Cerpen

Burung-burung Origami

Cerpen Heru Sang Amurwabumi

Hampir setiap malam ketika menjelang tidur, Umi selalu membuatkan aku burung-burung origami dari lipatan kertas warna-warni. Kemudian aku menerbangkannya ke langit malam di halaman rumah, berharap bahwa burung itu bisa mengepakkan sayap hingga jauh ke atas sana. Aku berhayal bahwa burung-burung origami itu bisa mencapai tempat paling indah yang sering diceritakan Abi. Membawa pesan kepada Tuhan yang kutulis di punggungnya. Berisi doa dan harapan.

Abi memang sering bercerita kepadaku, hampir setiap malam juga, tentang sebuah tempat yang ditumbuhi kembang beraneka warna. Tempat yang jauh lebih indah dari taman-taman yang ada di kotaku. Di sana, peri-peri baik hati bertempat tinggal.

Sebenarnya bukan hanya kepadaku saja. Abi juga sering bercerita tentang indahnya taman yang dia sebut surga itu kepada dua kakak lelakiku: Azzam dan Azwin. Kebetulan tiga anak Abi dan Umi semuanya laki-laki. Akulah yang bungsu.

Suatu malam, pernah aku mengutarakan sebuah pertanyaan ketika Abi sedang menceritakan taman itu untuk kesekian kali.

“Bagaimana caranya kita bisa sampai ke sana, Bi?”

“Jalan ke taman itu sangat jauh dan berliku, Nak.” Umi menyela, coba menjawab pertanyaanku, yang barangkali juga mewakili pertanyaan semua anak-anaknya.

“Nanti, jika tiba saatnya, Abi akan mengajakmu, Umi, dan kakak-kakakmu ke sana, Nak,” timpal Abi.

Kemudian Umi sibuk melipat kertas menjadi burung-burung origami. Kembali aku menuliskan sebuah pesan kepada Tuhan. Tentang impian. Setelahnya, aku berlari ke halaman rumah, menerbangkan burung dari lipatan kertas itu ke langit malam.

***

Abi baru saja keluar dari sebuah ruangan di sudut rumah kami. Ruang yang selama ini dijadikan tempat bersimpuh kepada Tuhan. Setengah jam yang lalu, Abi memimpin kami di sana.

“Anak-anakku, kemarilah.”

Ada yang berbeda dengan suara Abi. Terdengar serak dan berat. Umi menutup bibirnya dengan ujung kain hijab. Aku menangkap ada yang aneh dengan sikap Abi dan Umi.

“Anak-anakku, bersyukurlah. Kita terpilih menjadi pengantin surga. Setelah ini, Abi akan mengantar kalian ke jalan yang selama ini kita cari,” lanjut Abi, “Azzam, tuntunlah adikmu Azwin. Jangan pernah kau biarkan dia jauh darimu sejengkal pun.”

“Iya, Bi.”

“Zulham, kau masih belum tahu apa-apa. Nanti kau menurut saja dengan Umi. Tak lama lagi kau juga akan bertemu dengan taman yang sering Abi ceritakan. Tentang peri-peri baik hati yang katamu ingin kautemui, Nak.”

Wajah Abah mendadak murung. Dari dua sudut matanya, butiran-butiran bening tampak menggenang. Sementara, Umni terisak-isak sambil memeluk dua kakakku: Azzam dan Azwin.

***

Abi menurunkan kami di depan sebuah gedung yang di hari Minggu pagi itu didatangi para pendoa. Mereka berpakaian rapi dan bersih. Barangkali memang seharusnya begitu ketika kita akan berdoa dan memuliakan Tuhan. Abi mengusap rambutku, lalu menciumnya, sebelum dia memacu mobil, meninggalkan aku dan Umi berdua di depan gedung itu. Aneh. Sempat kutemukan ada air mata Abi yang kembali menetes di pipi Abi. Tentu saja membuat aku semakin tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Umi menggenggam erat tangan kiriku. Di tangannya yang lain, tampak sebuah benda mirip kotak mainan kecil dengan hiasan lampu—sejak kami berangkat dari rumah, lampu itu sudah menyala. Aku sedikit berat berjalan. Mungkin penyebabnya adalah mainan pipa besi sebanyak 5 batang yang dililit-lilit dengan kabel, lalu diikatkan dengan rapat di perutku.

Iya, setelah Umi menyuapi aku dengan semangkuk bubur ayam tadi pagi, Abi telah memasang mainan itu di perut dan punggungku.

“Kenapa Umi menangis lagi?”

“Maafkan Umi, Nak.”

Kurasakan genggaman tangan Umi semakin erat.

“Tahanlah, Nak. Sakit ini hanya sebentar. Setelahnya, kita tak akan merasakannya lagi. Kita akan berkumpul di taman penuh kembang warna-warni dan burung-burung origami yang setiap malam kau terbangkan untuk mengirimkan harapanmu.”

Terdengar suara ledakan yang asalnya sangat dekat dengan kami. Begitu keras, hingga gendang telingaku seperti pecah dan berdarah. Oh, ternyata aku memang benar-benar berdarah. Bukan hanya darah, panas yang luar biasa juga terasa sedang membakar sekujur tubuhku.

Hanya sesaat sakit itu kurasakan. Perlahan, ia berubah menjadi rasa dingin dan nyaman. Pandangan mataku seperti dipenuhi ribuan kunang-kunang yang turun dari langit. Kunang-kunang beraneka warna. Lalu, mendadak berubah menjadi burung-burung origami warna-warni. Pancaran warna itu melayang-layang, turun mendekatiku.

Sekejap kemudian, dari atas mega-mega, aku bisa melihat tubuhku sendiri, tubuh Umi yang diam tak bergerak dengan bersimbah darah, juga orang-orang yang sedang berdoa di dalam gedung itu berlarian menyelamatkan diri.

***

Aku tersungkur di sebuah taman yang dipenuhi kembang beraneka warna. Entah, taman di kota mana ini? Aku hapal taman-taman yang ada di kotaku. Hampir setiap akhir pekan, Abi dan Umi mengajak anak-anaknya ke sana. Aku yakin, ini bukan taman-taman yang sering kami kunjungi.

Kutebarkan pandangan ke segala arah mata angin. Semua dipenuhi pohon yang kembangnya sedang bermekaran. Sepertinya aku pernah melihat pohon-pohon itu. Tapi di mana?

Oh iya, kini aku mengingatnya. Pohon itu sama dengan pohon yang ada di makam nenek dan kakek. Abi pernah menyebut namanya: kemboja.

Makam? Apakah aku berada di pemakaman? Apakah kini aku sudah mati?

“Zulham …” Terdengar suara memanggil namaku. “Zulham, kemarilah, Nak.”

Aku mencari arah suara. Kembali kutebarkan pandangan ke sekeliling. Nihil. Hingga akhirnya dari balik sebuah pohon kemboja di taman itu, tampak punggung seorang perempuan menggunakan baju panjang berwarna putih. Mirip dengan baju yang biasa dipakai Umi. Perempuan itu berdiri membelakangiku.

“Umi?”

Wanita itu membalikkan badan. Oh, ternyata dia bukan Umiku.

“Aku peri yang tinggal di taman ini, Nak.”

“Di mana Abi, Umi, dan kakak-kakakku?”

“Tenanglah, Nak. Kalian pasti akan berkumpul. Tapi nanti, setelah mereka menyelesaikan perjalanan panjangnya. Perjalanan meniti jembatan penghakiman sebagai manusia yang telah baligh.”

“Kapan?”

“Bisa setahun, dua tahun, bahkan mungkin ribuan tahun. Kelak, kau akan mengetahuinya, Nak.”

“Apakah di tempat ini ada burung-burung origami yang mengirimkan pesanku?”

Perempuan itu menggeleng.

Angin berembus kencang. Gerimis mengundang hujan. Pohon-pohon kemboja bergoyang-goyang, hingga daunnya jatuh berserakan. Mendadak dedaunan itu berubah menjadi burung-burung origami, lepuh oleh hujan yang mengguyur tubuhnya. Mendadak pula aku merindukan Umi. Aku menangis sejadi-jadinya. ***


Heru Sang Amurwabumi, bergiat sastra di Komunitas Pegiat Literasi Nganjuk. Pernah menjadi anggota redaksi Harian BERNAS. Cerpennya, “Mahapralaya Bubat”, mengantarnya terpilih sebagai penulis emerging Indonesia di Ubud Writers & Readers Festival 2019. Bisa disapa di Facebok Heru Sang Mahadewa.

Cerpen

Sukab Anak yang Baik

Cerpen T. Sandi Situmorang

Pada awalnya, kupikir hal paling menyedihkan dalam hidup ini adalah melepas suami ke pemakaman. Lima tahun kemudian barulah kusadari bukan itu hal paling menyedihkan dalam hidup, ketika di sebuah senja dipenuhi gerimis kulepas Sukab. Beberapa lelaki mengangkat peti berisi anak sulungku itu sementara aku menimang luka di sudut rumah kami.

Aku berniat mengantar Sukab sampai pemakaman, melihat tubuhnya diturunkan ke lubang, kemudian menabur kembang di atasnya. Orang-orang melarangku. Menurut mereka aku terlalu lelah. Lebih baik kuantar Sukab dengan melepas doa-doa ke langit.

Jangankan melepas doa ke langit. Duduk pun aku tiada mampu. Para lelaki itu seperti membawa jiwaku pergi. Tidak kurasakan apapun dalam tubuhku, dalam hatiku, juga dalam pikiranku. Dua puluh dua tahun Sukab hidup bersamaku, sekarang dia pergi. Sepanjang tahun-tahun itu Sukab kutaburi cinta, sekarang dia mati.

Mati menyedihkan. Dengan alasan menyakitkan, yang tidak bisa kuterima. Tidak mungkin Sukab melakukannya. Sukab anak baik. Sedari kecil otaknya kujejali nasihat serta ajaran agama. Ia tahu apa yang baik juga buruk, apa yang pantas dan tidak pantas ia lakukan. Ia mengerti apa yang harus ia dekati juga apa yang harus ia jauhi.

Sukab selalu mengalah pada ketiga adiknya. Ia memilih perutnya melilit kosong sementara adiknya terbaring kekenyangan. Ia tidak mengeluh padaku. Ia selalu mengadu pada Tuhan, ketika diam-diam malam semakin tebal.

Sukab anakku. Anakku yang sangat baik. Yang paling baik dari keempat anakku. Aku yang paling tidak percaya Sukab mampu melakukan itu. Membunuh nyamuk yang mengisap setetes darah dari lengannya saja ia tidak mampu. Mana pula mampu melumat manusia. Bukan satu atau dua. Melainkan belasan.

Sukab bukan pelakunya. Anak tampanku itu sama seperti pemilik belasan tubuh yang terkapar mengerikan. Sukab hanya kebetulan berada di tempat itu, berada teramat dekat dengan pelaku ketika bom meledak. Itulah penyebab tubuh Sukab lebur, sementara tubuh pelaku menjadi abu.

Aku sedih hidup Sukab berakhir dengan cara seperti itu. Aku tidak terima Sukab dituduh begitu. Aku sakit hati rumah kami diobrak-abrik orang-orang yang tidak kukenal. Aku marah saat mereka sampai menguliti kasur tempat tidur Sukab.

Mereka meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Aku berteriak marah, sudah kubilang Sukab anak baik-baik. Mereka acuh saja. Pergi dengan mulut terkatub. Tidak meminta maaf padaku, apalagi sampai membenahi semua yang mereka obrak-abrik.

Tidak sampai satu jam kemudian, di layar tivi kusaksikan. Orang-orang itu bilang mendapat banyak bukti dari rumah, terutama dari kamar Sukab. Mereka jelas berbohong. Aku menjadi saksi mereka tidak mendapatkan apapun.

Barang-barang bukti ditunjukkan. Aku nyaris terkencing celana karena ledakan tawa. Lucu sekali. Apa mata mereka buta, atau tidak bisa membaca? Yang mereka bilang bukti-bukti itu  adalah buku-buku agama. Jangankan Sukab, aku pun memilikinya.

Ada-ada saja mereka. Bisa-bisanya penemuan buku agama itu mereka jadikan bukti kuat memang Sukab pelakunya. Mereka salah. Karena buku-buku itulah Sukab menjadi anak baik. Selalu berada di jalan Tuhan.

***

Duka masih kutimang-timang dalam hati. Kehidupan Sukab dikorek hingga dasar. Tiba-tiba saja orang-orang asing hilir mudik ke rumah tetangga kami. Tidak sampai sehari, bergantian tetangga muncul di tivi. Mereka bilang, tidak begitu tahu perihal Sukab sebab anakku itu kurang bergaul dengan mereka. Setelah Sukab tidak lagi membantuku di ladang, mereka tidak tahu pasti apa pekerjaan Sukab. Mereka jarang melihat Sukab.

Sukab ….

Ingin kulempar saja tivi itu. Bisa-bisanya mereka bilang begitu mengenai Sukab. Dengan jelas mereka tahu Sukab seorang pedagang yang sering ke luar kota. Mungkin benar Sukab kurang bergaul dengan tetangga. Tetapi Sukab selalu memberi senyuman setiap berpapasan dengan mereka. Apa mereka ingin setiap saat Sukab mendatangi mereka satu per satu ke rumah masing-masing?

Yang benar saja.

Aku memaki-maki tivi. Dua hari kemudian, tivi itu menghilang dari rumah kami. Semula kupikir tivi itu diangkut orang-orang yang mengobrak-abrik rumah kami. Ternyata tidak, salah satu adik Sukab mengungsikannya ke tempat yang tidak kuketahui. Mereka takut pikiranku semakin kacau karena menyaksikan pemberitaan mengenai Sukab.

Aku tertawa dibuatnya. Anak-anakku pun sudah sama anehnya dengan orang-orang itu. Pikiran mereka yang kacau, bukan pikiranku. Sekarang pikiran adik-adik Sukab ikutan kacau. Jauh di palung hati, sebenarnya aku marah pada adik-adik Sukab. Tidak sebutir pun kulihat kesedihan menancap di wajah mereka. Padahal Sukab, orang yang telah membantu mereka supaya tidak mati kelaparan, meninggal dengan cara teramat tragis. Sukab hanya korban, malah dituduh berbuat keji. Bisa-bisanya mereka tenang saja. Andai adik-adik Sukab itu marah besar sampai membakar stasiun tivi dan kantor polisi sekalipun, masih dapat kumaklumi.

Adik-adik tidak berguna mereka itu semua. Untuk apa aku punya anak seperti itu. Sia-sia menghidupi dan membesarkan mereka selama ini. Tahu begitu, kubuang saja mereka ketika lahir dulu. Karena aku masih punya akal, tentu mereka kutinggalkan di depan panti asuhan, atau di depan rumah orang kaya yang tidak memiliki anak. Bukan di tong sampah, atau menggencet lehernya kemudian mencampakkannya ke sungai.

***

Malam itu, ketika anak-anakku pulas sampai termimpi-mimpi, aku merayap keluar rumah. Jauh di puncak kepalaku, langit pekat. Aku berjalan menuju ladang dengan berbekal ingatan di mana tikungan kecil, di mana ada lubang, dan di mana letak tanjakan. Ladang kami tidak sampai satu kilometer jauhnya. Ada yang harus kukerjakan di sana, dan aku tidak ingin seseorang melihatku. Itu sebab senter di tanganku tidak kunyalakan. Aku harus sangat berhati-hati. Barangkali ada pihak yang memantau pergerakanku belakangan ini.

Sehari sebelum Sukab tewas, ia mengajakku masuk ke dalam gubuk reot di ladang kami. Gubuk itu berlantai tanah, Sukab menggalinya tidak terlalu lama. Kemudian memasukkan sebuah kotak besi ke dalam lalu menutupnya dengan tanah.

Aku bertanya apa isi kotak itu. Kenapa Sukab menguburnya di situ.

Kata Sukab, isinya sangat rahasia. Selain dia, hanya aku yang tahu. Sukab mengizinkanku melihat isinya. Tapi tidak saat itu. Sukab bilang akan tiba waktunya aku bisa melihat isinya.

Aku merasa sekaranglah waktunya. Aku sangat penasaran. Bila memungkinkan, akan kuperlihatkan isi kotak itu pada semua orang. Biar mereka tahu, Sukab anak baik-baik. Sukab bukan pembunuh.

Dengan cangkul kukeluarkan kotak itu. Kotak itu terbuat dari besi, jadi lumayan berat walau tidak terlalu besar. Keningku mengerut melihat isinya. Cahaya senter lebih kudekatkan lagi. Ada kertas putih terlipat di samping benda asing itu.

Di sini kutulis cara menggunakan bom ini. Ibu ledakkan saja apa yang ingin ibu hancurkan. Jangan takut, aku menunggu ibu di surga.

Tanganku bergetar memegang kertas itu. Sukab seperti terbangun dari kubur, wajahnya menari-nari di depan mataku. Anakku Sukab, yang sangat baik dan sayang keluarga ….

Kuenyahkan wajah Sukab. Kutimang luka dan sakit hatiku sembari memandang benda dalam kotak. Aku tersenyum. Sebilah rencana menancapi akalku, akan kuhancurkan mereka. Mereka yang telah memfitnah Sukab sebagai teroris. Sukab anakku yang paling baik. ***


T. Sandi Situmorang,  lahir di Hutaraja, sebuah desa kecil di Pulau Samosir. Suka menulis novel, cerpen dan puisi. Sekarang menetap di Binjai, Sumatera Utara.

Cerpen

Elegi Sebatang Pohon

Cerpen Ardi Wina Saputra

Sialan! Lelaki tambun itu dengan lancangnya mengencingiku. Belum sirna bau kencing dari para pemabuk yang menempel di kaki-kakiku sejak semalam, eh sekarang ditambah lagi dengan bau kencing dari lelaki tambun berkepala plontos itu. Beginilah nasib menjadi pohon cemara tua, kekar dan rimbun saja tak cukup untuk disegani. Beberapa bagian tubuhku bopeng oleh luka. Sebulan ini, ada semacam kertas yang menempel di tubuhku. Aku tak mampu membacanya karena posisi kertas itu sehadap denganku. Biarlah, yang pasti aku tetap kokoh pada pendirianku menunggu SusterAgatha, perawat cantik dari Klinik St. Melania. Kesetiaan cintaku padanya telah mengakar menembus tanah. Menjalar dan terus menjalar ke bawah. Menembus kerikil, menembus pasir, menembus humus, dan menembus remah-remah peti matiku sendiri.

***

Sebelum menjadi pohon cemara, aku memanglah seorang lelaki yang gagah perkasa. Tubuhku tinggi dan kekar, hidungku mancung, daguku lancip, dan rambutku pirang seperti rambut papi dan mami di Roterdam sana. Kedatanganku di kota Madiun ini tak lepas dari prestasiku sebagai lulusan terbaik akademi militer di Belanda. Aku ditugaskan pemerintah untuk mengamankan objek vital mereka di Hindia. Salah satunya adalah  kota Madiun yang sedang berkembang pesat. Kota ini memiliki pabrik gula Pf. Pagoetan yang hasilnya mampu diekspor ke Burma dan Srilanka. Belum lagi kebun teh di Jamus dan kebun kopi di Dungus yang hasilnya sudah mulai dilirik pedagang dari Gujarat. Ada juga perusahaan kereta milik pemerintah, Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij[1] yang digunakan untuk membangun kereta api di seantero tanah Jawa. Politik etis juga membuat kota ini semakin penting. Ursulin, Lazaris dan beberapa ordo lainnya sudah memulai membangun sekolah untuk orang Jawa, Tiong Hoa, dan Belanda. Mulai dari Holands Chinese School[2], SD Eropa, Sekolah Pribumi Belanda, TK Eropa, TK Jawa, Sekolah Melania, Kursus Mengetik dan Stenografi, Kursus Jerman, Kursus Perancis, Kursus Musik, dan Panti Asuhan. Belum lagi pembangunan gereja di Wilstraat[3] Madiun dan tempat peribadatan lainya. Jumlah orang Belanda di kota ini semakin lama semakin meningkat. Itulah sebabnya aku ditugaskan untuk memberikan pengamanan ekstra.

Dulu, berbagai pertempuran dan pemberontakan baik dari dalam maupun luar kota sudah kuatasi. Bahkan tak jarang aku menumpas oknum tentara Belanda yang kedapatan bersekongkol dengan sempalan tentara Residen untuk menguasai pabrik gula. Desing peluru hingga suara mortir telah fasih menjamah telingaku. Tak jarang beberapa tembakan bersarang pada lengan dan pahaku. Semua itu membuatku semangat dan meningkatkan adrenalinku untuk menumpas segala bentuk pemberontakan. Namun ada satu peluru yang tak mampu kusembuhkan hingga kini. Peluru cinta dari bidadari pada lelaki yang telah lama merindukan belaian wanita.

Aku ingat betul, peluru itu mulai bersarang menembus tulang rusukku ketika Klinik St. Melania dibuka di Madiun pada Jumat 6 Februari 1931. Saat itu tepat setengah enam sore, Residen, Asisten Residen, Walikota, dan para donatur datang ke pembukaan Klinik St. Melania.Aku dan pasukanku diberi kepercayaan untuk menjaga prosesi pembukaanya. Ny. Wagemans, presidente[4] dari distrik Madiun selaku perwakilan dari Klinik St. Melania mempersilakan Ny Residen yaitu Ny. Van den Bosch untuk membuka pintu pertama dan mempersilakan para tamu serta donatur untuk masuk.

“Lihatlah salah satu wanita yang sejak tadi mendampingi Ny. Wagemas itu! Suster Agatha namanya!” ujar Robert, kawan yang saat itu berdinas denganku.

Mataku menurut saja pada arah telunjuk Robert. Telunjuknya yang berbulu mengarah pada wanita berseragam perawat, bukan biarawati. Kulitnya tidak cokelat juga tidak terlalu putih, tapi kuning langsat. Hidungnya mancung, tubuhnya tinggi semampai, wajahanya oval, dan bibirnya mungil. Bibir itulah yang ternyata mampu mengeluarkan sebutir peluru lalu melesat dan bersarang di dadaku ketika mulai diletupkan dalam bentuk senyuman.

“Agatha, Kemari!” panggil Robert.

Ia tidak menjawab, hanya melempar senyum yang mampu memporak-porandakan pilar-pilar cinta dalam lubuk hatiku. Ia lalu melanjutkan tugasnya kembali. Memeriksa beberapa pasien dan sesekali menjawab pertanyaan tamu.

“Kau mengenalnya?” tanyaku pada Robert.

“Dia sama sepertiku Pak, ayahnya Belanda dan Ibunya dari Jawa. Sebelum bekerja di sini, dia menjadi salah satu guru di Hollands Chinese School, sekolah anakku. Dia juga teman baik istriku,” jawab Robert lalu menyeret tanganku.

Sebagai rekan setim, tentu ini tidak sopan. Tapi apa daya, ada magnet yang amat besar membawaku ke arahnya. Saat itu, aku mencoba memberanikan diri berkenalan. Kuulurkan tangan dan dia menjabat tanganku. Ada arus yang begitu besar dari telapak tangan kanannya yang mampu merasuki sekujur tubuhku.

“Aku harus profesional Tuan Robert, kedatanganku ke sini adalah melayani pasienku dan aku tak akan berlama-lama dengan orang lain selain pasienku,” ujarnya pada Robert.

Memang dia lahir di Jawa, tapi kelogisan dan kelugasanya menunjukkan dia memang benar ada darah Belanda mengalir dalam tubuhnya. Sebelum ayah dan ibuku meninggal, mereka pernah berpesan padaku agar aku menikah dengan wanita berdarah Belanda. Kini usiaku bertengger mendekati penghujung kepala tiga, tapi istri pun aku tak punya. Aku terlalu sibuk dengan karier kemiliteranku. Inikah akhir dari pencarianku? Pertanyaan-pertanyaan itu mulai bergelayutan dalam kepalaku.

Pertemuan dengan Agatha terjadi begitu singkat. Aku ingin menemuinya lagi. Sesampainya di markas, aku bingung mencari cara agar aku bisa menemuinya. Tak ada cara lain selain menjadi pasien. Aku sadar bahwa pedang dan peluru tak dapat melukaiku, maka aku mencari cara lain. Kuminum obat-obatan yang entah apa namanya agar tubuhku demam. Satu, dua, tiga jam aku menunggu, aku tak merasakan apapun. Otakku bekerja keras mencari cara agar aku dapat sakit. Berbagai hal bodoh kulakukan agar aku dapat sakit tapi tak juga berhasil. Hingga sampailah pikiranku pada hal paling bodoh. Aku ingat, tak jauh dari sini ada semak belukar. Kuambil motorku dan kujelajah semak-semak itu sendirian di tengah malam yang masih gerimis.

“Dapat!” teriakku ketika menemukan beberapa lubang ular di semak-semak itu. Tanpa ragu, kumasukkan tangan kiriku ke dalamnya.

“Arghhhh!”

Sakit memang, seperti ada jarum yang menancap sangat tajam di tanganku. Satu, dua, dan tiga kali barulah kucabut tanganku dari lobang itu. Kulihat ada tiga pasang luka tusuk mirip bekas suntikan yang ukuranya berbeda menembus tanganku.

“Berhasil!” ujarku mantap. Kunyalakan kembali motorku dan aku bergegas menembus hujan menuju markasku.

“Aku digigit ular! Aku digigiit ular!” Sesampainya di markas, aku sengaja meronta-ronta di samping ruang tempat tidur prajurit, mencari perhatian sekaligus pertolongan. Beberapa prajurit terbangun, lalu datang mengerumuniku. Ada juga yang bergegas keluar mencari pertolongan pertama. Tubuhku mengigil dengan amat dahsyat, gigiku gemertakan, bahkan aku sempat muntah. Pengelihatanku mulai kabur.

“Bawa aku ke klinik St. Melania!” pesanku pada salah satu prajurit yang kepalanya paling dekat denganku. Setelah berucap demikian, mataku semakin kabur dan semua menjadi gelap.

***

Saat itu aku tak sadarkan diri cukup lama. Aku merasa tertidur sangat pulas sekali, hingga suatu ketika kubuka mata dan aku sudah berbaring di bawah salib yang menempel di dinding ruangan Klinik St. Melania. Ada Robert dan seorang prajurit di sampingnya. Samar-samar aku masih ingat wajah prajurit itu adalah wajah prajurit yang kuberi pesan agar bersedia membawaku ke Klinik St. Melania. Aku tersenyum pada prajurit itu, lalu pada Robert. Sayangnya, Robert malah menatap mataku dengan tatapan sinis.

“Di mana dia?” ujarku pada Robert yang aku yakin sudah sangat tahu maksudku.

“Hampir seharian penuh kau sudah tak sadarkan diri. Siang tadi, Suster Agatha berangkat bersama salah satu pemimpin Pabrik Gula di Madiun, Tuan Abelard namanya. Mereka berlayar menuju Amsterdam menggunakan kapal J.J. Johan de Witt yang diberangkatkan dari Surabaya siang ini,” jelasnya.

“Ada keperluan apa lelaki itu membawa Suster Agatha pergi?” tanyaku.

“Tuan Abelard mengajak Suster Agatha untuk menandatangani beberapa perjanjian donasi dari perusahaan di Amsterdam.”

“Lalu kapan Agatha kembali?” tanyaku penasaran.

“Mereka akan kembali paling cepat Natal tahun depan. Itu pun kalau tidak ada halangan,” ujar Robert lagi.

Mendengar Suster Agatha dibawa pergi laki-laki lain, semangat hidupku menurun drastis. Aku tahu benar sifat licik Tuan Abelard dalam memikat wanita, karena aku pernah bekerjasama denganya dalam misi pengamanan aset pabrik gula di Madiun sehingga kami menjadi akrab dan sering berkomunikasi. Andai Natal tahun depan Suster Agatha benar-benar kembali, aku yakin dia sudah tak sesuci dulu lagi dan pantang bagiku yang perwira tinggi ini untuk mendapatkan sisa dari laki-laki lain. Aku berjanji pada diriku sendiri, kelak jika aku sembuh maka aku akan membeli peti mati terbaik, mengeduk tanah di belakang klinik ini dan mengakhiri hidupku dengan membaringkan diri, menembakkan peluru dari ujung revolver kesayanganku.

***

Tak butuh waktu lama bagiku untuk menepati janji yang telah kubuat sendiri. Begitu sembuh, kubeli peti mati berbahan kayu berukir perjamuan terakhir Kristus. Lalu malamnya, kugali makamku sendiri tepat di belakang Klinik Melania. Dua petugas yang berjaga di klinik itu kuminta untuk membantuku mengangkat peti dan memasukkanya ke lubang galianku. Mereka tahu benar reputasi dan pangkatku di kota ini, sehingga tak berani bertanya dan hanya menunduk sambil mengerjakan setiap perintahku. Setelah itu, mereka kusuruh kembali ke pos jaga. Aku terjun masuk ke peti mati lalu berbaring, dan kuletakkan ujung revolver di samping pelipisku. Pada hitungan ketiga kutekan pelatuknya dan semua menjadi terang seterang cahaya yang menarikku dengan sangat cepat untuk keluar dari jasadku. Kini sukmaku benar-benar terbebas tapi pergerakanku terbatas. Aku tak bisa pergi terlalu jauh dari jasadku, karena apabila hal itu terjadi maka sukmaku perlahan akan sirna. Mau tidak mau aku harus berdiam di sini menatap jasadku, melihat dua petugas jaga yang tergopoh-gopoh memanggil warga dan polisi untuk menutup petiku, melihat keributan malam itu, melihat upacara militer sederhana di atas pemakamanku, dan melihat para pelayat yang datang silih berganti. Namun, wajah Agatha tak muncul dari puluhan pelayat di kota itu.

Lambat laun, kulihat sendiri kulit, daging, dan seluruh organ tubuh beserta seluruh tulang belulangku hancur lebur bercampur dengan tanah tempatku dipendam. Peti matiku juga telah rapuh, rengat, keropos, dan tergerus menjadi remah-remah bercampur dengan tanah tempatku dipendam. Namun kerinduanku pada Agatha tak bisa sirna begitu saja. Kerinduan ini harus tetap kujaga. Tanah pemakamanku sangat gembur oleh hujan dan subur karena jasadku yang terurai di dalamnya. Pelayatku bermacam-macam profesinya, termasuk petani dan tukang kebun. Beberapa dari mereka tampaknya tak sengaja menjatuhkan benih ketika melayat. Oleh sebab itu kuputuskan untuk menyatukan jasadku pada salah satu benih yang telah tercampur aduk dalam tanah kuburku. Lalu benih itu mengeluarkan akar, merambat ke bawah menembus humus, menembus tanah, menembus kerikil, dan merambat ke atas menjadi tunas menyembul di atas permukaan tanah. Semakin lama semakin meninggi, tumbuh daun satu demi satu hingga rimbun dan barulah kusadari bahwa wujudku sekarang adalah pohon cemara. Aku masih berharap kalau Agatha sampai di Madiun, dia tak perlu bingung mencari pohon Natal karena dia bisa memelukku sewaktu-waktu. Tubuh baruku juga semakin kokoh, tahan angin, tahan petir, tapi tak tahan menimang rindu.

Dari bentuk baruku ini aku menunggu kedatangan Agatha sambil menjaga Klinik St. Melania yang semakin lama semakin sepi, semakin kosong, ditinggalkan pengelolanya, dibiarkan, lapuk, roboh, dan hancur tergerus zaman. Ribuan tamparan sinar matahari dan ratusan tangis purnama telah kulewati sendiri. Jutaan manusia silih berganti melintasiku, puluhan ribu jenis debu kendaraan telah kuhirup.

Hingga suatu ketika dari arah utara, ada sekelompok komplotan turun dari mobil, mukanya garang tubuhnya gempal juga legam, jumlahnya lima. Mereka turun di dekatku berdiri, bergerombol tapi tak mau mendekat karena bau kencing yang masih menyengat.

Salah satu dari mereka berperawakan rapi, berjas dan berdasi, mengarahkan telunjuknya ke arahku dan berkata pada orang-orang berbadan gempal yang mengitarinya, “Sesuai dengan isi poster yang telah tertempel di pohon cemara itu, maka besok saya minta kalian semua untuk membersihkan wilayah ini sekaligus menebang pohon itu! Kita akan bangun proyek besar di tempat ini!”


Ardi Wina Saputra,Anggota Komunitas Pelangi Sastra Malang.


[1] Perusahaan jawatan kereta api Belanda

[2] Sekolah untuk Belanda dan China

[3] Jalan raya

[4] Pimpinan

Cerpen

Suara Karenina

Cerpen Fataty

Sovia, Musim Gugur

Ia menatap cermin, lama. Melihat wajah yang berembun setelah dibasuh air hangat. Rambut merahnya dibiarkan tergerai tak teratur. Letih. Cekung matanya terlihat makin tegas. Lelah. Beban itu tiba-tiba menumpu di sekujur pundaknya. Ia menghela napas panjang. Mengusap perutnya.

Sebotol aspirin ia ambil dari balik cermin lemari obat yang tergantung tepat di atas wasafel. Ia minum satu butir. Handuk kecil yang ia basahi diperas, lalu dikompresnya kening, leher dan kedua pipinya. Ia kembali menghela napas panjang. Memandang cermin lagi. Memaksa bibirnya membingkai tipis senyum. Gagal. Kedua matanya membulirkan setetes.

Sepasang kaki jangkung itu melangkah sedikit jingkat, seperti menghindari pucuk-pucuk duri. Melangkah menuju peraduan, merebahkan diri, menarik selimut tebal sampai leher. Sebentar lagi musim dingin. Daun-daun pohon birkin mulai memerah dan gugur memenuhi jalanan. Gelisah. Ia belum bisa terpejam meski tempat tidurnya hangat.

“Selamat pagi, Karenina. Kau terlihat pucat. Tidurmu tidak nyenyak rupanya.” Wanita berusia senja menyapa dengan hangat, memakai celemek, menyiapkan kopi, beberapa slice roti panggang dan jeruk berjuring-juring ditata rapi di piring datar. Meja makan berenda itu sudah tertata menghidangkan sarapan. Karenina duduk. Merapatkan piyama, menyeruput kopi, dan menggigit roti. Menerawang keluar jendela dapur. Berkabut dan hening. Perempuan berusia senja itu, memandang dengan raut tanda tanya pada satu-satunya putri dari almarhum kakak perempuannya. Merasa diabaikan.

“Karen, Are you okay?” Menilik wajah keponakannya yang masih saja tidak memalingkan muka ke arahnya. Ia diam tidak menjawab. Ia tetap memandang bagian belakang gadis itu. Belum juga berpaling ke bibinya. Sambil tetap memandang ke arah jendela. “Bibi Anne. Besok aku mau ke Kopenhagen.” Suaranya lirih. Hampir lenyap ditelan hawa berkabut kota Sovia, Bulgaria.

Perempuan berusia senja ini memandang dengan muka penuh tanda tanya ke arah gadis itu yang masih memandang ke luar jendela. “Kau ada tugas lagi di sana? Tak biasanya kantormu mengirim ke tempat yang sama dalam waktu dua bulan,” sahutnya heran.

“Bukan, bibi Anne. Bukan tugas. Aku hanya harus ke sana. Besok aku berangkat.”

Bibi Anne menghela napasnya sebentar. Meletakkan sepinggan pie apel hangat yang baru keluar dari oven.

“Kau seperti ibumu. Teguh dan berkemauan keras. Kau tahu kan di Denmark suhu selalu di bawah lima derajat celcius. Apalagi sebentar lagi salju turun. Oh my dear Lil girl. Be careful. Dia memberi kecupan kecil di kepala gadis itu yang selalu disebutnya Lil Girl (gadis kecil).

Karenina tetap menatap ke luar jendela. Ia memang suka memandang ke luar jendela. Jendela kamar, jendela dapur, jendela rumah pohon di rumah masa kecilnya, jendela apartemen lantai 12, jendela mobil, jendela kereta dan kini jendela pesawat.

Beberapa menit, Karenina, gadis cantik berambut merah itu, garis-garis wajahnya yang tegas khas perempuan Kaukasia telah berada di angkasa. Mata berwarna hijau, bibir tipis ditopang leher yang jenjang, seimbang dengan postur tubuhnya yang semampai. Make up-nya tidak berlebihan. Rambut merah bergelombang bak ombak lautan Baltik. Tidak terlalu ada riak. Lembut. Diikat begitu saja.

Ia memandang ke luar jendela. Tidak ada apa-apa. Hanya desing mesin pesawat yang ujung sayapnya tertutup awan putih. Tak terlihat apa-apa. Karenina, ia tetap memilih memandang ke luar jendela.

Enam bulan yang lalu

Suasana dalam pesawat senyap. Beberapa penumpang tidur, sebagian membaca buku, majalah, brosur pariwisata. Sepasang muda-mudi yang bermesraan, dan ia menekuni layar notebook-nya. Kedua matanya tertuju pada monitor penuh huruf-huruf. Menjadi editor sebuah penerbitan besar yang memiliki cabang di beberapa negara Eropa, membuatnya sering mengunjungi berbagai negara. Kali ini Kopenhagen, Denmark. Negeri ujung hampir menyentuh Antartika ini dikenal sebagai negeri dingin, damai dan hampir nol persen konflik. Beberapa tokoh menyebutnya dengan:  A Piece Of Paradise.

Kelopak matanya terlihat lelah. Ia lepas kacamata lalu meminum seteguk air putih. Memandang sekeliling. Tenang. Semua orang sibuk dengan dirinya sendiri. Tak ada yang aneh. Duduk di sebelahnya perempuan sekitar 50-an tahun, sedari tadi menyapa, mengajaknya berbicara singkat, santun khas orang Inggris. Tidak berisik dan mengganggu.

Tiba-tiba terdengar seorang wanita bicara dengan nada tinggi dalam bahasa Jerman. Memelototi seorang pria yang duduk di sampingnya. Beberapa penumpang lain memandang ke arah mereka. Si wanita berdiri meninggalkan tempat duduknya. Semua orang melihat. Sepertinya mereka adalah suami-istri.

Semua berpusat pada mereka, termasuk Karenina. Ia lepas kacamatanya. Ia tekan tulisan shut down di layar notebook-nya, menutup dan memasukkannya dalam tas. Ia memilih memperhatikan sepasang suami-istri yang bertengkar itu, dalam bahasa Jerman. Puncaknya wanita itu menampar si lelaki, lalu berdiri berjalan cepat menuju toilet pesawat.

Karenina membuka sedikit bibirnya melihat adegan pertengkaran itu. Ia memang tidak fasih berbahasa Jerman tapi ia sedikit memahami pertengkarannya. Karenina memutar 45 derajat ke arah kiri. Pandangannya beradu dengan seorang pria berambut cokelat. Wajahnya penuh jambang di dagu dan pipi. Memegang sebuah kamera berteropong panjang. Mirip milik paparazi pemburu Lady Diana. Seperti fotografer profesional.

Pria itu hanya beberapa meter dari tempat duduknya. Dia tersenyum lebar ke arah Karenina. Memamerkan barisan giginya yang putih. Ia mengangguk. Sekadar membalas dari pandangan mata yang beradu tanpa sengaja. Karenina tersenyum tipis.

Rosenborg Palace

Karenina berjalan menyusuri jalan setapak yang menjulur menuju sebuah bangunan tua nan megah. Sebuah bangunan yang tidak berubah struktur eksteriornya. Besar, berdinding bata berwarna abu-abu. Benar-benar tua. Melihatnya laksana terjebak dalam kisah-kisah kolosal di masa lampau. Sebuah tempat megah pertemuan para Duke.

Rosenborg Palace kini hanya penyedap Image Capture para wisatawan Kastil tua abad pertengahan. Saksi berbagai cerita-cerita masa lalu. Ia juga saksi bisu kisah Karenina. Karenina menaikkan syalnya menutupi seluruh leher jenjangnya. Mendekap kedua tangan bersilang memeluk tubuhnya sendiri. Benar-benar dingin. Ia isap kuat-kuat hawa dingin kota Kopenhagen.

Dibiarkannya oksigen  memenuhi paru-parunya. Dibiarkan pula sebuah kisah singkat itu menyelam di labirin otaknya. Ia menutup kelopak matanya sebentar dan hologram seraut wajah nampak sekilas. Segera ia buka kedua mata itu lalu memandang lepas di lahan luas berumput hijau.

“Engkau seorang penulis?” Suara berat itu melontarkan sependek kalimat tanya. “Ya. Dulunya. Sekarang aku lebih banyak mengedit tulisan orang. Karena pekerjaan. Di kota ini aku ditugaskan menemui seorang penulis cerita untuk anak-anak. Perusahaan saat ini mulai concern menerbitkan tulisan untuk anak-anak.”

Pria itu menopang kamera berteropong panjang membidik bangunan dari berbagai sudut. Sesekali ia membidik Karenina sambil bicara. Karenina menikmati sejenak menjadi obyek kamera berteropong panjang itu.

“Apa yang kamu potret? Alam, manusia, bangunan?”

“Aku memotret apa saja. Tapi untuk pekerjaan fokus pada bangunan. Sebuah bangunan yang tua, modern, sempit, luas, unik, apa pun untuk sebuah program TV.”

“Oh, ya? Aku jarang nonton TV, aku pikir TV membosankan.” Karenina menyibak rambut merahnya. Ia mulai sedikit terkesan.

“National Geography. NatGeo People, tepatnya. Salah satu program bertema Humanity. Aku versi majalahnya, menyediakan foto-foto berbagai bangunan, rumah, pondok, apartemen, termasuk kastil.”

Karenina meninggalkan kompleks wisata Kastil Rosenborg Palace. Memberhentikan taksi dan turun tepat di Downtown Kopenhagen. Menyusuri trotoar. Ia tidak menuju ke mana-mana. Ia mengikuti ke mana kaki berbalut sepatu boot itu melangkah. Hanya mengamini kata hatinya. Hati itu kini dipenuhi sebuah nama yang sempat hadir dalam hidupnya. Merampok hatinya pelan-pelan.

Restoran kecil ala Italia tepat di depan kakinya yang berhenti melangkah itu memiliki sebuah riwayat bersamanya. Di sanalah ia pernah menikmati setepi senja yang syahdu bersama laki-laki yang selalu membawa kamera berteropong panjang. Membicarakan banyak hal. Tertawa bersama.

Tak bisa ia lupakan barisan putih giginya ketika tersenyum. Laksana senyuman seorang ksatria yang gagah dalam cerita-cerita klasik. Memberinya ruang teduh dari bisingnya rutinitas hidup. Di sudut ruangan restoran itu, Karenina tidak melupakan.

“Engkau memiliki mata yang indah, Karen. Kau tidak menyadarinya?” Pandangan laki-laki itu, pujian yang keluar dari bibirnya laksana dewa yang menyematkan sepasang sayap di antara kedua pundaknya. Ia merasa telah dinobatkan sebagai seorang bidadari yang cantik.

Ia menyeruput Cappucino, mengiris kecil dua lapis Wafel yang disiram sirup Mapple. Diam dalam temaram lampu-lampu meja. Wajahnya putih pucat. Riak mukanya menerbitkan kesedihan. Bibirnya menggumankan sebuah nama.

Kembali ia melihat wajahnya yang memantul di cermin yang menggantung di atas wastafel. Membasuhnya dengan air hangat. Mengambil sebutir aspirin dan menelannya sambil memejamkan mata. Melangkahkan kaki-kaki jangkungnya dengan sedikit berjingkat menuju tempat tidur dalam flat yang ia sewa selama tiga hari saja.

Desiran angin malam kota Kopenhagen menyerobot masuk di jendela kamar yang terbuka sedikit. Dingin. Karenina merebahkan diri, dan memeluk bantal, membauinya. Aroma tubuh laki-laki itu masih melekat. Bahkan bibirnya yang lembut dan jambang di dagu itu masih terasa pernah meninggalkan jejaknya di bibir, wajah, leher dan punggungnya.

Karenina menikmati setengah tidurnya dalam kenangan bersama pria itu. Ia tidak lupa betapa ia rela memainkan ritme percintaan dengannya.Ya. Setengah tidur saja. Ia sejenak menghadirkannya kembali. Kisah tempat tidur ini.

Tempat ia melabuhkan seluruh perasaannya. Menggemakan lagi lagu-lagu cinta dalam hangatnya pelukan lengan laki-laki itu, masih ia ingat suara lembut berbisik pelan, membunyikan kalimat yang seketika meruntuhkan stupa-stupa kuil cinta yang baru saja selesai ia susun. “I’m Married.“ Karenina tidak bisa memejamkan mata. Air matanya menggenang. Tangannya memegang perut yang di sana tinggal gumpalan darah yang berdenyut.***


Fataty, bernama asli Fatatik Maulidiyah, S.Ag, M.PdI. Seorang guru PAI di MAN 2 Mojokerto. Tinggal di Kemlagi, Mojokerto.