisi oleh huruf-huruf yang dipukul jari-jari.
Beruntungnya kita masih bisa membaca buku berbahasa Jawa yang berjudul Panoentoen Ngetik Mesin Toelis Nganggo Dridji 10 susunan M Soewardjo. Buku mengenai teknologi menulis, benda yang mengubah lakon tanah jajahan saat terjadi serbuan tulisan berbarengan kapitalisme cetak, yang memiliki banyak suara menyebar ke segala arah. Buku diterbitkan oleh Boekhandel SM Diwarno, Jogjakarta.
Pengakuan Soewardjo: “Moela kita senadjan lagi sawatara wae bab kawroeh ngetik maoe, woes age-age dibeberake, amarga woes wadjibe kita doewe pengerti senadjan moeng lagi setitik koedoe diratakake marang lijan kang soedi meloe nganggo.” Yang menyusun buku hanya memiliki pengetahuan sedikit tapi berani membagikannya kepada orang lain. Artinya, ilmu yang dimiliki agar segera menular yang membuat orang lain berani belajar untuk mahir mengetik.

Penjelasan yang diberikan dilengkapi gambar-gambar. Yang disampaikan Soewardjo: “Gambar iki tak petikake saka gambar nganggo merek iki awit moeng kanggo nggampangake panganggit mitoeroet saka panjinaoekoe bijen. Nanging kang mengkono maoe bareng akoe ndeleng marang mesin toelis lija, djandji kang model anjar wae kaja ora ana bedane toemrap panggonane aksara oetawa pengatoere perkakas-perkakas lijane.” Ia mencontohkan mesin yang pernah digunakan, tidak bermaksud pamer merek yang terkenal pada awal abad XX.
Buku kecil memberi petunjuk agar orang bisa mengetik menggunakan 10 jari, bukan dua jari. Pengertian dan latihan menentukan keberhasilan untuk menjadikan sepuluh jari bergerak. Pesan yang disampaikan Soewardjo: “Dene panjinaoemoe ora kena kesoesoe-sosoe, koedoe kang titi. Perkara ketjepetan ora soesah disinaoe, mengko jen wis koelina mesti bisa tjepet dewe.” Kecermatan diperlukan ketimbang tergesa-gesa dalam menggerakkan jari-jari di huruf-huruf yang ditentukan. Masalah kecepatan tidak perlu dipelajari mati-matian. Yang terbiasa mengetik nanti bakal mengetahui kecepatannya. Pembiasaan penting ketimbang bernafsu untuk cepat tapi sering membuat kesalahan.
Pada masa lalu, benda menghasilkan tulisan di kertas itu berkesan mahal. Benda yang cuma berurusan dengan kaum terpelajar. Benda yang berada di kantor-kantor dengan beragam kemodernan. Benda datang dari negeri-negeri jauh, terutama Eropa. Di tanah jajahan, orang yang mengetik tampak sebagai tokoh yang berani mengubah nasib, mengubah dunia, dan mengubah sejarah.
Siapa yang membuat buku? Apakah ia terbukti turut dalam mengubah arus sejarah (teknologi-menulis) di Indonesia? Pembaca wajib melihat fotonya yang gagah dan terdidik. Di halaman awal ada fotonya, yang menampilkan M Soewardjo dalam posisi berdiri mengenakan jas. Ia mungkin berfoto di studio. Pilihan pakaian warna putih mengartikan sosok modern yang sadar hikmah-hikmah Barat. Foto ikut menjadi penjelasan bahwa yang mengetik adalah manusia modern atau manusia yang mencipta masa depan.
___________________
Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.
