Curhat

Korek Api Itu Masih Menyala

Curhat: Dhatu Jenar

Kini aku telah resmi bertunangan dengan pacarku. Meski hanya dihadiri oleh dua keluarga, acara berjalan lancar dan penuh haru. Terlebih bagi mamaku. Matanya selalu basah dari awal hingga akhir acara. Aku satu-satunya anak perempuannya yang akan melepas masa lajang. Dua kakak lelakiku belum ingin menikah. Sedangkan adik lelakiku masih SMP.

Dulu, aku dan pacarku sepakat untuk langsung menikah saja. Tak perlu pakai acara tunangan segala. Tapi siapa sangka, bosnya mengirim pacarku untuk mengurus kantor cabang di Palembang selama sebulan. Karenanya, pacarku berubah pikiran. Agar terlihat serius dan romantis katanya.

Sebenarnya, bukan soal pertunanganku yang ingin kuceritakan, tapi soal R. Sebelumnya aku pernah mengatakan kalau akan menemuinya di kafe, sehari setelah perjumpaan awalku dengannya. Waktu itu aku sudah menunggu di kafe yang sama selama hampir sepuluh menit, hingga R mengirim pesan kalau mendadak ibunya masuk rumah sakit. Jadi terpaksa pertemuan itu gagal ia tepati. Aku tidak marah. Saat itu spontan aku khawatir dengan keadaan ibunya. Aku memutuskan menelepon.

Baru dering pertama, R langsung mengangkat panggilanku. Suaranya terdengar lesu.

“Ibu mendadak pingsan,” ujar R.

Aku turut prihatin. Tanpa sadar aku menawarkan diri menemaninya. Aku bahkan tidak membuang banyak waktuku untuk segera menyusul ke rumah sakit yang disebutkan.

Sesampainya di rumah sakit, aku menuju bangsal tempat ibu R dirawat. R terlihat sedang tidur di sofa panjang. Karena tidak ingin mengganggu, aku meletakkan kursi di samping ranjang ibunya. Kedua ibu anak itu terlelap. Bergantian aku memperhatikan mereka. Sejenak, aku ingat sesuatu.

Dulu, jika sedang bertengkar dengan R, aku sering menemui ibunya di rumah. Jika pasangan lain biasanya memilih saling menghindar, aku tidak begitu. Aku senang berdiam diri di belakang rumah bersama ibu R. Menyirami tanaman-tanaman yang ada di sana. Atau sekadar memotong daun-daun kering. Wanita yang dulu juga kupanggil dengan sebutan ibu itu, sangat hafal dengan kebiasanku tersebut. Tanpa berusaha mencari tahu, akulah yang malah lebih dulu bercerita mengenai apa yang menjadi penyebab pertengkaran kami. Meski aku tahu, kadang alasannya hal remeh temeh, tapi ibu tidak pernah memberi respons atau nasihat berlebihan. Kadang, ibu hanya tertawa.

“Kamu sudah lama datang? Kenapa tidak membangunkan aku?” tanya R membuatku agak terkejut. “Ngelamun ya?” lanjutnya.

Aku menggeleng. Refleks aku bangkit, mendekati R dan duduk di sebelahnya.

“Sepertinya kamu kurang tidur,” sahutku.

“Aku hanya butuh kopi.” Kemudian R mengajakku ke kantin rumah sakit. Awalnya aku ragu, mengingat ibu tidak ada yang menunggu. R adalah anak tunggal, dan ayahnya juga sudah meninggal. Bagaimana jika nanti tiba-tiba ibu bangun dan membutuhkan sesuatu, sedangkan kami tidak berada di sisinya. Namun R menjelaskan padaku kalau akan menitipkannya pada suster. Dan lagi, kami hanya pergi sebentar saja. Aku akhirnya menurut.

Di kantin, R memesan secangkir kopi panas dan sepotong donat. Aku hanya minum jus apel.

“Maaf ya, kamu jadi harus repot-repot kemari.” R tampak tidak begitu berselera makan. Ia sangat terlihat memaksakan diri. Sepertinya itu dilakukan sebab dia butuh sesuatu sekadar untuk mengganjal perutnya.

“Jangan begitu, ibumu jauh lebih penting,” ujarku.

“Kamu juga penting,” sahut R cepat.

Aku menatap R yang sedang menatapku juga. Sorot matanya lemah. Wajahnya terlihat lelah. Aku tidak berani membalas kalimatnya. Bukan karena takut salah menanggapi, tapi memang tidak tahu harus bagaimana membalasnya.

R mulai bercerita tentang masa lalu. Tentang apa yang dilakukannya setelah lulus SMA, juga mengapa ia meninggalkanku tanpa kabar. R hanya sempat menitipkan pesan pada ibunya, bahwa jika aku datang menemuinya, maka ibu diminta membertahuku bahwa kelak jika situasi sudah memungkinkan, R akan menghubungiku. Tapi kenyataannya, sampai pertemuan kami kemarin di kafe, dia tidak juga memberiku kabar.

“Aku memang salah. Tapi perlu kamu tahu, aku hanya tidak ingin melihatmu sedih waktu itu,” lanjut R.

Aku tersenyum sinis mendengarnya. Kurasa itu hanya alasan klise yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Aku pikir kalau R tidak benar-benar menganggap serius hubungan kami. Jadi baginya, tidak penting apakah aku setuju atau tidak dengan keputusannya. Toh kenyataannya R memang memilih pergi. Barangkali cintanya saat itu terhadapku dianggap sekadar cinta monyet.

Aku kesal. Entah apa yang membuatku malah merasakan lagi kekecewaan yang kurasakan dulu. Seolah aku kembali ke masa-masa di mana sejak saat itu, waktu seolah berhenti menceritakan kisah tentangku dan R.

“Aku minta maaf,” sesal R.

Aku dapat melihat kesungguhan pada ucapannya.

“Aku benar-benar hanya ingin bekerja dan mengumpulkan banyak uang,” lanjutnya lagi.

Sungguh, aku kembali kesal. Dia pikir aku akan dengan mudah memakluminya. Meski uang bisa berarti segalanya, tapi uang bisa dicari. Di mana pun, jika dia mau. Kenapa harus ke luar negeri? Lalu brengkseknya lagi, kenapa harus seperti penjahat yang melarikan diri.

Aku memilih tidak menanggapi ucapannya. Dan sepertinya, R juga tidak terlihat bersemangat untuk melanjutkan ucapannya. Bagiku, satu kata sudah terpatri di otakku. Kalau dia meninggalkanku karena uang. Dan itu sudah cukup membuatku mengerti.

Aku pulang larut dari rumah sakit. Aku bahkan menghubungi pacarku saat masih di jalan. Beruntung, dia tidak banyak bertanya. Hanya memintaku berhati-hati, dan mengatakan betapa tidak sabarnya ia bertunangan denganku. Aku sedikit lega. Setidaknya hal itu membuatku tidak harus membalas dengan berbohong.

Aku menyetir pelan. Kembali teringat kejadian saat aku masih berada di bangsal rumah sakit bersama R tadi. Sengaja waktu itu aku memberi tahunya soal rencanaku bertunangan. Menurutku itu perlu. Karena R terus saja membahas tentang perasaannya padaku. Juga perihal keinginannya untuk memperbaiki hubungan. Meski R bilang dia mengerti, lalu berkata jika ia menghargai keputusanku, kekecewaan di wajahnya tidak berhasil disembunyikan.

Sejenak aku merasa puas. Seolah telah berhasil menutup masa lalu dengan benar. Hingga saat aku pamit, sesaat sebelum tanganku menyentuh pintu, R menarik tubuhku mendekat ke arahnya. Bukan hanya itu saja, tanpa sempat aku menghindar, R telah meraih bibirku. Celakanya, aku membalasnya. Dan lagi, saat R mengatakan agar memintaku datang kembali keesokan harinya, aku pun menyetujui. Aku bahkan lupa jika esok aku memiliki janji akan menemani pacarku  ke rumah eyang.

Malam itu, aku benar-benar tidak bisa tidur. Memikirkan tentang bagaimana caraku untuk kembali beralasan pada pacarku. Ah, betapa rumitnya. Bukankah dengan mengatakan alasan sebenarnya kepada R, justru semua akan terasa lebih mudah. Kenapa aku malah jadi pusing sendiri.

Benar saja, esok harinya, aku kembali ke rumah sakit menemani R. Termasuk, keesokan harinya lagi. Aku tidak pernah menepati janjiku pada pacarku, hingga hari pertunanganku pun tiba.

Apakah kalian tahu, sepulang dari bandara untuk mengantar kepergian pacarku ke Palembang, aku sudah membuat janji dengan R untuk bertemu lagi. Kurasa, aku akan bisa berteman dengan mantanku itu. Ya, aku akan mencobanya. Sebelum hal itu bisa benar-benar terealisasi, aku akan tetap menyembunyikannya dari pacarku. Soal apakah perlu aku ceritakan sebelum menikah, baru akan kupikirkan nanti saja. Lagipula, pernikahanku masih sebulan lagi.***

Dhatu Jenar

Perempuan penyendiri yang suka buah duku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *