Dunia Menulis

Acuh

Mari kita buka dengan satu kalimat sakti. Cerpen yang tidak pernah dikritik biasanya belum pernah dibaca. Nah, kalau sudah dibaca, lalu dikritik, itu justru pertanda tulisanmu hidup. Ia bukan hanya tempelan huruf di kertas atau layar, tapi telah tumbuh jadi sesuatu yang bisa bikin orang mikir, mesem, nyinyir, atau kalau beruntung nulis esai panjang lebar untuk membahasnya.

Tapi, sayangnya, tak semua penulis siap dipeluk kenyataan. Ada yang baru dikritik soal logika tokohnya sudah ngamuk duluan. Ada juga yang ngambek sebulan hanya karena ditanya, “Kenapa cerpennya berakhir tiba-tiba kayak disamber petir?” Bahkan ada yang tiba-tiba update status: Menulis itu soal rasa, bukan logika. Kritik itu membunuh kreativitas. Lah? Yang membunuh kreativitas itu bukan kritik, tapi ego.

Mari kita luruskan. Kritik bukan kecaman, apalagi hinaan. Kritik itu justru bentuk perhatian. Bayangkan kalau cerpenmu tayang di media nasional, dibaca ribuan orang, tapi tak satu pun komentar, apalagi tanggapan. Sepi. Sunyi. Hening. Lebih menyedihkan dari cinta bertepuk sebelah naskah.

Lalu, ketika satu dua pembaca menulis esai atau ulasan, bukan sekadar komen keren atau mantap bang, itu tanda cerpenmu menyentuh sesuatu. Bisa menyentuh pikiran, bisa menyentuh luka lama, atau bisa juga menyentuh tombol emosi yang selama ini terpendam.

Tapi reaksi yang muncul justru kadang ironi. Alih-alih bahagia, si penulis merasa diserang. Kritik dianggap serangan pribadi. Bahkan ada yang sampai membuat balasan dengan nada penuh kegeraman, seakan dunia telah bersekongkol untuk menjatuhkannya dari kursi penulis terbaik se-RT.

Sebenarnya, yang perlu kita latih dalam dunia menulis bukan hanya kepekaan diksi, tapi juga ketahanan hati. Penulis yang terlalu rapuh menghadapi kritik bisa-bisa tak menulis lagi hanya karena satu kalimat menyentil. Padahal, dalam dunia sastra, kritik yang sehat itu seperti jamu. Pahit, tapi menyehatkan.

Bahkan kalau mau jujur, banyak cerpen bagus justru lahir dari luka yang pernah dilempar kritik. Ada yang dulu cerpennya dikatai “terlalu abstrak, seperti curhat pakai kode morse,” tapi justru berkat kritik itu, ia belajar menyusun alur yang lebih jernih. Ada yang dibilang tokohnya “kaku seperti boneka,” lalu ia mempelajari psikologi karakter. Kritik itu kawan, bukan palu godam. Ia lebih mirip cermin. Yang enggan bercermin ya silakan, tapi jangan salahkan dunia kalau wajah ceritanya masih belepotan.

Dan ini yang menggelitik, kadang penulis tidak terima dikritik, tapi doyan banget mengkritik karya orang lain. Giliran dia dikritik, langsung bilang: “Itu cuma opini subjektif.” Lha, emang kritik pernah netral? Kritik memang subjektif, tapi bukan berarti tak bermutu. Apalagi kalau disampaikan dalam bentuk esai, panjang, jelas, dengan referensi, dan analisis yang masuk akal, itu bisa jadi bentuk apresiasi kelas tinggi. Kalau cuma bilang cerpenmu bagus, itu seperti bilang kamu baik. Ramah, tapi tidak menambah apa-apa. Tapi kalau ada yang bilang, “Akhir cerpenmu terlalu dipaksakan, seolah tak sabar mengakhiri,” nah, itu ada isinya. Bisa direnungkan. Bisa dijadikan pijakan.

Tentu saja, kita harus pandai membedakan antara kritik dan cacian. Kalau ada yang bilang, “Cerpen kamu jelek banget, kayak tulisan anak SD,” ya abaikan. Itu bukan kritik, itu kekesalan tanpa argumen. Tak perlu ditanggapi, apalagi ditampung di hati.

Menjadi penulis itu butuh hati yang lapang dan pikiran yang tahan banting. Karena sekali tulisanmu dilempar ke publik, kamu tidak bisa mengatur siapa yang suka dan siapa yang kesal. Kamu hanya bisa memastikan bahwa kamu menulis dengan jujur, sebaik yang kamu bisa, dan siap menerima apa pun reaksi pembaca.

Lagipula, bukankah menyenangkan mengetahui karyamu memicu perbincangan? Bisa bikin orang menulis balik? Bisa jadi bahan diskusi di kelas, komunitas, atau grup WhatsApp alumni? Itu jauh lebih membanggakan daripada sekadar jumlah suka di Instagram.

Jadi, kalau cerpenmu dikritik, jangan buru-buru ngelus dada. Elus kepala sendiri saja sambil bilang: “Bagus. Tulisanku diperhatikan.” Jangan marah, apalagi dendam. Kalau pun kamu tersinggung, tulis saja dalam cerpen baru. Siapa tahu, dari luka itu tumbuh cerita yang lebih tajam, lebih menyentuh, dan siapa tahu juga lebih banyak dikritik.

Di dunia menulis, kritik bukan musuh. Ia justru teman yang jujur. Dalam dunia yang penuh basa-basi, kejujuran itu adalah hadiah. Dan bisa jadi kritik adalah bentuk nyentrik dari acuh, atau peduli. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *