Dunia Buku

Tragedi yang Tak Diajarkan di Sekolah

Kita sering diajari bahwa buku adalah jendela dunia. Tapi tak ada yang pernah memperingatkan bahwa jendela itu bisa terbuka terlalu lebar lalu membuatmu jatuh terjun bebas. Dan buku membunuhmu secara harfiah.

Coba lihat  si Pe. Suatu sore, dia sedang khusyuk membaca buku puisi di dekat trotoar. Katanya, bait-baitnya begitu menggugah hati. Dia terhanyut. Dan benar, dia tidak menyadari ketika sebuah kendaraan berbelok, lepas kendali. Tentu saja sopir tidak punya waktu untuk ikut meresapi puisinya. Pe mati di tempat.

Lalu ada si Qi. Seorang mahasiswa yang suka membaca buku di mana saja. Suatu hari, dia memutuskan membaca di perpustakaan tua yang raknya lebih mirip menara rapuh ketimbang tempat penyimpanan. Mungkin dia menemukan teori konspirasi dalam bukunya, atau mungkin dia sedang menikmati cerita fiksi. Yang jelas, rak buku itu mendadak tumbang. Qi tertimpa buku-buku filsafat yang beratnya tak main-main. Dia mati seketika, terkubur oleh kata-kata yang bahkan belum sempat selesai dia baca.

Dan ada lagi si Er, seorang pustakawan yang terlalu mencintai pekerjaannya. Suatu malam, dia terpeleset oleh kamus tebal yang jatuh di lantai. Kepala membentur meja. Jendela dunia berubah menjadi jendela ke akhirat.

Kalau kau pikir kematian karena buku hanya soal kecelakaan fisik, kau salah. Lihat si Es, seorang pria yang membaca buku tentang revolusi. Setelah selesai membaca, dia merasa tercerahkan. Dia berdebat dengan teman-temannya, lalu memutuskan turun ke jalan untuk menyuarakan apa yang dia baca. Polisi datang, menembaknya tanpa pikir panjang. Buku di tangannya, kini berlumuran darahnya sendiri.

Atau bagaimana dengan si Te? Seorang penulis yang berani mengkritik sistem, mengungkap kebusukan yang selama ini ditutupi. Sampai suatu malam, beberapa orang bertopeng datang. Mereka tidak suka dengan tulisannya. Mereka membungkamnya dengan cara yang sederhana: peluru di kepala. Bukunya masih hangat di meja, tapi si penulis dingin di lantai.

Buku yang berbahaya, atau dunia yang ketakutan? Lihat betapa absurdnya dunia ini. Buku yang seharusnya mencerdaskan malah jadi penyebab kematian. Tapi mari jujur, apakah bukunya yang berbahaya? Atau justru dunia yang terlalu takut pada apa yang tertulis di dalamnya?

Kita hidup di zaman di mana membaca bisa membunuhmu, baik secara harfiah maupun sosial. Baca buku terlarang, dan kau bisa dicap makar. Menulis sesuatu yang tidak disukai penguasa, kau bisa mendadak hilang. Bahkan, di beberapa tempat, sekadar memiliki buku tertentu bisa membuatmu masuk daftar hitam.

Ironisnya, buku-buku yang benar-benar berbahaya tidak diperhatikan peredarannya. Buku yang membodohi, yang menyebar kebohongan, yang memanipulasi fakta, justru dipromosikan, dijadikan pegangan. Bahkan ada buku yang dibuat khusus untuk melanggengkan kekuasaan. Ada buku yang ditulis agar rakyat tetap patuh, agar tak berpikir terlalu jauh.

Jadi, mari bertanya: buku macam apa yang boleh dibaca dan buku macam apa yang harus dihindari? Atau lebih tepatnya, siapa yang berhak menentukan?

Kematian yang disensor, kehidupan yang dimanipulasi. Mereka yang mati karena buku, entah itu karena membaca, menulis, atau sekadar memiliki buku yang dianggap salah, sering kali hanya jadi angka. Kita tidak mendengar cerita mereka di berita. Kita tidak diajarkan kisah mereka di sekolah.

Mereka mati, lalu dilupakan. Sama seperti banyak hal lain yang sengaja dikubur oleh mereka yang takut pada kekuatan kata-kata. Mungkin sudah saatnya kita bertanya, apakah kita hanya akan jadi pembaca pasif, ataukah kita akan menulis ulang kisah itu? Sebab jika terus begini, buku bukan lagi pembuka wacana, ia hanya akan menjadi batu nisan bagi mereka yang berani berpikir. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *