Oleh: Ramdhan S.

Konon, pahlawan itu bertubuh tegap, tak ada rasa takut, otot kawat tulang baja, dan mustahil masuk angin. Kira-kira demikian gambaran sejarah yang diajarkan di sekolah dasar. Penulis beruntung mengenal sejarah bukan hanya dari ruang kelas. Sejarah pertama yang ditemui datang diam-diam, lewat sebuah buku tebal berkertas minyak. Buku itu tersimpan di rumah, di kamar tengah di bawah poster F. Totti, Montella, Batisuta dan beberapa pemain bola top liga Italia lainnya.
Bapak tak pernah bercerita dari mana datangnya buku itu, dan ibu hanya memberi pesan sederhana, “Kalau mau baca, jangan bawa keluar rumah.” Masih teringat jelas peringatan itu. Sebab, ibu menambahkan alasan yang tak bisa dianggap main-main: tetangga kita pernah ditangkap aparat gara-gara buku serupa. Meski tak mengerti, tidak juga banyak tanya. Reformasi telah digaungkan beberapa tahun silam, mungkin ibu masih terbayang Orde Baru. Razia buku sebagai alat bukti kejahatan dan tindak pidana.
Pada masa itu, diperkirakan penulis masih duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar. Membaca dengan terbata-bata tapi ingatannya meresap. Membaca bukan hanya kegiatan mencari informasi tapi semodel uji nyali.
Di dalam buku rahasia, ada foto-foto peristiwa sejarah yang kelak diketahui sebagai catatan hitam negeri ini. Dari naskah Ploklamasi, Supersemar, Ade Irma Suryani, Aidit sampai Lapangan Monas dan tukang becak istana. Ada juga barisan demonstran dengan karangan bunga dan foto lelaki muda bertulisan Arif Rachman Hakim. Gambar itu menempel di kepala lebih kuat daripada semua pelajaran Pendidikan Moral Pancasila. Arif, seorang mahasiswa kedokteran tewas saat demonstrasi Tritura 1966. Ditembak atau tertembak aparat tergantung sumber sejarah yang mana. Konon, tubuhnya tergeletak bersimpah darah di antara antara lautan manusia.
Mereka yang sering menghapal nama jalan pasti tidak asing. Ia sudah terpampang menjadi nama jalan. Tentu saja, kemudian hari kita tahu Arif Rachman Hakim diabadikan menjadi pahlawan Ampera, namanya menjadi masjid di Kampus UI Salemba, dan perpustakaan di Sumatera. Seakan dengan memberi nama, negara telah membayar utangnya.
Bertahun-tahun kemudian, kita kembali membaca berita yang mirip. Meski sama berwarna hitam putih, kali ini menggunakan filtel Instagram dan Tik-Tok.
Nama dan situasi berbeda, tapi akhir cerita serupa. Seorang pengemudi ojek daring, Affan Kurniawan tewas, bukan oleh peluru karet atau timah panas, melainkan roda mobil Brimob dalam demonstrasi yeng berakhir kacau itu. Ditabrak atau tertabrak, terlindas atau dilindas tergantung siapa yang bicara.
Usianya muda, penuh semangat, barangkali masih sering bercanda tentang perempuan cantik dan masa depan negeri. Kabar itu menohok, seakan membuka kembali halaman buku minyak yang dulu sudah hilang.
Bedanya, kali ini berita muncul lewat gawai, bukan buku rahasia. Bedanya pula, tidak ada yang memperingatkan saya untuk jangan membawanya keluar rumah. Namun, ironisnya, justru di zaman bebas informasi, nama Affan terasa cepat menguap. Ia tinggal di batu nisan, di duka keluarga, di linimasa media sosial yang tak butuh waktu sehari untuk pindah topik.
Di era Reformasi jalanan adalah ruang kuliah terbesar. Di media sosial hari ini, kerumunan bergeser ke trending topic, tapi pola dasarnya sama: ramai-ramai membuat kita merasa kuat, sekaligus rawan kehilangan kendali.
Kita tidak sedang berbicara para demonstran saja, aparat yang pun demikian.
Tak heran bila demonstrasi kerap berubah arah. Maksudnya menuntut keadilan, ujung-ujungnya terbakar amarah. Niatnya bertugas dan menertibkan akhirnya rakyat dianggap musuh. Tentu, selalu ada cerita tentang penyusup atau provokator. Tapi bahkan tanpa mereka, kerumunan itu sendiri punya daya yang bisa mengguncang logika. Ada yang bersorak sambil memecahkan kaca, ada yang menyalakan api, ada pula yang tiba-tiba menjadi korban hanya karena kebetulan berada di jalur salah.
Durkheim, yang namanya selalu muncul di buku kuliah boleh saja bicara tentang kerumunan dan hilangnya individualitas, tapi kita lebih senang menyebutnya peristiwa kesetanan.
Beberapa setelah peristiwa itu, selain Affan, ada pula sembilan nama lain yang hilang tanpa memorial. Mereka bukan orator, bukan pemimpin massa, hanya orang-orang biasa yang sial terjebak ketika kerusuhan membakar fasilitas umum. Ada yang terperangkap asap, ada yang pulang tak pernah sampai rumah. Namun berita tentang mereka lebih cepat padam daripada api yang menghanguskan gedung dan halte.
Mungkin inilah yang paling menyakitkan: mati tanpa nama.
Arif Rachman Hakim pantas, katanya, karena ia simbol perlawanan terhadap rezim. Namun, bagaimana dengan Affan Kurniawan? Tidak usah terburu-buru berprasangka buruk. Kita tunggu saja. Sebab, pemerintah sedang sibuk dengan pergantian menteri dan perbaikan gizi anak.
Sejarah Indonesia pasca kemerdekaan, kalau mau jujur, adalah catatan kerumunan. Dari kampanye raksasa menjelang pemilu, parade militer, demonstrasi mahasiswa, kupon daging kurban sampai antrean gas elpiji miskin. Kita adalah bangsa yang percaya bahwa bersama-sama kita bisa mengguncang. Tapi bersama-sama pula kita sering lupa, bahwa di tengah lautan manusia itu ada individu yang bisa lenyap begitu saja.
Mungkin benar, bangsa ini pandai mencatat nama pahlawan, tapi lalai menulis nama korban. Kita punya jalan protokol, gedung megah, bandara internasional dengan nama besar. Tapi coba hitung berapa banyak Affan yang tak diingat, mati dalam kerusuhan dan tak pernah masuk buku pelajaran?
Kita tidak sedang menuntut semua nama dijadikan monumen. mustahil. Namun, setidaknya, kita bisa menolak lupa. Kita bisa menolak menganggap kematian sebagai angka statistik. Kita bisa mengingat, meski hanya lewat cerita bahwa pernah ada anak muda bernama Affan yang bermimpi hidup lebih panjang.
Sekarang, buku minyak itu sudah hilang entah ke mana. Barangkali dimakan rayap, barangkali dijual kiloan bersama kertas-kertas tua. Namun, anehnya, justru kehilangan itulah yang membuat hadirnya tulisan ini. Buku bisa lenyap, tapi ingatan tidak.
Kita membayangkan, suatu hari, kalau ada anak kecil membuka buku sejarah di rumahnya, ia tidak hanya menemukan nama Arif Rachman Hakim. Kita menginginkan ingin ia juga membaca nama-nama lain, yang selama ini terkubur tanpa memorial. Affan Kurniawan, dan semua korban anonim yang tak sempat ditulis di prasasti.
Sebab kalau tidak, kita hanya akan mengulang pola lama: melahirkan pahlawan dengan satu nama, lalu membiarkan ratusan nama lain larut seperti debu.
Arif Rachman Hakim memang sudah diabadikan. Ia hidup dalam monumen, dalam narasi resmi, dalam halaman buku pelajaran. Tapi saya berharap, Affan Kurniawan tidak berhenti di batu nisan. Semoga ada yang terus menyebut namanya, meski hanya dalam percakapan kecil, dalam tulisan sederhana, atau dalam doa yang lirih.
Melawan gas air mata, tembakan aparat, apalagi mobil baja kita tidak mampu, tapi menolak lupa bisa diupayakan.
___________________
Ramdhan S. Tukang roti di Jakarta
