Dunia Menulis

Dalang, Kambing, atau CCTV?

Pernah baca cerpen yang awalnya menjanjikan, tapi makin lama terasa datar dan hambar? Atau cerita misteri yang harusnya bikin penasaran, tapi sejak awal semua rahasia sudah dibocorkan? Bisa jadi sudut pandangnya bermasalah. Sudut pandang bukan hanya soal siapa yang bercerita, tetapi juga seberapa banyak info yang pembaca boleh tahu. Kalau salah pilih, cerita bisa kehilangan ketegangan, dan daya tarik, atau bahkan kehilangan logika.

Mari kita bahas dengan santai, biar lain kali kamu tidak asal pilih hingga membuat pembaca mengernyitkan dahi sambil berpikir: Ini cerpen atau laporan kejadian?

1. Orang ketiga mahatahu. Sudut pandang ini seperti dalang dalam pertunjukan wayang. Dia tahu segalanya, apa yang tokoh pikirkan, rasakan, rencanakan, bahkan rahasia yang belum disadari tokoh itu sendiri. Kesannya memang menggiurkan. Mau menggambarkan perasaan semua tokoh? Bisa. Mau membocorkan kejadian sebelum tokoh utama tahu? Silakan.

Tapi, kalau tidak hati-hati, cerita malah kehilangan daya kejut. Pembaca tidak bisa ikut menebak, karena semua sudah disajikan di awal. Bayangkan sebuah cerpen kriminal, tapi pembunuh dan motifnya sudah dibuka di awal. Lantas, di mana misterinya?

Contoh buruk: Budi berjalan menuju rumah tua itu, tanpa tahu bahwa di dalamnya sudah ada Toni yang siap menyerangnya. Toni sudah merencanakan ini sejak lama, dan kali ini dia tidak akan gagal.

Kalau sudah tahu akan ada serangan, buat apa pembaca repot khawatir? Tidak ada ketegangan, tidak ada kejutan. Kalau mau menggunakan sudut pandang ini, jadilah dalang yang tahu kapan harus bicara, kapan harus diam. Jangan membocorkan semuanya sekaligus. Biar pembaca tetap penasaran.

2. Orang ketiga terbatas. Ini seperti kambing yang hanya bisa melihat rumput di sekelilingnya, tanpa tahu ada harimau yang mengintai di balik semak. Kita hanya tahu apa yang dialami satu tokoh, tanpa bisa menyelami isi kepala tokoh lain. Misalnya, dalam cerita horor, efeknya bisa lebih mencekam. Pembaca hanya tahu sebanyak yang diketahui tokoh utama, hingga ketegangannya lebih terasa.

Contoh: Budi melangkah masuk ke rumah tua itu. Udara terasa dingin. Ada suara samar dari lantai atas, seperti sesuatu yang menyeret diri di lantai kayu. Jantungnya berdegup kencang. Apakah itu tikus? Atau, sesuatu yang lain?

Tentu berbeda dengan contoh sebelumnya, di sini pembaca ikut bertanya-tanya. Kita tidak tahu apa yang ada di lantai atas, karena Budi juga tidak tahu. Ini yang membuat cerita lebih menegangkan. Tapi ada tantangannya, kita tidak bisa masuk ke kepala tokoh lain, kita harus pintar dalam membangun interaksi dan dialog untuk menyampaikan info tanpa melanggar batas sudut pandang.

3. Orang pertama. Sudut pandang ini membawa kita langsung ke dalam kepala tokoh utama. Semua yang terjadi diceritakan dari sudut pandangnya, dengan segala keterbatasan dan biasnya. Ini bagus untuk cerita yang menonjolkan emosi, karena pembaca bisa langsung merasakan apa yang dirasakan si aku.

Contoh: Aku berjalan ke rumah tua itu. Kakiku terasa berat, seperti ada yang menahannya. Mungkin ini hanya rasa takut, atau mungkin memang ada sesuatu yang tidak ingin aku masuk.

Lebih dekat, lebih personal. Pembaca merasa seperti sedang mendengarkan kisah langsung dari tokoh utama. Tapi, ada risikonya. Kalau tidak hati-hati, si aku bisa jadi terlalu banyak merengek. Cerita malah terasa seperti curhatan pribadi yang penuh drama.

Misalnya: Aku tidak tahu kenapa dia tidak membalas pesanku. Aku sudah menunggunya seharian. Apakah aku terlalu mengganggunya? Apakah dia sudah bosan denganku? Aku benar-benar tidak mengerti.

Kalau hal itu ditulis berulang-ulang, pembaca bisa bosan dan malah jadi ingin menyarankan si aku untuk move on saja.

4. Orang kedua. Sudut pandang ini jarang digunakan, tapi kalau berhasil, bisa sangat menarik. Di sini, pembaca diposisikan langsung sebagai tokoh utama. Narator seperti CCTV yang terus mengawasi dan memberitahu apa yang dilakukan oleh pembaca.

Contoh: Kamu melangkah ke dalam rumah tua itu. Udara dingin langsung menyergap tubuhmu. Kamu tahu ini ide buruk, tapi entah kenapa, kakimu terus berjalan.

Seru, tapi tidak semua cerita cocok dengan gaya ini. Kalau ceritanya tentang kehidupan sehari-hari, sudut pandang ini bisa terasa aneh dan mengganggu: Kamu duduk di kantin sekolah, menunggu dia datang. Kamu ingin menyapanya, tapi ragu. Kamu tahu, mungkin dia tidak akan pernah menyukaimu.

Terasa canggung, seakan pembaca dipaksa menjalani pengalaman yang mungkin tidak sesuai dengan mereka. Karena itu, sudut pandang ini lebih sering digunakan untuk cerita petualangan.

Jadi, sudut pandang mana yang paling tepat? Tidak ada jawaban pasti. Semua tergantung cerita yang ingin kamu tulis. Kalau ingin cerita yang serba lengkap, gunakan dalang, tapi jangan bocor semua informasi. Kalau ingin cerita misteri, gunakan kambing. Kalau ingin pembaca benar-benar merasakan emosi tokoh, pakai aku. Dan kalau ingin memberi pengalaman unik, cobalah CCTV.

Yang jelas, jangan pilih hanya karena nyaman atau mudah. Pilih dengan pertimbangan matang. Jangan sampai sudut pandang itu justru membuat cerita kehilangan daya tarik. Karena dalam menulis, sudut pandang itu ibarat cara kamu bercerita. Ingat, sudut pandang layaknya sudut tembak dalam perang. Pilihan salah bisa-bisa ceritamu kena headshot sendiri. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *