Cerpen

Mendung Jatuh di Mata Bapak

Cerpen Latif Nur Janah

Gelisah membuntuti Ibu. Mengikutinya sepanjang ia menjalani hari. Berserak di wajahnya yang kusam. Pagi tadi, gelisah hadir ketika ia hendak menghidupkan tungku, menghidupkan kehidupan.

Aku yakin, kegelisahan jugalah yang membuat Ibu menjatuhkan piring sebelum ia selesai menata hidangan untuk makan siang kami. Sampai-sampai, ia juga keliru menuangkan cairan cuka ke dalam acar tahu di piring Bapak.

Meskipun aku tak begitu dekat dengan Ibu, sebagai anak yang terlahir dari rahimnya, aku tahu persis manakala Ibu tengah dilanda keresahan. Lain Bapak, ia begitu mahir menyembunyikan apa yang tengah ia rasakan.

Dari meja makan, terdengar televisi menyiarkan berbagai aksi demo mahasiswa. Aku menghentikan suapanku. Bukan untuk memperhatikan berita, melainkan untuk membaca suasana. Bapak masih terus melahap acar tahunya, meskipun aku yakin ia begitu terusik dengan suara reporter itu. Sementara Ibu beranjak ke dapur. Tempat ia menuntaskan air matanya.

Satu-satunya yang kulakukan adalah segera melicinkan piringku, lalu bergegas mencium tangan Bapak. Sebelum aku melangkah ke halaman, kuhampiri Ibu di dapur, kucium tangannya, lalu kupeluk tubuhnya yang kian ringkih.

“Mas Farhan baik-baik saja, Bu,” bisikku, persis di telinga kanannya.

Ibu menyeka air mata. Kegelisahan di wajahnya memudar sementara.

“Suruh ia pulang. Ibu sudah rindu,” balas Ibu. Mendung kembali hadir di rongga matanya. Aku mengangguk.

Usai kursus membatik di rumah Bu Sukatmi, aku menyusul Bapak ke ladang jagung. Hamparan daun-daun jagung mengeras tersiram panas yang ganas. Meski tak mengenakan sarung tangan, Bapak begitu lihai mengambil tongkol-tongkol jagung dari batangnya. Setelahnya, batang-batang yang kemresek tersenggol gerak tangan dan kaki itu dirobohkan dengan satu injakan. Bapak akan membakarnya sebelum hujan labuh datang.

Tentang Mas Farhan, aku yakin, Bapak menyimpan rindu seperti halnya dengan Ibu. Hanya saja, Bapak adalah tipikal orang yang enggan untuk melihat segala sesuatu dengan perasaan. Lumrah saja, ketika tahu bahwa Mas Farhan secara diam-diam sering bertemu dengan orang tua kandungnya, Bapak merasa dirinya tak dihargai. Sementara ketika mengadopsi Mas Farhan saat berumur dua tahun, orang tuanya berjanji untuk tak akan muncul di kehidupan Mas Farhan.

“Memang sudah saatnya Farhan tahu tentang mereka, Pak,” rintih Ibu suatu sore ketika Mas Farhan baru saja pulang sekolah.

“Iya, tetapi bukan sekarang. Mereka sudah berjanji untuk ini, dan aku pun begitu. Jika harus bertemu, aku jugalah yang harus mempertemukannya.” tangan Bapak berhenti melinting kelobot berisi tembakau dan guntingan cengkeh.

“Seharusnya sudah dari satu tahun yang lalu kita mempertemukan Farhan pada orang tuanya.”

Bapak meraih lintingan kreteknya, lalu menyulutnya, menimbulkan suara kre..tek..kre..tek..

“Atau jangan-jangan, Bapak yang mau ingkar janji dengan tidak mengizinkan Farhan bertemu orang tuanya.”

Ucapan Ibu membuat waktu membisu. Dalam suasana yang begitu ganjil, aku melihat Ibu seolah menelan ketakutan akan ucapannya sendiri. Sementara Bapak lekas berdiri, meraih selopnya di bawah kursi, lalu melempar  puntung kreteknya ke tanah. Apinya padam dengan satu gilasan.

Mas Farhan memang saudara tiriku. Meski begitu, aku dan ia merasa bagai saudara kandung. Ketika Bapak dan Ibu mengadopsinya karena lebih dari tujuh tahun tak memiliki anak, tiga tahun kemudian lahirlah aku.

Dengan beasiswa, Mas Farhan kuliah di Jakarta. Bagai gayung bersambut, ia bertemu orang tuanya yang kini menjadi pedagang kain di Tanah Abang. Semakin lama, ia memang jarang pulang karena terlalu sibuk dengan urusannya di BEM. Dan situasi ini membuat Bapak selalu berpikiran bahwa Mas Farhan telah lupa padanya. Padahal selalu kutunjukkan riwayat panggilan di teleponku. Tetapi, alih-alih melihatnya, Bapak memilih pergi. Sampai suatu ketika saat Mas Farhan pulang, Bapak mengusirnya karena sakit hati.

Hamparan jagung ini menyimpan banyak kisah Bapak dengan Mas Farhan. Sebelum aku sering membantunya, Mas Farhan-lah partner terbaik Bapak di ladang. Aku begitu yakin, di antara dedaunannya yang mengering, terselip rindu yang begitu menggebu. Ada harapan yang membuncah ketika dengan berkarung-karung jagung, saat itu, oleh Bapak dijual dengan harga murah. Tak lain untuk uang saku Mas Farhan ketika berangkat ke Jakarta.

Dua hari yang lalu, aku mendapati Bapak terpekur di depan televisi saat berita tentang demo mahasiswa berlangsung. “Syukurlah.” Ucapnya ketika mendengar tak ada korban jiwa setelah aksi selesai. Sehebat apa pun ia menyembunyikan rasa sedihnya dari Ibu, aku masih bisa melihat resah di setiap bahasa tubuhnya. Ketika ia menyadari kehadiranku, aku melihat sebongkah kerinduan yang nyaris menawan raut wajahnya.

Aku pulang, Nis.

Pesan singkat itu kuterima saat aku berteduh di bawah pohon pepaya. Angin panas yang menerpa wajahku menjelma embusan yang begitu menyejukkan. Ya, aku yakin jika Mas Farhan akan pulang. Ia tak mungkin membiarkan Ibu dirundung gelisah dan rasa bersalah yang tak sudah-sudah. Bagaimana pun, Ibu selalu menganggap dirinya tak mampu menjaga apa yang menjadi tanggungannya jika membiarkan Mas Farhan pergi.

Aku berniat pulang saat menyadari aku lupa membawa bekal minuman. Tak sabar juga bertemu Mas Farhan dan melihat kegembiraan Ibu. Aku sudah tak tahan setiap kali melihat Ibu melamun di dapur. Dapur lebih serupa tempat yang mengekalkan kenangan setelah Mas Farhan jarang pulang. Aku harus meminta pertanggung jawaban Mas Farhan akan hal itu.

“Jangan dihabiskan. Sisakan untuk Bapak.”

Suara itu…

Senyum Mas Farhan mengembang ketika kubalik  badanku. Kuraih sebungkus es teh dari tangannya.

Di hamparan jagung di atas sana, Bapak memandang ke arah kami. Ia diam terpaku. Topi anyaman pandan  yang dikenakannya, melambai tertiup angin.  Saat sosoknya semakin mendekat, ada sesuatu yang membuatku seolah tak tahan melihat wajahnya yang penuh peluh. Gegas, Mas Farhan mencium tangannya. Ada mendung yang bergantung di balik kelopak mata Bapak. Lantas jatuh membentuk setitik air mata, buah kerinduan pada anaknya yang tertahan.

Gemolong, September 2019


Latif Nur Janah, lahir 1990. Menulis fiksi dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *