Dunia Menulis

Bukan Ilmu Gaib

Sebelum masuk lebih dalam perihal menulis, kita perlu memahami pengertian berikut, agar semua orang merasa sama. Di luaran sana ada anggapan bahwa menulis adalah bakat mistis. Seperti ilmu gaib yang cuma bisa dikuasai oleh segelintir orang pilihan. Atau pendapat, menulis itu hak istimewa bagi mereka yang punya ritual khusus atau garis keturunan sastrawan. Orang-orang bertanya, “Gimana sih caranya biar bisa nulis kayak kamu?” dengan nada seakan aku ini dukun yang menyimpan rahasia besar di balik jubah kebesaran.

Menulis adalah soal kerja keras, latihan, dan belajar terus-menerus.  Sesederhana itu. Kalau kamu ingin bisa menulis, ya menulislah. Jangan menunggu datangnya ajian seperti saat petir menyambar-nyambar. Sebab kalau menunggu, kamu hanya akan berakhir dengan halaman kosong dan perasaan bersalah karena tidak menghasilkan apa-apa. Inspirasi itu sering kali lahir dari kebiasaan. Semakin sering menulis, semakin mudah otak menemukan pola, menangkap ide, dan merangkai kata.

Dengar, menulis itu bukan hasil bertapa di gunung tujuh purnama atau puasa mutih sampai bisa melihat hal-hal yang tak tampak. Tidak ada ritual khusus, tidak ada mantra sakti. Kalau kamu mengira keahlian menulis bisa turun dari langit seperti wahyu, maaf, yang bakal turun justru ketombe karena kebanyakan berharap.

Jangan percaya kalau ada yang bilang hanya orang-orang tertentu yang bisa menulis. Bahwa kepandaian menulis hanya milik mereka yang punya ekspresi muram, pakai kacamata tebal, dan suka termenung di pojokan kafe dengan secangkir kopi hitam.

Tidak.

Menulis itu otot, bukan sihir. Kalau tidak dilatih, ya lemas. Sama seperti gym. Bayangkan ada orang bertanya, “Gimana sih caranya biar punya otot kayak kamu?” terus dia berharap dikasih ramuan ajaib supaya besok langsung punya six-pack. Sungguh konyol. Latihanlah, Bro! Otot tidak tumbuh dari doa dan mimpi. Begitu juga dengan tulisan.

Tapi banyak yang maunya shortcut. Mau bisa nulis tanpa repot belajar. Mau jadi penulis, tapi alergi membaca. Mau terkenal, tapi malas latihan. Seakan dengan modal duduk termenung di kafe dan minum kopi hitam tanpa gula, tiba-tiba bakal bisa menulis novel kelas dunia.

Lagi pula, kepandaian menulis bukan cuma buat orang-orang tertentu yang tiap hari menatap jendela dengan tatapan sendu. Bukan pula hak eksklusif mereka yang sejak kecil sudah menulis puisi patah hati padahal belum pernah pacaran. Menulis itu buat siapa saja yang niat dan mau capek. Milik mereka yang rela mengetik lalu menghapus, lalu mengetik lagi sampai jari pegal dan kepala pening. Milik mereka yang tidak malas membaca dan terus belajar memahami zaman. Sebab dunia berubah, dan menulis bukan sekadar menuangkan isi kepala, tapi juga soal bagaimana menangkap realitas dan menuangkannya dengan cara yang menggugah.

Menulis itu tidak jera berusaha, bukan ilmu gaib. Karena ada saatnya kita hanya menatap layar kosong selama satu jam tanpa satu kata pun keluar. Ada saatnya kalimat yang ditulis terasa lebih jelek daripada surat tilang. Ada saatnya naskah yang sudah susah payah ditulis, ketika dibaca ulang dan disadari bahwa isinya sampah.

Kalau kamu mau bisa nulis, ya menulislah. Tidak perlu meditasi. Tidak perlu membakar dupa. Tidak perlu menanti mimpi didatangi roh leluhur yang membisikkan diksi-diksi puitis ke telingamu. Cukup duduk, mulai mengetik, dan terima kenyataan bahwa tulisan pertamamu mungkin lebih hancur daripada chat mantan yang ngajak balikan. Sama seperti pekerjaan lain, sekali lagi ada masa-masanya sulit. Ada waktunya ketika tulisan terasa buruk, ketika ide terasa mandek, ketika setiap paragraf terasa seperti comberan. Tapi orang yang benar-benar ingin bisa menulis tidak akan menggerutu. Hal itu bagian dari proses.

Jadi kalau kamu ingin bisa menulis, jangan sibuk bertanya, “Apakah aku berbakat?” Itu pertanyaan yang tidak penting. Yang lebih penting adalah, “Seberapa keras aku mau berlatih?” Terus berlatih, sedikit demi sedikit tulisanmu akan membaik. Karena menulis, lagi-lagi bukan ilmu gaib. Ia tidak datang dalam kilatan cahaya, melainkan tumbuh dari kebiasaan, kegagalan, dan keinginan terus mencoba.

Jadi, kalau masih ada yang tanya, “Gimana caranya biar bisa nulis?” jawab dengan santai: “Nulis. Gitu doang.” Kepandaian menulis bukan hak istimewa. Kepandaian menulis adalah milik mereka yang memilih untuk terus menulis, terlepas dari seberapa kacau tulisan pertama, kedua, atau bahkan yang keseratus mereka. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *