
Tempat: Sebuah warung kopi di pojok langit. Wiji Thukul telah datang lebih dulu, mengenakan kaus oblong bertuliskan “Lawan!” dan sandal jepit. Ia memesan kopi tubruk, tanpa gula. Kami duduk di bangku kayu, dengan asap rokok yang menggantung malas di udara.
Pewawancara: Mas Wiji, pertama-tama, apa kabar? Di sana masih tetap melawan?
Wiji Thukul: Kabarku ya begini-begini saja. Hidup di alam antara setengah jadi poster, setengah jadi hantu. Tapi tidak apa, toh puisiku masih hidup. Lagipula, di negeri ini yang mati kadang justru lebih cerewet daripada yang hidup.
Pewawancara: Sudah banyak penyair baru bermunculan. Apa Mas Wiji masih sempat baca-baca puisi mereka?
Wiji Thukul: Kadang aku nyelinap ke rak-rak toko buku. Jadi bayangan. Kubaca diam-diam. Ada yang bagus, ada yang bikin aku ingin mati dua kali. Banyak yang sibuk bermain metafora, tapi lupa bagaimana rasanya lapar.
Pewawancara: Wah, agak pedas ini, Mas.
Wiji Thukul: Nggak pedas, cuma jujur. Kalau puisimu bisa dijadikan nasi bungkus buat tukang becak yang baru pulang narik, itu puisi yang benar. Tapi kalau puisimu cuma cocok dibacakan di kafe dengan lampu temaram dan suara musik pelan, ya itu mungkin bukan puisi. Itu dekorasi.
Pewawancara: Puisi-puisi sekarang bukan di kertas, Mas. Koran pada tutup.
Wiji Thukul: Ah, kau ini. Aku tahu. Itu hanya pengandaian.
Pewawancara: Tapi bukankah puisi memang punya banyak rupa, Mas? Ada yang eksperimental, ada yang spiritual, ada yang visual.
Wiji Thukul: Iya, aku ngerti. Tapi banyak penyair sekarang terlalu sibuk mengukir bentuk sampai lupa isi. Puisinya indah, tapi kosong. Seperti lemari kaca tanpa piring. Atau lebih parah: seperti seminar tentang kemiskinan di hotel bintang lima.
Pewawancara: Jadi Mas merasa puisi-puisi sekarang terlalu estetis?
Wiji Thukul: Estetis boleh. Tapi jangan sampai jadi topeng untuk menutupi bahwa kamu tidak punya sikap. Aku nggak minta semua penyair jadi aktivis. Tapi kalau puisimu bisa dibaca tanpa bikin orang mikir apa-apa, itu artinya kamu berhasil menulis tanpa mengganggu siapa-siapa. Dan itu bahaya.
Pewawancara: Bahaya?
Wiji Thukul: Iya. Kekuasaan itu senang sekali pada puisi yang tidak menggugat. Puisi yang bisa dijadikan kutipan instagram pejabat. Puisi yang seperti teh manis: nyaman, sopan, dan cepat dilupakan. Padahal puisi seharusnya seperti kopi pahit: bikin melek dan kadang bikin mules.
Pewawancara: Kalau begitu, bagaimana harapan Mas terhadap perkembangan puisi sekarang?
Wiji Thukul: Harapanku sih sederhana. Biar puisi kembali ke rakyat. Kembali ke jalan. Jangan terlalu sering ngumpet di ruang diskusi ber-AC. Aku pengen lihat puisi dicoretkan di tembok, diteriakkan di demo, disisipkan di selebaran pasar. Bukan sekadar dibukukan, diluncurkan, lalu difoto dengan latar bunga plastik.
Pewawancara: Tapi ada juga penyair muda yang berani bicara soal ketimpangan, Mas.
Wiji Thukul: Benar. Dan itu menyenangkan. Tapi mereka kadang tenggelam di antara penyair-penyair yang sibuk merapikan rima seperti tukang cukur. Yang lebih penting dari berani adalah konsisten. Banyak yang berani hari ini, besok jadi buzzer.
Pewawancara: Jadi Mas menganggap puisi itu harus punya keberpihakan?
Wiji Thukul: Harus. Puisi yang netral itu mitos. Seperti wartawan yang katanya objektif padahal disokong iklan. Bahkan diam pun sikap. Kalau kau diam di depan ketidakadilan, berarti kau sudah memilih berpihak. Hanya saja pada pihak yang salah.
Pewawancara: Jadi bagaimana bentuk puisi yang baik menurut Mas?
Wiji Thukul: Puisi yang bikin orang biasa merasa didengar. Bikin buruh pabrik merasa dia tidak sendirian. Puisi yang bikin mahasiswa nggak cuma sibuk bikin skripsi, tapi juga mikir: “Kok harga kosanku makin mahal, ya?”
Pewawancara: Mas Wiji, kalau boleh menanggapi sedikit, sekarang pemerintah seenaknya menentukan pajak. Kadang rakyat kecil diperas, sementara pengusaha besar dapat keringanan. Apa tanggapan Mas?
Wiji Thukul: Pajak itu seharusnya gotong royong. Tapi di negeri ini, gotong royong artinya rakyat yang gotong, pejabat yang borong. Rakyat kecil ditagih pajak macam-macam, sementara konglomerat bisa tidur nyenyak karena dapat insentif investasi. Itu bukan pajak, itu perampokan yang pakai jas.
Pewawancara: Tapi katanya demi pembangunan, Mas.
Wiji Thukul: Ah, kata pembangunan itu sering jadi jimat. Padahal yang dibangun cuma gedung-gedung mewah, sementara jalan ke kampung masih becek. Kalau benar demi pembangunan, kenapa rumah rakyat bocor tiap hujan? Jadi pertanyaannya bukan pajak untuk apa, tapi pajak untuk siapa.
Pewawancara: Baik. Kita geser sedikit. Apa Mas Wiji mengikuti berita tentang korupsi dan nepotisme yang masih merajalela?
Wiji Thukul: Tentu. Itu acara rutin. Seperti sinetron tapi bintangnya selalu sama. Bedanya, kalau sinetron bisa tamat, korupsi kita kayak serial tak berkesudahan. Aku yakin, kalau nanti dinosaurus hidup lagi, berita pertama yang mereka baca adalah: Anak pejabat ditangkap KPK, tapi dilepas karena tidak cukup bukti dan terlalu muda untuk paham hukum.
Pewawancara: Ada satu kasus lucu, Mas. Seorang pejabat bilang tidak bisa menjelaskan asal uangnya karena katanya “dikasih Tuhan”. Tanggapan Mas?
Wiji Thukul: Nah itu! Tuhan sering dijadikan kambing hitam oleh orang yang takut jadi kambing beneran di pengadilan. Kalau Tuhan beneran kasih uang segitu banyak, kenapa bukan ke juru sapu sekolah atau ibu-ibu penjual nasi uduk? Kadang aku yakin Tuhan pun bingung: “Ini siapa yang bilang aku ngasih itu?”
Pewawancara: Jadi menurut Mas, humor bisa jadi cara melawan?
Wiji Thukul: Tentu! Humor itu alat subversif. Ketika kamu menertawakan kekuasaan, kamu sedang mencabut jubah sakralnya. Dulu aku menulis puisi. Sekarang mungkin aku akan bikin stand-up di pasar, temanya: Cara Menjadi Pejabat Tanpa IQ. Bayangkan betapa lucunya kalau rakyat tertawa sambil sadar bahwa mereka sedang dijahili.
Pewawancara: Mas, kalau boleh jujur, banyak orang sekarang mulai apatis. Capek. Merasa percuma marah-marah. Apa Mas punya pesan?
Wiji Thukul: Apatis itu bukan dosa. Itu tanda luka yang dalam. Tapi jangan biarkan luka jadi lumpur. Kita boleh lelah, tapi jangan kehilangan rasa geli terhadap ketidakadilan. Selama kita masih bisa menertawakan kebohongan, berarti kita belum kalah sepenuhnya. Jangan biarkan negara mengatur sampai kapan kamu boleh tertawa.
Pewawancara: Mas, terakhir. Kalau sekarang Mas punya akun media sosial, apa yang bakal Mas unggah pertama?
Wiji Thukul: Mungkin foto sandal jepitku yang bolong. Lalu kutulis: Sandal ini sudah lebih jujur daripada pejabat yang sepatunya selalu mengkilap. Atau video aku baca puisi di WC umum sambil nyemprot pewangi, dengan caption: Inilah tempat paling bersih di negeri yang suka pura-pura wangi.
Pewawancara: Ada pesan khusus untuk penyair muda?
Wiji Thukul: Tentu. Jangan takut bikin puisi yang jelek asal jujur. Daripada bikin puisi indah tapi palsu. Jangan sibuk mengutip Derrida kalau kamu belum pernah ngobrol dengan tukang parkir. Dan yang paling penting: jangan jadi penyair yang takut kehilangan undangan baca puisi. Lebih baik kehilangan panggung daripada kehilangan hati nurani.
Pewawancara: Terakhir, Mas. Kalau Mas bisa turun lagi ke dunia, apa yang akan Mas lakukan pertama kali?
Wiji Thukul: Aku akan ke pasar, beli bakwan, terus duduk di emperan dan baca puisi pakai toa. Biar semua orang denger. Biar mereka tahu: kata-kata belum mati. Dan selagi masih ada ketidakadilan, kata-kata juga belum boleh istirahat.
Pewawancara: Terima kasih, Mas Wiji. Salam untuk langit.
Wiji Thukul: Jangan cuma salam. Lawan juga!
