
Setelah kita tahu gambaran hidup seorang penulis, lalu akan ada pertanyaan sakral yang biasanya muncul saat sepi datang: “Apakah nanti ada orang yang mau mencintai penulis dengan tulus?”
Saya ingatkan lagi, maksud penulis di sini bukan penulis terkenal dengan jutaan pengikut dan royalti mengalir seperti mata air abadi dari pegunungan. Bukan juga penulis yang tiap kalimatnya bisa dijual sebagai kutipan motivasi oleh akun-akun Instagram bertema healing. Tapi penulis yang biasa-biasa saja. Yang hidupnya lebih akrab dengan mie instan, yang tabungannya lebih sering menipis daripada mengembang, yang daftar pencapaian finansialnya bisa disalin ke kertas memo dan masih ada sisa ruang kosong. Adakah yang mau?
Mari kita perjelas dulu satu hal, penulis itu bukan makhluk dari dimensi gaib yang menulis karena ingin terkenal, kaya, atau dikejar brand skincare untuk jadi bintang iklan. Tidak semua penulis punya ambisi tampil di layar kaca sambil membaca puisi diiringi piano melankolis. Banyak dari mereka justru menulis karena, ya karena harus. Bukan harus dalam arti dipaksa, tapi karena itulah satu-satunya jalan agar mereka tidak meledak oleh semua kegelisahan yang berserakan di kepala.
Tapi tetap saja, pertanyaan itu menghantui: siapa yang mau mencintai seseorang yang tiap malamnya duduk sendiri menatap layar kosong, berharap ide datang seperti hujan di musim kemarau?
Dalam sistem kapitalisme cinta masa kini, di mana kriteria pasangan ideal mencakup rumah minimalis, gaji dua digit, dan feed Instagram yang estetik, penulis seringkali kalah sebelum bertanding. Terutama penulis yang belum jadi siapa-siapa. Yang bahkan e-KTP-nya pun belum sempat dipakai untuk ngajuin kontrak buku. Yang CV-nya lebih banyak diisi daftar penolakan cerpen daripada penghargaan literasi.
“Dia kerjanya apa?” “Penulis.” “Oh, tapi beneran kerja kan?” Dengarlah, itu bukan tanya. Itu tamparan. Kadang cinta di zaman ini rasanya seperti lelang. Siapa yang punya saldo lebih tebal dan pengikut lebih banyak, dia yang menang. Penulis? Masuknya ke kategori barang antik. Apresiasi ada, tapi belum tentu dibeli.
Namun, marilah kita sampaikan satu hal yang agak manis (meskipun hidup penulis tak selalu demikian): selalu ada keajaiban dalam cinta. Karena cinta sejati, percaya atau tidak, tidak pernah peduli rekening.
Cinta sejati bisa datang diam-diam, tanpa memperhitungkan apakah ia akan diajak jalan-jalan ke Eropa atau hanya nongkrong di warung kopi pinggir jalan. Ia akan melihat cara si penulis memandang dunia. Ia akan mendengar bagaimana penulis berbicara tentang rasa sakit dengan kalimat yang penuh empati. Ia akan jatuh hati pada cara si penulis memeluk luka lewat narasi.
Pada akhirnya, akan ada banyak orang mencari yang hangat, bukan yang mewah. Mencari yang bisa mendengarkan, bukan sekadar yang bisa mentraktir makan malam di restoran Jepang.
Tapi tentu, menjadi penulis bukan berarti otomatis jadi pahlawan cinta. Tidak semua penulis puitis dalam tindakan. Ada juga yang saking seringnya menulis, lupa membalas pesan pasangannya. Ada pula yang lebih sibuk mengurusi nasib tokoh cerpen daripada nasib hubungan nyata. Ada yang waktu malamnya habis bukan untuk bercumbu, tapi untuk memikirkan kenapa ending cerpennya begitu hambar. Iya, penulis juga menyebalkan. Tapi bukankah itu juga manusiawi?
Justru karena ke-tidak-sempurnaannya itulah, mencintai penulis adalah perkara memilih jatuh hati pada seseorang yang rela miskin uang asal kaya makna. Yang rela lapar demi menulis satu paragraf yang menggetarkan. Yang menghibur hatinya sendiri saat dunia terlalu senyap.
Mereka mungkin tidak bisa memberimu berlian, tapi mereka bisa memberimu cerita. Mereka mungkin tak punya rumah megah, tapi bisa membangunkan rumah-rumah makna dalam hatimu. Dan coba kau temukan yang seperti itu dalam promo Shopee.
Lucunya, banyak orang ingin dicintai karena dalam. Tapi begitu ketemu penulis yang dalamnya seperti sumur tua, mereka kabur. Mungkin karena kedalaman itu menuntut keberanian. Keberanian untuk mencintai seseorang bukan dari saldo rekeningnya, tapi dari bagaimana ia menghidupkan dunia dengan kata-kata.
Hai, mari kita tertawa sedikit: tak semua penulis itu galau dan minum kopi tiap malam. Ada juga penulis yang sukanya nonton stand-up comedy sambil makan cilok. Yang nulisnya soal patah hati, tapi tertawanya paling keras di tongkrongan. Yang kalau diajak ngobrol, bisa nyambung dari Plato sampai kartun Spongebob.
Jadi kalau kau pikir mencintai penulis adalah jalan sunyi penuh nestapa, mungkin kau hanya belum bertemu penulis yang tepat. Atau mungkin, kau terlalu terpaku pada gaji dan lupa bahwa hidup ini butuh imajinasi agar tak bosan.
Lantas, apakah akan ada orang yang mau mencintai penulis? Jawaban jujurnya: ada. Tidak banyak. Tapi mereka ada. Mereka yang matanya tidak hanya melihat saldo, tapi juga ke dalam jiwa. Mereka yang tahu bahwa hidup tak selalu diukur dari meter persegi apartemen atau tipe mobil. Mereka yang tahu bahwa mencintai penulis adalah menerima bahwa pasangannya mungkin akan lebih dulu mencintai kata-kata, tapi itu bukan berarti mereka mencintai kita lebih sedikit.
Itu hanya berarti mereka sedang berusaha mencintai kita dengan cara mereka sendiri, lewat tulisan, lewat perhatian yang sunyi, lewat cerita-cerita yang suatu hari akan mereka berikan padamu sebagai hadiah ulang tahun yang tak bisa dibeli di toko mana pun.
Cinta itu kadang seperti buku indie: tidak ada di rak best-seller, tapi menyentuh lebih dalam dari buku cetakan ketiga puluh.
Jadi, kalau kau bertanya apakah penulis bisa dicintai? Bisakah menemukan kekasih hati? Jawabannya: ya. Asal kau berani membuka halaman pertama, tanpa takut pada cerita yang mungkin belum sempurna, tapi selalu ditulis dengan hati. Namun ingat, tentu bahasannya akan berbeda jika si penulis memang dengan sengaja ingin tetap sendiri, dan itu pun sah-sah saja. [] Redaksi

Menjadi penulis memang bukan jalan yang mudah, apalagi di tengah tuntutan zaman yang serba materialistis. Namun, justru di balik kesulitan itu, terdapat keindahan dalam cara penulis menyuarakan kegelisahan dan harapannya. Cinta sejati mungkin tidak hadir dengan gebyar, tetapi dengan keikhlasan memahami jiwa seorang penulis. Meski sering dianggap “barang antik,” penulis tetap memiliki tempat tersendiri bagi mereka yang menghargai keunikan dan kedalaman pikirannya. Sebenarnya, apa yang membuat seseorang jatuh cinta pada seorang penulis?
Terima kasih sudah berkunjung dan menanggapi. Seseorang bisa jatuh cinta pada penulis bukan semata karena sosoknya, melainkan karena cara ia melihat dunia. Penulis memelihara kepekaan yang tak umum, ia mampu menangkap hal-hal kecil yang sering terlewatkan orang lain, lalu meramunya menjadi kisah, renungan, atau kritik yang menyentuh. Dalam diamnya, seorang penulis menyimpan riuh: riuh emosi, riuh ide, riuh luka yang belum sembuh. Kekasih penulis tidak hanya mencintai tubuhnya, tapi juga harus bersedia mencintai pikirannya yang sering berbelit, serta hatinya yang selalu dipenuhi tanya.
Jatuh cinta pada penulis berarti mencintai kerumitan; mencintai hari-hari yang kadang sunyi karena ia sibuk berdialog dengan imajinasinya, juga mencintai detik-detik ketika dunia nyata dan fiksi saling berbenturan dalam dirinya. Tapi justru dari situ lahir kedalaman. Penulis mencintai dengan cara yang tidak biasa—diam-diam, pelan-pelan, tapi nyaris total. Ia bisa menuliskan cinta yang tidak sanggup ia ucapkan. Dan barangkali, bagi sebagian orang, itulah yang membuat cinta kepada penulis menjadi tak mudah dilupakan. Terima kasih.