Taman Kota Jam Dua
di taman kota, aku menemukan diriku
sedang awas pada tiap telinga.
kusulut ini rokok dalam diam,
dalam-dalam
ibu, hai yang tak kutahu namanya
demi hebatnya malam
kopi harap segerakan!
mi instan untuk ketegangan seorang
perempuan
dan gelak tawa seorang bujang
pecah apa pun yang jadi sunyi
kutulis puisi 15 menit dan tak peduli
ketika seekor nyamuk menampar mukaku
ia bertanya iseng,
“hai, ini malam Minggu, kau tak ada janji
bertemu?”
2018
Wahai Kesepian
dari mana kau datang wahai kesepian
siapa yang mengutusmu
jarak adalah kisah yang membosankan
bila diceritakan oleh malam
Tuhan sayang, kala pertemuan adalah
makhluk yang hanya kalah tipis dari surga
mengapa Kau perkenalkan perpisahan
Pariaman, 2014
Goreng Cinta Percintaan
aku tiba di kotamu
melewati kabut gila
asap penuh sesak; bangsat!
sebelum dan sesudahnya
kulumuri karang gigi dengan doa
; tentang apa yang kita sebut harap
; tentang bagaimana menunggu
akan kupeluk kau; sekuat tenaga!
hangat, umpama pijar pada gelap hebat
kita tak tahu lagi orang lewat
bagaimana burung pulang alamat
goreng pisang rasa cinta
dan tulisan Rp.500,- yang dicetak miring tebal
lumat pada mentari yang malu-malu
dan kau yang sedang kuyup
pasti sedang mencari
bagaimana aku sembunyi
di tepi diri
di awal malam
kita sama bertanya,
“kapan dan untuk apa pulang?”
Mei, 2018
Hari Lalu
yang jauh akan pulang
seperti masa lalu dalam ingatan seseorang
tak ada tempat bagi yang pergi
melainkan kembali
seperti kemarin pada hari ini
padi masak sore hari
burung gereja pulang petang di masjid-masjid
angin menemui sarangnya
senja menyembunyikan hari esok
dalam cahaya merah saga
kau pasti kembali
2015
Sepasang Kekasih yang Lupa Bagaimana Cara Bercinta di Atas Awan
pada bumi, salam maaf telah diam di hati
disampaikan di udara, ditulis, dibukukan malaikat
jatuh jua kita, kekasih
sampailah kita pada waktu jauh
jalan pulang yang salah dan panjang
berdamai dengan iblis hitam bertenaga musik metal cadas
kecemasan yang ramai, seperti pengunjung konser musik yang kehilangan kunci motor
rangkul saja aku, kekasih
peluk dengan segala hangat
kecup lagi sedikit, kalau bisa gigit sampai sakit
ya, kita harus siap untuk jatuh
kita adalah sepasang kekasih yang lupa bagaimana cara bercinta di atas awan
tak lain, yang selalu kita jaga hanya doa
itu saja
Ketaping, 08/04/2015
Cinta Adalah
cinta adalah lantunan maha sakit,
tempat di mana ketiadaan harus dipertanyakan,
penyair berkata, lewat akun twitter-nya
“cinta adalah hari libur pedagang pasar pagi,
lebih susah dicari, dari mencari-cari mati.”
2014
Masuk ke Rahimmu
pulang ke rahimmu
aku mencret
ngilu pedih seluruhku
jangan kau lari
kau tak bisa sepenuhnya
sembunyi, dari apa
yang sebabkan mati
kau selamanya bingung
di jantung, kau akan selalu
murung digantung.
kepalamu akan muncul
di gunung-gunung
dan tak seorang pun
pernah ingat kau ada
2018
Obat Luka
beberapa lagu dalam sunyi
bunyi, selalu bunyi
selalu saja, diri ini kehilangan diri
bahkan ketika aku memanggil apa saja
tak seorang pun, bahkan juga kau
mampir ke sini
untuk obati luka
kau di mana, kau?
aku, di mana aku?
kukira kau tau
rupanya kau bukan
2019
Menebar Bunyi
aku ingin dikenang olehmu sebagai bunyi
yang lama dan bertamasya di hati
diam pula di jantung
aku ingin lama di dalam dirimu
seperti siul burung-burung di kejauhan
seperti ledakan di medan perang
yang merebut kemerdekaan
dan memenjarakan ingatan
2019
Di Udara
kita bercinta sekuat tenaga
di udara
kau ayun jiwaku tinggi ke atas
enak, kita berdansa riang
gembira
eh, anu
bergetar ah, ada sesuatu di celana
berdistorsi, bertenaga
dan tentu saja, cintaku, manisku, sayangku,
muah muah
aku akan memenangkan niaga!
2019
Dangdut dari Kejauhan
Gerimis di telinga
Badai di mata
Hati luluh-lantak merana.
Aku mau pulang ke bahumu
Bersandar, meminta jalan pulang.
Meski rumah terbakar, sungguh!
Kamu lebih kilau dengan gingsul
pada gigi. Lubang jepang di pipi.
Sungguh!
Bagai laju kota.
Aku akan selalu berburu.
Orang-orang berlari mengejarmu.
Aku naik motor. Sungguh!
Bukalah pintu!
Seorang baik selesai mengetuk.
Mei, 2017

Maulidan Rahman Siregar, lahir di Padang 03 Februari 1991. Menulis puisi dan cerpen di berbagai media. Bukunya yang telah terbit, Tuhan Tidak Tidur Atas Doa Hamba-Nya yang Begadang (2018) dan Menyembah Lampu Jalan (2019)
