
Ada masa ketika menulis cerpen seperti bercerita pada sahabat, jujur, mengalir, penuh peluh ketika meronce kisah agar kece. Tapi kini, di beberapa halaman antologi cerpen, kita sering mendapati cerpen yang tampaknya lebih sibuk bercumbu dengan majas daripada dengan makna. Kalimatnya berdansa. Lalu jatuh. Lalu kita sebagai pembaca ikut terguling ke selokan karena tak tahu lagi ini cerita, atau puisi, atau apalah.
Fenomena overdosis majas bukan penyakit baru, tapi gejalanya makin menjadi-jadi. Mungkin karena medsos terlalu murah hati memuji, atau pembaca doyan quotes senja karena lebih mudah tersentuh oleh kalimat seperti: Rinduku menari dalam sunyi yang memerah seperti luka di dada langit. Entah langit siapa yang berdarah, tapi penderitaan kata-kata sepertinya makin tidak ditanggung oleh karakter dan plot.
Mari kita bicara serius. Cerpen adalah tentang cerita. Narasi. Konflik. Ketegangan. Dialog hidup. Tokoh bernyawa. Tapi overdosis majas menjadikan cerpen semacam kontes rias wajah, di mana ceritanya sudah pucat pasi, tapi ditimpa bedak metafora tebal agar terlihat hidup. Sayangnya, bukannya bernyawa, tapi justru menjadi seperti zombie, jalan terpincang dengan makna kosong tapi penuh pernak-pernik kata.
Kita tidak membenci personifikasi atau mengusir hiperbola ke comberan. Tapi ketika setiap benda menangis, setiap angin berbisik, dan setiap bayangan mengintip masa lalu, kita lantas bertanya, ini cerita atau seminar pelatihan aktor figuran?
Ada satu cerpen yang pernah saya baca, saking “puitis”-nya, saya lupa siapa tokohnya, apa konfliknya, dan ke mana arah ceritanya. Tapi saya ingat ada embun yang menggigil, bantal yang berzikir, dan tembok yang menyimpan dendam. Saya ingin memeluk tembok itu dan bilang: “Sabar ya, Mbok, Tembok. Ini bukan salahmu.”
Cerpen seperti itu memang tidak buruk. Tapi kadang ia memaksa pembaca jadi sastrawan dadakan, kita harus menafsir tiap kata, menerka makna tiap kalimat, semacam: Hatinya hujan gerimis yang malu-malu mengguyur batu nisan rasa. Siapalah kita ini, cuma manusia biasa yang ingin membaca cerita, bukan menelusuri tesis linguistik.
Ada juga penulis yang beranggapan, semakin banyak menumpahkan majas, makin tinggi mutu tulisannya. Mungkin karena terlalu sering baca cerpen pemenang lomba yang memang kadang gemar berdandan. Tapi perlu diingat, pemenang lomba itu bukan karena mereka banyak pakai majas, melainkan karena mereka tahu kapan dan seberapa banyak majas digunakan. Mereka paham, satu majas yang tepat bisa menikam lebih dalam daripada seratus metafor yang dibentangkan seperti spanduk diskon.
Senyum dulu, yuk. Biar tidak tegang.
Saya pernah menerima kiriman cerpen, dengan catatan: Tolong kasih masukan ya, ini cerpen puitis banget. Saya baca. Tokohnya cuma disebut “ia”, konflik tidak ada, tapi ada 37 kata kerja pasif dan 13 kata “senja”. Ending-nya? Tiba-tiba langit pecah. Saya cuma memberi komentar: Bagus. Untuk jadi caption Instagram.
Kita boleh tertawa, tapi ini realita yang menggelitik. Kadang penulis tak sadar bahwa cerpennya kehilangan kejujuran karena terlalu sibuk mempercantik kata. Padahal, pembaca butuh kejujuran. Butuh cerita yang membuat mereka terisak, tergelak, terpukul, tercenung, atau terpental, bukan hanya terpukau oleh kata-kata manis.
Majas yang baik adalah yang tidak terasa. Tidak terlihat. Ia menyatu dalam narasi seperti garam dalam sup. Tapi ketika majasmu berjejal seperti bumbu rendang yang tidak diaduk, pembaca akan bingung. Mana rasa daging, dan mana rasa kunyit?
Ada satu cerpen jadul yang saya suka, isinya biasa saja. Tentang ibu dan anak. Tapi cara bercerita begitu jernih, tanpa banyak bumbu, hanya satu-dua perumpamaan lembut yang meletupkan makna. Di situlah saya belajar, kekuatan cerita bukan pada seberapa ribet kau merangkai kata, tapi seberapa dalam pembaca bisa merasa.
Menulis cerpen bukan sekadar menjejerkan keindahan diksi. Itu cuma salah satu alat. Menulis adalah menyampaikan rasa, membagi luka, membisikkan tawa, menyusupkan getir, dan menjahit kenyataan agar pembaca menganga. Cerpen yang baik bukan yang bikin pembaca berkata: “Indah sekali bahasanya”, tapi yang bikin mereka berhenti sejenak dan berkata: “Anjir. Cerpennya gilak.”
Jadi, wahai para pemburu majas, marilah kita turun sebentar dari awan yang menyesakkan. Kembali ke bumi, tempat tokoh kita berjalan. Biarkan mereka bicara dengan suaranya sendiri. Biarkan cerita mengalir dengan luka yang jujur, bukan air mata buatan dari langit-langit metafora.
So, bukan soto, cerpen bukan soal seberapa banyak kata-kata berdansa. Tapi seberapa kuat pembaca merasa setelah semua kisah berhenti. Ingat, majasmu harimaumu. Aum. [] Redaksi
