
Ada satu hal yang selalu terasa aneh tapi nyata dalam dunia menulis, semakin banyak orang ingin jadi penulis, semakin sedikit yang siap hidup sebagai penulis. Lucunya, banyak yang ingin disebut penulis, tapi ogah benar-benar menulis. Lebih lucu lagi kalau ada yang berharap menulis itu bisa bikin rekening mendadak gendut. Wahai kalian yang berani bermimpi, izinkan saya mengajak kalian menginjak tanah, bukan untuk menghancurkan mimpi, tapi untuk membentangkan tikar kenyataan.
Pertama-tama, mari kita tegaskan dulu, mencari uang dari menulis cerita itu bukan dosa. Sungguh. Bahkan kalau kau niat menafkahi keluarga dari menulis, itu mulia. Tak ada yang salah dengan itu. Yang jadi soal adalah kalau satu-satunya alasan menulis hanya demi uang. Maka bersiaplah kecewa. Dunia ini sudah cukup penuh dengan kecewa dari cinta bertepuk sebelah tangan, jangan ditambah dengan cita-cita yang menggantung sendirian di langit.
Kalau kau mencintai dunia menulis, bahkan ketika tak ada uang yang datang, kau akan tetap menulis. Sebab, cinta sejati tidak menuntut upah. Ia memberi karena ingin memberi. Ia bertahan meski kadang diabaikan. Dan menulis, pada hakikatnya, adalah bentuk cinta yang semacam itu.
Sayangnya, dunia modern dengan algoritma dan angka views membuat banyak penulis terseret dalam lingkaran pengakuan. Kalau tulisanku tidak viral, berarti jelek. Kalau tidak dibayar, berarti tidak layak. Padahal, ada cerita-cerita indah yang ditulis dalam diam, di tengah malam, saat anak-anak sudah tidur, dan hanya dibaca oleh lima orang tapi menyentuh hati mereka sampai ke sumsum. Apakah itu tidak layak disebut karya? Hanya karena tidak viral?
Ironinya, banyak orang ingin jadi penulis karena kelihatan keren. Keren karena bisa manggung di festival sastra. Keren karena bisa pakai kata-kata absurd. Keren karena bisa menertawakan typo orang lain sambil sendiri lupa titik koma. Tapi ketika ditanya, “Apa yang sedang kau tulis sekarang?” mereka jawab, “Masih mencari inspirasi.” Inspirasi? Jangan-jangan yang dicari bukan inspirasi, tapi validasi.
Ini bukan cercaan, ini pengingat, kalau mau cari uang buat hidup, ya bekerjalah. Kerja apa saja yang halal. Jualan gorengan pun mulia, asal tidak menjual kata-kata palsu. Dunia menulis tidak pernah didesain sebagai pabrik cetak uang. Ia lebih mirip ladang sunyi, tempat kau menanam kata demi kata dengan harapan suatu hari akan tumbuh. Tapi tidak ada jaminan panennya langsung musim depan. Kadang butuh bertahun-tahun, kadang tidak pernah. Maka, jika sejak awal niatmu hanya untuk kenyang, lebih baik masak nasi goreng.
Ada kisah menggelitik tapi haru, seorang penulis kawakan diundang ke seminar kepenulisan. Salah satu peserta bertanya, “Bagaimana caranya agar tulisan saya cepat menghasilkan uang?” Dengan tenang, si penulis menjawab, “Tulislah proposal bisnis. Menulis cerpen butuh cinta, bukan tergesa.”
Jawaban itu menggelitik, tapi juga menampar halus. Sebab ya itu, banyak yang ingin jadi penulis, tapi tidak siap menanggung kenyataan bahwa bisa jadi, karyanya tidak akan pernah dibaca siapa pun selain dia sendiri.
Jangan lupa, menulis bukan cuma urusan estetika. Ia juga soal etika. Menulis adalah keberpihakan. Kepada yang tertindas. Kepada yang terpinggirkan. Kepada suara-suara kecil yang tidak punya panggung. Menulis bukan sekadar merangkai kata puitis, tapi juga menyuarakan yang tak terdengar. Maka, menulis butuh keberanian. Keberanian menyampaikan kebenaran. Bahkan ketika itu membuatmu kehilangan pembaca.
Kadang saya berpikir, penulis adalah makhluk aneh. Mereka menulis tentang kebenaran, lalu menangis karena takut tak laku. Tapi bukankah memang itu harga dari integritas? Jika tulisanmu hanya akan diterima kalau kau memotong nurani, lalu buat apa menulis?
Sarkasnya, ada juga yang menulis hanya agar terlihat progresif, padahal hatinya beku. Menulis demi isu, tapi tak pernah bertindak. Menulis demi tampilan, bukan karena panggilan. Tentu, tulisanmu bisa masuk media, bisa viral, bisa diundang ke mana-mana. Tapi apakah kau menulis untuk dunia, atau hanya untuk cerminmu sendiri?
Dunia ini sudah terlalu gaduh oleh konten receh dan narasi dangkal. Kita butuh lebih banyak penulis yang waras dan ikhlas. Waras karena tidak terjebak dalam obsesi eksistensi. Ikhlas karena tahu bahwa menulis adalah bentuk sedekah pikiran. Kita tak selalu tahu siapa yang akan membaca tulisan kita. Tapi kita bisa memilih untuk menulis dengan niat yang benar.
Ada kalanya kau akan merasa sia-sia. Tulisanmu tak dimuat. Buku tak laku. Tak ada yang komentar. Tapi percayalah, kadang tulisan yang kita anggap sepele justru bisa menyelamatkan seseorang entah di mana. Satu kalimat bisa menjadi pelita. Satu paragraf bisa menumbuhkan harapan. Maka, tetaplah menulis.
Kalau menulis hanya jadi pelarian dari kenyataan, maka begitu kenyataan menampar, kau akan kabur. Tapi kalau menulis adalah perlawanan, maka setiap kata adalah pedang untuk merobek kebodohan, ketidakadilan, dan keserakahan.
Mungkin itulah kenapa banyak penulis besar hidupnya susah, tapi tulisannya abadi. Mereka tidak kaya harta, tapi kaya warisan. Mereka tidak selalu punya rumah megah, tapi punya ruang di hati pembaca. Dan yang paling penting, mereka tidak pernah berhenti menulis, bahkan ketika tak ada yang membaca.
Tulisan ini bukan untuk mematahkan semangat. Tapi untuk membingkai ulang harapan. Menulislah karena cinta. Kalau rezeki datang dari situ, syukuri. Kalau tidak, jangan berhenti. Rezeki bisa datang dari mana saja, tapi tidak semua bisa menulis dengan hati.
Kalau boleh jujur, menulis itu pekerjaan paling gila sekaligus paling waras. Gila karena kita rela duduk berjam-jam untuk mengolah imajinasi. Waras karena kita tahu, dunia ini butuh lebih banyak kebaikan, dan salah satu caranya adalah dengan menulis.
Jadi, kalau kau ingin jadi penulis, silakan. Tapi pastikan hatimu cukup tahan banting, dan dompetmu tidak terlalu mengandalkan royalti. Karena, sesungguhnya, yang membuatmu bertahan bukan rupiah, tapi cinta yang tak pernah habis pada kata-kata. [] Redaksi
