Dunia Menulis

Jatuh Cinta Lagi dan Lagi

Ada yang lebih menegangkan daripada ditolak pacar, yaitu menunggu kabar dari redaksi setelah kita kirim cerpen. Karena pacar biasanya bilang, “Maaf, kita berteman saja,” sedangkan redaksi? Bahkan tidak bilang maaf.

Mari kita mulai dari awal. Setelah cerpen selesai, entah lahir dari tangis tengah malam, gerutu di warung kopi, atau inspirasi dari gorengan terakhir yang tak kau bagi, yang perlu kau lakukan adalah mengeceknya ulang. Baca lagi. Baca pelan. Baca keras. Temukan titik yang loncat, koma yang narsis, atau tokoh yang tiba-tiba ganti kelamin. Rapikan semua. Percayalah, typo bisa bikin cerpenmu terjun bebas tanpa parasut.

Setelah naskah rapi, jangan lupa bionarasi. Cukup 2–3 kalimat. Jangan curhat perjalanan spiritual dari SD sampai jadi penulis. Cukup siapa kamu, pernah nulis di mana, dan sedang tinggal di mana. Tambah nomor WA, buat berjaga siapa tahu redaktur tiba-tiba sayang. Kalau perlu, selipkan foto diri. Biar redaktur tahu kamu manusia, bukan akun palsu dari planet Saturnus.

Kalau ingin sekalian bawa doa, tambahkan nomor rekening. Serius. Banyak media butuh itu untuk transfer honor. Jangan sampai cerpenmu dimuat, honormu cair, tapi rekeningmu tak jelas. Lalu kamu bikin status galau: Karya sudah dimuat, tapi hidup tetap miskin. Ya jelas.

Di email, tulis subjek: Cerpen – Judul – Nama Penulis. Bukan: File Terbaik Saya, Tolong Dong Dimuat, apalagi: Mau Kaya Lewat Cerpen Ini. Jangan. Gunakan kalimat pengantar yang manusiawi dan bersahabat. Tak perlu menyembah redaktur, apalagi mengancam kalau tidak dimuat kamu akan berhenti menulis. Jangan sok Romeo.

Contoh pengantar yang sehat mental:

Selamat pagi Redaksi,

Bersama ini saya kirimkan satu cerpen berjudul: Langit.

Semoga berkenan. Terima kasih atas waktu dan perhatiannya.

Lalu tutup dengan nama dan kontakmu. Setelah semua lengkap, klik kirim. Dan di sinilah tragedi dimulai: fase menunggu.

Ini fase di mana banyak penulis tersesat. Ada yang mengecek email tiap jam. Ada yang membaca ulang cerpennya, curiga, “Ah, mungkin salah di kalimat ketiga.” Ada juga yang langsung pacaran biar punya kesibukan baru.

Padahal ada satu prinsip sakti: Buat. Kirim. Lupakan. Dan seterusnya.

Jangan terlalu sayang pada cerpenmu. Sekalipun kamu menulisnya sambil berdarah-darah, tetap, nasibnya di luar kuasamu. Setelah dikirim, anggap ia seperti surat cinta yang kau masukkan ke botol lalu lempar ke laut. Kalau tak sampai-sampai kabarnya, ya sudah. Jangan marah. Jangan cari redakturnya lalu kirim pesan: Kok nggak dimuat sih, Mas? Itu pamali. Itu mencoreng wajah para penulis baik-baik.

Kecuali kamu sedang ikut lomba yang tenggat sudah lewat dan tak ada pengumuman apa-apa. Atau kamu butuh konfirmasi karena naskahmu sudah waktunya boleh dikirim ke media lain. Nah, kalau seperti itu, bolehlah kontak. Tapi tetap dengan sopan, jangan pakai nada serbu atau menekan.

Ada satu ironi: semakin kamu tidak berharap, justru kadang kabar baik datang. Sering kali penulis yang sibuk menulis lagi justru mendapatkan email: Cerpen Anda akan dimuat minggu depan. Dan mereka pun bilang, “Hah? Yang mana, ya?” lalu scroll folder kiriman karena sudah lupa naskahnya yang mana.

Menjadi penulis itu seperti jatuh cinta berulang kali. Bukan pada orang, tapi pada proses. Pada kata-kata yang tak selalu patuh. Pada tokoh yang kadang lebih keras kepala dari mantan. Tapi itulah cinta. Dan cinta, sebagaimana cerpen, kadang ajaib. Ia bisa membawamu ke halaman majalah, ke meja pembaca, bahkan ke hati orang yang tak kau kenal, tapi tiba-tiba mencintai caramu bercerita.

Pernah seorang pembaca menghubungi penulis karena merasa hidupnya berubah setelah membaca cerpennya. Padahal, cerpen itu pernah ditolak di empat media sebelumnya. Lucu, ya? Mungkin semesta memang sedang bercanda saat itu. Atau sedang menyusun teka-teki yang belum kita mengerti.

Yang pasti, jangan pernah berhenti menulis. Jangan biarkan satu, dua, atau sepuluh penolakan mencabut kecintaanmu pada menulis. Bahkan kalau cerpenmu ditolak terus, ya tulis lagi. Kirim lagi. Lupakan lagi. Sampai akhirnya, naskahmu punya rumah, dan kamu tahu bahwa semua itu proses, semua klik kirim dan semua masa tunggu, namun semua itu tidak pernah sia-sia.

Ada yang bilang, penulis sejati itu bukan yang naskahnya selalu dimuat, tapi yang tidak berhenti menulis bahkan setelah ditolak berkali-kali. Dan yang seperti itu, bisa jadi kamu.

Jadi jangan terlalu kencang menggenggam naskahmu. Jangan terlalu tegang menunggu. Percayalah, redaktur juga manusia. Mereka bukan Tuhan. Kadang mereka kehabisan kopi, kadang sedang stres, kadang tidak sengaja melewatkan karya bagus karena mata sudah lelah.

Maka, nikmatilah proses itu. Buat cerpenmu secantik mungkin. Kirimkan dengan doa, dan jangan lupa: buat, kirim, lupakan. Lalu jatuh cinta lagi. Pada cerita baru. Pada kalimat baru. Pada kemungkinan baru yang menunggu di ujung naskah selanjutnya.

Karena dalam dunia menulis, siapa pun yang bersabar dan bersetia, akan menemukan keajaiban. Bahkan dari kata yang awalnya tampak biasa. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *