Dunia Buku

Kasih yang Tak Pernah Tak Sampai

Perjalanan, dalam hal apa pun, pasti ada tujuannya. Seperti saat perut mendadak lapar, buka dompet tapi hanya tersisa selembar uang kertas sepuluh ribuan, otomatis otak secepat kilat menuntun langkah menuju opsi paling tepat: warung nasi padang dengan tulisan besar Serba 10ribu, warung tegal dengan banyak menu rumahan, atau paling irit beli dua bungkus mi instan dan sebutir telur di warung kelontong depan, pun jika mau menahan malu bisa pura-pura mampir ke rumah teman dan berharap akan ditawari makan. Tentu opsi terakhir semacam taruhan. Jika beruntung, maka perut akan kenyang tanpa modal.

Perihal buku, bisa jadi bernasib sama. Ada orang yang menganggap buku sebagai kebutuhan seperti halnya makan. Biasanya, bagi mereka, wujud dan aroma buku sudah tak lagi penting. Cover terlipat dan usang. Kertas menguning dengan banyak bercak dan kotoran. Selama jenis buku masuk kategori peminatan, maka pertimbangan terakhir hanya perihal harga. Bagi pencinta buku dengan kantong pas-pasan, datang ke toko dan bazar buku baru dengan poster besar Diskon Up to 90%, seperti masuk ke dalam surga yang dirindukan. Tapi jika tak mampu, maka berkunjung ke lapak buku bekas pun bisa dianggap telah berhasil masuk di halaman depan surganya.

Ada lagi cerita, orangtua yang katanya ingin menjadikan anak-anak sebagai generasi cerdas dan beretika. Banyak iklan berseliweran agar memiliki buku-buku parenting tebal dengan puluhan series versi lengkap, dengan harapan kelak di masa depan akan dilabeli sebagai orangtua idaman anak dan menantu. Ditambah serangkaian buku paket berisi dongeng dan kisah-kisah inspiratif yang katanya bisa mengawal tumbuh kembang anak di usia emas mereka. Buku berkualitas cetak tinggi hingga memunculkan nominal jutaan. Seakan angka mustahil bagi mereka yang berkantong tipis.

Tapi tunggu dulu. Drama sesungguhnya baru saja dimulai. Masuklah opsi: bisa dicicil setiap hari, setiap minggu, bahkan setiap bulan, atau sistem arisan buku berkelompok dengan setoran miring. Hal itu bisa menjadi alternatif bahwa tak selamanya buku mahal sulit untuk digapai. Berlandaskan prinsip: apa pun jika demi anak, maka akan diperjuangkan. Tak peduli seberapa mahal harga bukunya.

Tapi kisah belum usai sampai di situ. Orangtua mulai cemas. Bagaimana jika bukunya rusak? Apalagi sampai hilang. Maka muncullah rak dan lemari khusus untuk menyimpan buku-buku tebal dan mahal itu. Jika bisa lemari kaca, agar tetap terlihat kalau ada tamu berkunjung.

Maka buku yang katanya demi anak itu, yang covernya penuh warna dan gambar, akhirnya benar-benar tak pernah tersentuh tangan anak-anak. Orangtualah yang memegang, membacakan, bahkan menimang dengan sangat hati-hati. Mereka pikir tugas menjadi orangtua selesai dengan mewariskan sekumpulan buku keren. Berharap dengan punya buku-buku hebat, maka tumbuh kembang anak juga pasti hebat. Bagaimana anak bisa dekat dengan buku, apalagi menyerap ilmunya, jika menyentuh pun tidak boleh. Kalau pun boleh memegang, membuka-buka, lalu membaca, itu saja diawasi dalam radius tertentu. Jangan sampai buku yang rencana akan menjadi warisan turun-temurun, putus di satu generasi hanya karena lalai dalam pengawasan.

Padahal, buku murah belum tentu murahan. Buku bekas bukan berarti tak layak. Memberi yang terbaik juga tidak harus mahal. Kalau kantong tak sampai untuk membeli buku mahal, bukan berarti tak bisa kesampaian membeli buku murah dengan isi yang kurang lebih sama. Begitulah cara buku mengasihi. Karena bagi buku-buku itu sendiri, kasih tak sampai itu sebenarnya tidak ada. Mereka tak pernah berubah, isinya tetap sama meski zaman berubah-ubah. Tugasnya hanya menunggu untuk dibuka dan dibaca. Jadi, apa pilihanmu saat ingin beli buku di saat kantong sedang kembang kempis? [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *