
Pada suatu masa, anak-anak di depan televisi melihat gambar yang bergerak. Gambar itu huruf-huruf, yang anak-anak mengucapnya “te ve er i”. Mereka sedang menatap huruf-huruf yang menjelaskan misi pemerintah. Yang terdengar sedikit senandung merdu: “TVRI, menjalin persatuan dan kesatuan.”
Di jalan atau kelas, anak-anak itu mengulang yang terdengar saat menonton televisi. Mereka sebenarnya terpapar propaganda “murahan” yang diadakan TVRI sebagai kepanjangan tangan rezim Orde Baru. Dulu, menonton televisi inginnya mendapat hiburan. Namun, pesan-pesan yang disampaikan pemerintah melalui beragam acara terlalu kuat dan “memaksa”. Jadinya, penonton yang masih anak-anak perlahan “jinak” sekaligus membenarkan apa-apa yang diinginkan oleh televisi.
Mereka ingin menjaga persatuan agar tetap boleh menonton TVRI. Mereka bingung dengan pengertian “kesatuan”. Apakah itu sama atau beda dengan persatuan? Yang belajar bahasa Indonesia di kelas agak mengerti: persatuan itu kata dasarnya satu dan kesatuan itu kata dasarnya satu. Mengapa pihak TVRI menggunakan persatuan dan kesatuan, tidak cukup satu saja? Pilih saja persatuan atau kesatuan.

Anak-anak malu menanyakan kepada bapak, ibu, kakek, nenek, bibi, tetangga, atau guru. Yang pernah mengalami masa 1960-an mudah menjelaskan kesatuan. Ia memulainya dengan penamaan organisasi-organisasi yang beranggotan pelajar atau mahasiswa. Dulu, ada organisasi yang dinamakan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). Banyak yang memilih “kesatuan” meski ada yang pilihannya adalah “persatuan”. Kaum yang tua mencontohkan PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Pokoknya, anak-anak dibuat bingung oleh persatuan dan kesatuan meski tetap sregep menonton acara-acara di TVRI, sebelum ada saingan RCTI, SCTV, TPI, dan Indosiar.
Anak-anak yang menonton TVRI pelan-pelan belajar bahasa Indonesia. Banyak acara dan film yang menggunakan bahasa Indonesia. Di desa, anak-anak terbiasa berbahasa Jawa mulai menirukan tokoh-tokoh yang tampak di televisi. Mereka mulai menambahkan kata-kata di kepalanya untuk terucap lewat mulut berupa bahasa Indonesia. Pengucapan yang masih malu-malu. Pengaruh terasakan saat belajar di kelas. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dan pemberian pelajaran bahasa Indonesia membuat anak-anak mulai ikhlas masuk dalam “kubangan” bahasa Indonesia. Yang fasih berbahasa Indonesia dianggap pintar. Selanjutnya, ia diakui menganut kebudayaan kota atau modern.
Lupakan masa anak-anak dan TVRI! Kita ingin memasuki buku yang berjudul Bahasa Persatuan: Kedudukan, Sedjarah, Persoalan-Persoalannja (1964) susunan Zuber Usman. Buku yang diterbitkan Gunung Agung berasal dari garapan ilmiah di universitas. Jadi, kita sedang membaca buku yang ilmiah, tidak ada bohong-bohongan atau setumpuk bualan. Siapa mau membuktikan?

Buku terbit sebelum Indonesia terganggu persatuannya dalam malapetaka 1965. Pada masa terdahulu, persatuan Indonesia sering mendapat gangguan yang menimbulkan darah, air mata, kematian, dan lain-lain. Pada masa yang sulit, para tokoh politik malah berdebat mengenai “persatuan” dan “persatean”. Perbincangan berdasarkan perbedaan ideologi dan persaingan meraih kekuasaan. Dulu, persatuan itu politis! Artinya, segala bentrok, perselisihan, pemberontakan, dan perlawanan itu bersumber dari pemaknaan revolusi?
Zuber Usman salah atau khilaf membuat judul? Ia mungkin pernah yakin banget Indonesia terus berkembang dan maju asal menjaga persatuan. Keyakinan berdasarkan fakta-fakta. Ia tidak sedang berkhayal bahwa persatuan itu abadi. Indonesia akan terus bersatu sampai kiamat!
Pada 1949, kedaulatan Indonesia diakui oleh Belanda. Situasi tetap tak menentu. Zuber Usman memiliki rutinitas mengisi acara di RRI dinamakan “Rudjak Bahasa”. Kita lekas mengingatnya itu makanan. Yang diurus Zuber Usman adalah bahasa, bukan makanan yang segar dan pedas. Penjelasan: “Tudjuan siaran itu jang sebenarnja ialah untuk mengawasi dan memberi djalan kepada pertumbuhan bahasa Indonesia, disamping menjelidiki sedjarah, membukakan aliran dan memberi arah kepada kemungkinan-kemungkinan jang dapat ditjapai pada masa jang akan datang.” Tujuan yang mulai saat bahasa Indonesia sudah tercantum dalam UUD 1945 dan diajarkan di sekolah-sekolah. Yakinlah bahwa Zuber Usman sedang melaksanakan tugas yang mulia, bukan mengikuti jalan khayalan.
Zuber Usman mengenang: “Tahun-tahun permulaan itu merupakan tahun-tahun peralihan. Chusus dalam lapangan bahasa, kita harus memerangi unsur-unsur Hollandisme, sungguh pun bangsa kita telah berhasil menumbangkan pendjadjahannja dan dibidang lain kita harus pula berhadapan dengan golongan kolot jang berpaham pitjik, jang hendak memegang teguh ukuran atau pola bahasa Melaju.” Bayangkanlah sejarah bahasa Indonesia sangat ditentukan politik dan ketangguhan para intelektual dalam bertengkar demi kemajuan bahasa yang dianggap masih muda.

Yang membaca buku mula-mula bersemangat ingin mengetahui sejarah bahasa Indonesia. Namun, yang terbaca adalah sejarah kerajaan-kerajaan. Zuber Usman “berbohong”. Judul bukunya tidak tepat. Ia bertele-tele menyuguhkan sejarah beragam kerajaan, sebelum beralasan bahwa sejarah itu menentukan perkembangan bahasa Melayu, yang nantinya “dijadikan” bahasa Indonesia.
Kecewa! Pembaca mengaku kecewa setelah merasa “dibohongi”. Yang diceritakan dalam buku adalah sejarah yang bukan bercap “persatuan”. Situasi berbeda saat masa kolonial. Gagasan persatuan bertumbuh di kalangan politik, intelektual, seniman, dan lain-lain. Apakah “persatuan” sudah tercantum dalam teks-teks dibuat dalam Kongres Pemuda I (1926), Kongres Pemuda II (1928), dan Kongres Bahasa Indonesia I (1938) dengan maksud menentukan kedudukan bahasa Indonesia?
Di bab enam, kita membaca penjelasan tentang “pembentukan” bahasa Indonesia. Anehnya, Zuber Usman pintar mengutip pendapat-pendapat dari tiga sarjana Belanda. Pengutipan ada yang berasal dari bahasa Belanda. Zuber Usman menegaskan bahwa usaha menulis sejarah dan perkembangan bahasa Indonesia tetap memerlukan hasil studi para sarjana Belanda dan pejabat Belanda pada akhir abad XIX dan awal abad XX. Namun, kita tetap diingatkan setelah pengakuan kedaualatan (1949) harus terjadi pengurangan pengaruh Hollandisme.

Kita percaya saja Zuber Usman sudah mati-matian mencari kepustakaan dalam menyusun buku berjudul Bahasa Persatuan. Buktinya, ia memberi catatan kejadian dan pemaknaannya: “Bulan Mei 1918, Dewan Rakjat (Volksraad) dilantik. Waktu itu jang dipakai ialah bahasa Belanda. Maka timbullah pikiran diantara anggota bangsa Indonesia untuk mempunjai bahasa persatuan. Tjita-tjita kesatuan nasional mulai terasa. Segera, anggota-anggota bangsa Indonesia menjetudjui supaja bahasa Melaju, jang sesungguhnja telah dipakai pemerintah dalam perhubungan dengan rakjat dan radja-radja untuk negeri, didjadikan bahasa pengantar disamping bahasa Belanda.” Usaha menentukan titik-titik sejarah terpenting. Kita menerimanya itu kerja ilmiah, bukan kerja imajinasi. Titik sejarah yang jarang disampaikan saat pelajaran bahasa Indonesia di SMP dan SMA.
Yang berperan besar dalam perkembangan bahasa Indonesia adalah Balai Pustaka. Pengakuan yang inginnya tidak politis. Namun, kita sadar jika penerbit itu malah politis banget, bentukan pemerintah kolonial Belanda. Konklusi yang dibuat Zuber Usman: “Dengan demikian, Balai Pustaka dapatlah dikatakan dari sedjak berdirinja dengan giat dan sadar terus menjalurkan serta menentukan tjorak bahasa Indonesia, disamping usahanja menjebarkan bahasa itu keseluruh pendjuru Nusantara…” Penyebarannya menggunakan buku dan majalah. Pengakuan yang berlebihan bahwa Balai Pustaka (sangat) berjasa untuk perkembangan bahasa Indonesia. Kita boleh tidak percaya?
Kita akhiri membaca buku yang “mengecewakan” dengan mengutip paragraf di halaman 103, yang mengandung harapan muluk: “… berdasarkan bukti sedjarah dan mengingat sifat-sifat kesederhanaan serta unsur-unsur jang praktis dalam bahasa Indonesia, serta kedudukan Republik Indonesia jang berpolitik bebas dan aktif, bahasa kita akan mendjadi bahasa jang penting dan kuat diantara bahasa-bahasa jang ada di Asia-Afrika.” Pembaca boleh mengucap “amin” atau melongo selama lima menit.
___________________
Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.
